17

Di sebuah tempat yang kumuh, Kuro terbangun, kedua matanya mengerjap pelan dan mendapati seorang pengemis yang terlihat sangat familiar tapi juga terasa asing. Mulutnya menguap lebar, kemudian merenggangkan tubuhnya yang terasa lebih ringan dari sebelumnya.

Pria pengemis di depannya menatapnya dengan perasaan senang, " syukurlah kamu akhirnya bangun juga, ku pikir kamu akan bangun seminggu kemudian, " ujarnya.

Kuro terdiam tak menjawab, menatap pria itu dengan tatapan aneh. Entah kenapa dari gaya berbicaranya yang seolah-olah tahu bahwa dirinya bukanlah hanya seekor kucing biasa saja membuat Kuro merasa bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya.

Saat berusaha memikirkan siapa sosok pria pengemis di depannya, Kuro malah teringat akan kejadian semalam yang membuat kekuatannya semakin menurun dan hampir membuatnya mati, tapi entah kenapa, ia merasa bahwa tubuhnya baik-baik saja sekarang.

' Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Mengapa dirinya bisa berakhir dengan pria pengemis di depannya? ' Pikir Kuro.

Namun tak lama kemudian, ia teringat akan Rania yang pasti tengah mencemaskan keadaannya, tanpa membuang waktu, ia segera bergegas pulang ke rumah gadis itu.

Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya tiba-tiba di angkat oleh pria pengemis itu yang mengatakan bahwa dia akan mengantarnya pulang hingga selamat.

Kuro yang tak bisa bicara sembarangan dengan wujudnya ini hanya bisa pasrah membiarkan pria pengemis itu membawa tubuhnya, tapi jika pria itu berani macam-macam dengannya maka ia tak segan-segan untuk membunuhnya.

Di sisi lain, Rania yang lupa bahwa Kuro tidak pulang seharian kemarin tengah sibuk merapihkan barang bawaan yang akan di bawanya nanti, hingga sebuah bel pintu mengganggu aktifitasnya sejenak.

Dengan terpaksa, Rania bangkit dan melihat siapa yang mengganggunya merapihkan bawaannya.

Saat pintu terbuka, Rania terkejut melihat Kuro yang telah pulang bersama pria pengemis yang waktu lalu menyelamatkan Kuro.

" Paman! Jadi kamu yang menemukannya? Terima kasih. " ucap Rania dengan tulus.

" Apa kamu akan bepergian? " Tanya pria pengemis itu yang melihat isi koper yang masih berantakan.

Dengan malu-malu, Alona mengatakan bahwa dirinya akan bepergian bersama beberapa teman sekelasnya.

Kepala Pengemis itu mengangguk mengerti.

Seakan tak ingin mengganggu aktifitas gadis itu, pria pengemis itu kemudian memutuskan untuk pulang setelah memastikan Kuro telah sampai dengan selamat.

Namun, saat berbalik, tangannya tiba-tiba di tahan oleh Rania yang memintanya untuk makan siang bersama, sebab kebetulan dirinya baru saja memasak makanan dengan porsi yang cukup banyak.

Meski sempat ragu dan ingin menolak, tapi melihat ketulusan yang terpancar dari kedua bola mata Rania membuat pria pengemis itu merasa tersentuh dan kemudian memutuskan untuk menerima tawaran itu.

Saat berada di meja makan, entah lapar atau memang doyan, dalam waktu sekejap, pria pengemis itu telah menghabiskan semua masakan yang ada di atas meja yang awalnya Rania berniat membawa semua makanan itu untuk bekal di perjalanannya nanti sebab ia tak ingin mengeluarkan sejumlah uang untuk makanan cepat saji.

Kendati begitu, Rania tidak merasa marah atau pun kesal, karena semua makanannya telah habis tak tersisa, dia justru malah merasa sangat senang sekali, karena untuk pertama kalinya setelah dua tahun yang lalu ada orang yang mau memakan masakannya, meski dirinya tahu bahwa rasanya sangat hambar.

Setelah selesai menyantap semua masakan itu, pria pengemis itu pamit pergi dan tanpa lupa mengucapkan terima kasih atas semua makanan yang sekarang sudah berada dalam perutnya.

Rania kemudian mengantar pria itu sampai depan rumahnya, ia kemudian berdiri menatap kepergian pria pengemis itu hingga sosoknya benar-benar telah pergi.

Meski liburan semester kali ini hanya ada empat orang saja, tapi tak membuat perjalanan mereka terasa jenuh dan membosankan, sebab selama perjalanan, Rania terus menghangatkan suasana dengan bernyanyi dan juga bersenda gurau.

Selama menempuh perjalanan selama hampir delapan jam lamanya, mereka akhirnya sampai di sebuah pulau pribadi yang merupakan milik Robert sendiri.

Rania yang sangat terkesima akan keindahan dan kemewahan dari bila tersebut tak bisa membuatnya berhenti berdecak kagum, bagaimana tidak, bahkan ukuran halamannya enam kali lebih besar dari ukuran rumah miliknya.

Ia kemudian berlari ke sana kemari layaknya seorang anak kecil yang baru menerima mainan baru.

Selain karena ukurannya yang begitu besar, Vila itu juga langsung menghadap ke arah laut, membuat rumah itu menjadi rumah paling sempurna dengan pemandangan yang juga sempura.

Karena lelah akibat perjalanan yang begitu panjang, Robert meminta mereka untuk beristirahat, agar besok saat berjalan-jalan dengan menaiki kapal pesiar, tubuh mereka tak akan kelelahan.

Rania yang mendengar akan menaiki kapal pesiar untuk pertama kalinya merasa sangat bahagia, ia kemudian bertanya-tanya, bagaimana kehidupan sebelumnya yang membuatnya bisa berteman dengan orang-orang kaya seperti Laura dan juga Robert.

Saat menjelang malam, Kuro tak bisa tidur sama sekali karena dirinya tetap merasa tidak nyaman, entah kenapa dirinya merasa tak peduli sejauh mana pun ia membawa Rania pergi, perasaan tidak nyaman ini akan selalu menghantuinya.

Saat dirinya bergelut dengan pemikirannya sendiri, tiba-tiba

sebuah tangan cantik melingkar di pinggangnya yang kemudian memeluk tubuhnya dengan erat dari belakang.

Kuro hanya terdiam, tak melawan mau pun membalas pelukan itu sebab ia tahu siapa pemilik tangan itu yang merupakan milik tunangannya yaitu Laura.

" Aku mencintai mu dan juga aku sangat merindukan mu. " Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Laura, tapi Kuro masih tak bergeming sedikit pun.

Hingga beberapa saat kemudian, Kuro pun melepaskan tangan itu dari tubuhnya tanpa melirik wajah tunangannya itu.

Tubuh Laura tertegun sejenak, menyadari bahwa tunangannya tidak merindukannya sama sekali seperti yang tengah dirasakannya, Dengan terpaksa ia menjauhkan diri dari tunangannya itu.

Keduanya saling terdiam dalam sunyinya malam dengan pemikiran mereka masing-masing. Hingga tak sengaja Laura melihat Rania yang tengah berjalan melewatinya.

Seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Laura tiba-tiba menarik tengkuk leher Kuro kemudian mengecup lembut bibir tunangannya itu.

Di sisi lain, Rania yang awalnya berniat untuk membuat segelas susu hangat, tiba-tiba mematung melihat pemandangan yang begitu menyakitkan mata dan juga perasaanya. Sekarang dirinya mengerti kenapa Robert tiba-tiba mengajaknya berlibur, mungkinkah ini adalah hadiah perpisahan? Jika benar begitu, dirinya lebih memilih untuk tidak mengambilnya dari pada hati dan juga matanya harus merasakan perih yang begitu luar biasa.

Secara tak sadar kedua tangannya menggenggam ujung pakaiannya dan menyadari bahwa laura adalah tunangan Kuro dan selamanya ia tak akan pernah berdiri di sampingnya.

Tak ingin membuat hatinya semakin hancur, Rania memutuskan mengurungkan niat nya untuk membuat segelas susu dengan memilih kembali ke kamar untuk menenangkan perasaannya..

Terpopuler

Comments

Frando Kanan

Frando Kanan

btw next Thor 😃

2023-01-10

1

Frando Kanan

Frando Kanan

haa....emng bangke 💢

2023-01-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!