Meski sulit dilupakan, namun Rania berusaha keras untuk menjalani kehidupan seperti biasanya dan yang terpenting, Sebagai balas budi dan permintaan maaf, dirinya harus menjaga Mia lebih baik lagi dan harus menjaga sikap, karena gadis itu telah rela mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya.
Hal ini tentunya membuat Mia menaruh curiga atas sikap penuh perhatian temannya yang tak biasa itu, karena yang ia tahu, perhatian dan kasih sayang temannya hanya tertuju kepada para kekasih dua dimensi saja dan tidak ada yang lain.
Tapi sekarang, ia juga malah mendapat perhatian yang super langka itu, Rania bahkan memperlakukannya layaknya seorang putri dengan setiap hari gadis itu akan berkunjung dengan membawa berbagai makanan ringan, menyuapinya makan, bahkan dengan rajinnya dia mengganti bunga yang ada di vas bunga setiap hari.
Namun bukan hanya itu saja yang membuatnya terheran-heran melainkan ada satu lagi, yaitu setiap kali dia berkunjung, temannya itu tak pernah lupa untuk mengatakan maaf dan juga terima kasih berulang kali.
Saat di tanya kenapa dia melakukannya, gadis itu hanya menjawab, " hanya ingin saja, " katanya tanpa penjelasan yang jelas.
Padahal kecelakaan yang di alaminya ini tak ada kaitannya sama sekali dengan Rania.
Beberapa hari kemudian setelah di nyatakan sembuh oleh dokter, Mia kembali ke sekolah dan langsung di sambut ceria oleh Rania, bahkan gadis itu dengan sengaja menghias mejanya dengan berbagai bunga berwarna putih.
Bukannya merasa terharu atau senang, Mia malah memukul bagian belakang kepala Rania dengan cukup keras, bagaimana bisa dia menghias mejanya dengan bunga putih? Apa dia tak tahu arti dari bunga putih tersebut?
" Bukankah warna putih melambangkan lahir kembali? " Jawab Rania dengan wajah polosnya membuat Mia ingin sekali menculiknya.
Tak lama kemudian, Rania pun menyadari bahwa bunga putih lebih identik dengan bunga pemakaman, menyadari hal tersebut ia langsung membawa bunga itu dari atas meja dan berniat untuk membuangnya, tapi Mia langsung menahannya, memintanya untuk membiarkannya di atas meja.
" Terima kasih, lagi pula gue suka kok sama bunga kematian itu, jadi jangan di buang, sayangkan jadinya, lagian itu bunga juga pasti di beli pake uang. Tapi lain kali, lo jangan buang duit kayak gini lagi, lebih baik beliin gue snack atau nggak traktir gue makan. "
Senyum di wajah Rania pun mengembang, kepala mengangguk antusias sambil menarik bangku Mia dan mempersilahkannya untuk duduk.
Mia pun terkekeh geli melihat sikap temannya itu, tapi ia sungguh menghargai usaha itu, meski ia masih tak mengerti untuk apa semua sikapnya itu.
Di sisi lain, tak hanya Mia saja yang mendapat perlakuan khusus dari Rania, Kuro pun termasuk salah satunya.
Setiap hari, dirinya akan mendapatkan sekantong darah dan juga pakaian yang bagus dengan ucapan kartu maaf dan juga terima kasih.
Kuro tentunya sangat senang, akhirnya gadis itu memperlakukannya dengan seharusnya.
Tapi entah mengapa ada perasaan mengganjal di hatinya, bayangan wajah sedih itu terus berputar di dalam kepalanya, saat gadis itu mengetahui nasib dari korban Argus yang sudah meninggal dunia.
Kuro menghela nafas, sejujurnya ia tak punya pilihan lain selain membuat mereka sebagai korban bunuh diri, dan jasad yang sudah tak memiliki keluarga, ia memutuskan untuk mengubur jasad mereka dengan layak.
Saat pertama kali mendengar hal tersebut, raut wajah Rania berubah menjadi sangat sedih, bukankah itu tidak adil bagi mereka yang mati di bunuh namun harus menanggung dosa yang tidak mereka lakukan?
Kuro terdiam, dirinya sangat mengerti akan perasaan itu, tapi ia tak punya pilihan, sebab jika dirinya mengungkap jati diri Argus pada dunia, maka keseimbangan dua dunia ini akan hancur, meski keberadaan serta perbuatan pria itu di dunia manusia juga telah merusak keseimbangan dua dunia, pasalnya ada jiwa yang seharusnya tidak mati di tangannya.
Tapi ia bisa memastikan bahwa kelak jika dia bereinkarnasi kembali, dia akan menanggung dosa yang telah dilakukannya, begitu pun para korban, mereka pasti akan bereinkarnasi dengan kehidupan yang indah.
Mendengar hal tersebut, raut sedih Rania pun seketika menghilang berubah dengan senyuman kebahagiaan, ia merasa senang bahwa di masa depan mereka akan mendapat kebahagiaan.
Untuk bisa melupakan masa lalu, Kuro memutuskan Rania untuk sekedar berjalan-jalan ke sebuah toko perbelanjaan di pusat, membelikannya beberapa action figure.
Awalnya Rania menaruh curiga dan mempertanyakan dari mana sumber uang yang di bawanya.
" Lo nggak ngambil uang tabungan gue kan? " Tanyanya dengan tatapan mencurigai.
Kuro yang merasa tak di hargai mendengus kesal dan berniat untuk membatalkannya, tapi dengan cepat Rania kembali membujuknya sambil meminta maaf.
Lagi pula apa salahnya jika bertanya? Rania hanya tak ingin uang tabungannya hilang lagi dan harus mengulangnya dari awal.
Sambil menghela nafas, Kuro mengatakan bahwa uang yang ditangannya itu sebenarnya berasal dari benda dari rumah Argus yang ia jual beberapa hari lalu.
Mengetahui hal tersebut, Rania hanya menganga, bagaimana bisa pria itu bisa berbuat sesuka hati seperti itu, bukankah itu namanya mencuri? Lalu apakah polisi akan menangkapnya?
" Tunggu! Apa ada orang lain yang mengetahui tentang uang ini? "
" Tentu ada, " jawabnya dengan enteng.
Secara spontan kedua tangan Rania membungkam mulutnya, lalu menariknya ke tempat sepi, memastikan bahwa tak ada siapapun yang mendengar pembicaraan mereka berdua.
" Katakan pada ku siapa?! "
Kuro terdiam, menatap wajah gadis di depannya dengan tatapan cemas dan juga takut, membuatnya tampak menggemaskan, secara tak sadar, ia terkekeh geli.
" Apanya yang lucu? "
" Kamu. "
Degh! Kedua pipi Rania pun seketika menjadi berubah merah padam, membuatnya tampak seperti buah tomat, tapi dengan segera ,ia menggelengkan kepalanya lalu memukul bahu Kuro dengan keras, memintanya untuk tidak bermain-main.
Bukannya menjawab, Kuro malah pergi meninggalkan Rania, sembari berjalan ia mengatakan jika polisi datang untuk menangkapnya maka gadis itu harus bertanggung jawab, sebab hanya dia seorang yang mengetahui hal tersebut.
Meski merasa kesal, tapi pada akhirnya Rania mengikuti kemana pria itu pergi sekaligus membeli barang-barang yang ingin di belinya.
Setelah puas berbelanja, keduanya memutuskan untuk tidak pulang dan memilih untuk menikmati indahnya malam di sebuah atap yang terdapat di atas toko perbelanjaan tersebut.
Semilir angin malam menerpa kedua wajah itu di temani oleh sinar cahaya rembulan yang bersinar terang membuat pemandangan kota terlihat sangat cantik dari atas sana.
Saat menikmati suasana itu, Rania baru tersadar, ternyata Kuro memiliki wajah yang tampan, apalagi saat sinar rembulan mengenai wajahnya itu.
" Jangan menatap wajah tampan ku terlalu lama atau kamu akan jatuh cinta padaku, " katanya dengan percaya diri.
Merasa telah tertangkap basah, Rania segera membuang mukanya karena malu, tak lama kemudian ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak menatap wajah pria itu melainkan pemandangan kota yang indah
Menyadari akan kebohongan itu, tanpa menoleh sedikit pun, Kuro hanya tersenyum kecil sambil menatap kembali indahnya pemandangan kota.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Fikul 07
ayo next
2023-01-02
0