06

Tiga hari tidak bertemu, Mia merasa bahwa kondisinya temannya itu malah terlihat sangat sakit dengan tubuh lemah disertai wajah pucat pasi, sama seperti sebelum-sebelumnya. Saat di tanya gadis itu menjawab dengan ringan, mengatakan bahwa dirinya habis bergadang.

Spontan, Alis Mia berkedut dan siap memarahi temannya itu, namun setelah melihat wajahnya yang begitu pucat, membuatnya mengurungkan niatnya yang kemudian berganti dengan perasaan cemas, " Ra lo beneran udah sehat? " Tanyanya

" Iyah, gue. . .

Tiba-tiba Rania jatuh pingsan tak sadarkan diri, Mia pun terlonjak kaget dan langsung membawa tubuh temannya ke ruang UKS.

Setibanya di sana, Mia dengan setia menunggu hingga tak lama kemudian, Rania pun akhirnya tersadar.

Bercampur dengan perasaan senang, Mia langsung memeluk tubuh sahabatnya ia takut jika terjadi sesuatu bahkan lebih buruknya jika temannya itu tak akan pernah bangun lagi.

Dengan kondisi tubuh yang masih lemas, secara perlahan Rania menepuk punggung temannya itu sembari mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

Tak lama kemudian, seorang suster muncul dan memeriksa kembali kondisi tubuh Rania, setelah melakukan pemeriksaan seadanya, sang suster lalu mengatakan bahwa Rania mengalami anemia akibat kekurangan darah.

Mendengar hal tersebut Mia sangat terkejut, memangnya apa yang dilakukannya selama libur tiga hari itu?

Tanpa merasa berdosa, Rania hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya tidak gatal, ia mengakui bahwa selama tiga hari, ia lebih banyak menghabiskan waktu liburnya dengan menonton maraton film kesukaannya bersama Kuro, kucingnya.

Seketika, salah satu alis Mia berkedut dengan kedua tangan yang mengepal erat, ingin rasanya ia memukul kepala temannya itu sekali lagi, untuk membuatnya sadar bahwa kesehatan itu lebih penting dari pada film yang ditontonnya itu.

Pantas saja, bukannya membaik, kondisinya malah semakin parah hingga jatuh pingsan, bahkan sekarang kondisinya tampak menyerupai mayat hidup.

Tak bisa menahan emosi di dalam dirinya, Mia memutuskan pergi ke ruang tinju untuk meluapkan emosi dan kekesalannya terhadap kelakuan temannya itu.

Padahal selama tiga hari ini dirinya sangat mengkhawatirkan kondisinya, dan mencoba terus menghubungi, namun tak ada jawaban, membuatnya berpikir, " oh mungkin saja dia sedang istirahat. "

Tapi ternyata, dia bukannya sibuk memulihkan diri, melainkan sibuk menonton dan mengabaikan semua pesan teks yang di kirimnya.

Di sisi Rania, setelah Mia keluar dengan perasaan marah, senyum palsu yang sejak tadi ia pasang, berubah menjadi sedih, karena sejak tadi, dirinya tengah mengkhawatirkan kondisi Kuro yang hingga saat pagi ini dia belum bangun, padahal selama tiga hari ia selalu memberinya darah.

Tiga hari yang lalu.

Setelah penyerangan itu, Rania menangis ketika banyak darah yang keluar dari tubuh Kuro. Ia bingung harus bagaimana? Terlebih lagi tak ada siapa pun di sana untuk di mintai tolong.

Hingga tak lama kemudian, seorang pria pengemis datang menghampiri, meminta Alona untuk membawa tubuh Kuro ke tempat yang lebih aman terlebih dahulu.

Sesampainya di rumah, Rania di bantu oleh pengemis itu langsung membaringkan tubuh Kuro di atas ranjang.

Dengan telaten, Pengemis itu membalut luka Kuro dengan rapih layaknya seorang dokter profesional.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Pengemis itu mengatakan bahwa Kuro terlalu banyak mengeluarkan darah di tambah kekuatannya yang belum pulih membuat regenerasi dalam tubuhnya melambat seperti manusia pada umumnya.

" Lalu apa yang harus aku lakukan? " Tanya Rania dengan perasaan cemas.

Pria pengemis itu terdiam sejenak, lalu tak lama kemudian ia menyarankan untuk membiarkan Kuro menghisap darah manusia selama tiga hari, jika sudah seperti itu maka biarkan dia bangun dengan sendirinya.

Kendati begitu, perasaan Rania tak tenang, sebab pria itu masih tak kunjung bangun dari tidurnya, awalnya ia berniat untuk bolos sekolah satu hari lagi, tapi ia tak ingin membuat paman, tante terutama Mia khawatir akan kondisinya jadi ia memutuskan bersekolah dengan kondisi setengah sekarat.

Karena kondisinya tak memungkinkannya untuk meneruskan aktifitas belajar, sang suster pun menyuruh Rania istirahat di rumah beberapa hari lagi.

Dengan tubuh lemas, Rania menganggukkan kepalanya, saat akan turun dari ranjang, tiba-tiba Mia sudah berada di sampingnya sambil menenteng dua tas sekolah.

" Aku anterin, " katanya dengan nada jutek.

Senyum di wajah Rania pun terukir, dengan jahilnya ia menarik tangan temannya dan membuatnya membungkuk di depannya, tanpa aba-aba, ia menaiki punggung temannya itu, memintanya untuk mengantarkannya pulang.

Mia mendengus sambil tersenyum tipis, mau tak mau ia harus mengantarkan temannya itu, karena dirinya adalah teman paling baik dan paling di andalkan

Setibanya di depan rumah.

Karena Rania menolak Mia masuk ke dalam rumah, dengan alasan belum beres-beres dan takut merusak indera penciuman temannya oleh kotoran Kuro yang sudah memenuhi pasir.

Awalnya Mia tak peduli, namun Rania tetap bersikeras melarangnya masuk.

" Lo kenapa sih ngelarang gue masuk?! Jangan bilang kalau lo ngumpetin cowok di dalam sana! Ngaku! " ujar Mia yang masih merasa tak terima.

Dengan cepat, Rania menggelengkan kepalanya kemudian berkata bahwa kondisi rumahnya sedang sangat kacau.

Mia terdiam sejenak, lalu tak lama kemudian menghela nafas dan memutuskan untuk pulang saja.

Namun, sebelum pergi, Mia berpesan pada Rania untuk tidak bergadang lagi, jika saat kembali ke sekolah dan kondisinya semakin memburuk, maka jangan salahkan dirinya jika semua film yang ada di dalam rumah, akan ia sita serta mengirimnya ke rumah sakit untuk menjalani perawatan inap.

Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Rania menganggukkan kepalanya secara perlahan.

Setelah, memastikan temannya telah pulang, perlahan kedua tangannya memutar kenop pintu dan berjalan masuk dengan langkah gontai.

Tetapi, langkahnya terhenti ketika ia melihat sesosok pria yang tengah berkutat di dapur, seketika tubuhnya mematung dan tanpa sadar menjatuhkan tas sekolahnya kemudian berlari dan memeluk tubuh pria itu dari belakang.

" Syukurlah, akhirnya lo bangun juga. "

Kuro pun tersenyum tipis, ia berbalik dan memeluk tubuh Rania dengan erat, sembari mengucapkan terima kasih dan juga maaf sebelum gadis itu jatuh pingsan.

Saat menjelang malam, Rania kembali tersadar, dengan sigap Kuro pun langsung membantunya duduk kemudian membawakannya semangkuk bubur dan juga obat penambah darah.

Setelah selesai, kepala Kuro menunduk meminta maaf untuk kesekian kalinya, ia merasa bahwa apa yang terjadi di taman waktu itu adalah salahnya.

Namun, Rania langsung membungkam mulut pria itu dan mengatakan bahwa apa yang terjadi kemarin hanyalah kebetulan saja.

Spontan Kuro terdiam, lalu meraih tangan Rania mengecupnya pelan membuat gadis itu membelalakkan kedua matanya, akan tetapi di detik berikutnya, ia tertegun ketika muncul sebuah cahaya di pergelangan tangannya dan membentuk sebuah gelang.

" Ini apa? "

" Anggap saja ini adalah jimat sebagai tanda terima kasih ku karena kamu sudah menyelamatkan ku untuk kedua kalinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!