Drama Nadia

"Sepertinya nadia sangat kelelahan." Papa Elsa mengulas senyum tipis. Gibran terlihat begitu lembut pada Nadia padahal selama ini sebagai komandan yang selalu bekerja bersama Gibran, ia mengenal laki-laki itu sebagai sosok yang dingin yang susah untuk di dekati. Bahkan Elsa putrinya sendiri tidak bisa menggerakkan hatinya. Bagi seorang ayah, Gibran adalah sosok sempurna bagi anak gadis mereka. Meskipun terlihat dingin, Gibran adalah sosok yang bertanggungjawab dan taat beribadah. Ia sebagai papa elsa tentu pernah menginginkan Gibran menjadi menantunya tetapi kemudian harus menerima kenyataan bahwa Gibran telah menjatuhkan pilihannya pada gadis kecil bernama Nadia Gaudia Rasya.

Gibran tersenyum mengiyakan.

"Nadia di bawa ke kamar tamu saja, Bang. Kasian kepalanya bisa sakit." Elsa menimpali. Sebenarnya ia tak begitu peduli dengan gadis kecil centil yang berstatus istri Gibran itu hanya saja hatinya seperti di remas melihat bagaimana manjanya Nadia pada Gibran.

"Tidak usah Dok, kami sudah mau pulang." Gibran mengulas senyum tipis. Diliriknya Nadia yang sedang BERLAGAK terbuai dalam mimpinya. Tidak memilih tempat, istrinya itu tak pernah kehabisan ide untuk berulah bahkan di ruangan tamu orang yang sangat diseganinya. Jika Ibu-ibu Persit lain merasa sungkan dan begitu menjaga sikap di depan ibu Ketua dalam hal ini mama Elsa, Nadia malah bersikap seolah ia sedang berada di taman bermain, bersenang-senang dengan segala kejahilannya. Malah Gibranlah yang merasa tak enak hati.

"Iya, sebaiknya kalian pulang. Kasian Nadia." Timpal mama Elsa memaklumi.

"Ajak Nadia sering-sering kesini." Sambung Papa Elsa.

Gibran mengangguk. "Siap, Ndan."

Gibran menepuk pelan pipi Nadia sembari memanggil nama gadis itu.

"Nad, ayo bangun." Bisiknya pelan. Gibran mengguncang pelan bahu nadia namun sepertinya gadis manis itu terlanjur nyaman melakukan drama putri tidurnya. Bukannya bangun, Nadia malah membenarkan posisinya mencari tempat paling nyaman.

Tak ada pilihan lain,tak ingin memulai drama baru, Gibran memasukkan tangannya diantara lipatan lutut dan leher nadia, menggendongnya dengan sangat hati-hati. Dari tempat duduknya Elsa melihat semua itu dengan tatapan sendu. Lelaki yang sangat diharapkan menjadi pendamping hidupnya telah menjadi milik orang lain. Semua nyata di depan matanya tapi hatinya selalu menolak untuk menerima kenyataan.

"Maaf, Ndan, kami permisi." Gibran merapatkan jaket miliknya ke tubuh Nadia dan berjalan keluar rumah di iringi Elsa dan kedua orangtuanya.

"Naik motor, Gi? Terus Nadia gimana? Bahaya loh." Ujar Mama Elsa saat melihat motor Gibran yang terparkir di depan rumah mereka.

"Tidak apa-apa, Bu, nanti Nadia saya bangunkan." Ujar Gibran tenang.

"Yakin, Bang? Tidak sebaiknya pakai mobil Elsa saja? Kan bisa di kembaliin. Motornya aman kok disini." Elsa memberi solusi. Bagaimanapun, ia menghawatirkan keselamatan dua orang itu.

"Tidak usah, Dok. Terima kasih. Nadia biasa begini." Terang Gibran.

"Hati-hati" Ujar Papa Elsa, selalu dengan kepercayaan penuh pada prajurit kebanggaannya itu.

"Siap, Ndan. Kalau begitu, kami permisi. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam warahmatullah"

Gibran dan Nadia meninggalkan kediaman bapak nomor satu di kesatuan Gibran itu tepat pukul sepuluh malam. Dengan langkah ringan Gibran berjalan menuju tempat motornya terparkir. Nadia yang masih melanjutkan aksi tidur cantiknya sama sekali tak terganggu dengan pergerakan suaminya. Sesampai di depan motor, Gibran langsung berdehem.

"Bangun!" Dengan sekali sentakan sosok yang sejak tadi tenang dalam dekapannya langsung terbahak.

BRUK!!!

"Aw! Apaan sih om, kasar bangat." Nadia yang baru saja di jatuhkan diatas rumput mengaduh kesakitan. Ia berdiri sambil mengelus panta*nya yang ngilu. Di depannya Gibran bersikap masa bodoh seolah tak terjadi apa-apa. Dengan santainya pria dewasa berwajah dingin itu menaiki motornya.

"Naik!" Titahnya tanpa memandang Nadia sama sekali. Nadia yang terbiasa menjadi bos dalam hidupnya sendiri sontak saja mengepalkan tangannya siap menyerang Gibran.

"Atau saya tinggal?" Gibran menatap Nadia dengan malas.

Nadia yang sudah mengangkat tinjunya tinggi-tinggi langsung menurunkan tangan saat melihat intimidasi dari Gibran. "Dasar orang tua." Sungutnya kesal.

"Lain kali kalau kamu bertingkah seperti ini, saya ceburin di kolam asrama." Ancam Gibran sembari membelokkan motornya.

Kolam asrama? Nadia bergidik ngeri. Kolam asrama yang dimaksud Gibran bukanlah kolam yang sama seperti di rumah mewahnya tempat ia biasa menghabiskan waktu bersantai melainkan sebuah got aliran pembuangan rumah tangga penghuni asrama yang biasa di pakai sebagai arena latihan dan kebanyakan untuk merendam prajurit yang tidak disiplin. Tentu saja Gibran tidak main-main dengan ancamannya karena Nadia tak akan lupa kala itu dimana Gibran tanpa perasaan melemparnya dalam kolam asrama hanya karena ia ketahuan bolos sekolah untuk ikut teman-temannya balapan liar.

"Pegangan!"

Nadia yang tadinya mau menyelipkan tangannya memeluk Gibran langsung saja menumpukan kedua tangannya di besi belakang motor. Bukan Nadia namanya kalau tidak membuat pusing Gibran. Pria dewasa itu harus selalu memupuk sabar ketika menghadapi kekeraskepalaan Nadia yang makin hari makin parah.

"Nad?"

"Nad?" Nadia mengulang ucapan Gibran dengan gaya menyebalkan.

"Pegangan atau?"

"Ck. Iya iyaaa ah! Bisanya ngancem yang lemah. TIRANI!!!" Teriak Nadia tepat di telinga Gibran yang tertutup helm. Dengan perasaan kesal yang bertumpuk-tumpuk, Nadia mengaitkan kedua lengannya melingkari pinggang Gibran setelah terlebih dahulu menyempatkan mencapit pinggang Gibran dengan dua jari lentiknya.

Perjalanan dari rumah Elsa ke asrama mereka tak memakan cukup banyak waktu, hanya beberapa menit, kedua orang berbeda generasi itu akhirnya sampai di asrama hijau yang kata Nadia penjara tanpa jeruji.

"Cuci kaki, sikat gigi lalu tidur." Nadia yang baru saja turun dari motor menatap Gibran sebal.

"Emang aku anak kecil?!" Ucapnya menghentakan kaki menuju rumah. "Cepet om, buka pintu! Nadia capek." Teriaknya tak sabaran saat Gibran memarkirkan motornya.

Gibran yang sudah biasa mendengar pekikan nyaring itu tak terlalu memperdulikannya. Ia memarkirkan motornya tanpa terganggu sama sekali dengan Nadia yang bersungut di depan pintu.

"Tidak teriak dalam sehari mulut kamu bisa karatan atau gimana?" Gibran berucap santai sembari membuka pintu rumah.

"TETANUS! PUAS?" Nadia menyenggol bahu Gibran dan berlalu ke dalam rumah. Gibran menghela nafas berat, menatap punggung kecil itu. Seandainya kedua sahabatnya masih ada, mungkin Nadia akan tumbuh menjadi gadis manis dan lembut. Dulu, saat kedua orangtua Nadia masih ada, Gibran sering main ke rumah mereka, Nadia yang dulu adalah gadis kecil yang manis, riang, dan lembut, tak sekalipun berbicara kasar pada orang lain. Tapi sekarang, Gibran hanya bisa menghela nafas tiap kali melihat gadis yang sudah beranjak remaja itu berulah.

Bang, Mbak, maafkan Gibran yang sudah gagal mendidik Nadia. Gibran termenung menatap foto di depannya. Foto dirinya yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Akmil, diapit oleh dua orang sahabat yang sudah ia anggap sebagai keluarganya. Gibran menyentuh wajah bayi yang sedang terlelap dalam gendongan ibunya, Nadia yang masih bayi. Ia tidak bisa menyalahkan gadis itu atas semua sikapnya karena dirinyalah yang terlalu sibuk, tak menyempatkan diri memberi perhatian pada Nadia.

"Om, pasta giginya habis." Nadia muncul dari kamar mandi dengan wajah masam. Semua hal di rumah ini terasa kurang baginya. Apa-apa kurang, bahkan pasta gigi pun kurang.

Gibran lalu tanpa mengatakan apapun berjalan ke arah lemari penyimpanan dan mengeluarkan pasta gigi yang baru saja ia beli siang tadi.

"Pencet dari bawah." Ujarnya mengingatkan Nadia yang kebiasaan memencet tengah kemasan pasta gigi.

"Baik yang mulia."

Gibran tersenyum tipis melihat tingkah konyol gadis kecil itu. Ada saja kelakuan ajaibnya dalam sehari. Ia tak bisa membayangkan Nadia bersama orang lain, mungkin saja gadis itu sudah di kubur berdiri saking kesalnya orang itu padanya.

***

"Om apain Nadia?"

Gibran membuka mata pelan menyesuaikan dengan silau sinar lampu kamar. Badannya terasa kaku dan berat, sapuan hangat di area lehernya membuat dia mengernyit belum lagi suara serak yang menyusup di telinganya.

"Om apa-apain Nad kan?"

Ia menunduk hanya untuk melihat tatapan penuh tuduhan dari gadis bermata bulat hitam itu yang tampak lucu dengan bare face nya.

"Saya yang harusnya nanya, Nad. Ngapain kamu nemplok dibadan saya?" Gibran menghela nafas pelan, menggeliat mencoba menurunkan Nadia dari atasnya. Bukan karena berat badan Nadia karena bagi Gibran, Nadia seperti sehelai bulu ayam yang ringannya sangat ringan tapi karena posisi seperti ini tak baik untuk akal sehat Gibran dimana setiap pagi hormon testoteron bagi laki-laki dewasa dan normal masih dalam kondisi aktif-aktifnya. Nadia bukan lagi gadis kecil tujuh tahun yang biasa tertidur dalam gendongannya, Nadia yang sekarang adalah gadis muda yang cantik, pemilik badan kecil yang pas pada bagian-bagian yang menarik bagi seorang wanita dewasa. Gibran sebagai pria dewasa yang normal tentu saja sedikit was-was dengan keadaan mereka sekarang belum lagi status gadis yang masih nyaman diatasnya ini adalah istrinya yang sah, halal untuk diapa-apakan.

"Nad tidur. Om ngapain? Kenapa tidurnya nyentuh-nyetuh Nad? Gak boleh ya Om, Nad gak redho." Protes Nadia dari mulutnya berkebalikan dengan gerak badannya yang kini malah mengendus-endus leher Gibran dan sekitaran dagu lelaki itu yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus.

"Nad belum siap hamil ya Om. Ingat itu." Lanjutnya yang menurut Gibran terdengar seperti provokasi.

Belum siap hamil katanya? Gibran tertawa dalam hati. Yang ada, dirinya yang khawatir Nadia yang otaknya ajaib ini bisa membuat hal itu terjadi lebih cepat.

"Kalau kamu tidak turun. Saya hamilin ka-Aw."

"YAK!!! DASAR OM-OM OTAK MESUUUM!!!"

Buk! Buk! Buk!

"Rasain tuh pukulan Nad." Nadia yang terkenal bar-bar itu memukuli Gibran sekuat tenaga yang hanya dihalau dengan satu tangan oleh Gibran yang langsung berdiri dari ranjang.

"Wudhu sana! Biar pikiran kamu bersih." Gibran menarik telinga Nadia menyeretnya ke kamar mandi.

"Om lepaaaas!" Teriak Nad memegangi tangan Gibran yang mencapit telinganya.

"Mandi sekalian. Keramas." Gibran mengguyur Nadia dengan air dingin yang keluar dari shower. Ngomong-ngomong soal shower, Gibran sebenarnya paling malas ada benda itu di kamar mandi hanya saja Nadia tak mau mandi kalau tidak menggunakan shower bahkan loyang besar yang biasa Gibran jadikan tempat rendaman bajunya dijadikan bath up oleh gadis kecil itu. Luar biasa memang otaknya.

"Dingiiiiiin ooooom." Nadia mencoba melepaskan diri tapi apalah ia dibandingkan badan raksasa Gibran.

"Mandi yang benar." Gibran melepaskan Nadia beserta shower-nya yang masih menguncur lalu keluar. Sebentar lagi adzan subuh, ia harus bergegas ke masjid kompleks asrama.

Nadia yang sudah terlanjur basah hanya bisa menyumpah dalam hati. Punya suami jelmaan fir'aun memang butuh hati lapang seluas hati ratu asiyah jika ingin berumur panjang. Awas tuh orang tua!

.

.

.

"Kamu ngapain?"

"Liat, deh Om! Ada oppa-oppa roti sobek di depan. Asik beneeer." Nadia dengan rambut yang masih di lilit handuk berdiri di depan jendela, mengintip keluar.

"Opa siapa?" Gibran yang sedang bersiap lari pagi dengan setelah olahraganya mendekati Nadia, ikut melongokkan kepala mengintip keluar jendela. Seingatnya tidak ada orang tua di asrama mereka.

"Gilak! Kok bisa perutnya kotak gitu ya? Di bentuk pake batako atau gimana tuh." Ujar Nadia mengabaikan keberadaan Gibran dibelakangnya.

Gibran yang menyadari opa-opa yang dimaksud Nadia bukanlah kakek-kakek lanjut usia melainkan para prajurit baru berotot yang sedang membersihkan halaman asrama hanya bisa berdecak. Istrinya ini benar-benar tidak biasa, setiap hari melihat badannya yang eight pack sepuas hati tapi masih juga mengintip orang diluar sana.

"Sana sarapan! Saya ke lapangan dulu." Gibran mendorong pelan bahu Nadia menjauh dari jendela. Nadia yang merasa kesenangannya terganggu memberenggut sebal.

"Ganggu aja." Meskipun kesal, Nadia pada akhirnya ke dapur juga untuk sarapan, sepiring nasi goreng dilapisi telor goreng berbentuk Hati. Gibran memang tak pernah lupa menyiapkan sarapan yang persis sama dibuat oleh Ibunya dulu, itulah kenapa ia tak bisa marah pada Gibran meskipun ada sedikit kesal dihatinya tiap kali Gibran berlaku semena-mena memaksakan kehendaknya.

Bunda, Ayah, Nad kangeeen.

***

Terpopuler

Comments

Marshanda Adilla

Marshanda Adilla

nama ceweknya tuh kalo gak salah ,, Yoeriko Angeline

2023-12-20

1

Naura Sabrina

Naura Sabrina

good story

2023-03-06

1

Sri Widjiastuti

Sri Widjiastuti

biarin deh biar si ibu persit g ikutan mancing2 bikin eneg aja nii

2022-11-27

1

lihat semua
Episodes
1 Gadis nakalnya Om
2 Rumah hijau
3 Tante-tante cantik
4 Tamu tak di undang
5 Drama Makan malam
6 Drama Nadia
7 Pembuat Onar
8 Kabur dari Penjara
9 Semi militer
10 Om-om Tentara
11 Istri-Istri Tentara
12 Main ke Pantai
13 Penjaga Gadis Nakal
14 Ketika Om Tidak Ada
15 Di Ospek Lagi
16 Peliharaan Om-Om
17 Pelajaran dari Om
18 Pelajaran lainnya
19 Dapat Kunjungan
20 Kunjungan Lain
21 Malam mingguan
22 Bocor
23 Yang bersayap
24 Menu Makan Malam
25 Lebih dari 3000
26 Marahnya Gibran
27 Buatan sendiri
28 Milik Nadia
29 Dirgahayu Om Gi
30 Pewaris Gaudia Group
31 Alat Negara
32 Hari H
33 Obatnya Om Gibran
34 Jika harus pisah
35 Istri Sah Gibran Al Fateh
36 Habis manis lalu pergi
37 Menunggu Om Gi kembali
38 Kehidupan Istri Prajurit
39 Terima kasih sudah berjuang.
40 Bunga hidup untuk Om Gi
41 Anak SMA VS Om Tentara
42 Asal Om Gibran Bahagia
43 Tante-tante tutup panci
44 Calon Papa mama yang baik
45 Tugas Negara diatas Keluarga
46 Airmata Seorang Persit
47 Musuh bersama
48 Cemburunya Nadia
49 Nadia dan Om Gibran
50 Mencari Nadia
51 Usaha mendapatkan Maaf
52 Para Lelaki
53 Istrinya Gibran
54 Susu pisang spesial ala Nadia
55 Jalan sama Om-Om
56 Antara Sayang dan cinta
57 Wanitanya Om Gibran
58 Ujian bersama
59 Senjata makan Tuan
60 Salah siapa?
61 Ada apa dengan Om Gi?
62 Ngidam.
63 Satu garis samar lainnya
64 Ngidam Bucin
65 Hati yang Om Gi sakiti
66 Barisan Para Fans
67 Barisan para Fans 2
68 Butuh Piknik
69 Ada hati yang harus dijaga
70 Masih Anak Sekolah
71 Guguk menggonggong, Nadia berlenggok
72 Janji yang diingkari
73 Sumpah seorang Prajurit
74 Tentang Dokter Elsa
75 Hari-hari Terakhir
76 Tak Kenal Maka Tak sayang
77 Rumahku adalah istanaku
78 Matahari terbit di sayap Garuda
79 Menyesuaikan Diri
80 Hari Pertama di tempat Baru
81 Orang-orang Baik
82 Berburu peradaban
83 Istri yang baik
84 Tetangga Rese
85 Milikku
86 Diabaikan
87 Kepergian Nadia
88 Jarak dan Waktu
89 Kata Tanpa Rasa
90 Berita Kelulusan
91 Satu-satunya
92 Jangan Pergi
93 Obrolan serius
94 Anak hasil didikan Gibran
95 Memaafkan dan Menghargai
96 Om-om Serba Bisa
97 Badai Tak Terduga
98 Penyejuk Hati
99 Senandung Cinta Nadia
100 Om Gibran yang Baik
101 Jaga dia untukku
102 Aku pasti kembali
103 Manis Manja
104 Suami sayang Istri
105 Lidah Tetangga
106 Kata Dokter
107 Definisi Cinta
108 Para Pemburu
109 Ulat Sagu
110 Hak milik Gibran
111 Nadia Bakpau
112 Pasangan Serasi???
113 Pria menyebalkan
114 Acara Malam
115 Bayi besar Nadia
116 Obrolan pasangan
117 Lelaki Pujaan
118 Suami Nadia
119 Selamat Datang
120 Ibu dan Ayah Navia
121 Permintaan Maaf
122 The Girls in your Area
123 Balada Cinta Gendis
124 Tour Gratis Distrik
125 Anak Rantau
126 Kisah yang tak diinginkan
127 Pulang kembali
128 Lelaki baik itu masih Ada
129 Om Gi dan Make Up
130 Dia marah?
131 Lebih Sakit
132 Ibu terbaik
133 Hukuman Termanis
134 Mode Biasa
135 Saat Jauh
136 Perkara Kabar
137 Perkara Kabar 2
138 Sesal Tiada Guna
139 Hari yang Aneh
140 Buayanya Nad
141 Oh Ternyata
142 Pesona gadis muda
143 Lelaki Romantis
144 Kaum Milenial dan Orang-Orang Dewasa
145 Mahasiswa Cantik
146 Lelaki Beraroma Segar
147 Dalam Dekapan Om Gi
148 Para Senior Laknat
149 Para Pengganggu
150 Om Gi Yang Lugu
151 Sampai Jumpa Kesayangan
152 Istri, Ibu, dan Mahasiswi
153 Janji-janji Palsu
154 Disini Hanya Untukmu
155 Nadia Oh Nadia
156 Bersama selamanya
157 Kembali Kerutinitas
158 Vitamin C-nya Nadia
159 Kemerdekaan Tak Abadi
160 Kawasan Wajib Lapor
161 Istrinya Kapten Gibran
162 Bela Negara
163 Topik Utama
164 Teguran Keras
165 Malaikat Itu Nyata Adanya
166 Mari hadapi bersama
167 Atasan Sang Kapten
168 Menjaga Milik Pribadi
169 Jabatan Baru
170 Bos Kecil
171 Mahasiswi Pencitraan
172 Tentang sebuah kepercayaan
173 Ada Apa Dengan Om Gi?
174 Menjadi Dewasa
175 Nadia Hebat
176 Bukan manusia sempurna
177 Hari yang Sibuk
178 Airmata si Cantik
179 Nadia Dan Para Wanita Bar-Bar
180 Rasanya Cinta
181 Dilabrak
182 Harta yang berharga
183 Kejutan
184 Love you more
185 Bencong
186 Permintaan Pertama
187 Saran-saran
188 Bakti Sosial
189 Misi Kemanusiaan
190 Operasi Penyelamatan
191 Bahagiaku itu Kamu
192 Di tenda pengungsian
193 Terlalu Memuja
194 Muka Dua
195 Masa Tenang
196 Amit-amit
197 Melepaskan
198 Kumat
199 Menikah itu....
200 Pasca Wedding
201 Ekstra Part. Rindu Berat
202 Ekstra Part 2. Kesayangan
Episodes

Updated 202 Episodes

1
Gadis nakalnya Om
2
Rumah hijau
3
Tante-tante cantik
4
Tamu tak di undang
5
Drama Makan malam
6
Drama Nadia
7
Pembuat Onar
8
Kabur dari Penjara
9
Semi militer
10
Om-om Tentara
11
Istri-Istri Tentara
12
Main ke Pantai
13
Penjaga Gadis Nakal
14
Ketika Om Tidak Ada
15
Di Ospek Lagi
16
Peliharaan Om-Om
17
Pelajaran dari Om
18
Pelajaran lainnya
19
Dapat Kunjungan
20
Kunjungan Lain
21
Malam mingguan
22
Bocor
23
Yang bersayap
24
Menu Makan Malam
25
Lebih dari 3000
26
Marahnya Gibran
27
Buatan sendiri
28
Milik Nadia
29
Dirgahayu Om Gi
30
Pewaris Gaudia Group
31
Alat Negara
32
Hari H
33
Obatnya Om Gibran
34
Jika harus pisah
35
Istri Sah Gibran Al Fateh
36
Habis manis lalu pergi
37
Menunggu Om Gi kembali
38
Kehidupan Istri Prajurit
39
Terima kasih sudah berjuang.
40
Bunga hidup untuk Om Gi
41
Anak SMA VS Om Tentara
42
Asal Om Gibran Bahagia
43
Tante-tante tutup panci
44
Calon Papa mama yang baik
45
Tugas Negara diatas Keluarga
46
Airmata Seorang Persit
47
Musuh bersama
48
Cemburunya Nadia
49
Nadia dan Om Gibran
50
Mencari Nadia
51
Usaha mendapatkan Maaf
52
Para Lelaki
53
Istrinya Gibran
54
Susu pisang spesial ala Nadia
55
Jalan sama Om-Om
56
Antara Sayang dan cinta
57
Wanitanya Om Gibran
58
Ujian bersama
59
Senjata makan Tuan
60
Salah siapa?
61
Ada apa dengan Om Gi?
62
Ngidam.
63
Satu garis samar lainnya
64
Ngidam Bucin
65
Hati yang Om Gi sakiti
66
Barisan Para Fans
67
Barisan para Fans 2
68
Butuh Piknik
69
Ada hati yang harus dijaga
70
Masih Anak Sekolah
71
Guguk menggonggong, Nadia berlenggok
72
Janji yang diingkari
73
Sumpah seorang Prajurit
74
Tentang Dokter Elsa
75
Hari-hari Terakhir
76
Tak Kenal Maka Tak sayang
77
Rumahku adalah istanaku
78
Matahari terbit di sayap Garuda
79
Menyesuaikan Diri
80
Hari Pertama di tempat Baru
81
Orang-orang Baik
82
Berburu peradaban
83
Istri yang baik
84
Tetangga Rese
85
Milikku
86
Diabaikan
87
Kepergian Nadia
88
Jarak dan Waktu
89
Kata Tanpa Rasa
90
Berita Kelulusan
91
Satu-satunya
92
Jangan Pergi
93
Obrolan serius
94
Anak hasil didikan Gibran
95
Memaafkan dan Menghargai
96
Om-om Serba Bisa
97
Badai Tak Terduga
98
Penyejuk Hati
99
Senandung Cinta Nadia
100
Om Gibran yang Baik
101
Jaga dia untukku
102
Aku pasti kembali
103
Manis Manja
104
Suami sayang Istri
105
Lidah Tetangga
106
Kata Dokter
107
Definisi Cinta
108
Para Pemburu
109
Ulat Sagu
110
Hak milik Gibran
111
Nadia Bakpau
112
Pasangan Serasi???
113
Pria menyebalkan
114
Acara Malam
115
Bayi besar Nadia
116
Obrolan pasangan
117
Lelaki Pujaan
118
Suami Nadia
119
Selamat Datang
120
Ibu dan Ayah Navia
121
Permintaan Maaf
122
The Girls in your Area
123
Balada Cinta Gendis
124
Tour Gratis Distrik
125
Anak Rantau
126
Kisah yang tak diinginkan
127
Pulang kembali
128
Lelaki baik itu masih Ada
129
Om Gi dan Make Up
130
Dia marah?
131
Lebih Sakit
132
Ibu terbaik
133
Hukuman Termanis
134
Mode Biasa
135
Saat Jauh
136
Perkara Kabar
137
Perkara Kabar 2
138
Sesal Tiada Guna
139
Hari yang Aneh
140
Buayanya Nad
141
Oh Ternyata
142
Pesona gadis muda
143
Lelaki Romantis
144
Kaum Milenial dan Orang-Orang Dewasa
145
Mahasiswa Cantik
146
Lelaki Beraroma Segar
147
Dalam Dekapan Om Gi
148
Para Senior Laknat
149
Para Pengganggu
150
Om Gi Yang Lugu
151
Sampai Jumpa Kesayangan
152
Istri, Ibu, dan Mahasiswi
153
Janji-janji Palsu
154
Disini Hanya Untukmu
155
Nadia Oh Nadia
156
Bersama selamanya
157
Kembali Kerutinitas
158
Vitamin C-nya Nadia
159
Kemerdekaan Tak Abadi
160
Kawasan Wajib Lapor
161
Istrinya Kapten Gibran
162
Bela Negara
163
Topik Utama
164
Teguran Keras
165
Malaikat Itu Nyata Adanya
166
Mari hadapi bersama
167
Atasan Sang Kapten
168
Menjaga Milik Pribadi
169
Jabatan Baru
170
Bos Kecil
171
Mahasiswi Pencitraan
172
Tentang sebuah kepercayaan
173
Ada Apa Dengan Om Gi?
174
Menjadi Dewasa
175
Nadia Hebat
176
Bukan manusia sempurna
177
Hari yang Sibuk
178
Airmata si Cantik
179
Nadia Dan Para Wanita Bar-Bar
180
Rasanya Cinta
181
Dilabrak
182
Harta yang berharga
183
Kejutan
184
Love you more
185
Bencong
186
Permintaan Pertama
187
Saran-saran
188
Bakti Sosial
189
Misi Kemanusiaan
190
Operasi Penyelamatan
191
Bahagiaku itu Kamu
192
Di tenda pengungsian
193
Terlalu Memuja
194
Muka Dua
195
Masa Tenang
196
Amit-amit
197
Melepaskan
198
Kumat
199
Menikah itu....
200
Pasca Wedding
201
Ekstra Part. Rindu Berat
202
Ekstra Part 2. Kesayangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!