Bersihkan Aufa!

...Aku bukan hanya ingin membuatmu sadar bahwa sikapmu buruk pada semua orang. Namun, aku juga ingin merubahmu menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya....

...~Abraham Barraq Alkahfi...

...****************...

"Sudah selesai?" Tanya Abraham yang tiba-tiba datang dan membuat Aufa terkejut.

Perempuan yang baru saja memakan habis mienya langsung menoleh.

"Udah lihat kan? Jadi ngapain pakai tanya lagi," Seru Aufa dengan ketus.

Dia hendak beranjak berdiri dan pergi tapi Abraham lekas menarik tangannya.

"Apa lagi?" Seru Aufa menarik tangannya dengan kasar. "Jangan sentuh aku!"

"Aku suamimu jadi berhak menyentuhmu," Seru Abraham dengan mata tajam menatap kedua bola mata Aufa.

"Tapi kau hanyalah suami di depan Papaku. Untukku, kau hanya pria menyusahkan!" Seru Aufa yang membuat Abraham mengeratkan giginya.

Dia terlihat marah. Namun, sebisa mungkin pria itu menahannya karena bayang-bayang kejadian orang tuanya terlintas di kedua matanya.

"Lepasin!"

"Bersihkan bekas piringmu, Aufa!" Seru Abraham menunjuk piring bekas makanan istrinya. "Lalu bersihkan dapurnya juga!"

"Nggak!" Seru Aufa dengan marah.

Kedua mata itu saling tatap dengan tajam. Baik Abraham maupun Aufa tak ada yang mau mengalah. Namun, Abraham tetaplah Abraham. Pria bijaksana dan bertanggung jawab itu lekas mencengkram tangan Aufa dan menariknya.

"Lepasin!"

"Cuci piring dan peralatan masaknya lalu kamu bisa pergi!"

"Aku gak mau!" Seru Aufa dengan kekeh.

"Aufa!" Seru Abraham dengan suaranya yang berat. "Kalau kamu gak mau membersihkan semuanya. Aku akan menghubungi Papamu dan mengatakan bahwa kamu gak bisa diatur."

"Kamu!" Seru Aufa mengangkat tangannya dan hendak memukul.

Namun, Abraham lekas menangkapnya dan menurunkan tangan itu ke bawah.

"Aku suamimu dan kamu istriku. Jangan pernah mengangkat tangan di depanku karena itu bukan hal baik!" Seru Abraham dengan tegas dan mata tajam itu menatap Aufa dengan lekat. "Bersihkan sekarang! Sampai aku balik kesini belum bersih. Aku yakin Papamu akan langsung kesini!"

Setelah mengatakan itu. Abraham lekas pergi dari sana. Dia masuk kedalam kamar dan meninggalkan Aufa yang hanya bisa menarik turunkan dadanya karena kesalnya sudah mencapai ubun-ubun.

Perempuan itu mengepalkan kedua tangannya.

"Sialan! Tukang ngadu," Umpat Aufa sambil memegang pergelangan tangannya yang sedikit sakit. "Untung gak merah. Kalau merah, udah aku laporin jadi tersangka KDRT."

Aufa lekas menatap sekeliling. Dia menyugar rambutnya ke belakang dan melihat keadaan dapur memang acak-acakan. Tadi dia datang saja, keadaan semuanya rapi dan wangi. Lalu setelah dia memasak. Bekas air, mie, minyak mie yang ke mana-mana dan juga bekas piring dan sendok berhamburan di sana.

Aufa bergidik jijik. Untuk pertama kalinya dia disuruh membersihkan dapur yang menurutnya hal paling menjijikkan dalam hidupnya.

Namun, Aufa tak mau Abraham semakin marah. Dia mulai mengambil panci itu lalu meletakkan di wastafel, lalu bekas piring makannya juga dan sendok garpu semuanya dia masukkan.

Setelah itu, dia juga mencari kain lap untuk membersihkan bekas air yang berantakan.

"Sedang mencari apa, Kak?" Tanya suara mengejutkan dari belakang yang membuat Aufa berbalik.

"Oh. Hai," Sapa Aufa dengan kaku.

"Halo, Kak," Sahut Bia dengan ramah. "Kakak lagi cari apa?"

"Aku cari… " Jawab Aufa dengan terbata.

Bia mengangguk. Dia menunggu kelanjutan ucapan kakak iparnya itu dengan sabar.

"Aku lagi cari kain lap."

"Oh," Sahut Bia lalu berjalan ke arah samping dan mengambil sesuatu disana. "Ini"

Mata Aufa berbinar. Bak anak kecil mendapatkan permen dia menerima kain lap itu dengan bahagia.

"Makasih ya," Kata Aufa pada Bia.

"Sama-sama."

"Nama kamu siapa?" Tanya Aufa pada Bia.

Bia tersenyum. Dia mengulurkan tangannya dengan ramah.

"Namaku Bia, Kak. Adik kandung Kak Abra," Ucap Bia mengenalkan diri.

Aufa tersenyum. Dia bisa melihat sikap Bia berbanding terbalik dengan suaminya itu. Gadis itu menerima uluran tangan Bia dengan senang.

"Aku Aufa. Salam kenal yah."

"Iya, Kak," Jawab Bia dengan mengangguk.

"Kamu mau cari apa?" Tanya Aufa dengan ramah.

"Bia hampir lupa," Kata Bia menepuk dahinya. "Aku mau ambil minum."

"Oh. Yaudah. Kak Aufa tinggal bersihin ini dulu yah," Kata Aufa yang mulai melap area kompor.

"Butuh bantuan, Kak?"

"Nggak perlu. Kakak bisa kok," Sahut Aufa menggeleng.

"Tapi Kakak kelihatan capek. Ayo Bia bantuin!"

"Tapi… "

"Gak usah malu, Kak. Bia juga gak maksa kok. Ayo!"

Akhirnya Kakak ipar dan adik ipar itu bekerja bersama. Keduanya membersihkan area dapur dan meja makan dengan saling bekerja sama. Bahkan sesekali keduanya saling berbincang dan bercengkrama hingga keduanya mulai dekat.

"Bia masih sekolah?"

"Aku udah kuliah, Kak," Sahut Bia dengan cepat.

"Kamu kuliah dimana?"

"Aku kuliah di… "

"Bi!" Panggil Abraham yang datang dan membuat Bia menegakkan tubuhnya.

"Ah, ya, Kak?" Sahut Bia dengan cepat.

"Ngapain kamu disini? Katanya mau belajar?"

"Oh itu. Bia tadi ambil air minum terus lihat Kak Aufa sendirian jadi Bia bantu dulu!"

"Lebih baik kamu kembali ke kamar. Belajar, Bi. Ini bukan tanggung jawab kamu," Kata Abraham dengan tegas.

"Iya, Kak," Sahut Bia tanpa membantah.

Gadis cantik dengan wajah mirip Abraham itu meletakkan kain lap ke tempatnya lagi.

"Kak Aufa aku kembali ke kamar dulu yah," Pamit Bia pada kakak iparnya.

"Iya. Makasih udah bantuin aku, Bi."

"Sama-sama."

Setelah kepergian Bia. Aufa melanjutkan pekerjaannya. Namun, dia baru menyadari satu hal. Wanita itu berbalik dan melihat suaminya yang sangat menyebalkan masih disana.

"Ngapain di sana? Sana pergi. Ganggu orang aja!" Seru Aufa mengusir.

"Ini rumahku. Jadi terserah aku mau kemanapun," Bela Abraham yang membuat Aufa menarik nafasnya begitu dalam.

Aufa tak menjawab lagi. Dia berbalik dan melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai. Dia ingin segera menyelesaikan semuanya dan pergi tidur.

"Setelah semuanya rapi. Matikan lampu dapur!" Kata Abraham lalu dia kembali masuk ke kamar.

Aufa yang mendengar pintu sudah tertutup. Spontan menggerakkan mulutnya dengan suara kecil.

"Bersihkan dapur! Matikan lampu! Inilah itulah," Oceh Aufa dengan kesal.

Dia lekas mencuci bekas panci, piring dan sendok serta garpu dengan hati-hati. Perempuan itu merasa jijik dan bau tapi dia menutup hidungnya dengan bajunya dan menahan semuanya.

"Aku yakin kalau Mama lihat ini. Pria menyebalkan itu akan dimarahi Mama. Ini benar-benar pekerjaan menjijikkan!" Umpat Aufa dengan membilas piring yang sudah di beri sabun.

Perempuan itu lekas meletakkan piring basah dan bersih di tempatnya lalu segera menyabun tangannya lagi agar tak bau.

"Untung sabunnya wangi," Kata Aufa mencium kedua tangannya lalu mulai mematikan lampu dapur.

Dia mulai berjalan menuju pintu kamar dengan menarik nafasnya berulang kali.

"Semoga besok gak ada hal lebih gila dari ini. Aku bisa mati gantung kalau sikap pria menyebalkan itu terus begini!"

~Bersambung

Bang Abra kalau gak gila gila hem hem. Gak bisa hahaha

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

Orang tua kadang salah asuh.tidak menganalkan anak nya untuk hidup mandiri karna di perbudak kekaya'an.

2024-07-30

2

Cahaya Sidrap

Cahaya Sidrap

next thor

2024-05-05

1

Juan Sastra

Juan Sastra

kalau ggak gila ggak abra namanya, sama papa bara aja bilang " bolehkah abra membenci papa,, ...

2023-03-01

2

lihat semua
Episodes
1 Penawaran Mematikan
2 Penghinaan di Hari Pernikahan
3 Mulut Pedas Aufa!
4 Ceraikan Putriku!
5 Sikap Lain Abraham
6 Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7 Bersihkan Aufa!
8 Pertengkaran Pagi
9 Pulangkan Aku ke Papaku!
10 Ketahuan
11 Mertua VS Menantu
12 Perempuan Bernama Auren
13 Kepulangan Bia
14 Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15 Malam Pengantin
16 Kabar Buruk
17 Ditinggalkan!
18 Siapa Abraham Sebenarnya?
19 Gelisah, Galau, Merana
20 Almeera VS Abra
21 Menyatakan Cinta
22 Abraham dan Athaya
23 Frustasi Akut!
24 Bertemu
25 Ketahuan Potret Aufa
26 Dia Kembali!
27 Aku Hanya Mencintaimu
28 Ciuman Penuh Cinta
29 Suap Manja!
30 Kumakan Kamu!
31 Izin Titut Titut Yah?
32 Malam Yang Indah
33 Otak Omes Abang
34 I Want You!
35 Pemanasan Olahraga
36 Menyatakan Hak Milik
37 Ide Gila Baju Dinas
38 Kegiatan Sempurna Ehh!
39 Kebakaran
40 Firasat buruk
41 Permintaan Resepsi Aufa
42 Perusahaan Terguncang
43 Trauma Yang Membekas
44 Sadar!
45 Kamu Percaya sama aku?
46 Kepergian Aufa dan Abraham
47 Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48 Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49 Langkah Pertama Abraham
50 Pelaku Kebakaran
51 Gombalan Berakhir Ciuman
52 Tipu Muslihat Abraham
53 Panggilan Misterius
54 Kotak Rahasia
55 Rahasia Semi
56 Paket Kedua
57 Pingsan
58 Kabar Bahagia
59 Sikap Posesif Abraham
60 Cake Coklat Keju
61 Berhasil!
62 Imbalan Nakal
63 Kepergok?
64 Hadiah Kecil Dari Abra
65 Merestui
66 Ngidam Yang Melelahkan?
67 Suami VS Istri
68 Tekad Abraham
69 Nasehat Almeera
70 Syndrom Morning Sickness
71 Tidur Dengan Mela
72 Kesempatan dalam Kesempitan
73 Bukti Perselingkuhan
74 Mela VS Aufa
75 Pria Tampan
76 Mood Buruk!
77 Pertemuan Kembali
78 Bule Gila!
79 Musibah membawa Berkah Fort
80 Chuross
81 Si Bucin
82 Fort VS Abraham
83 Kelakuan Abra
84 Godaan Mela
85 Cium Pipi?
86 Berkenalan Ulang
87 Traktiran!
88 Bermain Bersama
89 Taruhan
90 Salah Tingkah
91 Hadiah Tanpa Sengaja
92 Terbongkar Perselingkuhan!
93 Didobrak!
94 Memutar Ingatan!
95 Urus Surat Cerai Kita!
96 Kehancuran Keluarga Semi
97 Kabar Buruk Dari Indonesia
98 Rencana Makan Malam
99 Sikap Manja Abraham
100 Dukungan Abraham
101 Aya VS Ryn
102 Keberangkatan!
103 Reyn Aya Kecil
104 Pamit
105 Lamunan Aya
106 Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107 Cemburu Mode Anak
108 Bengkak
109 Sikap Peduli Abraham
110 Kekhawatiran Calon Ayah
111 Bia tinggal bersamamu
112 Kebahagiaan Aufa
113 Anak Abraham Suka Es Krim
114 Bujukan Aufa
115 Kedatangan Bia
116 Berkumpul Lagi
117 Dendam
118 Diikuti!
119 Ditinggal Sendiri!
120 Kekhawatiran Abraham
121 Balas Dendam Semi!
122 Diikat!
123 Menggilanya Semi
124 Abraham Kembali
125 Siuman
126 Pulang
127 Detik-detik opening
128 Panik
129 Memberi Kabar
130 Penyemangat Utama
131 Welcome To The World
132 Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133 RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA
Episodes

Updated 133 Episodes

1
Penawaran Mematikan
2
Penghinaan di Hari Pernikahan
3
Mulut Pedas Aufa!
4
Ceraikan Putriku!
5
Sikap Lain Abraham
6
Pelajaran Pertama Untuk Aufa
7
Bersihkan Aufa!
8
Pertengkaran Pagi
9
Pulangkan Aku ke Papaku!
10
Ketahuan
11
Mertua VS Menantu
12
Perempuan Bernama Auren
13
Kepulangan Bia
14
Insiden Pelakor berakhir Ciuman Pertama
15
Malam Pengantin
16
Kabar Buruk
17
Ditinggalkan!
18
Siapa Abraham Sebenarnya?
19
Gelisah, Galau, Merana
20
Almeera VS Abra
21
Menyatakan Cinta
22
Abraham dan Athaya
23
Frustasi Akut!
24
Bertemu
25
Ketahuan Potret Aufa
26
Dia Kembali!
27
Aku Hanya Mencintaimu
28
Ciuman Penuh Cinta
29
Suap Manja!
30
Kumakan Kamu!
31
Izin Titut Titut Yah?
32
Malam Yang Indah
33
Otak Omes Abang
34
I Want You!
35
Pemanasan Olahraga
36
Menyatakan Hak Milik
37
Ide Gila Baju Dinas
38
Kegiatan Sempurna Ehh!
39
Kebakaran
40
Firasat buruk
41
Permintaan Resepsi Aufa
42
Perusahaan Terguncang
43
Trauma Yang Membekas
44
Sadar!
45
Kamu Percaya sama aku?
46
Kepergian Aufa dan Abraham
47
Pertemuan Aufa dengan Keluarga Abraham
48
Ditolak atau Diterima sebagai menantu
49
Langkah Pertama Abraham
50
Pelaku Kebakaran
51
Gombalan Berakhir Ciuman
52
Tipu Muslihat Abraham
53
Panggilan Misterius
54
Kotak Rahasia
55
Rahasia Semi
56
Paket Kedua
57
Pingsan
58
Kabar Bahagia
59
Sikap Posesif Abraham
60
Cake Coklat Keju
61
Berhasil!
62
Imbalan Nakal
63
Kepergok?
64
Hadiah Kecil Dari Abra
65
Merestui
66
Ngidam Yang Melelahkan?
67
Suami VS Istri
68
Tekad Abraham
69
Nasehat Almeera
70
Syndrom Morning Sickness
71
Tidur Dengan Mela
72
Kesempatan dalam Kesempitan
73
Bukti Perselingkuhan
74
Mela VS Aufa
75
Pria Tampan
76
Mood Buruk!
77
Pertemuan Kembali
78
Bule Gila!
79
Musibah membawa Berkah Fort
80
Chuross
81
Si Bucin
82
Fort VS Abraham
83
Kelakuan Abra
84
Godaan Mela
85
Cium Pipi?
86
Berkenalan Ulang
87
Traktiran!
88
Bermain Bersama
89
Taruhan
90
Salah Tingkah
91
Hadiah Tanpa Sengaja
92
Terbongkar Perselingkuhan!
93
Didobrak!
94
Memutar Ingatan!
95
Urus Surat Cerai Kita!
96
Kehancuran Keluarga Semi
97
Kabar Buruk Dari Indonesia
98
Rencana Makan Malam
99
Sikap Manja Abraham
100
Dukungan Abraham
101
Aya VS Ryn
102
Keberangkatan!
103
Reyn Aya Kecil
104
Pamit
105
Lamunan Aya
106
Pertemuan Aya dan Reyn Dewasa
107
Cemburu Mode Anak
108
Bengkak
109
Sikap Peduli Abraham
110
Kekhawatiran Calon Ayah
111
Bia tinggal bersamamu
112
Kebahagiaan Aufa
113
Anak Abraham Suka Es Krim
114
Bujukan Aufa
115
Kedatangan Bia
116
Berkumpul Lagi
117
Dendam
118
Diikuti!
119
Ditinggal Sendiri!
120
Kekhawatiran Abraham
121
Balas Dendam Semi!
122
Diikat!
123
Menggilanya Semi
124
Abraham Kembali
125
Siuman
126
Pulang
127
Detik-detik opening
128
Panik
129
Memberi Kabar
130
Penyemangat Utama
131
Welcome To The World
132
Rilis Novel Dibuang Suamiku, Dinikahi Millionaire (dayana)
133
RILIS KISAH ANAK BIA DAN SHAKA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!