Saat ini Kuro hanya terduduk di dekat jendela sembari mengibaskan ekornya ke sana kemari, menatap pemandangan di balik jendela dengan tatapan kosong.
Rania yang baru saja pulang bekerja, beranggapan bahwa pria itu sedang mempertimbangkan untuk pulang bersama adiknya itu, membuatnya sedikit sedih dan juga tak rela, tapi ia juga tak memiliki hak atau pun melarangnya untuk pulang ke tempat asalnya.
Nyatanya, Kuro sedang tidak mempertimbangkan untuk kembali bersama adiknya melainkan ia sedang berpikir bagaimana caranya menjauhkan Rania dari marabahaya yang bisa mencelakainya kapan saja, di saat dirinya tak memiliki kekuatan atau pun uang untuk melarikan diri.
Tunggu? Bukankah dia sekarang memiliki Robert dan Laura? Pastinya mereka tak akan menolak permintaanya yang sederhananya ini bukan?
Tanpa membuang waktu, ia pun segera pergi mengunjungi sang adik.
Rania yang tahu kemana pria itu pergi hanya bisa menahan isak tangisnya, sepertinya dirinya akan kesepian lagi.
Setibanya di sana, Robert senangnya bukan main saat mendapati sang kakak berkunjung ke rumahnya dengan suka rela dan beranggapan bahwa pria itu telah bersedia pulang bersamanya, karena sebelumnya ia pernah berkata akan menunggunya sampai dia siap, tapi ia tak pernah menduga bahwa kakaknya akan berubah pikiran dalam waktu singkat.
Sepertinya, ia harus memberi Rania imbalan atas kerja kerasnya.
Dengan perasaan bahagia, Robert langsung menyuruh Laura berkemas untuk kembali ke negeri Vampir.
" Kalian mau kemana? " Tanya Kuro dengan raut wajah bingung.
Laura dan Kuro pun saling bertukar pandang sejenak.
" Tentu saja pulang, memangnya mau kemana lagi? Kakak tidak berfikir bahwa kita akan pergi jauh untuk melarikan diri kan? " Jawab Robert dengan sebuah pertanyaan menyelidik.
" Bagaimana kamu tahu? "
Seketika semua barang yang ia bawa untuk pulang, jatuh berserakan di lantai, kedua lututnya terasa mati rasa, menatap tak percaya pada sosok sang kakak yang berdiri di hadapannya.
Dahi Kuro mengernyit, padahal dirinya belum mengatakan apa pun, ia hanya datang untuk berkunjung sekaligus meminta sesuatu pada Robert.
Seakan tersambar petir, perasaan bahagia dan senang yang Robert rasakan, luntur seketika mengetahui niat asli sang kakak yang datang mengunjunginya.
Dengan wajah kesalnya, Robert sama sekali tidak mendengarkan permintaan sang kakak yang menyuruhnya untuk mencari tempat yang begitu jauh hanya dalam waktu satu hari, adapun beberapa kriteria yang disebutkannya ialah, tempat itu harus jauh dari pemukiman manusia dan juga tempat itu harus terlihat cocok untuk berlibur sementara waktu, di tambah ia tak ingin Rania tahu akan hal ini.
" Maaf saja tapi aku tidak mau menuruti permintaan mu sebelum kakak berjanji akan kembali bersama ku dalam waktu dekat ini, bagaimana? "
Kuro hanya terdiam sejenak, beberapa saat kemudian ia pun memilih untuk memikirkan cara lain dan pergi mencari orang lain yang bisa membawa Rania pergi untuk sementara waktu sampai ia menemukan cara untuk mengembalikan kekuatannya.
Namun, tiba-tiba Robert dan Laura menghadang Kuro, mengatakan bahwa mereka terpaksa melakukan semua ini, jika tidak, maka klan vampir selamanya akan di pegang oleh Cesire yang jahat dan mereka yang tak bersalah akan menderita.
" Bukankah masih ada dirimu? Kenapa harus Aku? Lagi pula Aku ini sudah mati, " ujarnya, " sudahlah jika tak mau membantuku maka aku akan pergi mencari orang lain saja, " lanjutnya sambil berusaha keluar dari rumah Robert. Tapi tiba-tiba sebuah cahaya keemasan yang membentuk seperti sebuah kurungan, mengelilingi tubuh Kuro hingga membuatnya tak bisa melarikan.
" Biarkan aku pergi atau kamu akan menyesal selamanya. "
" Tidak akan pernah, " Albert pun semakin memperkuat penghalang itu dengan bantuan Laura.
Namun, penghalang itu hancur berkeping-keping ketika Kuro merubah wujudnya menjadi manusia, tubuh Robert dan Laura pun terpental cukup jauh hingga membentur dinding.
Dengan tatapan datar, Kuro berjalan keluar dari rumah itu, tapi sayangnya ia tak bisa pergi begitu saja sebab adiknya kembali menahannya dengan mengikat tubuh sang kakak dengan benang emas yang ia sembunyikan di dalam bajunya, tapi lagi-lagi semuanya di hancurkan begitu saja oleh kakaknya.
" Apa karena gadis manusia itu?! "
Langkah kaki Kuro pun terhenti.
Sambil memegang dadanya yang terasa sakit, Robert mengungkapkan kekecewaannya terhadap sang kakak yang lebih memilih menjadi makhluk rendahan dan tinggal bersama seorang gadis manusia dari pada kembali ke negeri asal mereka.
" Jika gadis itu memang alasan mu untuk tetap bertahan di sini maka jangan salahkan aku jika aku akan membunuhnya dan. . .
Kata-katanya terputus ketika tangan sang kakak mencekik lehernya dengan kuat, kedua matanya menatapnya dengan tatapan marah.
" Albert hentikan! " Pekik Laura yang kemudian mendorong tubuh Kuro menjauh dari Robert, dengan berlinang air mata ia meminta pada mereka untuk tidak berkelahi lagi.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Kuro segera pergi meninggalkan rumah adiknya.
Esok paginya.
Rania sedihnya bukan main, sebab Kuro belum pulang hingga saat ini, mungkinkah pria itu benar-benar telah kembali ke tempat asalnya? Jika benar, maka pria itu sangatlah kejam karena tak memberikan salam perpisahan, apakah karena dirinya pernah mengatainya monster?
Secara spontan, kedua tangan Rania mengacak rambutnya kemudian menenggelamkan wajahnya ke atas meja, dirinya sangat menyesal karena pernah mengatakan kata-kata kasar seperti itu, andai saja waktu bisa terulang kembali, mungkin ia akan pergi ke sana dan menampar dirinya atas sikap bodohnya itu.
Tok! Tok! Tok! Tiba-tiba Rania terperanjat setelah mendengar mejanya di ketuk tiga kalo, ia pun mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang mengganggunya.
Namun kedua bolanya terbeliak ketika mendapati Robert berdiri di depannya, bukankah mereka sudah pulang? Mengapa dia masih ada di sini? Apa jangan-jangan dia ingin menyampaikan pesan perpisahan dari Kuro?
Tanpa sadar kedua tangan Rania mengepal dengan erat di atas meja sambil menyiapkan hati dan telinganya untuk mendengar pesan terakhir dari Kuro untuknya.
" Ayo pergi berlibur. "
" Aku tahu kalian pasti. . . Tunggu? Apa? "
" Apa telinga mu sudah rusak dan tak bisa mendengar perkataan Robert dengan jelas?! " Laura menimpali yang muncul dari balik punggung Robert.
" Bisa nggak soh kalau lo ngomong, meski terdengar halus tapi jangan terdengar nyakitin perasaan orang dong?! " Mia ikut menimpali melihat temannya terintimidasi oleh dua orang itu. Dengan gagah ia berdiri di hadapan temannya itu.
Rania yang merasa otaknya belum bekerja sepenuhnya hanya bisa terperangah, ia merasa bahwa telinganya salah mendengar.
" Kamu tidak salah dengar, aku memang mengajak mu untuk berlibur besok, " ujar Robert yang mengerti akan ekspresi bingung yang tersirat jelas di wajah Rania.
" Bukankah kalian akan pulang? "
" Kata siapa? "
Dahi Rania pun mengernyit, jika mereka tak akan pulang ke negeri mereka, lalu kemana perginya Kuro?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Frando Kanan
next Thor 😃.
2023-01-08
0