.
.
.
Pov. Dinda
Jam 12 malam aku terbangun, aku memang biasa bangun malam untuk sholat malam. Namun kali ini aku bangun bukan karena ingin sholat, karena aku lagi libur sholat. Aku bangun karena ingin mengambil air minum, kerongkonganku terasa gatal dan kering mungkin efek cuaca yang memang akhir - akhir ini sangat panas. Malam pun terasa panas dan gerah.
Saat aku bangun aku lihat disampingku tidak ada mas satria. Jika dia sholat pasti ada di dalam kamar, karena rumah ini tidak ada tempat khusus untuk sholat. Kami biasa sholat di dalam kamar.
Aku turun mencari keberadaan mas satria, ternyata mas satria ada di ruang tamu. Pelan - pelan aku menghampiri mas satria, namun aku terkejut saat didepan mas satria ada sebuah laptop yang sedang menyala dan jari - jari mas satria memainkannya dengan lihai. Sejak kapan mas satria mempunyai barang elektronik semahal itu. Aku pun kembali mendekat untuk menyapa mas satria namun tiba - tiba ponsel mas satria berdering.
[ Hallo Indra ! apa kamu sudah mengumpulkan semua data yang aku minta ]
Suara mas satria terdengar sangat tegas, bahkan aku tidak menyangka jika suami ku bisa bicara setegas itu. Aku tidak tahu dia menghubungi siapa yang aku tahu orang itu bernama indra, itupun karena mas satria tadi memanggilnya indra.
[ Baiklah,besok kamu temui aku ditempat biasa. Aku belum bisa masuk kantor karena nenek masih menghukum ku. Tapi soal perusahaan aku selalu memantaunya dari jauh. Jangan lupa laporkan apa saja yang terjadi di perusahaan ]
Perusahaan ? Mas satria bicara soal perusahaan ? Aku semakin curiga jika suamiku ini merahasiakan sesuatu dari ku. Aku menikah sudah dua tahun dengan mas satria tapi apa benar dia merahasiakan sesuatu dari ku.
" Mas satria " Aku memanggil mas satria dari belakang.
Mas satria langsung mencari sumber suara dan menatapku dengan gugup. Kalau seperti ini aku yakin jika mas satria benar - benar menyembunyikan sesuatu. Aku ingin tahu hal apa yang dia sembunyikan.
" Dinda ? Emm... Kamu sudah lama disitu ?" Tanya mas satria gugup.
" Sudah lumayan lama, sebelum kamu menerima telepon tadi aku sudah ada di belakang mu mas. Maaf, bukan aku mau menguping pembicaraan mu mas. Tapi aku ini istrimu dan aku berhak tahu apa yang sedang kamu sembunyikan dariku. " Ucapku memgintimidasi mas satria.
Apapun yang disembunyikan oleh suamiku aku harus tahu, karena sebagai seorang istri aku berhak tahu. Jika dia tidak mau memberitahu ku berarti dia memang tidak menganggapku ada.
" Kenapa diam mas ?" Tanyaku dengan wajah serius.
" Aku akan menceritakan sesuatu kepadamu tapi mas mohon kamu jangan marah dan jangan memotong ceritaku sampai aku selesai bercerita." Ucap mas satria akhirnya ingin bercerita.
" Aku tidak akan marah jika mas memang jujur " Jawab ku singkat.
Huuuffffftt
Terdengar mas satria membuang nafas dengan panjang, seperti nya rahasia yang selama ini dia sembunyikan benar - benar serius.
" Selama ini kamu mengenalku dengan nama Satria Perkasa W, Apa kamu tahu kepanjangan huruf W dibelakang namaku ?" Tanya mas satria.
Aku hanya menggelengkan kepalaku secara perlahan, karena aku memang tidak tahu apa arti atau kepanjagan huruf W dibelakang mas satria.
" Huruf W dibelakang namaku adalah nama keluarga besar ku , Wardoyo. Aku adalah Satria Perkasa Wardoyo pemilik perusahaan STR GROUP tempat kedua kakakmu dan ipar mu bekerja. " Ucapan mas satria berhasil membuat jantungku seakan berhenti berdetak.
Aku apa sedang bermimpi ? Suamiku ternyata pemilik STR Group, perusahaan besar yang bergerak dibidang ekspor impor itu. Tapi kenapa selama ini mas satria menutup jati dirinya bahkan hidup serba kekurangan.
" Mas serius ?" Tanya ku memastikan.
" Mas serius Din. Sudah 5 tahun ini mas memang hidup sebaga warga biasa, mas tidak diberikan fasilitas apapun oleh nenek. Mas seperti ini karena mas dihukum nenek, mas selama ini hanya menghambur - hamburkan uang perusahaan sampai perusahaan terancam bangkrut. Dan orang - orang yang mendekati mas hanya ingin dengan uang mas saja. Maka dari itu mas dihukum selama 5 tahun ini, dan tidak diperbolehkan membuka jati diri mas kepada siapapun tak terkecuali kamu dan keluarga kamu. Dan baru sebulan ini mas kembali diberikan fasilitas, kartu kredit dan semua ATM mas dikembalikan lagi. Dan mas mulai memantau perusahaan, mas harap kamu jangan membenci mas, karena mas tidak bermaksud membohongi kamu." Ucap mas satria menceritakan semuanya panjang lebar.
Aku tertegun mendengar penjelesan mas satria , ternyata suamiku adalah orang kaya. Aku tidak marah dengan mas satria, justru aku bangga karena mas satria sudah berjuang dan bertahan hidup dengan menjadi pedagang cendol. Seorang direktur menjadi pedagang cendol keliling.
" Aku tidak marah mas , justru aku bangga karena mas satria selama 5 tahun ini sudah menjadi pribadi yang baik. Bahkan selama 2 tahun pernikahan kita kamu kuat menghadapi hinaan keluarga ku." Ucap ku sambil memeluk mas satria.
" Terimakasih dinda, terimakasih. Hukumanku tinggal 2 bulan lagi, dan setelah hukuman itu selesai aku akan membawamu kerumah pribadiku. Nenek pasti sangat menyukaimu, meskipun kamu belum pernah bertemu nenek tapi aku yakin nenek sudah sering melihatmu. Diam - diam nenek selalu mengintai kehidupan kita. " Ucap mas satria membuat aku semakin tertegun.
" Mas aku ini hanya orang miskin, apa aku pantas bersanding dengan mu mas ? Aku takut nenek tidak menyukaiku " Ucapku merendah diri.
Mas satria menegakkan kepalaku lalu menganggkat dagu ku, dia memandangku dengan pandangan penuh kasih sayang lalu mencium bibir ku sekilas, aku tahu mas satria sengaja hanya mencium sekilas karena dia tahu aku sedang kedatangan tamu bulanan.
" Nenek pasti bisa menerimamu dengan baik seperti kamu bisa menerima ku apa adanya. Tolong rahasiakan semua ini dari yang lain dan keluargamu, suatu saat nanti mas sendiri yang akan membuka jati diri mas yang sebenarnya. " Ucap mas satria tetap mau merahasiakan siapa dirinya.
Aku setuju dengan mas satria, jika keluargaku tahu sudah pasti mereka akan menjilat ludahnya sendiri. Mereka akan merongrong mas satria . Aku tahu betul bagaimana tabiat ketiga saudaraku.
" Iya mas. " Jawab ku singkat.
" Sekarang kamu sudah tahu siapa mas kan ? Jadi kamu tidak curiga mas dapat uang darimana ? Kemarin - kemarin kamu mengira mas dapat uang dengan cara haram kan ? " Ucap mas satri sambil terkekeh.
" Maaf mas,aku kan tidak tahu. Aku hanya takut jika mas satria melakukan hal yang tidak baik. Tapi sekarang aku sudah tahu jika suamiku orang kaya, jadi aku bisa dong shopping beli apa saja yang aku inginkan." Ucap ku sambil tertawa padahal aku hanya bercanda saja. Tapi jika mas satria mengiyakan siapa takut.
Mas satri tertawa sambil mencubit hidungku yang mancung, boleh dong percaya diri mengatakan hidungku mancunng. Kenyataannya hidungku dan hidung mas satria sama - sama mancung.
" Boleh dong sayang ku. Apapun yang kamu minta dan kamu inginkan boleh kamu beli. Tapi tetap rahasiakan dulu siapa mas yang sebenarnya, biarkan saja mereka menerka - nerka mas dapat uang darimana " Ucap mas satria sambil mengusap pucuk kepala ku.
Aku mengangguk dengan bahagia, mulai besok aku akan menghabiskan uang suamiku. Aku akan membalas perlakuan para istri kakakku yang selalu mengatakan aku dekil dan baju - baju ku kumal.
" Aku akan membuat para istri kakak ku melongo melihat perubahan kita mas. Jujur aku memang dari dulu ingin membalas rasa sakit hatiku ini mas, bukan maksud untuk dendam tapi untuk membuktikan jika kita juga bisa hidup seperti mereka mas. " Ucapku menjelaskan agar mas satria tidak salah paham.
" Lakukan apa saja yang ingin kamu lakukan sayang. Sesekali mereka memang harus di beri pelajaran. Sudah sekarang kita tidur lagi yuk, sudah dini hari. Lihat sudah hampir jam 2 malam " Ucap mas satria sambil menujuk jam dinding yang menempel didinding.
Aku mengangguk lalu bangkit , begitupun mas satria. Dia mematikan laptop nya dan membawa masuk kekamar.
Pagi menjelang, kali ini mas satria tidak berjualan karena dia akan mengantarkan ku berbelanja. Hari ini mas satria berniat akan membelikanku perhiasan, karena menurut mas satria selama 2 tahun menikah mas satria tidak pernah memberikanku perhiasan. Hanya cincin nikah itupun sudah terjual untuk perbaikan gerobak mas satria.
" Mas beneran mau beliin aku perhiasan ?" Tanya ku mamastikan kembali.
" Iya dinda ku sayang. Nanti kita naik mobil saja ya, tadi mas sudah meminta sopir untuk menjemput mas. Hukuman mas tinggal 2 bulan lagi namun nenek sudah berbaik hati mengembalikan semua fasilitas yang mas punya. Nanti kalau orang tanya bilang saja kalau itu taksi online." Ucap mas satria.
" Ok suamiku " Aku mengacungkan jari jempolku dengan penuh semangat.
Saat kami hendak keluar rumah tiba - tiba ibu ani pemilik kontrakan datang menagih uang kontrakan. Aku lupa jika sudah 2 bulan ini kami tidak bayar kontrakan.
" Eh... Ibu Ani. Mau minta uang kontrakan ya bu ?" Tanyaku dengan ramah.
" Iya din , apakah uangnya sudah ada?. Maaf ibu bukannya mau menagih tapi memang butuh untuk bayaran sekolah si apri." ucap ibu ani.
Apri adalah anak ibu ani yang kini duduk di bangku SMA dia anak yang baik, pintar serta sopan. Jika bertemu dengan mas satria saat mas satria sedang berdagang dia selalu mengajak teman - temannya untuk melarisi dagangan mas satria.
" Alhamdulillah uangnya ada bu, masuk dulu bu saya ambilkan uangnya" Ucapku mengajak ibu ani masuk.
" Disini saja Din, kalian juga mau pergikan." Ibu ani berucap dengan sopan.
Aku hanya mengangguk dan masuk kekamar mengambilkan uang untuk membayar kontrakan. Mas satria memintaku untuk melebihkan uangnya agar bisa digunakan untuk membayar sekolah apri.
" Bu, maaf ya kami menunggak selama dua bulan " Ucap mas satria meminta maaf.
" Tidak apa - apa nak satria, ibu senang kalian mau tinggal di rumah ini. Dengan begitu rumah ini tidak akan rusak" Ibu ani bicara dengan sopan dan ramah.
" Bu, ini 1 juta untuk bayar sewa selama 2 bulan kemarin. Dan ini 1 jutq lagi sewa untuk dua bulan kedepan, mumpung kami ada rezeki jadi kami bayar sekarang. Dan ini 2 juta untuk membantu bayar sekolah Apri. Tolong diterima ya bu, kebetulan kami ada rezeki lebih. " Ucapku memberikan uang itu ditelapak tangan ibu ani.
Ibu ani terlihat kaget dan tidak percaya dengan uang yang aku berikan. Dia mencoba menolak tapi aku dan mas satria tetap memaksanya. Akhirnya ibu ani menerima uang pemberian kami dan ribuan doa baik ibu ani panjatkan untuk kami. Ibu ani memang orang baik, meskipun dia seorang janda dan hidupnya pas - pasan dia sering membantu kami. Dia tidak marah saat kami menunggak membayar kontrakan, padahal hanya kontrakan ini harapan satu-satunya. Ibu ani jika pagi berjualan nasi uduk dan soto di depan rumahnya.
Setelah ibu ani pulang aku dan mas satria akhirnya juga pergi. Mobil yang kami tunggu - tunggu akhirnya sampai di depan rumah ku. Banyak pasang mata yang melihat kearah kami, namun aku hanya cuek saja dan tidak memperdulikan tatapan para tetangga julit. Bahkan di tukang sayur yang biasa lewat ada mbak rena yang sedang berbelanja, alasannya saja belanja padahal cuma mau gosip. Mbak rena terus memandang kearah mobil yang kami naiki, samapai mobil menjauhpun dia masih tetap memandangi mobil ini.
*******
RATE BINTANG 5 NYA DULU KAK.
LIKE, KOMENTAR, VOTE, FAVORITE SERTA BERIKAN HADIAHNYA.
TERIMAKASIH 🙏❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 211 Episodes
Comments
Rahmat Asward
suka dgn alur ceritanya
2024-06-02
1
Qiqi
memang org2 jukit harus ditindak secara cantik biar kapok
2024-05-08
0
Sugianto 9
mantap.. mudah²an mereka tegas membantai 3 ipar dan pasangannya. serta ibu mertuanya.
2024-05-04
0