Setelah menuruni banyaknya anak tangga, akhirnya Tania tiba di sebuah ruang bawah tanah yang menyerupai sebuah lorong
Tanpa ada rasa takut sedikit pun, ia berjalan menelusuri lorong tersebut hingga dirinya bertemu dengan sebuah pintu yang terbuat dari besi.
Dari balik pintu itu, Rania bisa mendengar suara ketukan yang ia dengar sebelumnya dan membuat rasa penasarannya semakin tinggi, ia kemudian mencari kunci untuk membuka pintu tersebut, hingga dari sudut matanya ia menemukan sebuah kunci yang menggantung di dinding.
Saat pintu itu terbuka, spontan Rania membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, terkejut dengan apa yang di lihatnya di dalam ruangan tersebut yang terdapat ada banyak mayat gadis seusianya yang tergeletak di lantai.
Namun bukan hanya karena tumpukan jasad gadis itu yang membuatnya terkejut, melainkan tubuh Mia juga tergeletak tak berdaya di sana dengan terus mengetuk lantai dengan tangan kanannya.
Spontan kedua kakinya membawanya berlari menghampiri Mia, memeluk tubuhnya sambil menangis berusaha menyadarkannya.
Mia yang mengenali suara tangis itu tersadar seutuhnya, dengan kondisi tubuh lemahnya, tangannya terulur menghapus air mata yang membasahi kedua pipi Rania, dengan suara lirih, ia meminta temannya itu untuk segera pergi meninggalkan tempat itu karena Argus bukanlah manusia melainkan seorang Vampir yang sejak dulu selalu menghisap darah gadis perawan.
Sebelumnya, saat Rania semakin berubah, Mia yang merasa sangat aneh dengan perubahan sikap temannya itu, kemudian mencoba menggali informasi tentang Argus, tapi ia tak menemukan apapun tentangnya di sosial media manapun membuatnya frustasi dan hampir menyerah.
Namun, ketika dirinya teringat akan Rania, Mia pun mencoba mencari bukti dengan mencari tahu di mana tempat tinggal sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, Mia di buat terheran-heran, pasalnya di setiap kota yang pernah di singgahi pria itu, selalu terdapat kasus menghilangnya para gadis tanpa jejak, dan awal menghilangnya semua gadis itu bersamaan dengan Argus yang baru pindah di sana.
Untuk memuaskan rasa penasarannya, Mia pun mencoba mencari korban hilang di kota Versee di internet.
Entah sebuah kebetulan, atau memang pria itu lah pelakunya, sebab ada beberapa gadis yang menghilang hingga saat ini tepat di hari Argus pindah ke sekolahnya.
Jari jemari Mia pun mengetuk meja belajarnya, berpikir bahwa Argus tampaknya bukan manusia, melihat dari aksi kejahatannya yang terlampau mulus, terlebih lagi pria itu telah ada sebelum kakeknya ada, sebab ia menemukan sebuah artikel mengejutkan yang membahas meninggalnya para wanita yang di sebabkan oleh seorang vampir yang wajahnya sangat mirip dengan Argus.
Mungkin sepertinya dia berpikir bahwa tak ada satu pun orang yang mengetahui tentangnya di masalalu.
Meski Mia masih marah pada sikap Rania yang sudah melewati batas, tapi sebagai teman satu-satunya, ia tak ingin terjadi sesuatu buruk yang menimpa temannya, maka dari itu ia memutuskan untuk membututi dan mencoba mengumpulkan bukti bahwa dia bukanlah manusia.
Tapi siapa sangka, ternyata pria itu langsung menyadari akan keberadaannya dan tanpa ragu menyerangnya dengan memukul bagian belakang kepalanya hingga jatuh pingsan.
Saat tersadar, tubuhnya sudah tergeletak bersama dengan puluhan mayat gadis yang telah menghilang dari beberapa bulan terakhir.
Tetapi, saat bayangan Rania terlintas di dalam benaknya, ia mencoba membuat suara dengan mengetuk lantai dengan sisa tenaganya, tapi siapa sangka, ternyata malah temannya sendiri yang datang.
" Cepat pergi dari sini, " ucap Mia dengan suara lirih sembari mendorong tubuh temannya menjauh darinya.
Tapi Rania langsung menggelengkan kepalanya dengan keras, menolak permintaan temannya itu dan mengatakan bahwa dirinya tak akan pergi, kecuali mereka pergi bersama-sama.
Mia terdiam sejenak, lalu di detik berikutnya ia tersenyum, akhirnya teman bodohnya telah kembali.
Dengan susah payah, Rania membantu Mia berdiri dan berniat untuk pergi bersama-sama, tetapi, tubuh mereka seketika membantu ketika Argus sudah berdiri di depan mereka dengan tatapan dingin nan marah
" Mau kemana kalian? " Tanyanya mengintimidasi
Dengan tubuh gemetar, Rania dan Mia berjalan secara perlahan ke belakang sambil meminta pria itu untuk melepaskan mereka, sebagai imbalan, mereka tak akan pernah mengatakannya pada siapapun.
Mendengar hal tersebut, Argus tertawa terbahak-bahak, mereka pikir dirinya akan tertipu akan trik kecil macam itu.
Kedua kakinya membawanya berjalan mendekat, tanpa menyentuh sedikit pun ia memisahkan kedua gadis itu hingga membuat tubuh mereka terpental berlawanan arah.
" Mia! " Teriak Rania yang menyadari bahwa temannya sudah tak sadarkan diri, sembari menangis, ia merangkak ke arah temannya, mengabaikan rasa sakit yang mendera di seluruh tubuh.
Namun, ketika jarak diantaranya hanya tersisa beberapa langkah lagi, tiba-tiba tubuhnya kembali terpental ke dinding dan memuntahkan banyak dari dalam mulutnya.
Tubuh Rania pun semakin di buat tak berdaya olehnya.
" Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Bukankah kita saling mencintai dan berjanji akan bersama-sama selamanya? " Tanya Rania dengan tatapan penuh kekecewaan.
Bukannya merasa bersalah, Kuro malah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, '' Cinta? Nak, kamu terlalu naif untuk mengartikan segalanya dengan kata cinta, sejujurnya aku tak pernah sedikit pun tertarik pada mu, yang aku inginkan adalah darah mu yang begitu harum nan menggoda, " ungkapnya.
Seakan tersambar petir, hati Rania seakan-akan di patahkan kemudian di hancurkan hingga menjadi berkeping-keping, ternyata selama ini dirinya telah salah paham.
Dulu ia tak pernah mengerti bagaimana rasanya dikhianati, tapi sekarang ia tahu, dan rasanya sangat sakit sekali. Ia juga menyesali akan sikapnya pada Mia waktu itu, seharunya ia mendengarkan temannya itu dan juga Kuro.
Kini, ia hanya bisa menyesali keputusannya dan bersiap untuk menghadapi kematian di tangan orang yang paling disayanginya.
Melihat reaksi mangsanya, Argus pun kembali tertawa, dengan penuh semangat tangannya meraih leher Rania dan menyudutkannya ke dinding, kemudian membuka mulutnya lebar-lebar untuk meminum darah yang sudah lama ia tunggu.
Akan tetapi, tiba-tiba sebuah tangan mencengkram kakinya kemudian menusukkan sebuah kaca tepat di kakinya.
Kesal, karena acara makannya di ganggu, Argus pun melemparkan tubuh Mia ke tembok hingga membuat kepala gadis itu mengeluarkan banyak darah.
Rania yang melihat tersebut, langsung menjerit histeris sambil meronta meminta Argus untuk melepaskannya, tetapi, cengkraman tangan pria itu semakin kuat membuatnya kesulitan untuk bernafas.
" Ku. . ro to. . . long, se . . .la. . mat kan Mi. . a, "
Seketika, tatto di pergelangan Rania tiba-tiba bersinar terang, dan tak lama kemudian, Kuro pun muncul dan langsung menghajar Argus, hingga tubuh pria itu terpental membentur dinding hingga hancur.
" Kamu tak apa-apa? Maaf, aku terlambat datang, " ujar Kuro dengan menatap Rania dengan tatapan rasa bersalah
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments