13

Sebelum membawa mereka untuk menemui Kuro, Rania memastikan terlebih dahulu apakah mereka sungguh adik dan juga tunangan dari pria itu karena dirinya tak ingin membawa orang lain ku rumahnya.

" Kamu ingin kami membuktikan seperti apa? Bukankah dengan wajah ku saja sudah bisa menjadi bukti, kamu pasti menyadarinya bukan, bahwa wajah ku inj sangat mirip dengannya? " Ungkap Albert tanpa basa basi.

Rania pun bungkam seketika dan tak bisa mengelak, padahal awalnya ia ingin membuat mereka menyerah, tapi sepertinya strateginya sangat buruk untuk menghadapi Albert yang pintar itu.

Dengan berat hati, Rania membawa kedua vampir itu pulang bersamanya untuk menemui Kuro.

Sepanjang jalan, Rania hanya bungkam sambil memikirkan sesuatu.

Setibanya di depan rumah, Rania langsung memasukkan kunci rumahnya, tapi di detik berikutnya tubuhnya tertegun ketika menyadari bahwa pintu rumahnya tak bisa di buka sama sekali, bahkan dengan bantuan Albert sekalipun pintu itu tak mau terbuka.

Rupanya, semua ini karena Kuro yang tak ingin melihat adik dan juga tunangannya, pria itu mengungkapkan bahwa dia tak ingin pergi kemana pun dan hanya ingin tetap di tempat ini.

Mendengar hal itu, ada secercah cahaya kebahagiaan yang terpancar dari wajah Rania, tapi dengan segera ia menyembunyikannya. Berbeda dengan Robert dan juga Laura, ekspresi wajah mereka terlihat sangat sedih dan juga kecewa, mereka bahkan memohon pria itu untuk kembali bersama mereka ke kerajaan Vampir.

" Maaf saja, tapi aku berpegang pada pendirian ku untuk tetap tinggal di tempat ini, " ungkap Kuro dengan tegas.

Kedua bahu Robert merosot, kedua matanya tampak terlihat sangat ingin menangis, begitu juga dengan Laura.

Kendati begitu Rania tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa meminta mereka untuk membiarkan pria itu menenangkan diri.

Meski berat, Robert dan Laura pun menuruti perkataan Rania, kemudian pergi.

Tak lama setelah mereka pergi, pintu rumah pun terbuka begitu saja membuat tubuh Rania sedikit tersentak, saat masuk kedalam rumah, untuk pertama kalinya ia melihat ekspresi Kuro seperti itu, terlihat ada perasaan sedih, menyesal, takut, dan juga di penuhi dengan rasa amarah.

Rania kemudian hanya bisa terdiam dalam dan terjebak dalam perasaan canggung.

" Maaf, karena sudah membawa mereka ke sini, " kata itu keluar begitu saja dari mulut Rania, berharap bisa mencairkan suasana, tapi sepertinya, ia salah memilih topik pembicaraan, sebab raut wajah pria itu tampak menyeramkan dengan wajah suramnya.

" Jika mereka meminta mu untuk membujuk ku, lebih baik kamu menghindar dan jangan tanyakan alasannya kenapa, " ucap Kuro dengan tegas, ia kemudian meringkuk di atas sofa dengan wujud kucingnya.

Rania kembali bungkam sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung karena tak tahu bagaimana cara menghibur pria itu.

Kendati begitu, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Rania tersenyum puas sebab pria itu memilih untuk tetap tinggal di rumah kecilnya ini.

Saat menjelang sore, Rania berpamitan untuk pergi bekerja pada Kuro dengan memberinya pelukan hangat, namun pria itu tak bergeming sedikit pun, padahal biasanya dia akan menendang wajah Rania dengan kaki kecilnya atau pun meronta-ronta ingin di lepaskan, sebab pria itu sangat tidak suka di peluk.

Kendati begitu, Rania tetap memilih wajah ceria, lalu pergi berangkat untuk bekerja.

Karena kondisinya uang belum pulih sepenuhnya, untuk sementara waktu, Ryola memberi waktu jam kerja singkat tapi dengan bayaran seperti biasanya.

Awalnya ingin menolak dengan alasan tak ingin membuat karyawan lain iri dengan perlakuan istimewa itu.

" Siapa memangnya yang berani iri padamu?! Jika ada maka jangan segan untuk mengatakannya padaku, dan akan ku pecat dia saat itu juga, KALIAN MENGERTI!! "

Semua pekerja pun serentak menjawab dengan suara lantang, " MENGERTI BU! "

Dengan senyum yang di paksakan, Rania pun menganggukkan kepalanya setuju, ia kemudian bersiap-siap untuk mengirim pesanan para pelanggan.

Beberapa saat kemudian, Rania tiba-tiba mendapat orderan dengan jumlah yang sangat banyak, awalnya ada beberapa karyawan yang mau mengambil sebagian pesanan tersebut, tetapi, pelanggan tersebut hanya menginginkan Rania untuk membawakan pesanannya, selain dia, sang pelanggan memilih untuk membatalkan pesanannya.

Keya sang penerima pesanan tersebut ingin sekali membatalkan pesanan tersebut sebab ia tak ingin jika bosnya akan marah padanya jika menerimanya, Berbeda dengan Rania yang sangat antusias ingin mengantarkan pesanan tersebut, dia bersikeras meminta Keya untuk menerima pesanan tersebut dan berjanji akan bertanggung jawab jika bos mereka marah.

Pada akhirnya, Keya pun menyetujui pesanan tersebut.

" Kamu yakin, mau mengantar semua pesanan ini? Tempatnya jauh loh, kamu nggak akan pingsan di tengah jalan kan? " Tanya Keya memastikan.

Tampa ragu, Rania menganggukkan kepalanya dengan semangat.

Setibanya di lokasi, Rania terperangah dengan bentuk rumah yang begitu besar nan mewah layaknya sebuah istana kerajaan.

Tak hanya besar dan mewah saja, rumah itu juga di lengkapi dengan alat-alat canggih. Buktinya pintu gerbang besar itu terbuka dengan sendirinya tanpa ada orang yang membukakannya.

Dengan perasaan senang dan excited, Rania membawa laju sepeda listriknya masuk ke dalam halaman rumah itu yang ternyata membutuhkan waktu selama sepuluh menit untuk bisa sampai ke pintu utama rumah tersebut.

Saat akan menyerahkan pesanan, Rania tertegun ketika melihat Laura yang keluar dari pintu rumah itu dengan wajah jutek tapi terlihat anggun dengan midi dress biru muda yang melekat di tubuhnya yang berbentuk indah membuatnya tampak seperti seorang putri sungguhan.

Seketika, Rania merasa sangat malu pada dirinya sendiri yang terlihat sangat berantakan.

Dengan nada dingin, wanita itu menyuruhnya masuk ke dalam yang ternyata sudah ada Robert di sana yang tengah terduduk sembari menunggu kedatangannya.

Seketika, Rania tahu akan maksud dan tujuan pria itu memanggilnya ke sini.

Dan benar saja, tanpa basa basi, pria itu meminta Rania untuk membujuk kakaknya untuk ikut serta bersamanya ke kerajaan vampir, karena tanpanya ia tak bisa kembali ke tempat asalnya. Bahkan jika perlu, Robert akan membayar berapapun yang Rania inginkan.

Namun dengan tegas, Rania menolak permintaan itu dan mengatakan bahwa dirinya tak suka memaksa orang lain pulang tanpa ada keinginan di hatinya.

" Karena aku sudah membawa pesanan mu, maka bayarlah karena aku sangat sibuk. " katanya

" Apa kamu sudah jatuh cinta pada kakak ku? Maka dari itu kamu menolak untuk membujuknya, karena kamu tak ingin dia pergi meninggalkan mu, apa aku benar? "

" Memangnya apa hubungannya? Selama dia menolak pulang, maka aku tak akan membiarkan kalian membawanya secara paksa. "

" Dengar, kamu pasti menyadari bahwa kalian tak akan pernah bisa bersama, aku sarankan kembalikan kakak ku sebelum semuanya terlanjur. "

Rania mendengus menangkap perkataan Albert yang seolah-olah dirinyalah yang menahan Kuro pulang.

Setelah mendapat bayaran, tanpa berbicara sedikit pun, Rania langsung pergi dari rumah itu dengan sikap acuh tak acuh

Terpopuler

Comments

Xianyan

Xianyan

ohh iya maaf salah nama

2023-01-06

1

Xianyan

Xianyan

ohh iya maaf salah nama

2023-01-06

0

Rini akbarini

Rini akbarini

apa gak salah nama...
di bab 12 kan robert adik albert...
luna datang cari albert kan?
😘😘😘😍😍😍

2023-01-06

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!