Setelah kejadian yang telah menimpanya beberapa waktu lalu, hanya dalam hitungan detik, Rania kembali bersikap riang, aneh seperti biasanya seakan-akan kejadian yang hampir merenggut nyawa itu tak pernah terjadi padanya.
Hal ini membuat teman sebangkunya, Mia menjadi sangat khawatir, takut jika ada yang salah dengan isi kepala temannya itu, ia bahkan menghubungi Ryola, pemilik tempat temannya berkerja untuk menyuruh Rania untuk mengambil cuti beberapa hari.
Tapi bukan Rania si kepala batu namanya, jika langsung menuruti permintaan teman dan bosnya itu, karena baginya uang adalah segala, " kalau gue ambil cuti, siapa yang bakal nafkahi suami dua dimensi dan tiga dimensi gue? Di tambah ada banyak lunasan yang harus gue bayar bulan depan, jadi tolong jangan meminta pada bos gue buat ambil cuti. "
" Kan lo bisa minjem ke gue, atau kalau perlu, lo nggak perlu balikin deh gue kasih ke lo, itung-itung itu buat kompensasi karena udah membuat kepala lo luk, gimana? "
Rania terdiam sambil mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya, " berapa emang? "
" Lo maunya berapa? Satu juta? Dua juta? "
" Satu juta aja deh, lumayan buat bayar DP. "
" Okeh, kalau gitu gue anterin lo ke rumah ya. "
Dahi Rania tiba-tiba mengerut, menatap heran pada teman didepannya, kemudian bertanya, " kok ke rumah? "
" Kan sesuai. . .
" Eits, jangan salah paham, kan itu buat kompensasi kepala gue, jadi kalau yang ini beda lagi, " terang Rania, kemudian melirik jam di tangannya, " ishh, dah ah gue berangkat kerja dulu yah, bye~, " Ia bersama sepeda listriknya pun pergi meninggalkan Mia yang berdiri terperangah.
Seperti biasa, Rania bekerja mengantarkan beberapa pesanan hingga larut malam. Di rasa pekerjaannya sudah selesai, Rania memutuskan untuk pulang ke rumah tak lupa ia mengabari pada Ryola bahwa pekerjaannya telah selesai.
" Aku pulang~ " ucapnya sesampainya di rumah.
" Selamat datang. "
Tubuh Rania sedikit tersentak sejenak, kepalanya menoleh dan mendapati Kuro tengah terduduk sambil mengibaskan ekornya ke sana kemari.
Rania terdiam sejenak, kemudian tersenyum bahagia, ia lupa bahwa dirinya tak lagi sendiri, sebab kini ada Kuro yang menyambut kedatangannya.
Walau masih terasa asing, namun Rania bersyukur dengan kehadiran Kuro yang membuatnya tak kesepian seperti dulu.
Setelah selesai makan dan mandi, Rania membawa tubuhnya ke atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah itu.
Akan tetapi, meski seluruh tubuhnya terasa sangat remuk, tapi kedua kelopak matanya seperti enggan menutup, dengan perasaan gelisah, tubuhnya terus berguling-guling di atas ranjang sambil memikirkan kejadian di sekolah yang hampir membunuhnya.
Mungkin orang lain melihatnya terlihat cuek, tetapi sesungguhnya ia sangat ketakutan, karena itulah ia memilih bekerja dari pada berdiam diri di rumah, bergarap ingatan kejadian itu tak berputar terus di dalam kepalanya.
Namun sayangnya itu hanya berlaku untuk sementara waktu, dan sekarang ingatan itu kembali ke dalam ingatannya dan mengusik ketentramannya.
Hingga tiba-tiba, Kuro terbaring meringkuk di samping kepalanya sembari berkata, " jangan takut, ada aku di sini. "
Layaknya sebuah mantra penenang, setelah mendengar suara Kuro, rasa kantuk langsung menghampiri Rania dan membuatnya langsung tertidur pulas hingga menjelang pagi.
Kendati begitu, rasa aman itu hanya berlaku saat dirinya berada di dalam rumah saja karena, setibanya di sekolah, ia merasakan adanya bahaya mengintai dan membuatnya harus bersikap was-was.
Selama perjalanannya menuju kelas, Rania berjalan mengendap-endap layaknya seorang penjahat yang berniat mencuri sebuah berlian.
Dari kejauhan, Mia memperhatikan sikap temannya yang semakin hari semakin kacau setelah ia memukul kepalanya saat itu, meski sebenarnya ia merasa lega karena temannya itu masih menjadi teman lamanya dengan keunikannya.
Di sisi lain, Kuro yang menyadari akan adanya energi buruk yang menempel pada Rania, memutuskan untuk mengikutinya sambil memperhatikan lingkungan di sekitarnya.
Namun, sampai sejauh ini ia belum menemukan keanehan atau pun kejanggalan yang ada di sekitar Rania, hingga saat mata pelajaran olah raga di mulai.
Kuro menangkap sesuatu bayangan hitam yang muncul dari balik semak-semak yang berada di belakang sekolah.
Gerak bayangan itu begitu cepat menuju lapangan sekolah, namun tak secepat dengan pergerakan Kuro yang berhasil menangkap makhluk tersebut yang merupakan seekor iblis kecil berbentuk serigala yang sepertinya tertarik dengan bau darah Rania
Sepertinya, makhluk itu telah mengikuti Rania sudah lama dan menunggu momen yang pas, tapi sepertinya makhluk itu merasa kesal dengan perubahan aroma darah Rania yang telah tercampur dengan bau Vampir miliknya.
Merasa darah mangsanya tak lagi murni, makhluk itu memutuskan untuk membunuh Rania agar tak ada siapapun yang dapat memilikinya.
Sayangnya, rencananya itu telah di sadari oleh Kuro, ketika gadis itu pulang dengan raut wajah yang pucat pasi.
Tak ingin miliknya diambil atau pun di ganggu oleh makhluk lain, Kuro pun langsung memusnahkan hewan itu dengan mudah, kemudian memakan bangkainya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments