Ketahuan

...Terkadang mencintai seseorang tak harus ditunjukkan dengan sebuah kalimat. Cukup melakukannya menggunakan sikap dan perbuatan adalah hal terbaik daripada sebuah kata-kata manis....

...~Abraham Barraq Alkahfi...

...****************...

Perempuan cantik dengan senyuman lebar itu melambaikan tangannya. Matanya berbinar saat melihat seorang wanita yang wajahnya sebelas duabelas dengannya berjalan menuju arahnya

"Mama," Kata Aufa beranjak berdiri dan memeluk mamanya dengan bahagia. "Aufa kangen, Mama."

"Mama juga kangen kamu, Nak," Katanya dengan memeluk putrinya dengan sayang. "Kamu baik-baik aja kan?"

Bela, wanita cantik yang merupakan ibu kandung Aufa itu meneliti penampilan putrinya. Dia melihat kondisi anaknya dari atas sampai bawah.

"Dia gak nyiksa kamu, 'kan? Dia gak mukul kamu kan?" Tanya Mama Bela dengan khawatir.

Kepala Aufa menggeleng. Keduanya mulai duduk dan gadis itu menyodorkan kedua tangannya.

"Ini kenapa bisa merah begini?" Kata Mama Bela terkejut melihat tangan anaknya seperti melepuh.

"Semalam Aufa lapar, Ma. Terus dia nyuruh Aufa masak sendiri. Jadi Aufa masak mie instan," Cerita Aufa dengan meringis saat lukanya disentuh oleh jari Mama Bela.

"Kurang ajar! Kamu disuruh masak sama dia?" Seru Mama Bela tak terima. "Kamu di rumah gak pernah Mama suruh masak. Kamu di rumah juga gak pernah masuk dapur dan sekarang. Lihat! Apa akibat dari perbuatan papamu ini?"

Mama Bela tersulut emosi. Wajahnya memerah karena melihat keadaan tangan putrinya yang lecet seperti ini.

"Papamu benar-benar kelewatan. Mama akan bicara sama Papamu nanti!"

"Jangan, Ma. Jangan!" Kata Aufa menggeleng. "Papa akan marah dan tahu jika kita ketemu disini."

Mama Bela menggeleng. Dia mengusap rambut putrinya dengan sayang dan tersenyum.

"Percaya sama Mama. Papa gak bakal ngelarang kita buat ketemu. Mama cuma pengen Papa tahu gimana perbuatan menantu yang sangat dipercaya untuk menikahimu, Nak," Ujar Mama Bela dengan pelan. "Kamu tunggu sini. Mama akan meminta supir membelikan salep untuk luka ini."

Aufa hanya mampu mengangguk. Sejak dulu dirinya memang sangat dekat dengan ibunya. Apapun yang Aufa lakukan selalu dia ceritakan pada ibunya.

Mama Bela juga tak salah. Sebagai seorang ibu dia juga khawatir pada keadaan putrinya. Perempuan yang selalu melihat anaknya hidup dengan bahagia, semua serba ada lalu sekarang berbanding terbalik dengan kehidupan mereka pasti memiliki rasa khawatir yang besar.

Dia takut anaknya terluka, dia takut anaknya sakit. Hingga membuatnya sangat amat khawatir.

"Aww. Pelan, Ma. Ini perih," Kata Aufa saat Mamanya mulai mengoleskan salep di tangannya yang terkena panas.

"Kalau kamu gak bisa masak. Jangan dipaksain. Pesen di luar. Jangan buat diri kamu susah sendiri, Aufa!" Kata Mama Bela dengan tegas.

"Gimana Aufa mau pesen, Ma. Aufa gak punya uang," Lirih Aufa yang membuat pergerakan tangan Bela terhenti.

"Uang dari Papamu?"

Kepala Aufa menggeleng. "Papa udah gak kasih uang, Ma. Papa berhenti ngasih uang buat aku."

Aufa mulai menceritakan apa yang terjadi tadi di bengkel. Dia mengatakan semua yang terjadi perihal uang jajan.

"Lima ratus ribu?" Kata Mama Bela dengan suara agak tinggi.

"Ma," Kata Aufa mengingatkan.

"Pria itu menghina kamu apa gimana. Lima ratus ribu seminggu buat apa, Aufa? Hah?" Kata Mama Bela menahan agar suaranya tak terdengar keras.

"Hidupmu semakin susah setelah menikah, Nak. Mama gak mau kamu hidup seperti ini. Ayo kita pulang!"

Aufa menggeleng. Dia menahan tangan mamanya dengan wajah takut.

"Aufa gak mau Papa marah," Ujar Aufa dengan kedua mata yang menyimpan ketakutan.

"Papa gak bakal marah. Sejak dulu Papa gak pernah memarahimu kan. Apapun kesalahan kamu, Papa selalu bantu selesaikan!"

"Tapi ini berbeda, Ma. Kesalahan ini semua karena Papa. Jadi Aufa gak mau buat Papa marah dan Aufa yakin pasti bakalan marah!" Kata Aufa dengan tegas.

Ya dalam hatinya Aufa hanya takut. Pernikahan ini terjadi karena papanya. Jadi dia yakin jika ia pulang, Papa Akmal pasti tetap akan memulangkannya di rumah kecil milik pria menyebalkan itu.

Sedangkan Mama Bela. Terlihat perempuan itu menahan emosi sekuat mungkin. Perlahan dia meraih tangan putrinya lagi yang membuat Aufa menoleh.

"Sekarang ada Mama disini. Kamu cukup bilang ke Mama apa yang kamu butuhkan, Aufa. Mama akan kasih semuanya," Ujar Mama Bela lalu mulai membuka tas miliknya.

Dia merogoh sesuatu hingga tak lama lembaran yang merah keluar dan diserahkan pada putrinya.

"Mama yakin jika Mama transfer, Papamu akan tahu soal ini. Jadi Mama kasih kamu tunai biar Papamu gak tau," Kata Mama Bela yang sudah menyiapkan semuanya dengan baik.

Sebenarnya meski Aufa tak bercerita. Bela sudah menyiapkan sejumlah uang untuk anaknya ini. Dia memang ingin memberikan uang karena dia yakin hidup putri keduanya ini tak akan semulus seperti kehidupan sebelumnya.

"Mama memang terbaik!" Kata Aufa dengan mata berbinar cerah.

Dia benar-benar bahagia. Mamanya memang selalu mengerti dirinya. Dengan antusias dia mulai mengulurkan tangannya. Saat Aufa hendak memanggil. Sebuah tarikan di tangannya dengan sedikit kuat sampai dia beranjak berdiri membuat matanya menoleh.

"Abra!" Pekik Aufa dengan terkejut dan bola mata membelalak. "Bagaimana kamu… "

"Bukannya kamu izin buat kuliah tadi?" Kata Abraham dengan masih bersikap manis.

Perbuatan Abraham barusan membuat Mama Bela juga berdiri.

"Assalamu'alaikum, Ma," Sapa Abraham mengulurkan tangannya.

Namun, Mama Bela tak menerima. Malahan dia meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menatap Abraham dengan pandangan marah.

"Apa yang kamu lakukan disini?" Seru Mama Bela dengan suara yang benar-benar menunjukkan ketidaksukaan dengan keberadaan Abraham disana. "Kau menguntit putriku…"

"Tidak, Ma. Aku kesini ingin mengantarkan buku Aufa yang tertinggal," Ujar Abraham dengan mengangkat tangannya dan menunjukkan sebuah buku dengan nama Aufa disana.

Pria itu sangat ingat betul saat dia selesai berbicara dengan pelanggannya dan hendak melanjutkan pekerjaan. Adiknya, Bia berlari dari dalam rumah menuju ke arahnya.

"Kenapa kamu lari, Bi?" Tanya Abraham khawatir.

"Kak Aufa udah berangkat, Kak?" Tanya Bia yang membuat kening Abraham mengerut.

"Udah."

"Yah!"

"Kenapa, Bi?"

"Buku Kak Aufa ketinggalan," Ujar Bia mengangkat tangannya.

Abraham yang merasa buku itu penting akhirnya mengejar istrinya itu. Saat dia hendak memakai motor. Sebuah pelanggan yang mobilnya baru saja selesai, akhirnya meminjamkan mobilnya pada Abraham untuk mengejar istrinya.

Sampai akhirnya pemandangan tak enak terlihat olehnya. Dia melihat istrinya turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran ini.

"Tapi ternyata aku datang dan melihat hal yang tak wajar," Ujar Abraham sedikit menyindir.

"Apa maksudmu? Aku melakukan apa yang seharusnya seorang ibu lakukan. Kau tak bisa menghidupi putriku dan aku memberikan apa yang putriku inginkan!"

~Bersambung

Terpopuler

Comments

Cahaya Sidrap

Cahaya Sidrap

lanjut thor👍👍👍

2024-05-05

0

Omar Diba Alkatiri

Omar Diba Alkatiri

lha Ambar itu siapa Thor? bukan mamanya aufa

2024-05-04

2

The Trickster

The Trickster

wah kalo gw ada 500k sebulan aja udah jadi sultan gw di pondok

2023-02-21

2

lihat semua
Episodes
1 Penawaran Mematikan
2 Penghinaan di Hari Pernikahan
3 Mulut Pedas Aufa!
4 Ceraikan Putriku!
5 Sikap Lain Abraham
6 Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7 Bersihkan Aufa!
8 Pertengkaran Pagi
9 Pulangkan Aku ke Papaku!
10 Ketahuan
11 Mertua VS Menantu
12 Perempuan Bernama Auren
13 Kepulangan Bia
14 Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15 Malam Pengantin
16 Kabar Buruk
17 Ditinggalkan!
18 Siapa Abraham Sebenarnya?
19 Gelisah, Galau, Merana
20 Almeera VS Abra
21 Menyatakan Cinta
22 Abraham dan Athaya
23 Frustasi Akut!
24 Bertemu
25 Ketahuan Potret Aufa
26 Dia Kembali!
27 Aku Hanya Mencintaimu
28 Ciuman Penuh Cinta
29 Suap Manja!
30 Kumakan Kamu!
31 Izin Titut Titut Yah?
32 Malam Yang Indah
33 Otak Omes Abang
34 I Want You!
35 Pemanasan Olahraga
36 Menyatakan Hak Milik
37 Ide Gila Baju Dinas
38 Kegiatan Sempurna Ehh!
39 Kebakaran
40 Firasat buruk
41 Permintaan Resepsi Aufa
42 Perusahaan Terguncang
43 Trauma Yang Membekas
44 Sadar!
45 Kamu Percaya sama aku?
46 Kepergian Aufa dan Abraham
47 Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48 Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49 Langkah Pertama Abraham
50 Pelaku Kebakaran
51 Gombalan Berakhir Ciuman
52 Tipu Muslihat Abraham
53 Panggilan Misterius
54 Kotak Rahasia
55 Rahasia Semi
56 Paket Kedua
57 Pingsan
58 Kabar Bahagia
59 Sikap Posesif Abraham
60 Cake Coklat Keju
61 Berhasil!
62 Imbalan Nakal
63 Kepergok?
64 Hadiah Kecil Dari Abra
65 Merestui
66 Ngidam Yang Melelahkan?
67 Suami VS Istri
68 Tekad Abraham
69 Nasehat Almeera
70 Syndrom Morning Sickness
71 Tidur Dengan Mela
72 Kesempatan dalam Kesempitan
73 Bukti Perselingkuhan
74 Mela VS Aufa
75 Pria Tampan
76 Mood Buruk!
77 Pertemuan Kembali
78 Bule Gila!
79 Musibah membawa Berkah Fort
80 Chuross
81 Si Bucin
82 Fort VS Abraham
83 Kelakuan Abra
84 Godaan Mela
85 Cium Pipi?
86 Berkenalan Ulang
87 Traktiran!
88 Bermain Bersama
89 Taruhan
90 Salah Tingkah
91 Hadiah Tanpa Sengaja
92 Terbongkar Perselingkuhan!
93 Didobrak!
94 Memutar Ingatan!
95 Urus Surat Cerai Kita!
96 Kehancuran Keluarga Semi
97 Kabar Buruk Dari Indonesia
98 Rencana Makan Malam
99 Sikap Manja Abraham
100 Dukungan Abraham
101 Aya VS Ryn
102 Keberangkatan!
103 Reyn Aya Kecil
104 Pamit
105 Lamunan Aya
106 Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107 Cemburu Mode Anak
108 Bengkak
109 Sikap Peduli Abraham
110 Kekhawatiran Calon Ayah
111 Bia tinggal bersamamu
112 Kebahagiaan Aufa
113 Anak Abraham Suka Es Krim
114 Bujukan Aufa
115 Kedatangan Bia
116 Berkumpul Lagi
117 Dendam
118 Diikuti!
119 Ditinggal Sendiri!
120 Kekhawatiran Abraham
121 Balas Dendam Semi!
122 Diikat!
123 Menggilanya Semi
124 Abraham Kembali
125 Siuman
126 Pulang
127 Detik-detik opening
128 Panik
129 Memberi Kabar
130 Penyemangat Utama
131 Welcome To The World
132 Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133 RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA
Episodes

Updated 133 Episodes

1
Penawaran Mematikan
2
Penghinaan di Hari Pernikahan
3
Mulut Pedas Aufa!
4
Ceraikan Putriku!
5
Sikap Lain Abraham
6
Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7
Bersihkan Aufa!
8
Pertengkaran Pagi
9
Pulangkan Aku ke Papaku!
10
Ketahuan
11
Mertua VS Menantu
12
Perempuan Bernama Auren
13
Kepulangan Bia
14
Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15
Malam Pengantin
16
Kabar Buruk
17
Ditinggalkan!
18
Siapa Abraham Sebenarnya?
19
Gelisah, Galau, Merana
20
Almeera VS Abra
21
Menyatakan Cinta
22
Abraham dan Athaya
23
Frustasi Akut!
24
Bertemu
25
Ketahuan Potret Aufa
26
Dia Kembali!
27
Aku Hanya Mencintaimu
28
Ciuman Penuh Cinta
29
Suap Manja!
30
Kumakan Kamu!
31
Izin Titut Titut Yah?
32
Malam Yang Indah
33
Otak Omes Abang
34
I Want You!
35
Pemanasan Olahraga
36
Menyatakan Hak Milik
37
Ide Gila Baju Dinas
38
Kegiatan Sempurna Ehh!
39
Kebakaran
40
Firasat buruk
41
Permintaan Resepsi Aufa
42
Perusahaan Terguncang
43
Trauma Yang Membekas
44
Sadar!
45
Kamu Percaya sama aku?
46
Kepergian Aufa dan Abraham
47
Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48
Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49
Langkah Pertama Abraham
50
Pelaku Kebakaran
51
Gombalan Berakhir Ciuman
52
Tipu Muslihat Abraham
53
Panggilan Misterius
54
Kotak Rahasia
55
Rahasia Semi
56
Paket Kedua
57
Pingsan
58
Kabar Bahagia
59
Sikap Posesif Abraham
60
Cake Coklat Keju
61
Berhasil!
62
Imbalan Nakal
63
Kepergok?
64
Hadiah Kecil Dari Abra
65
Merestui
66
Ngidam Yang Melelahkan?
67
Suami VS Istri
68
Tekad Abraham
69
Nasehat Almeera
70
Syndrom Morning Sickness
71
Tidur Dengan Mela
72
Kesempatan dalam Kesempitan
73
Bukti Perselingkuhan
74
Mela VS Aufa
75
Pria Tampan
76
Mood Buruk!
77
Pertemuan Kembali
78
Bule Gila!
79
Musibah membawa Berkah Fort
80
Chuross
81
Si Bucin
82
Fort VS Abraham
83
Kelakuan Abra
84
Godaan Mela
85
Cium Pipi?
86
Berkenalan Ulang
87
Traktiran!
88
Bermain Bersama
89
Taruhan
90
Salah Tingkah
91
Hadiah Tanpa Sengaja
92
Terbongkar Perselingkuhan!
93
Didobrak!
94
Memutar Ingatan!
95
Urus Surat Cerai Kita!
96
Kehancuran Keluarga Semi
97
Kabar Buruk Dari Indonesia
98
Rencana Makan Malam
99
Sikap Manja Abraham
100
Dukungan Abraham
101
Aya VS Ryn
102
Keberangkatan!
103
Reyn Aya Kecil
104
Pamit
105
Lamunan Aya
106
Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107
Cemburu Mode Anak
108
Bengkak
109
Sikap Peduli Abraham
110
Kekhawatiran Calon Ayah
111
Bia tinggal bersamamu
112
Kebahagiaan Aufa
113
Anak Abraham Suka Es Krim
114
Bujukan Aufa
115
Kedatangan Bia
116
Berkumpul Lagi
117
Dendam
118
Diikuti!
119
Ditinggal Sendiri!
120
Kekhawatiran Abraham
121
Balas Dendam Semi!
122
Diikat!
123
Menggilanya Semi
124
Abraham Kembali
125
Siuman
126
Pulang
127
Detik-detik opening
128
Panik
129
Memberi Kabar
130
Penyemangat Utama
131
Welcome To The World
132
Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133
RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!