Meski Robert sudah tak lagi memintanya untuk kembali, tapi Kuro tahu dengan jelas dengan sifat adiknya yang keras kepala, ia yakin bahwa dia pasti tengah membuat rencana agar membuatnya menyerah, tapi Kuro tidak akan peduli sama sekali dengan apa yang di lakukan adiknya itu karena dirinya akan berpegang teguh pada keyakinannya untuk tidak kembali ke sana apapun yang terjadi.
Sambil menunggu Rania pulang, Kuro memilih menonton acara televisi dengan di temani oleh semangkuk camilan milik gadis itu, meski terasa hambar tapi setidaknya ia bisa memakan sesuatu untuk menemaninya menonton.
Tiga jam sebelum Rania pulang, Kuro langsung bergegas pergi ke toko swalayan untuk membeli beberapa bahan baku yang sudah habis, tentunya dengan sedikit uang yang sudah di jatah oleh gadis itu.
Meski ingin mengeluh, tapi Kuro tak bisa terus menerus membebani gadis itu, selain tak bisa mencari pekerjaan, ia juga tak bisa mempertahankan bentuk manusianya lama-lama, sebab bentuk manusianya itu sangat menguras tenaga.
Di rasa semua bahan baku sudah di beli, Kuro memutuskan untuk segera pulang dan memasak untuk Rania nanti saat dia pulang dari sekolah.
Akan tetapi, tiba-tiba langkah kaki Kuro terhenti ketika dirinya merasakan samar-samar aura membunuh yang begitu kuat. Dengan segera ia pulang ke rumah sembari menyembunyikan aura keberadaanya.
Namun, beberapa saat kemudian, aura membunuh itu menghilang begitu saja layaknya sebuah hembusan angin.
Di sisi lain, di dalam kelas, Robert terduduk menghadap pada Rania menatapnya dengan tatapan memohon, sedangkan Mia yang tak mengerti akan permasalahan di antara mereka berdua hanya bisa terdiam sambil menatap wajah Robert yang tengah memohon, membuat wajahnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Berbeda dengan Rania yang merasa risih, pasalnya wajah Robert sangat miri dengan Kuro, membuatnya tak bisa lama-lama memandang wajah itu.
" Gadis kecil, tolong bantulah aku untuk menghancurkan keteguhan kakak ku itu, aku berjanji jika kamu berhasil maka aku akan memperlakukan mu dengan baik, jika perlu kamu bisa meminta apapun yang kamu inginkan, " ungkap Robert.
Rania hanya terdiam tak menjawab, ia memilih mengabaikan Robert dengan menyibukkan diri dengan menggambar karakter pria favoritnya sambil memasang headset di kedua telinganya agar dirinya bisa fokus dengan gambarnya.
Kendati begitu, Robert tak menyerah, tangannya menarik kemudian menggenggam tangan Rania dengan tatapan memohon.
Rania yang mudah luluh dengan pria berwajah tampan, hampir saja menyetujui permintaan itu jika Laura tidak menarik pundaknya dan mengancam bahwa dirinya bisa membunuh siapapun yang dekat dengannya.
Tanpa sadar, Rania pun meneguk salivanya, kedua matanya terlihat takut menatap kedua mata Laura yang begitu mengintimidasi.
Di samping Rania, sebagai teman yang paling menyayangi Rania, ia sangat membenci tatapan Laura yang menatap rendah pada temannya itu.
" Apa bokap dan nyokap lo nggak ngajarin bagaimana caranya meminta tolong dengan baik? Wahai nona princess! " ungkap Mia dengan nada mengejek di akhir kalimatnya.
Salah satu alis Laura berkedut, gadis itu mendengus kesal, kemudian meraih kerah Mia tinggi-tinggi hingga membuat kedua kakinya tak lagi menapak di lantai.
Kendati begitu, bukan Mia namanya jika merasa tertekan kemudian langsung menyerah begitu saja, ia kemudian langsung menarik rambut Laura dengan kencang, hingga pada akhirnya perkelahian antara keduanya tak bisa dielakkan.
Robert yang awalnya hanya meminta Rania untuk membantunya, malah menjadi seperti ini di karenakan tempramen Laura yang mudah terbakar dan mulut Mia yang tak bisa terkontrol.
" Ikut aku, " ucap Robert sambil menarik tangan Rania pergi dari kekacauan yang tengah terjadi di dalam kelas.
Kini keduanya saling berdiri berhadapan di tempat pertama kali mereka bertemu.
" Tolong bantu aku untuk pertama dan terakhir " ucap Robert
Rania hanya bisa terdiam membisu, pasalnya ia tahu bagaimana cara membujuk Kuro, pasalnya pria itu terlihat sangat mirip dengannya yang enggan memperlihatkan kelemahan dan kesedihannya pada orang lain.
" Jika dia tidak mau, kenapa harus memaksanya? "
" Kamu mungkin tidak tahu siapa sebenarnya kakak ku itu, sejujurnya aku pun tak ingin memaksanya pulang, tapi mau bagaimana lagi, hanya dialah satu-satunya cara untuk mencegah kehancuran yang terjadi di dalam bangsaku. " Jawabnya dengan tegas namun terdengar menyakitkan.
" Lalu bagaimana jika kondisi mu tidak memungkinkan mu untuk kembali, apakah kamu akan tetap kembali? "
Robert terkejut mendengar pernyataan itu, kedua bola matanya terbeliak, " apa dia terluka parah?! "
" dia. . .
Tiba-tiba, Robert bisa mendengar kakaknya memanggil dirinya, tanpa membuang waktu lagi, ia langsung pergi menghampiri keberadaan kakaknya, mengabaikan perkataan Rania yang belum terucap.
Dengan perasaan senang, Robert menghampiri kakaknya, berharap bahwa kali ini kakaknya pasti telah memutuskan untuk pergi bersamanya.
Namun dirinya terlalu banyak berharap, sebab alasan kakaknya memanggilnya adalah hanya memintanya untuk menjaga Rania selama berada di sekolah.
" Memangnya ada apa? "
Bukannya menjawab, Kuro malah pergi begitu saja meninggalkan Robert yang kebingungan.
Di salah satu bagian sisi kota, Kuro berdiri di sebuah gedung pencakar langit mencari pemilik aura yang memiliki niat membunuh yang begitu kuat tapi terasa samar-samar.
Beberapa saat kemudian sebuah nama pun terlintas dalam benaknya, meski jarang bertemu, Kuro menyakini bahwa aura ini adalah milik Argolo, mungkinkah pria itu sudah mengetahui akan keberadaanya? Jika dugaannya benar, dengan kondisinya yang belum stabil, ia tak yakin bisa menang dari pria itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Frando Kanan
next Thor 😃
2023-01-07
0
Rini akbarini
jadi penasaran...
bagaimna cara mengembalikan kestabilan energi albert...
kalo albert k
gak mau sama laura...
laura ama robert aja...
kan muka mereka jga sangat mirip...
😄😄😄😄😄😍😍😍😍
2023-01-07
2