Pertengkaran Pagi

...Percayalah terkadang mencintai seseorang itu bisa tanpa alasan yang jelas. Hanya menatapnya seperkian detik jika hati sudah tertarik maka perasaan akan ikut datang menyertai....

...~Abraham Barraq Alkahfi...

...****************...

Saat sebuah pernikahan biasanya diawali dengan cinta dan kasih sayang. Malam pertama yang diawali dengan kebahagiaan dan menyatunya dua raga tapi berbeda dengan pasangan suami istri baru ini.

Pernikahan yang terjadi karena sebuah kesalahan pahaman. Pernikahan yang terjadi sebuah kesalahan yang tidak sengaja hingga mengharuskan dua anak manusia bersatu menjadi satu dalam ikatan halal.

Tak ada takdir yang mampu menolak. Tak ada orang yang bisa menghindarinya jika Tuhan sudah berkehendak. Entah darimana mereka datang, entah alasan apa yang hadir jika keduanya sudah ditakdirkan menjadi satu maka akan bersama.

Saat Abraham sudah tenang memejamkan matanya. Suara pintu yang terbuka membuat dirinya sengaja berpura-pura tidur. Dia tak mau semakin mengeluarkan hal pedas dari bibirnya karena jujur ketika dia menyuruh sesuatu pada Aufa. Bayangan wajah ibunya terbayang dalam benaknya.

"Kok dia tidur bawah," Kata Aufa yang didengar oleh Abraham.

Perempuan itu menatap pemandangan Abraham yang tidur dengan tenang hanya beralasan karpet tipis di lantai. Perempuan itu merasa kasihan tapi sikap menyebalkan Abraham membuatnya tak peduli dengan keadaan pria itu.

Dia lekas naik ke atas ranjang. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan mulai menatap ke atas.

Pandangannya menatap langit-langit kamar. Dia seakan tengah memikirkan sesuatu yang hanya Aufa mengerti dengan dirinya sendirinya. Sedangkan Abraham, pria itu melirik sedikit. Dia ingin melihat apa yang tengah dilakukan Aufa di ranjangnya.

"Dia menyebalkan, dia tukang suruh tapi kenapa dia malam ini tidur dibawah?" Cuma Aufa dalam hatinya. "Tadi saat aku bangun juga udah ada di atas. Bukannya aku tadi tidur di bawah?"

Aufa menoleh. Dia memiringkan tubuhnya dan melihat Abraham yang tidur dengan tenang. Dalam diam, Aufa menatap lekat sosok suaminya itu.

Sosok pria yang tak pernah ada dalam bayangannya. Sosok pria yang tak ia kenal dinikahkan dengannya.

"Apa yang aku pikirkan?" Kata Aufa sambil memukul kepalanya sendiri.

Dia kembali merebahkan dirinya sendiri. Mencoba memejamkan matanya meski dirinya sedikit terusik dengan tingkah laku Abraham yang super duper aneh.

"Bodo amat! Gak peduli dia mau ngapain. Yang penting malam ini… "gumam Aufa dengan tersenyum dalam keadaan mata tertutup. " Aku tidur dengan tenang."

...****************...

Entah berapa lama dia tertidur. Entah berapa lama dia memejamkan matanya menikmati indahnya alam mimpi. Tiba-tiba telinganya mendengar suara berisik dan membuatnya spontan menarik bantal di kepalanya dan menutup telinganya.

Bukannya semakin tak terdengar. Suara itu semakin kencang dan membuatnya kesal.

"Akhh rame banget sih!" Pekiknya sambil melempar bantal dan terbangun.

Saat dia hampir mengeluarkan sumpah serapah. Tiba-tiba bibir Aufa langsung terkunci saat melihat pria menyebalkan itu bersedekap dada di samping ranjangnya.

"Lihat jam dinding!" Kata Abraham dengan sorot mata tegas.

Aufa menoleh. Dia menyipitkan kedua matanya dan terlihat jarum jam menunjukkan pukul 5 pagi.

"Masih jam 5. Ini terlalu pagi. Aku mengantuk," Kata Aufa dengan ketus.

Saat dia hendak membaringkan tubuhnya lagi. Sebuah tarikan ditangannya membuat dirinya menepis tangan itu secara cepat.

"Kamu harus bangun Aufa!"

"Ini masih pagi. Jadwal kuliahku nanti siang!" Setu Aufa yang membuat Abraham tak menyerah.

"Aku tau!"

"Terus?" Seru Aufa dengan mata melotot. "Kamu tau, terus bangunin aku jam segini?"

"Karena pekerjaanmu banyak di pagi hari," Kata Abraham meletakkan kemoceng di nakas samping ranjang.

"Kamu mau jadiin aku pembantu?"

"Aku sudah menyapu dan mengepel. Tugasmu tinggal membersihkan kaca dan nakas," Kata Abraham dengan tegas.

"Aku gak mau!"

"Kalau kamu gak mau! Jangan harap aku akan memberikan uang jajan untukmu," Kata Abraham yang membuat Aufa tersenyum miring.

Wanita itu menurunkan kedua kakinya ke lantai. Berdiri di depan tubuh Abraham dan mengangkat tangannya dengan pelan.

"Tanpa kau memberiku uang. Papaku sudah memberikan jatahnya untukku!" Seru Aufa dengan wajahnya yang sombong.

Abraham tersenyum smirk. "Kamu yakin? Coba cek akunmu. Apa Papamu mengirimkan uang atau tidak?"

Abraham melewati Aufa dengan pelan. Namun, sebelum dia pergi dari dalam kamar. Kepalanya menoleh dan menatap Aufa yang masih berdiri tenang di dekat ranjang.

"Jika kau ingin uang jajan, ingat! Bersihkan kaca dan nakas sekarang juga," Kata Abraham lalu dia pergi meninggalkan istrinya di dalam kamar.

Langkah kakinya langsung menuju ke dapur. Dia melihat perempuan cantik yang sudah berusia 18 tahun itu tengah berkutat dengan alat dapurnya.

"Selamat pagi, Princess," Sapa Abraham yang membuat gadis itu menoleh.

"Halo, Kak," Sapa Bia dengan ramah. "Kak Aufa sudah bangun?"

"Sudah. Mungkin sebentar lagi suara teriakannya akan memenuhi rumah ini!" Ujar Abraham yang bersamaan dengan apa yang dia katakan memang benar.

"Abraham gila! Kau apakan Papaku sampai dia tak mau mengirimkan aku uang?" Teriak Aufa bersamaan dia keluar dari dalam kamar.

Nafas perempuan itu naik turun. Dia berjalan ke arah Abraham yang berdiri di samping Bia yang tengah kebingungan.

"Kamu apakan Papaku, hah? Kenapa dia tak mau mengirim uang? Cepat katakan!"

"Aku tak mengatakan apapun!" Kata Abraham dengan tenang.

"Jangan pura-pura bodoh! Aku yakin kau mengatakan siap menafkahiku! Aku yakin kau membujuk ayahku untuk berhenti mengirimkan uang!"

"Kamu hanya montir, Abraham! Kamu gak akan sanggup memberiku uang! Uangmu kalah banyak dengan uang papaku! Kamu itu pria miskin. Rumah kecil begini dan sok sokan buat nafkahin aku?"

"Jangan hina Kak Abra lagi, Kak Aufa!" Seru Bia yang ikut sakit hati dengan hinaan itu.

Perempuan cantik itu berdiri di depan Abraham. Menatap lekat istri kakaknya itu dengan tegas.

"Jangan katakan apapun jika tak tahu kebenarannya. Kakak hanya tau dia sebentar. Kakak hanya tau dia dari penampilannya!"

"Penampilan itu penting, Bia! Dari sana kita bisa melihat bagaimana sikap, bibit, bebet dan bobot seseorang!" Kata Aufa masih mengelak.

"Itu salah!" Seru Bia pada Aufa. "Manusia kaya, memiliki segalanya tapi bibirnya pedas dan tak pernah menghargai orang lain. Apa itu yang dimaksud memiliki bibit, bebet dan bobot yang sempurna?"

Aufa terdiam. Dia merasa tertampar dengan ucapan Bia yang kali ini.

"Jika semua yang diukur dari penampilan untuk menilai seseorang. Aku menilai kakak sebagai perempuan yang tak memiliki sopan santun! Jika aku disuruh memilih berteman denganmu atau orang yang hanya naik sepeda tapi beradap. Aku akan memilih berteman dengan mereka karena jelas attitudenya bagus!"

"Bia!" Kata Abraham dengan suara rendah.

"Biarkan saja, Kak. Biarkan Kak Aufa mencerna ucapanku. Biarkan dia tahu bahwa semua penampilan tak pernah bisa menunjukkan sisi baik seseorang!"

~Bersambung

Mbak Bia disini mah tegas hihi. Inget ya waktu disini sama novel mbak Bia beda.

Terpopuler

Comments

Marlita Indriana

Marlita Indriana

keren bia

2024-08-05

0

Anonymous

Anonymous

Keren bia,,

2024-07-30

0

Edy Sulaiman

Edy Sulaiman

hemmmm....!"

2024-06-27

0

lihat semua
Episodes
1 Penawaran Mematikan
2 Penghinaan di Hari Pernikahan
3 Mulut Pedas Aufa!
4 Ceraikan Putriku!
5 Sikap Lain Abraham
6 Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7 Bersihkan Aufa!
8 Pertengkaran Pagi
9 Pulangkan Aku ke Papaku!
10 Ketahuan
11 Mertua VS Menantu
12 Perempuan Bernama Auren
13 Kepulangan Bia
14 Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15 Malam Pengantin
16 Kabar Buruk
17 Ditinggalkan!
18 Siapa Abraham Sebenarnya?
19 Gelisah, Galau, Merana
20 Almeera VS Abra
21 Menyatakan Cinta
22 Abraham dan Athaya
23 Frustasi Akut!
24 Bertemu
25 Ketahuan Potret Aufa
26 Dia Kembali!
27 Aku Hanya Mencintaimu
28 Ciuman Penuh Cinta
29 Suap Manja!
30 Kumakan Kamu!
31 Izin Titut Titut Yah?
32 Malam Yang Indah
33 Otak Omes Abang
34 I Want You!
35 Pemanasan Olahraga
36 Menyatakan Hak Milik
37 Ide Gila Baju Dinas
38 Kegiatan Sempurna Ehh!
39 Kebakaran
40 Firasat buruk
41 Permintaan Resepsi Aufa
42 Perusahaan Terguncang
43 Trauma Yang Membekas
44 Sadar!
45 Kamu Percaya sama aku?
46 Kepergian Aufa dan Abraham
47 Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48 Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49 Langkah Pertama Abraham
50 Pelaku Kebakaran
51 Gombalan Berakhir Ciuman
52 Tipu Muslihat Abraham
53 Panggilan Misterius
54 Kotak Rahasia
55 Rahasia Semi
56 Paket Kedua
57 Pingsan
58 Kabar Bahagia
59 Sikap Posesif Abraham
60 Cake Coklat Keju
61 Berhasil!
62 Imbalan Nakal
63 Kepergok?
64 Hadiah Kecil Dari Abra
65 Merestui
66 Ngidam Yang Melelahkan?
67 Suami VS Istri
68 Tekad Abraham
69 Nasehat Almeera
70 Syndrom Morning Sickness
71 Tidur Dengan Mela
72 Kesempatan dalam Kesempitan
73 Bukti Perselingkuhan
74 Mela VS Aufa
75 Pria Tampan
76 Mood Buruk!
77 Pertemuan Kembali
78 Bule Gila!
79 Musibah membawa Berkah Fort
80 Chuross
81 Si Bucin
82 Fort VS Abraham
83 Kelakuan Abra
84 Godaan Mela
85 Cium Pipi?
86 Berkenalan Ulang
87 Traktiran!
88 Bermain Bersama
89 Taruhan
90 Salah Tingkah
91 Hadiah Tanpa Sengaja
92 Terbongkar Perselingkuhan!
93 Didobrak!
94 Memutar Ingatan!
95 Urus Surat Cerai Kita!
96 Kehancuran Keluarga Semi
97 Kabar Buruk Dari Indonesia
98 Rencana Makan Malam
99 Sikap Manja Abraham
100 Dukungan Abraham
101 Aya VS Ryn
102 Keberangkatan!
103 Reyn Aya Kecil
104 Pamit
105 Lamunan Aya
106 Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107 Cemburu Mode Anak
108 Bengkak
109 Sikap Peduli Abraham
110 Kekhawatiran Calon Ayah
111 Bia tinggal bersamamu
112 Kebahagiaan Aufa
113 Anak Abraham Suka Es Krim
114 Bujukan Aufa
115 Kedatangan Bia
116 Berkumpul Lagi
117 Dendam
118 Diikuti!
119 Ditinggal Sendiri!
120 Kekhawatiran Abraham
121 Balas Dendam Semi!
122 Diikat!
123 Menggilanya Semi
124 Abraham Kembali
125 Siuman
126 Pulang
127 Detik-detik opening
128 Panik
129 Memberi Kabar
130 Penyemangat Utama
131 Welcome To The World
132 Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133 RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA
Episodes

Updated 133 Episodes

1
Penawaran Mematikan
2
Penghinaan di Hari Pernikahan
3
Mulut Pedas Aufa!
4
Ceraikan Putriku!
5
Sikap Lain Abraham
6
Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7
Bersihkan Aufa!
8
Pertengkaran Pagi
9
Pulangkan Aku ke Papaku!
10
Ketahuan
11
Mertua VS Menantu
12
Perempuan Bernama Auren
13
Kepulangan Bia
14
Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15
Malam Pengantin
16
Kabar Buruk
17
Ditinggalkan!
18
Siapa Abraham Sebenarnya?
19
Gelisah, Galau, Merana
20
Almeera VS Abra
21
Menyatakan Cinta
22
Abraham dan Athaya
23
Frustasi Akut!
24
Bertemu
25
Ketahuan Potret Aufa
26
Dia Kembali!
27
Aku Hanya Mencintaimu
28
Ciuman Penuh Cinta
29
Suap Manja!
30
Kumakan Kamu!
31
Izin Titut Titut Yah?
32
Malam Yang Indah
33
Otak Omes Abang
34
I Want You!
35
Pemanasan Olahraga
36
Menyatakan Hak Milik
37
Ide Gila Baju Dinas
38
Kegiatan Sempurna Ehh!
39
Kebakaran
40
Firasat buruk
41
Permintaan Resepsi Aufa
42
Perusahaan Terguncang
43
Trauma Yang Membekas
44
Sadar!
45
Kamu Percaya sama aku?
46
Kepergian Aufa dan Abraham
47
Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48
Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49
Langkah Pertama Abraham
50
Pelaku Kebakaran
51
Gombalan Berakhir Ciuman
52
Tipu Muslihat Abraham
53
Panggilan Misterius
54
Kotak Rahasia
55
Rahasia Semi
56
Paket Kedua
57
Pingsan
58
Kabar Bahagia
59
Sikap Posesif Abraham
60
Cake Coklat Keju
61
Berhasil!
62
Imbalan Nakal
63
Kepergok?
64
Hadiah Kecil Dari Abra
65
Merestui
66
Ngidam Yang Melelahkan?
67
Suami VS Istri
68
Tekad Abraham
69
Nasehat Almeera
70
Syndrom Morning Sickness
71
Tidur Dengan Mela
72
Kesempatan dalam Kesempitan
73
Bukti Perselingkuhan
74
Mela VS Aufa
75
Pria Tampan
76
Mood Buruk!
77
Pertemuan Kembali
78
Bule Gila!
79
Musibah membawa Berkah Fort
80
Chuross
81
Si Bucin
82
Fort VS Abraham
83
Kelakuan Abra
84
Godaan Mela
85
Cium Pipi?
86
Berkenalan Ulang
87
Traktiran!
88
Bermain Bersama
89
Taruhan
90
Salah Tingkah
91
Hadiah Tanpa Sengaja
92
Terbongkar Perselingkuhan!
93
Didobrak!
94
Memutar Ingatan!
95
Urus Surat Cerai Kita!
96
Kehancuran Keluarga Semi
97
Kabar Buruk Dari Indonesia
98
Rencana Makan Malam
99
Sikap Manja Abraham
100
Dukungan Abraham
101
Aya VS Ryn
102
Keberangkatan!
103
Reyn Aya Kecil
104
Pamit
105
Lamunan Aya
106
Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107
Cemburu Mode Anak
108
Bengkak
109
Sikap Peduli Abraham
110
Kekhawatiran Calon Ayah
111
Bia tinggal bersamamu
112
Kebahagiaan Aufa
113
Anak Abraham Suka Es Krim
114
Bujukan Aufa
115
Kedatangan Bia
116
Berkumpul Lagi
117
Dendam
118
Diikuti!
119
Ditinggal Sendiri!
120
Kekhawatiran Abraham
121
Balas Dendam Semi!
122
Diikat!
123
Menggilanya Semi
124
Abraham Kembali
125
Siuman
126
Pulang
127
Detik-detik opening
128
Panik
129
Memberi Kabar
130
Penyemangat Utama
131
Welcome To The World
132
Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133
RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!