Mertua VS Menantu

...Semua materi selamanya tak selalu membuat seseorang bahagia. Terkadang kesehatan diri dan mental juga perlu untuk sebuah kebahagiaan....

...~Abraham Barraq Alkahfi...

...****************...

"Aku bisa menghidupi putrimu, Ma. Bahkan sampai tujuh turunan, aku bisa!" Kata Abraham dengan serius.

"Dalam mimpi?" Kata Bela meremehkan. "Satu anakku saja, kau beri lima ratus ribu untuk satu minggu. Apa kabar tujuh turunan?"

Mama Bela tersenyum miring. Dia menatap Abraham dengan lekat dan tanpa kedip.

"Kalau kau memang bisa menafkahi putriku, buktikan. Jangan banyak bicara!" Seru Mama Bela lalu memalingkan wajahnya dan menatap putrinya yang terlihat ingin melepas cengkraman tangan Abraham dari tangannya.

"Ma," Lirih Aufa dengan muka memelas.

"Lepaskan tangan putriku?" Seru Mama Bela menarik tangan Aufa.

Bukannya melepaskan. Abraham malah semakin menguatkan cengkramannya.

"Aku tak akan melarang istriku bertemu dengan orang tuanya, Ma. Tapi jika pertemuan itu semakin membuat istriku gila uang. Aku bisa melarangnya bertemu denganmu dimanapun dan kapanpun!" Kata Abra dengan tegas.

"Kau!"

"Kamu gila!" Sela Aufa dengan marah. "Dia mamaku dan dia juga berhak bertemu denganku!"

Aufa terlihat sangat amat tak percaya dengan ucapan Abraham. Apalagi ekspresi pria itu tak main-main.

"Seorang ibu terkadang terlalu sayang dengan putrinya sampai dia tak bisa membedakan mana yang kasih sayang dan terlalu memanjakan!" Seru Abraham dengan serius. "Mama boleh memberikan apapun untuknya tapi setelah dia menikah denganku. Abra mohon jangan ikut campur urusan kami!"

"Mau uang kita habis, mau apapun soal permasalahan di rumah tangga kami. Itu sudah menjadi urusanku dengan Aufa. Mama dan Papa hanya memantau dan memberikan pengertian. Bukan semakin membuat istriku bertingkah seperti anak kecil yang terus meminta!"

"Kau berani mengajariku?"

"Karena tak semua orang tua mengerti apa yang dimaksud anak-anaknya," Ujar Abraham dengan suaranya yang sedikit diturunkan. "Anak tak selalu benar tapi orang tua juga bisa salah. Anak berhak memberikan pengertian pada mereka jika didikan orang tuanya tak sesuai dan tak benar."

"Kau!" Kata Mama Bela dengan mengepalkan kedua tangannya.

"Maafkan ucapan Abra, Ma. Abra hanya ingin membuat Aufa mengerti tentang hidup. Lain kali, tolong jangan beri apapun pada istriku karena aku sanggup menafkahinya!"

Setelah mengatakan itu, Abraham lekas menarik tangan istrinya dari dalam restoran. Dia mengabaikan panggilan Aufa untuk mamanya karena dirinya sudah merasa tak memiliki urusan.

"Ma. Aufa mau sama, Mama!" Kata Aufa dengan mengulurkan tangan seakan meminta Mamanya membawanya.

"Masuk, Aufa!"

"Nggak!" Kata Aufa mencoba terlepas dari cengkraman tangan Abra.

"Aufa!" Seru Abraham dengan suaranya yang berat.

Aufa langsung terdiam. Dia bahkan merasa takut saat tatapan mata Abraham berbeda tak seperti biasanya. Raut wajah yang tegas, sorot mata tajam dan rahangnya yang mengeras menandakan jika suaminya benar-benar dalam keadaan marah. Aufa akhirnya masuk mobil. Meski dengan hati tak ikhlas.

"Abra keluarkan putriku!" Seru Mama Bela mengetuk jendela mobil. "Kembalikan dia padaku!"

"Aufa pakai sabuk pengamanmu!"

Aufa tak menolak. Meski dengan keadaan marah dia menarik sabuk pengaman itu untuk keselamatan. Lalu dengan pelan tangannya melambai di jendela dengan air mata yang mengalir.

"Mama!" Lirih nya yang membuat Aufa terus menatap ke belakang. "Kamu jahat!"

"Dia mamaku, Abra!"

"Aku tau tapi caranya salah, Aufa!"

"Dia gak salah tapi kamu yang salah!" Seru Aufa dengan setengah berteriak. "Dia berhak memberikan uang."

"Tapi aku juga bisa memberimu uang!"

"Kamu bisa tapi kamu perhitungan!" Seru Aufa dengan marah. "Kedatanganmu benar-benar membuatku sengsara. Kenapa kamu harus hadir dan merusak mobilku hah? Apa kamu sengaja agar posisimu naik dan kamu dihargai banyak orang!"

"Akhh!" Teriak Aufa dengan badan hampir terjengkang ke depan karena Abraham menekan pedal rem dadakan.

"Kamu gila?"

Abraham menoleh. Dia mencengkram setir kemudi dengan erat berusaha menekan emosinya yang hampir terpancing.

Dirinya tak boleh menaikkan suara yang lebih dari ini. Dia masih ingat bayangan dimana ayah dan ibunya bertengkar sampai ibunya menangis meraung.

"Kalau kamu ingin mati! Mati aja sendiri! Tapi aku gak mau ikut mati bersamamu!"

Abraham menolehkan kepalanya. Dia menatap mata Aufa yang sama sedang menatapnya.

"Sedikitpun aku tak berniat merusak mobilku Aufa. Bahkan jika disuruh memilih aku tak mau semua ini terjadi! Aku tak menyesal menikahimu karena aku yakin takdir ini sudah direncanakan oleh Tuhan dengan baik," Kata Abraham dengan serius. "Jika kamu berpikir aku hanya ingin posisi naik. Maaf aku tak akan meninggalkan bengkelku sampai kapanpun!"

Setelah mengatakan itu. Abraham lekas membawa mobilnya lagi. Dia tak menatap Aufa sedikitpun. Dirinya benar-benar tak peduli istrinya berpikiran apa lagi tentangnya, yang terpenting dia sudah mengatakan bahwa dirinya tak segila itu dengan harta orang tua keluarga Aufa.

...****************...

Sedangkan di tempat lain. Seorang perempuan yang sedang dilanda emosi dan kekhawatiran langsung menuju ke gedung tinggi tempat dimana suaminya bekerja.

Dirinya benar-benar tak peduli apapun. Bahkan setiap karyawan yang menyapa dirinya, dia tak menggubris dan lekas menuju lantai dimana ruangan suaminya berada.

"Pa!" Seru Bela dengan membuka pintu itu secara kasar.

Semua orang yang ada di dalam spontan langsung menoleh. Mereka langsung berdiri dan memberikan hormat saat tahu jika istri dari pemilik perusahaan yang datang.

"Mama bisa tunggu Papa sebentar?"

"Gak mau. Mama ingin bicara sekarang!" Seru Bela dengan egois.

"Tapi, Ma… "

"Papa!"

"Mama akan tetap diam disini!"

Akmal, pria yang terlihat masih berkarisma meski di usianya yang tak lagi muda tentu lekas membubarkan acara rapatnya dengan pihak keuangan dan sekretaris perusahaannya. Dia juga meminta maaf karena kehadiran istrinya mengganggu acara rapat mereka.

Setelah pintu ruangan tertutup dan hanya menyisakan mereka berdua. Akmal membawa istrinya duduk di sofa dan memberikannya air putih

"Minumlah dulu, Ma! Mama gak boleh terlalu emosi!"

"Semua ini salah, Papa!" Seru Mama Aufa dengan menatap suaminya tajam. "Karena Papa yang memaksa Aufa menikah dengan montir miskin itu. Hidupnya kekurangan!"

"Apa maksud, Mama?"

Akhirnya Bela mulai menceritakan semuanya. Apa yang terjadi di restoran, cerita putrinya selama di rumah Abraham juga diceritakan. Tak ada yang ditutupi oleh Mama Bela. Semuanya dia adukan pada suaminya.

"Lima ratus ribu, seminggu, Pa? Anak kita sengsara dan Abraham tak mengizinkan Mama memberinya uang?" Seru Mama Bela bercerita dengan emosi. "Mama hanya takut Aufa kekurangan. Mama takut kebutuhan Aufa tak terpenuhi!"

"Dia selalu serba ada disini. Dia tak pernah melakukan hal berat. Lalu setelah menikah dengan pria pilihan Papa. Hidupnya semakin berat. Apa itu mau Papa? Apa Papa mau lihat putri kita hidupnya sengsara?"

"Ma!"

"Kenapa? Papa mau salahin Mama juga!"

Akmal terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Dia tahu perasaan istrinya tapi sejujurnya dirinya juga merasa menyesal karena tak bisa mendidik anaknya dengan benar.

"Biarkan Abraham yang mengurus Aufa, Ma. Papa yakin dia bisa mendidik putri kita menjadi sosok yang lebih baik daripada didikan kita."

~Bersambung

Jangan lupa like, komen dan vote yah.

Terpopuler

Comments

Marlita Indriana

Marlita Indriana

papa akmal.keren,kek nya mama bela juga musti di jatah ini uang nya biar tau rasa😂😂

2024-08-05

0

Ben Sukses

Ben Sukses

Mantab kata2nya

2024-07-10

0

Edy Sulaiman

Edy Sulaiman

mntappp..

2024-06-27

0

lihat semua
Episodes
1 Penawaran Mematikan
2 Penghinaan di Hari Pernikahan
3 Mulut Pedas Aufa!
4 Ceraikan Putriku!
5 Sikap Lain Abraham
6 Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7 Bersihkan Aufa!
8 Pertengkaran Pagi
9 Pulangkan Aku ke Papaku!
10 Ketahuan
11 Mertua VS Menantu
12 Perempuan Bernama Auren
13 Kepulangan Bia
14 Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15 Malam Pengantin
16 Kabar Buruk
17 Ditinggalkan!
18 Siapa Abraham Sebenarnya?
19 Gelisah, Galau, Merana
20 Almeera VS Abra
21 Menyatakan Cinta
22 Abraham dan Athaya
23 Frustasi Akut!
24 Bertemu
25 Ketahuan Potret Aufa
26 Dia Kembali!
27 Aku Hanya Mencintaimu
28 Ciuman Penuh Cinta
29 Suap Manja!
30 Kumakan Kamu!
31 Izin Titut Titut Yah?
32 Malam Yang Indah
33 Otak Omes Abang
34 I Want You!
35 Pemanasan Olahraga
36 Menyatakan Hak Milik
37 Ide Gila Baju Dinas
38 Kegiatan Sempurna Ehh!
39 Kebakaran
40 Firasat buruk
41 Permintaan Resepsi Aufa
42 Perusahaan Terguncang
43 Trauma Yang Membekas
44 Sadar!
45 Kamu Percaya sama aku?
46 Kepergian Aufa dan Abraham
47 Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48 Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49 Langkah Pertama Abraham
50 Pelaku Kebakaran
51 Gombalan Berakhir Ciuman
52 Tipu Muslihat Abraham
53 Panggilan Misterius
54 Kotak Rahasia
55 Rahasia Semi
56 Paket Kedua
57 Pingsan
58 Kabar Bahagia
59 Sikap Posesif Abraham
60 Cake Coklat Keju
61 Berhasil!
62 Imbalan Nakal
63 Kepergok?
64 Hadiah Kecil Dari Abra
65 Merestui
66 Ngidam Yang Melelahkan?
67 Suami VS Istri
68 Tekad Abraham
69 Nasehat Almeera
70 Syndrom Morning Sickness
71 Tidur Dengan Mela
72 Kesempatan dalam Kesempitan
73 Bukti Perselingkuhan
74 Mela VS Aufa
75 Pria Tampan
76 Mood Buruk!
77 Pertemuan Kembali
78 Bule Gila!
79 Musibah membawa Berkah Fort
80 Chuross
81 Si Bucin
82 Fort VS Abraham
83 Kelakuan Abra
84 Godaan Mela
85 Cium Pipi?
86 Berkenalan Ulang
87 Traktiran!
88 Bermain Bersama
89 Taruhan
90 Salah Tingkah
91 Hadiah Tanpa Sengaja
92 Terbongkar Perselingkuhan!
93 Didobrak!
94 Memutar Ingatan!
95 Urus Surat Cerai Kita!
96 Kehancuran Keluarga Semi
97 Kabar Buruk Dari Indonesia
98 Rencana Makan Malam
99 Sikap Manja Abraham
100 Dukungan Abraham
101 Aya VS Ryn
102 Keberangkatan!
103 Reyn Aya Kecil
104 Pamit
105 Lamunan Aya
106 Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107 Cemburu Mode Anak
108 Bengkak
109 Sikap Peduli Abraham
110 Kekhawatiran Calon Ayah
111 Bia tinggal bersamamu
112 Kebahagiaan Aufa
113 Anak Abraham Suka Es Krim
114 Bujukan Aufa
115 Kedatangan Bia
116 Berkumpul Lagi
117 Dendam
118 Diikuti!
119 Ditinggal Sendiri!
120 Kekhawatiran Abraham
121 Balas Dendam Semi!
122 Diikat!
123 Menggilanya Semi
124 Abraham Kembali
125 Siuman
126 Pulang
127 Detik-detik opening
128 Panik
129 Memberi Kabar
130 Penyemangat Utama
131 Welcome To The World
132 Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133 RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA
Episodes

Updated 133 Episodes

1
Penawaran Mematikan
2
Penghinaan di Hari Pernikahan
3
Mulut Pedas Aufa!
4
Ceraikan Putriku!
5
Sikap Lain Abraham
6
Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7
Bersihkan Aufa!
8
Pertengkaran Pagi
9
Pulangkan Aku ke Papaku!
10
Ketahuan
11
Mertua VS Menantu
12
Perempuan Bernama Auren
13
Kepulangan Bia
14
Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15
Malam Pengantin
16
Kabar Buruk
17
Ditinggalkan!
18
Siapa Abraham Sebenarnya?
19
Gelisah, Galau, Merana
20
Almeera VS Abra
21
Menyatakan Cinta
22
Abraham dan Athaya
23
Frustasi Akut!
24
Bertemu
25
Ketahuan Potret Aufa
26
Dia Kembali!
27
Aku Hanya Mencintaimu
28
Ciuman Penuh Cinta
29
Suap Manja!
30
Kumakan Kamu!
31
Izin Titut Titut Yah?
32
Malam Yang Indah
33
Otak Omes Abang
34
I Want You!
35
Pemanasan Olahraga
36
Menyatakan Hak Milik
37
Ide Gila Baju Dinas
38
Kegiatan Sempurna Ehh!
39
Kebakaran
40
Firasat buruk
41
Permintaan Resepsi Aufa
42
Perusahaan Terguncang
43
Trauma Yang Membekas
44
Sadar!
45
Kamu Percaya sama aku?
46
Kepergian Aufa dan Abraham
47
Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48
Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49
Langkah Pertama Abraham
50
Pelaku Kebakaran
51
Gombalan Berakhir Ciuman
52
Tipu Muslihat Abraham
53
Panggilan Misterius
54
Kotak Rahasia
55
Rahasia Semi
56
Paket Kedua
57
Pingsan
58
Kabar Bahagia
59
Sikap Posesif Abraham
60
Cake Coklat Keju
61
Berhasil!
62
Imbalan Nakal
63
Kepergok?
64
Hadiah Kecil Dari Abra
65
Merestui
66
Ngidam Yang Melelahkan?
67
Suami VS Istri
68
Tekad Abraham
69
Nasehat Almeera
70
Syndrom Morning Sickness
71
Tidur Dengan Mela
72
Kesempatan dalam Kesempitan
73
Bukti Perselingkuhan
74
Mela VS Aufa
75
Pria Tampan
76
Mood Buruk!
77
Pertemuan Kembali
78
Bule Gila!
79
Musibah membawa Berkah Fort
80
Chuross
81
Si Bucin
82
Fort VS Abraham
83
Kelakuan Abra
84
Godaan Mela
85
Cium Pipi?
86
Berkenalan Ulang
87
Traktiran!
88
Bermain Bersama
89
Taruhan
90
Salah Tingkah
91
Hadiah Tanpa Sengaja
92
Terbongkar Perselingkuhan!
93
Didobrak!
94
Memutar Ingatan!
95
Urus Surat Cerai Kita!
96
Kehancuran Keluarga Semi
97
Kabar Buruk Dari Indonesia
98
Rencana Makan Malam
99
Sikap Manja Abraham
100
Dukungan Abraham
101
Aya VS Ryn
102
Keberangkatan!
103
Reyn Aya Kecil
104
Pamit
105
Lamunan Aya
106
Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107
Cemburu Mode Anak
108
Bengkak
109
Sikap Peduli Abraham
110
Kekhawatiran Calon Ayah
111
Bia tinggal bersamamu
112
Kebahagiaan Aufa
113
Anak Abraham Suka Es Krim
114
Bujukan Aufa
115
Kedatangan Bia
116
Berkumpul Lagi
117
Dendam
118
Diikuti!
119
Ditinggal Sendiri!
120
Kekhawatiran Abraham
121
Balas Dendam Semi!
122
Diikat!
123
Menggilanya Semi
124
Abraham Kembali
125
Siuman
126
Pulang
127
Detik-detik opening
128
Panik
129
Memberi Kabar
130
Penyemangat Utama
131
Welcome To The World
132
Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133
RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!