Di dalam kelas, semua murid yang berada di sana menatap Rania dengan tatapan cemas dan juga takut, pasalnya dia tak seperti biasanya yang selalu datang dengan wajah tersenyum bersinar cerah, berbanding balik dengan sikapnya hari ini yang memiliki tatapan kosong dengan langkah kaki gontai tampak seperti jiwanya telah pergi entah kemana.
Temannya, Mia yang baru datang ke kelas hanya menatapnya dengan tatapan aneh, namun di detik berikutnya ia mengabaikannya seakan-akan sudah terbiasa dengan sikap Rania yang berubah-ubah itu.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, entah kenapa Mia mulai merasakan ada yang aneh dengan temannya itu. Karena biasanya Rania akan menangis beberapa lama kemudian lalu menceritakan bagaimana karakternya bisa mati secara tragis, tapi kali ini berbeda dengan sebelumnya, sebab temannya itu tak bergeming sedikit pun bak sebuah patung.
Tak hanya itu saja, setiap kali ia bertanya sesuatu, Rania hanya menganggukkan kepalanya dengan tatapan kosong. Hal ini membuat Mia menjadi cemas.
Ada apa dengan temannya itu? Apa karena suami tiga dimensinya telah meninggal lagi? Atau jangan-jangan temannya itu bukan manusia?
Seketika pikiran Mia pun berubah menyerupai pikiran Rania yang selalu di luar nalar.
' Jika benar dia bukan Rania? Lalu di mana Rania yang asli berada? ' Batin Mia.
Saat jam istirahat telah tiba, Mia pun kembali mengajak Rania berbicara dengan mengajaknya pergi ke kantin, namun jawabannya tetap sama, dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Mia pun kembali menjadi cemas, ia kemudian mengambil sebuah inisiatif untuk membuktikan bahwa gadis di sampingnya benar-benar temannya yang asli.
Tanpa memberinya aba-aba, Mia mengambil sebuah buku paket pelajaran yang cukup tebal kemudian memukul kepala temannya itu dengan cukup keras, namun apa terjadi? Bukannya marah atau membalas memukul, Rania malah memintanya untuk memukulnya kembali dengan lebih keras dari sebelumnya.
Spontan, Mia pun menutup mulutnya, terkejut karena menyadari bahwa gadis di sampingnya ini bukanlah temannya yang asli.
Bugh!
Mia pun kembali memukul kepala Rania dengan buku di tangannya hingga membuat temannya itu jatuh tersungkur dari atas kursi.
" Siapa lo sebenarnya?! Terus Rania gue di kemanain?! Teriak Mia sembari mengambil ancang-ancang untuk memukul gadis di depannya.
Rania yang kepalanya di pukul dua kembali, akhirnya tersadar, ia meringis sambil memegangi kepalanya yang sakit.
" Mi lo ngomong apa sih? Gue kan Rania masa lo lupa sih, kita kan udah berteman sejak kecil bahkan kita suka buang air besar bareng-bareng, " ujar Rania, " yah kepala gue berdarah," sambungnya saat darah segar mengalir di pelipisnya.
Mia yang terkejut dan panik saat melihat kepalanya berdarah, langsung membawanya ke uks untuk di obati.
Namun setibanya di sana, guru yang harusnya bertugas menjaga UKS tidak ada di tempat, dengan terpaksa Mia pun mengobati Rania dengan kemapuan seadanya.
Merasa bersalah karena telah menyakiti temannya, Mia pun berniat membawa Dania ke rumah sakit, tetapi gadis itu menolaknya dengan alasan bahwa lukanya tidaklah besar.
" Tapi tetap aja, itu luka harusnya di jahit, sorry gue nggak bermaksud nyakitin lo, " Mia pun merasa sangat bersalah, seharusnya ia tak menuruti apa yang ada di dalam pikirannya, " lagian sikap lo hari ini aneh banget tahu ngga? Lo kenapa sih? Banyak lunasan? Mau pinjem uang gue dulu nggak? " sambungnya sambil menawari bantuan.
Tetapi Rania menggelengkan kepalanya dengan cepat, mengatakan bahwa bukan itu masalahnya.
" Lalu apa? Cerita sini sama Bunda Mia. "
Rania terdiam sembari berpikir, apa tak masalah jika dirinya membicarakan Kuro pada Mia? Dan yang penting apakah dia akan percaya apa yang dikatakannya.
" Mi. "
" Iya ada apa wahai sahabat ku tercinta? Bunda Mia siap mendengarkan cerita sahabat ku. " "
" Lo percaya nggak, kalau kucing yang gue temui semalam bisa berubah jadi cowok ganteng? "
Mia terdiam.
" Mi, jawab. "
" Ra, ke rumah sakit yuk, kita periksa, pasti ada yang salah dengan kepala lo habis di pukul sama gue, "
" Ih~ Mia! Gue serius. "
" Gue tahu, yuk kita sekarang pergi ke rumah sakit, gue anterin lo ke tante gue yang seorang psikolog, soal biaya lo nggak perlu pikirin karena bakal di tanggung sama gue, " ujarnya sambil menarik pergelangan tangan Rania akan tetapi. . .
Tiba-tiba Rania menghempaskan tangan Mia dengan kasar, ia kemudian berjalan ke luar UKS tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tak menyangka bahwa Mia malah menganggap dirinya telah gila, jika tahu seperti ini lebih baik memendamnya sendiri.
Tetapi sebenarnya ia sudah menduga bahwa temannya pasti akan menganggapnya gila, lagi pula siapa yang mau percaya dengan ceritanya itu? Bahkan anak sekolah dasar pun akan menganggapnya hanya sebatas imajinasi belaka.
Sepulang sekolah, Rania memutuskan pulang sendiri tanpa menunggu Mia.
Di pertigaan dekat rumahnya, Rania menghentikan sepeda listriknya, ia terdiam sejenak entah kenapa ia menjadi enggan untuk pulang, dirinya masih takut akan sosok Kuro. Pasalnya ini adalah kali pertamanya menghadapi makhluk jadi-jadian seperti Kuro.
Apalagi saat mengingat kejadian semalam yang hampir membuatnya kesiangan masuk sekolah, terlebih lagi bayangan akan lekuk tubuh pria itu masih belum hilang dalam benaknya.
" Apa yang harus aku lakukan? "
Sebenarnya Rania masih tak percaya dengan apa yang menimpanya kali ini, Apakah ini benar-benar nyata? Rasanya seperti mimpi saja.
Plak!
Rania pun menampar kedua pipinya hingga memerah agar dirinya bisa tersadar. " Hari ini aku harus mengusir Kuro! " tegasnya.
Namun sebelum itu, ia harus membeli pakaian untuk Kuro karena ia tak bisa terus-terusan melihat pria mengenakan pakaiannya miliknya yang tampak kekecilan memperlihatkan setengah dari bagian badannya, beruntungnya ia pernah membeli celana kebesaran dan belum sempat menukarkannya.
Setelah memilah dan membeli beberapa set dan juga pakaian dalam, Rania pun langsung bergegas pulang ke rumah.
Dengan memantapkan tekadnya untuk mengusir Kuro, Rania pun langsung membuka pintu rumahnya, akan tetapi di detik berikutnya ia tertegun melihat penampakan rumahnya yang amat bersih dan juga rapih. Bahkan untuk sesaat, Rania berpikir bahwa dirinya salah masuk.
Akan tetapi ia segera tersadar ketika Kuro muncul dengan menggunakan celemek dari arah dapur, " kamu sudah pulang, kebetulan aku baru saja selesai memasak, " ujarnya sambil tersenyum manis membuat hati Rania meleleh saat itu juga.
Namun, ia menggelengkan kepalanya dengan keras dan mengingat akan tujuan awalnya, tetapi lagi-lagi ia terpana dengan kemampuan Kuro yang begitu mengagumkan, berbagai hidangan cantik dan enak tertata dengan indah dan elegan.
Seakan tersihir, Rania langsung memakan semua makanan di atas meja hingga habis. Hingga tak lama kemudian ia pun tersadar, dari mana pria itu membeli semua bahan masakan ini?
Kuro pun tak langsung menjawab, ia terdiam mengingat kejadian sebelumnya, hingga tak lama kemudian dirinya menunjuk ke sebuah laci yang berada di dalam kamar Rania.
Seketika tubuh Rania mematung kemudian terkulai lemas, sebab ia menyadari bahwa pria itu telah menggunakan setengah tabungan yang telah ia kumpulkan selama ini untuk membeli sepeda motor untuk membuat semua hidangan di atas meja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Nindi
kucing pinter😂😂😂
2024-09-21
0