Entah kenapa perasaan takut dan was-was yang selalu menghantuinya tiba-tiba hilang entah kemana, padahal tadi pagi ia masih bisa merasakan, tapi sekarang perasaan itu berubah menjadi lega dan nyaman, Ia merasa bahwa seseorang telah memusnahkan sosok itu, tapi siapa?
" Lo kenapa kayak bingung gitu? Jangan bilang kalau lo masuk ke dunia isekai lagi. " Tanya Mia yang menyadari ekspresi bingung dari temannya itu
" Kok lo bisa tahu? "
" Sudah gue duga, udah ah kita balik ke kelas, lama-lama kulit gue bakalan jadi hitam gara-gara kebanyakan berjemur di luar, " ungkap Mia sembari menarik tangan Rania masuk ke dalam kelas.
Setelah pulang sekolah, Rania yang berniat berangkat kerja tiba-tiba mendapat sebuah panggilan dari Ryola yang menyuruhnya untuk libur selama tiga hari tanpa penolakan, wanita menambahkan bahwa dirinya tak ingin masuk penjara dan menghancurkan bisnis yang sudah di bangunnya bertahun-tahun hanya karena seorang karyawan sampingan yang bersikeras bekerja dengan kondisi sakit.
Sembari menghela nafas, Rania menganggukkan kepalanya entah pada siapa, setelah membalas pesan tersebut, Rania memutuskan untuk langsung pulang ke rumah di antar oleh Mia.
Setibanya di rumah, Rania di kejutkan dengan kedatangan paman dan bibinya yang tengah berdiri di depan rumahnya sambil menenteng banyak belanjaan.
Menyadari akan kehadirannya, Paman dan Tante Rania menoleh dengan kompak lalu berjalan menghampirinya, " Rania apa kamu baik-baik saja? Tante dengar kepala kamu terluka, di tambah kemarin sebuah Vas bunga hampir menimpa kepala mu, apa itu benar? "
" Tante dengar dari mana? "
Buk! Sebuah pukulan mendarat di bahu kanannya, Rania pun meringis kesakitan sambil memeluk bagian yang di pukul oleh tantenya.
Sadar bahwa pukulannya telah menyakiti keponakannya, Vina langsung meminta maaf kemudian menarik keponakannya ke dalam pelukannya, " maaf, tante sungguh tidak sengaja, lagian salah kamu juga sih yang bilang sama sekali bahwa kamu mendapat luka seperti, jika Mia tak memberitahu kami, mungkin selamanya kami tak akan pernah tahu bahwa kamu sedang sakit. " terangnya.
" Maaf, aku hanya tak ingin membuat kalian khawatir. "
" Justru karena sikap itu malah membuat kami sangat mengkhawatirkan mu, lain kali jangan seperti itu, kamu kan hanya memiliki kami saja, jadi setidaknya kamu bisa bergantung pada kami jangan memendamnya sendiri " Ujar Jinu menimpali.
Kepala Rania menunduk, menyadari akan kesalahannya sambil mengucapkan kata maaf.
" Ya sudah, kalau begitu kita ngobrolnya di dalam saja yah, " ajak Vina sembari membawa keduanya masuk ke dalam rumah Rania.
Setelah berbincang-bincang dan memastikan kondisi keponakan mereka baik-baik saja, Jinu dan Vina pun memutuskan untuk pulang sebab ada yang menunggu kepulangan mereka di rumah, namun sebelum pamit, Vina kembali memastikan bahwa keponakannya itu menolak permintaanya.
" Kamu yakin nggak mau tinggal bareng Tante atau Paman Jinu? " Tanya Vina memastikan.
" Sangat yakin, kalau aku pergi bersama kalian, bagaimana dengan Anak bulu ku, bukankah kalian berdua tak menyukai kucing? "
" Tapi kan kita bisa menitipkannya pada orang lain, " jawab Jinu.
" Nggak bisa Paman, karena aku udah terlanjur sayang banget sama dia, apa jadinya jika Kuro tak bersama ku, pasti dunia ini akan terasa sepi dan hampa, " ungkapnya sembari memeluk tubuh Kuro dengan tatapan penuh cinta.
Spontan, Jinu dan Vina saling menatap lalu menghela nafas secara bersamaan.
" Kamu ini lebay banget sih, kayak lagi pacaran aja, ya sudah kalau begitu, kami pulang dulu yah, tapi ingat, besok kamu jangan masuk sekolah dulu apalagi kerja, diam saja di rumah, jangan pergi kemana-mana istirahat yang cukup, dan juga jangan coba-coba bohong, karena tante punya intel terbaik untuk memata-matai kamu. "
" Iya, iya, bawel, dah sana pergi. "
Beberapa saat kemudian setelah paman dan Tantenya pergi, Rania menghampiri Kuro yang sudah terbaring di atas ranjang, dirinya kemudian menceritakan ada aura aneh di sekolah yang selalu mengikutinya tapi kini aura itu menghilang begitu saja, " menurut mu kemana perginya aura itu? "
Kuro terdiam.
Alona pun ikut terdiam tanpa di sadari ia ikut tertidur bersama Kuro hingga menjelang pagi.
Saat terbangun, Alona sedikit tertegun pasalnya ini sudah ketiga kalinya ia tidur begitu pulas hingga tak menyadari bahwa matahari telah bersinar terang, pasalnya ia selalu mengalami insomnia, mungkinkah Kuro yang telah membantunya tertidur pulas?
' Tunggu? Dia tidak diam-diam menghisap darah saat aku tertidur kan? ' Batinnya.
Di tatapnya, Kuro yang terlihat sangat menikmati tidurnya. Lalu mengindahkan pikiran tersebut, mana mungkin kucingnya melakukan hal seperti itu.
Tak ingin berburuk sangka, Rania pun beranjak dari ranjangnya untuk bersiap-siap pergi ke sekolah, akan tetapi ponselnya bergetar, mendapati sebuah panggilan dari Mia.
Saat di angkat, Gadis itu langsung mengingatkan pada Rania untuk tidak masuk sekolah, sebab dia sudah meminta izin pada guru.
" Tapi. .
Belum sempat Rania beradu argumen, panggilan itu sudah berakhir begitu saja.
Seakan tahu apa yang ada di dalam benaknya, temannya itu langsung mengirim pesan ancaman tak lama setelah penggilan itu berakhir.
Isi dari pesan tersebut adalah bahwa Mia tak akan pernah berbicara lagi, jika dirinya nekat masuk sekolah.
Seketika, Rania menghela nafasnya dengan panjang, sebab ia tak tahu haru melakukan kegiatan apa, hingga tatapannya jatuh pada Kuro yang tengah asik tertidur pulas.
Dengan senyuman liciknya, ia mengangkat tubuh Kuro secara tiba-tiba dan membawanya ke taman yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya.
Dengan pakaian santainya, Rania meregangkan tubuhnya sambil menghirup udara segar di pagi hari dengan senyum cerah yang tercetak di wajahnya.
Berbeda dengan Kuro yang terlihat berwajah masam, sebab tidur indahnya di ganggu begitu saja.
Namun, tampaknya Rania tidak peduli sama sekali dengan raut wajah Kuro.
Akan tetapi saat kucing itu hendak pergi, Rania langsung menarik tali yang mengekang lehernya, sembari mengatakan bahwa dirinya tak ingin sendirian.
" Terserah padamu. ".
Seketika wajah Rania kembali berubah cerah, namun senyumnya itu tak bertahan lama ketika ia melihat seekor serigala yang berlari ka arahnya dengan begitu cepat.
Tubuh Rania mematung, akan tetapi ia pun langsung tersadar ketika jarak dengan serigala itu hanya menyisakan beberapa senti saja, saat hendak lari, kakinya tiba-tiba menginjak sebuah benda dan membuatnya kehilangan keseimbangan kemudian terjatuh.
Kepalanya menoleh dan mendapati serigala itu tengah melayang di udara dengan mulut terbuka lebar.
Spontan Rania menutup kedua matanya.
Namun, beberapa lama kemudian tak terjadi apapun
Secara perlahan, Rania membuka kedua matanya dan mendapati bahwa serigala itu sudah mati.
" Kamu baik-baik saja? " Tanya Kuro.
Namun tak lama kemudian, pria itu jatuh pingsan dengan luka di dada yang menganga lebar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments