18

" Mari berpesta! " Dengan penuh semangat Rania mengangkat gelas tinggi-tinggi berisikan soda kemudian meneguknya hingga habis.

Semua orang termasuk Mia ikut mengangkat gelasnya tinggi-tinggi dan bersulang dengan temannya, namun tatapannya teralihkan pada gelas Robert dan juga Laura yang berisikan wine yang bernilai ratusan juta.

Sadar tengah di perhatikan, Robert pun menawari Mia wine tersebut, tapi gadis itu langsung menolaknya dengan alasan belum cukup umur, namun yang membuatnya sangat penasaran adalah pekerjaan orang tua mereka dan seberapa kaya mereka hingga memiliki Vila mewah bahkan kapas pesiar pribadi.

" Bukan siapa-siapa, hanya seorang pebisnis biasa saja, " ujar Robert dengan nada santai sambil memainkan gelas wine di tangannya.

" Bisnis jenis apa? Bolehkah aku melihat kartu nama mu? Siapa tahu kita bisa jadi rekan kerja, " Mia pun langsung mengeluarkan kartu nama dari balik saku bajunya yang kemudian langsung di terima baik oleh Robert.

Namun, saat Robert akan memberikan kartu namanya, Rania tiba-tiba menarik tubuh Mia dan langsung menyuapinya dengan makanan susi tanpa henti.

Rania berkata untuk menikmati liburan ini dari pada mengurus pekerjaan yang seharusnya di lakukan oleh orang dewasa.

Mia pun tersadar bahwa dirinya tengah berlibur, tapi tiba-tiba ia menyadari bahwa ada yang aneh dengan sikap temannya apalagi wajahnya terlihat sangat memerah.

Saat menyadari, Mia pun memekik sambil menggoyangkan tubuh temannya itu, bagaimana bisa dia meminum habis satu botol wine yang ada di atas meja? Dan juga kemana sushi sushi itu pergi? Seingatnya tadi ada beberapa piring sushi di atas meja.

Kepalanya menoleh dengan mendelikkan matanya pada Rania yang ternyata adalah pelaku dari menghilangnya sushi-sushi itu di atas meja.

Apa perutnya terbuat dari karet? Bagaimana bisa dia memasukkan semua makanan itu?

Saat akan meminta makanan tambahan, Kuro segera menghentikannya dengan menatapnya dengan tatapan tajam.

Rania pun merengut sembari cegukan, tapi tak lama kemudian dia bangkit dari posisi duduknya lalu bergegas pergi ke kamar mandi.

Setibanya di sana, ia langsung memuntahkan semua makanan yang baru saja dimakannya termasuk wine yang di minumnya.

Beberapa saat kemudian Kuro pun menyusul, dengan sabar dan telaten ia menemani gadis itu sembari menepuk lembut punggung itu dengan kaki kecilnya.

" Ra, lo nggak apa-apa kan? lagian Lo itu lapar apa gimana sih?! Bisa-bisanya lo menghabiskan semua makanan itu dam berakhir seperti ini. "

Meski sudah di marahi habis-habisan, Rania hanya tersenyum lebar sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapih.

Mia pun hanya bisa menghela nafas, sepertinya temannya ini sudah benar-benar mabuk berat.

Karena kondisi Rania yang semakin parah karena demam yang belum kunjung turun, Mia kemudian meminta Robert untuk kembali ke vila.

Tanpa melakukan penolakan, Robert meminta pada pengemudi kapal untuk kembali di vila.a

Setibanya di Vila, Mia tak bisa berhenti gelisah karena demam Rania yang semakin tinggi, apalagi di sana ia tak bisa menemukan kotak P3K dimana pun.

Tak ingin membuat kondisi tubuh temannya semakin parah, Mia meminta Robert dan Laura untuk menemaninya pergi ke apotek terdekat.

" Kenapa harus ikut? " Tanya Laura.

" Kalau nggak? Lo emangnya mau ngurusin Rania? "

Dengan cepat, Laura menggelengkan kepalanya, sebagai vampir golongan bangsawan ia tentunya tak ingin tangannya kotor, terlebih lagi gadis itu adalah saingannya.

" Lalu kenapa bukan kamu yang mengurusnya? Apa kamu akan membiarkannya begitu saja? " Tanya Laura kembali.

Dengan sabar, Mia menghela nafas kemudian menghitung beberapa angka untuk menenangkan diri, setelah dirinya sudah santai, ia kemudian menjelaskan alasannya membawa mereka berdua, selain ia tak bisa mengendari mobil, ia juga tak bisa mempercayakan obat itu pada mereka dan untuk temannya, meski dia sedang menderita, tapi tak lama kemudian, gadis itu pasti akan baik-baik saja.

Kendati begitu, ia tetap membuat antisipasi jika terjadi sesuatu pada temannya itu.

Mendengar hal tersebut, Laura pun menganggukkan kepalanya mengerti,

Ketiganya pun segera bergegas pergi ke apotek yang berada di pinggir kota menyisakan Kuro yang dengan telaten mengurus demam Rania yang berangsur menurun.

Sejujurnya Kuro sangat terkejut dengan sikap Rania yang tak biasa, ini juga adalah pertama kalinya ia melihat seorang gadis yang langsung jatuh demam setelah meminum satu botol Wine yang telah berusia puluhan tahun.

Di rasa gadis itu telah tidur, Kuro bangkit dari posisi duduknya, berniat untuk mengganti air kompres dengan yang baru, tapi tangannya tiba-tiba di tahan oleh Rania yang ternyata masih terjaga.

Kuro pun terdiam sejenak, kemudian berbalik dan kembali ke posisi awal.

" Tolong jangan pernah tinggalkan aku sendiri? " Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Rania.

Dahi Kuro mengernyit, " apakah dia mabuk? " batinnya.

" Tolong jangan pernah tinggalkan aku sendiri, tinggallah bersama ku dan jangan pulang. "

Salah satu alis Kuro terangkat sebelah, sepertinya gadis itu benar-benar telah mabuk. Bukankah sebelumnya dia ingin sekali mengusirnya? Lantas apa yang membuatnya berubah?

" Bisakah kamu menjanjikan satu hal itu saja? Jangan pernah pergi meninggalkan ku, " ucap Rania kembali.

Kuro pun mendengus, sebenarnya ada apa dengan gadis itu, mengapa dia memintanya untuk melakukan janji yang belum tentu bisa ia tepati.

" Rania, tidurlah, " ujar Kuro sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis itu tapi tiba-tiba tubuhnya tertegun ketika sebuah ciuman kilat mendarat tepat di bibirnya.

Kepalanya menoleh menatap gadis itu dengan tatapan terkejutnya, " kamu. . Apa yang kamu. .

Sadar akan perbuatannya, Rania langsung menyembunyikan tubuhnya di balik selimut untuk menyembunyikan rona pipinya karena malu.

Di dalam hati, ia mengutuk akan tindakannya itu yang terkesan mencuri itu, sejujurnya tak pernah terbayangkan olehnya untuk mencium bibir Kuro, tapi ingatan saat mereka berciuman membuat api cemburunya semakin besar dan melakukan tindakan yang memalukan itu.

Kuro yang mengerti akan arti sikap dari gadis itu, tersenyum tipis, ia kemudian menarik selimut itu lalu menindih tubuh gadis itu.

Keduanya saling bertatapan dengan suara jantung yang saling

berdetak dengan kencang.

Saat Kuro mendekatkan wajahnya, secara spontan Rania ia menutup kedua matanya sembari menunggu sesuatu, tapi anehnya beberapa saat kemudian tidak terjadi apapun.

Perlahan Rania membuka kedua matanya dan mendapati pria itu hanya memandanginya dari atas tanpa melakukan apapun seperti di dalam bayangannya.

Sadar tengah di permainkan, Rania mendorong tubuh pria itu dengan perasaan kesal.

Melihat sikapnya seperti itu, Kuro pun terkekeh geli sambil mengejek, " kenapa? Apa kamu berharap aku melakukan sesuatu? "

" Tidak! Memangnya aku harapkan? Bukannya kamu sedang merawat ku? Kenapa malah menjahili ku seperti ini? '

" Jadi kamu memang mengharapkannya. "

" Kamu. .

cup, Kuro mengecup kilat dahi Rania membuat gadis itu membatu bak sebuah boneka kayu.

Terpopuler

Comments

Frando Kanan

Frando Kanan

next Thor 😃

2023-01-11

0

Rini akbarini

Rini akbarini

cie2...
sama2 suka yaaaa..
😍😍😍😍😘😘😘😘

2023-01-11

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!