.
.
.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Hari terus berganti dan bulan pun sudah berganti, kini masa hukuman satria tinggal satu bulan lagi. Dia sudah tidak sabar ingin membungkam mulut - mulut para orang yang sudah menghinanya terutama kedua kakak iparnya.
" Din, nanti sore ikut mas menemui nenek. Mas sudah mengatur waktu yang tepat untuk pertemuan kali ini , mas minta kamu nanti bisa mengambil hati nenek. Nenek orangnya memang tegas dan dia kalau bicara suka tidak terkontrol. Tapi dia orangnya baik jadi kamu jangan takut. " Ucap satria memberitahu dinda jika siang ini dia ada pertemuan dengan nenek.
Deg.
Jantung dinda seakan berhenti berdetak saat suaminya mengatakan ingin membawanya bertemu dengan nenek. Nenek satria adalah orang terkaya di kotanya bahkan perusahaan STR Group nenek suaminyalah yang mendirikannya.
" Tapi mas aku takut jika nenek mas tidak setuju dengan pernikahan yang sudah kita jalani ini. " Ucap dinda takut.
" Sssst.... Tidak perlu takut. Nenek tidak pernah memandang orang dari segi materi. Karena nenek juga terlahir bukan dari kalangan orang kaya. Dia justru lebih parah dari kehidupan kita ini, nenek dulu pernah menjadi pemulung dan buruh cuci juga. Jadi jangan pernah takut jika nenek memandang orang dari segi materi " Ucap satria menyakinkan dinda.
Dinda mengangguk setelah mendengar penjelasan daei suaminya.
" Jadi hari ini mas tidak jualan ?" Tanya dinda .
" Tidak din. Sepertinya mulai hari ini mas tidak berjualan lagi, gerobaknya akan mas berikan kepada pak marno. Dia kemarin sudah mas tawarkan untuk meneruskan jualan es cendol ini dan alhamdulillah dia mau din. Tidak apa-apakan kalau mas tidak berjualan lagi.?" Tanya satria sambil tersenyum meminta persetujuan sang istri.
" Tidak apa - apa dong mas, sekarang uang suamiku kan sudah kembali banyak. Jadi tidak masalah meskipun satu tahun tidak bekerja. Heheee " Ucap dinda sambil terkekeh.
Dinda hanya bercanda, dia tidak seperti wanita matre diluaran sana yang memanfaatkan uang suami nya untuk membeli barang - barang mewah dan branded. Dinda tidak mau dicap wanita yang hanya memanfaatkan uang suaminya.
" Bercanda loh mas " Ucap dinda lagi.
" Kalaupun serius tidak masalah loh sayang ku, uang ku adalah uang mu juga. Apapun yang kamu inginkan mulai sekarang akan mas kabulkan. Sekarang sebut saja kamu mau apa ? Jika kamu diam saja mas akan menyuruh asisten mas untuk mengirim barang - barang mewah untuk mu. " Ucap satria sedikit mengancam.
Jika tidak diancam seperti itu sudah pasti dinda tidak akan meminta sesuatu. Satria sudah hafal benar dengan karakter istrinya. Wanita cantik, lembut, sederhana dan tidak banyak menuntut.
" Jangan mas ! Emm... Aku mau minta di sewakan tempat untuk buka usaha. " Ucap dinda akhirnya memberitahu apa yang dia minta.
" Oh... Mas lupa, dari dulu kamu ingin mempunyai usaha dibidang kuliner. Baiklah mas akan siapkan semuanya dalam seminggu semuanya akan beres dan tempat itu akan bisa langsung beroperasi. " Ucap satria mengabulkan permintaan istri tercintanya dengan senang hati.
" Terimskasih mas " Seru dinda lalu memeluk satria dengan erat.
Satria berjanji mulai saat ini dia akan membahagiakan istrinya, selama dua tahun ini dinda sudah setia mendampingi satria dalam suka maupu duka tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan saat mereka hanya makan dengan ikan asinpun dinda tidak mengeluh justru dialah yang menguatkan satria untuk selalu sabar dan tetap semangat.
" Mas aku kerumah bapak dulu ya mengantar obat yang semalam mas belikan. Aku lupa belum mengantarkannya, yang dirumah obat bapak habis sampai siang ini saja. " Ucap dinda izin kerumah orang tuanya.
Meskipun dekat dinda tetap harus izin dengan orang tuanya dan dia tidak akan pergi jika suaminya tidak mengizinkan.
" Iya pergi saja, mas menunggu pak marno katanya hari ini akan datang mengambil gerobak sekalian mau belajar bikin es cendol yang enak" Ucap satria.
Dinda mengangguk lalu dia masuk kekamar mengambil obat yang semalam dibelikan oleh satria. Semenjak habis operasi pak karim memang hanya dirumah saja, sudah tidak menggarap sawah lagi. Lagipula sawah yang digarappun bukan milik pribadi melainkan milik tetangga dengan sistem bagi hasil. Dan untuk kebutuhan obat dan kontrol rumah sakit semua ditanggung satria. Ketiga saudaranya sama sekali tidak mau membantu. Begitupun dengan para ipar - iparnya , hanya beni yang mempunyai sedikit rasa perduli. Beni perna0h memberikan dinda uang 2 juta untuk membantu membeli obat pak karim, namun dinda menolaknya karens dia tidak mau sang kakak alias rena salah paham.
" Ada mbak rena sama mbak sinta juga ?" Seru dinda saat masuk kerumah orang tuanya sudah ada rena dsn sinta duduk di ruang tamu.
" Iya dong memangnya kamu jam segini baru datang menjenguk bapak ! Bapak itu sakit tapi kamu tidak perduli, padahal rumah paling dekat." Seru rena sinis.
" Loh , bapak tidak sakit dia memang harus banyak istriahat. Tahu sendiri kondisi bapak seperti apa dan bukan berarti bapak sakit. Lagipula selama bapak dirumah sakit sampai dirumah aku dan mas satria yang mengurusnya. Biaya rumah sakit juga suamiku yang menanggungnya,biaya obat juga suamiku. Lihat nih aku datang kesini membawakan obat untuk bapak. Jangan anggap aku ini tidak perduli, selama sebulan ini aku dan mas satria loh yang mengurus bapak sampai semua biaya nya dan aku lakukan semua itu ikhlas, sebagai tanda bakti kami kepada bapak. Lantas apa yang sudah kalian lakukan? Hahhh ..! " Tanya dinda dengan geram.
Dia tidak habis fikir dengan kelakuan kakak dan para iparnya itu. Bisanya menganggap dinda tidak perduli dengan orang tuanya.
" Biaya rumah sakit dari hutang saja bangga. Apalagi cuma obat harga paling tidak sampai 100 ribu." Ucap sinta istri rudi.
" Biarpun hutang yang penting tidak merepotkan kalian dan tidak minta kalian yang membayarnya. Kamu bilang 100 ribu ? Oke kalau kalian mau tahu , ini struk pembelian obat tadi malam masih aku simpan " Ucap dinda sambil mengulurkan struk pembelian obat. Beruntung tadi malam struk itu tertinggal dalam plastik obat dan dinda mengambilnya dan menyimpan dalam dompetnya.
Dinda sendiri selama sebulan ini tidak tahu berapa harga obat yang tiap minggu dibelikan suaminya untuk bapaknya. Baru tadi malam dinda tahu nominal yang dikeluarkan satria setiap minggunya. Ternyata satria memberikan obat dengan harga yang cukup mahal.
" Sembilan juta lima ratus ? " Seru rena dan sinta bersamaan.
Iya, sekitar 9,5 juta yang tiap minggu satria keluarkan untuk membeli obat yang hanya 5 macam itu. Rena dan sinta terkejut dengan harga obat yang dikonsumsi oleh pak karim.
" Ini pasti bohong. Ini struk punya orang terus kamu pungut dan kamu tunjukan kepada kami. Dasar licik kamu dinda " Seru sita tidak percaya dengan struk yang diberikan oleh dinda.
" Kalau kalian tidak percaya kalian bisa periksa saja ini obat - obatan yang ada di dalam plastik ini dan cocokan sama struk yang kalian pegang. Oh iya bukannya mbak sinta bilang lulusan kesehatan pasti tahu dong dengan obat - obat ini" Ucap dinda tersenyum sinis.
Dia sudah tahu jika sinta memang pernah kuliah dibidang kesehatan namun berhenti hanya sampai semester dua saja itupun berhenti tanpa kabar, alias keluar begitu saja tanpa membayar uang kuliahnya di semester 1 dan 2. Semester dua saja hanya diikuti selama 1 bulan saja.
" Tapi aku mana tahu soal obat beginian, karena ini bukan bidangku. Inikan obat sakit jantung ,sedangkan aku dulu ambil kuliah perawat." Ucap sinta gugup.
" Nah justru perawat itu biasanya dia malah lebih tahu,tapi kalau mbak saat kuliah bodoh dan berhenti di tengah jalan ya percuma, pasti tidak ada yang mbak tahu. " Ucap dinda penuh sindiran.
" Maksud kamu bicara seperti itu apa ? Kamu meragukan kemampuan ku ?" Tanya sinta lantang.
Dengan kasar sinta mengambil obat - obatan yang ada di tangan dinda lalu mencocokannya dengan struk pembelian. Dinda terus menatap kakak iparnya yang berpura - pura mengecek obat.
" Iya ren ini obat memang mahal. "Ucap sinta .
" Banyak juga hutang mereka mbak, untuk obatnya bapak saja dalam sebulan ini sudah 36 juta, belum biaya rumah sakit kemarin , belum biaya kontrolnya.. Kamu yakin bisa bayar hutang kamu din ?" Tanya rena dengan heran.
" Itu soal mudah, jika aku tidak bisa mengembailkan uang itu tinggal jual saja rumah ini. Lagipula sertifat rumah ini sudah aku jaminkan saat meminjam uang waktu itu. Ini rumahkan sudah hak ku, mbak rena dan yang lainnya masing - masing sudah bapak kasih hak kalian sebanyak 150 juta saat kalian awal menikah. Lagi pula hutangku tidak banyak kok cuma 200 juta saja dan itu untuk biaya bapak" Ucap dinda dengan santainya. Padahal apa yang dia ucapkan semuanya bohong.
Rumah orang tuanya ini memang sudah menjadi haknya dinda bahkan sertifikat sudah atas nama dinda. Seminggu yang lalu pak karim sudah memberikan sertifikat asli rumahnya kepada dinda, dia meminta dinda yang menyimpannya jangan sampai jatuh ketangan ibu atau ketiga kakaknya. Ketiga kakaknya ternyata mengincar sertifikat rumah. Sedangkan sertifikat yang ada dalam lemari ibu rahayu adalah sertifikat palsu yang masih atas nama ibu rahayu.
" Kurangajar ! Ini rumah bukan milikmu dasar dinda adik tidak tahu diri. " Teriak rena.
" Rena ini ada apa ?" Tanya ibu rahayu yang baru saja keluar dari kamar.
" Ini buk, dinda ternyata menjaminkan sertifikat rumah ini untuk mencari hutangan untuk biaya rumah sakit bapak." Ucap rena menujuk dinda.
Ibu rahayu langsung menatap dinda bengis,terlihat sekali kebencian diwajahnya. Padahal dinda itu juga anak kandungnya tetapi tidak tahu semenjak dinda menikah dengan satria, dia menjadi membencinya.
" Kamu menggadaikan sertifikat rumah ini din ? Dan hanya 200 juta, dasar bodoh !! Rumah dan tanah ini jika di jual bisa laku 350 juta dinda. Kalau kamu tidak bisa membayar hutang itu mau tinggal dimana bapak sama ibu." Ucap ibu rahayu.
Namun tiba-tiba ibu rahayu kembali masuk kamar dan mengacak - acak isi lemari mencari sesuatu yang sangat berharga, dia tersenyum saat menemukan apa yang dia cari.
" Dasar pembohong !! Ini apa sertifikat rumah masih ada di lemari ku. Awas kamu din sudah berani berbohong " Ucap ibu rahayu.
" Bercanda bu " Ucap dinda dengan santainya.
Dinda melangkah menuju kamar yang dulu menjadi kamarnya, diksmarnya itu pak karim sedang betistirahat. Pak karim memang meminta untuk tidur dikamar dinda karena kamar dinda ini letaknya di belakang jadi tidak berisik.
**********
TETAP DUKUNG KARYA - KARYA AUTHOR YA KAK .
TERIMAKASIH 🙏🙏❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 211 Episodes
Comments
Misaza Sumiati
yang palsu sertifikat di lemari atas nama b. Rahayu , yang di Dinda yang asli , gituh kan ya thor
2024-12-20
1
Joko Pram
katanya sertifikat sdh di kasihkan Dinda knp msh dlm lemari ibunya.. tlong konsisten ceritanya y thor
2024-05-30
0
KrisTie Lyiee
tadi lima dan sekarang dua
2024-03-18
2