Menyadari bahwa semua tabungannya telah habis tak bersisa, seketika kedua mata Rania mendelik tajam ke arah Kuro. Namun raut wajah pria itu tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun, " kenapa kamu semarah itu hanya karena setumpuk kertas, jika kamu mau aku bisa memberikan mu emas sebanyak yang kamu mau, " katanya.
Salah satu alis Rania pun terangkat sebelah, ia kemudian bangkit menghampiri pria itu sambil mengulurkan tangannya, " kalau begitu mana? Berikan benda itu sekarang juga. "
" Maaf, tapi sekarang aku tak bisa memberikannya. "
" Apa?! Dasar pembohong! Kalau begitu lebih baik kamu keluar dari rumah ku sekarang juga, " ujar Rania sambil menangisi kembali uangnya yang telah hilang itu.
Akan tetapi pria itu mengatakan bahwa dirinya tak akan meninggalkan rumah itu, karena dirinya tak punya lagi tempat tinggal.
" Memangnya gue peduli, pokoknya lo harus pergi dari sini titik. "
" Jika kamu berusaha membuatku pergi, suatu saat kamu pasti akan menyesal setelah mengetahui identitas asli ku, " katanya dengan bangga.
Rania mendengus, sembari melipat kedua tangannya di dada, " Emangnya lo siapa? Pangeran! Jangan ngadi-ngadi deh lo, masa iya pangeran kok kere kaya lo, pokoknya gue nggak mau tahu, pergi sekarang atau gue yang seret lo keluar! "
" Bagaimana kalau kita buat taruhan? "
" Taruhan? "
" Iya, kamu kejar dan tangkap aku, jika kamu menang aku akan pergi, jika sebaliknya maka kamu harus mengijinkan ku untuk tetap tinggal, bagaimana? " Usul pria itu
" Ok, siapa takut, " timpal Rania tanpa pikir panjang, ia mengira akan mudah menangkapnya, selain pria itu memiliki tubuh yang cukup besar di tambah ukuran rumah yang terbilang cukup sempit, dengan penuh percaya diri, ia yakin bisa menangkap pria itu hanya dalam hitungan tiga detik saja.
Di sisi lain, Kuro menyunggingkan bibirnya seakan mengejek pemikiran dangkal Rania, di detik berikutnya ia merubah dirinya menjadi seorang kucing hitam yang bergerak begitu lincah.
Rania yang tak menduga bahwa pria itu akan berubah menjadi seekor kucing, membuat mulutnya menganga lebar, tak lama kemudian, ia tersadar dan berupaya menangkap pria itu.
Akan tetapi, karena bentuk tubuhnya yang kecil dan bergerak dengan gesit, membuat Rania kesulitan untuk menangkapnya, hingga tiga jam kemudian, Rania mengangkat tangannya, menandakan bahwa dirinya menyerah dan mengaku kalah.
Sebagai gantinya, Kuro harus menjadi pembantu pribadinya, seperti menyiapkan sarapan, beres-beres, dan menjadi alarm bernyawa.
Esok paginya.
Rania begitu tergesa-gesa memakai pakaian seragam sekolahnya karena ia bangun kesiangan, kedua matanya mendelik tajam pada Kuro karena tidak berusaha membangunkannya, padahal sebelumnya ia mengatakan bahwa dirinya memiliki kuis penting hari ini.
Kuro kemudian hanya mengangkat kedua bahunya secara bersamaan, karena sebelumnya ia sudah berusaha keras membangunkannya, hanya saja gadis ini sangat sulit di bangunkan, karena dia tertidur seperti orang mati.
Mendapat dirinya di katai, Rania pun melemparkan sepatunya ke arah Kuro, tapi sayang nya pria itu dengan mudahnya mengelak.
" Kenapa lo menghindar?! "
" Apa aku salah? "
" Tentu saja! Oh ****! Gue pasti bakalan diomelin bu guru nih, " tanpa membuang waktu lagi Rania langsung berlari keluar rumah sambil mengeluarkan sepeda listriknya, kemudian bergegas pergi ke sekolah.
Sepanjang jalan, Rania membawa laju kendaraan dengan kecepatan tinggi, membuatnya tampak seperti penguasa jalanan.
Berkat caranya membawa laju kendaraan, Rania berhasil datang ke sekolah dengan tepat waktu.
Akan tetapi saat akan menuju kelas, tiba-tiba sebuah Vas bunga berukuran cukup besar jatuh dari atas atap dan hampir mengenai kepala Rania, jika saja Mia tak menyadari sejak dan mendorong tubuhnya ke samping, mungkin saja kepalanya saat ini sudah pecah akibat tertimpa Vas bunga tersebut.
Seketika seisi sekolah pun di buat terkejut dengan suara bising tersebut dan langsung berlari berhamburan keluar untuk memastikan asal muasal suara tersebut.
Secara spontan mereka di buat terkejut dengan pecahan Vas bunga yang berserakan di lantai, secara bersamaan kepala mereka menolah menoleh ke arah atap sekolah yang tak ada sosok siapapun di sana.
Tak lama kemudian, seorang guru pun datang menghampiri, meminta para siswa untuk tenang kemudian menyuruh mereka untuk kembali ke dalam kelas masing-masing, beliau juga mengatakan akan menyelidiki kasus tersebut hingga tuntas.
Dalam hitungan detik, semua siswa yang berada di sana kembali ke dalam kelas masing-masing, kecuali Rania yang di minta untuk pergi ke ruang guru untuk di mintai keterangan.
Sekembalinya Rania dari ruang guru, Mia langsung memeluknya sembari memeriksa seluruh tubuhnya, memastikan bahwa temannya itu tidak terluka sama sekali.
" Ra, lo nggak apa-apa kan? Trus kata bu guru siapa pelakunya? Kalau gue kenal, bakal gue bejek-bejek tuh orang sampe kayak bubur kalau perlu. "
" Nggak tahu, soalnya mereka sudah memastikan lewat video CCTV dan hasilnya nggak ada siswa maupun siswi di sana, " terang Rania, " kalau menurut gue kayaknya gara-gara angin deh, " sambungnya sembari memegang dagunya layaknya seorang detektif, hingga. . .
Bugh! Sebuah pukulan mendarat di bahu Rania hingga membuat tubuhnya meringis kesakitan, kepalanya menoleh dan mendapati Mia yang tampak kesal padanya.
" Lo pikir! Itu Vas bunga terbuat dari kertas yang di isi dengan busa! Please yah kalau becanda itu pake otak, itu kepala lo hampir hancur Ra! " Ujar Mia dengan nada sedikit tinggi.
Namun, Rania hanya terkekeh sambil meringis kesakitan sembari mengatakan bahwa satu-satunya pelaku yaitu angin.
Temannya, Mia yang mulai lelah dengan pemikiran Rania hanya menggelengkan kepalanya.
Di sisi Rania, meski dirinya masih bisa tertawa dan bercanda, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam ia sebenarnya sangat takut, terlebih lagi setelah vas bunga itu jatuh, ia melihat sosok bayangan hitam di atas atap sekolah
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments