Bab 16

Raihan melangkah menaiki tangga dengan Andini yang sudah melingkarkan kakinya di pinggul.

"Pegangan yang bener, nanti kamu jatuh!"

"Iya," Andini segera mengalungkan tangannya di leher Rai. Meletakkan wajahnya di pundak kanan Rai.

"Kakak jalannya lambat kayak keong!"

"Kamu yang berat!"

"Mana ada?"

Padahal Rai sengaja melangkah pelan untuk menjaga keselamatan, apa lagi sedang berjalan menaiki tangga. Bukan berarti karena keberatan mengangkat tubuh Andini, walaupun tidak bisa di kata kecil juga. Karena onderdilnya Raihan akui cukup mantap di pegang.

Sesampainya di kamar, Rai berhenti di pinggir ranjang untuk memudahkan Andin untuk turun dari tubuhnya.

"Makasih kak Rai," Andini segera masuk kekamar mandi untuk mencuci tangan bekas memegang ayam goreng tadi.

"Berasa ilang empuknya di punggung gue." Raihan membayangkan kedua gunung yang begitu hangat singgah di punggungnya tadi hingga si Joni sudah mulai semi-semi bangun. Mungkin lagi menggeliat manja, "sabar Jon, belum waktunya. Kita jinakin dulu baru bisa eksekusi lagi. Tapi apa di kata kalo loe bakal ngeduda lagi. Nasib loe Jon....jon"

Raihan merebahkan tubuhnya di ranjang, malam ini lancar jaya karena Andini yang juga tak kunjung keluar, berarti dia bisa mudah tidur duluan tanpa hambatan. Memejamkan agar bangun lebih awal.

Andini yang sudah selesai ritual skin care malam merangkak naik keranjang dengan perlahan tidak ingin mengganggu Raihan yang sudah tidur pulas. Menoleh kesamping setelah menarik selimut dan membaca doa.

"Kakak tampan, tapi sayang duda, berarti aku dapat bekasan. Tapi kalo seandainya nanti aku jadi janda apa ada yang mau ya sama aku yang juga udah bekasan walaupun baru di pakai perdana tapi apa iya masih rapet secara gue ingat banget punya kak Rai bikin sesak. Nggak manusiawi sich nich orang, tapi cukup melenak....UPS mikir apa sich gue!" Andin memejamkan mata, beberapa adegan kejadian malam itu terngiang tetapi ia coba untuk terus melupakan.

"Andai cinta, pasti indah dan aduhai. Bobo di peluk, di sayang-sayang, di manja-manja. Nggak kayak sekarang, ini semua gara-gara loe Tara! gue jadi tersesat sama om duda begini! untung masih muda kalo aki-aki nggak sudi gue!"

Andini menutupi seluruh tubuhnya hingga ke kepala, tidur aman dan nyaman dengan suami di sebelah yang sedikit menghangatkan ranjang. Walaupun tak bersentuhan tetapi suhu tubuh di satu selimut yang sama cukup berpengaruh di malam yang dingin dengan gemericik air hujan yang membasahi.

Semakin malam semakin deras, hingga dingin terus menusuk ke tulang. Tanpa mereka sadari keduanya saling mencari kehangatan, Andini dengan agresif sudah masuk ke pelukan Raihan dengan wajah yang sudah mengusel dada.

Begitupun dengan Rai yang dengan santainya memeluk dan menindih tubuh Andin bagai guling hidup yang membuat semakin nyenyak. Hingga pagi menjelang kini keduanya belum juga terjaga. Jam sudah menunjukkan pukul 6 dan suara ketukan dari simbok tak mengusik dua orang di balik selimut tebal.

"Nggak ada jawaban, ijek podo kelonan kali Yo....wes Ben lah. Nanti takut ganggu, musim hujan musime berkembang biak." Simbok kembali ke dapur sambil ketawa geli.

Andini mulai membuka mata, masih belum sadar dengan kondisi yang ada. Hangat dan terpaan hembusan angin mengenai pipinya, sedikit menyipit untuk menyesuaikan keadaan sampai benar-benar tersadar.

"Kak Rai!" Seru Andini memekakkan telinga yang mendengar.

Raihan membuka mata, langsung tertuju pada mata tajam dan bibir yang mengerucut minta di cipuuk.

"Kenapa sich pagi-pagi udah berisik? malu sama tetangga!"

"Emang kak Rai punya tetangga! Ini awas lepas!" Andini memberontak, tubuhya tak bisa bergerak karena Raihan menguasainya.

Raihan yang sadar segera beranjak duduk, dia pun cukup terkejut dengan posisinya yang begitu dekat dengan Andini.

"Modus aja!" sewot Andini.

"Kamu mungkin yang membuka akses, aku tidur cukup anteng dan tak merusuh."

"Jadi kakak pikir aku yang diem-diem meluk kakak?"

"Bisa jadi," jawab Raihan santai. Andini yang tak terima bertindak bar-bar memukul lengan Rai hingga membuat pria itu kewalahan.

"Sakit Andin, stop!"

"Nggak mau, aku nggak terima!" Andin terus bergerak hingga menindih tubuh Rai, pakaian tidur yang sexy dan jauh dari kata aman untuk Rai saat ini malah membuat Rai diam mengintip dua buah yang bergelantungan tanpa penyangga.

"Turun Andin!" perintahnya saat merasakan si Joni mulai gelisah.

"Nggak akan sebelum kakak minta maaf!"

"Oke...oke aku minta maaf, tapi apa salahnya sich kamu kan istri aku. Kecuali aku ngeloonin perempuan lain baru kamu boleh ngamuk!"

"Sekarang minggir, kamu sungguh meresahkan, di sentuh nggak mau tapi buat si Joni bangun setiap waktu!" Raihan mendorong pelan tubuh Andini hingga terduduk kembali ke ranjang. Melirik kepala si Joni yang mulai menyembul hingga membuatnya harus segera berlari ke kamar mandi.

Andini yang tak mengerti di buat bingung, apa lagi melihat Rai yang sudah melesat masuk ke kamar mandi.

"Joni? bangun? meresahkan? apanya yang meresahkan. Yang ada dia yang buat aku tak tenang." Andini kemudian melirik jam dinding yang sudah pukul setengah 7 pagi, matanya membulat hingga hampir loncat jika tak ada portal yang kuat.

"Mamaaaamm.......udah siang!" Dia loncat dari ranjang, menyambar handuk dan baju kantor serta seluruh kain yang mendukungnya. Berlari menuju kamar mandi yang berada di bawah dekat dapur.

"Eh mau kemana?"

"Mau mandi mbok! ngantri banget kak Rai mandinya katak cewek!"

"Tapi kenapa kesini, kamar mandinya kan kecil. Di kamar tamu kan ada!" cegah simbok takut Andini tak nyaman

"Nggak apa-apa mbok, biasa mandi di mck nggak gegayaan mbok!" Andin segera masuk dan menutupnya dengan kasar.

Simbok mengusap dada, cukup membuat refleksi jantung jika setiap hari berhadapan dengan Andini yang seperti ini.

"Owalah, bojone mas Rai unik!"

Rai keluar dari kamar mandi, melirik Andini yang tidak ada di sana. Sempat masuk ke ruang ganti tak kunjung mendapatkan istrinya.

"Kemana dia? apa di kamar sebelah..."

Rai segera memakai baju dan sepatu, tak lupa jas yang kini menunjang penampilannya sebagai CEO. Dengan status duda yang masih melekat. Begini sudah membuat wanita tergila-gila.

"Mbok, Andin mana?"

"Itu Andin den, baru keluar dari kamar mandi."

Raihan mengalihkan perhatiannya pada Andini yang sudah rapi dengan kemeja putih dan rok abu yang pas di body, berjalan mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk.

"Kenapa mandi disana?" tanya Rai heran.

"Kamar mandi yang ada di kamar dipakai yang punya, aku cukup tau diri agar tak mengganggu."

"Kamu bisa pakai kamar mandi di kamar tamu," Raihan tau kamar mandi di sana kecil dan tak nyaman. Tetapi Andini dengan santai mandi tanpa beban.

"Bisa di pikirkan, pindah di sana juga nggak apa-apa." Ucapnya sambil berjalan menuju kamar.

Raihan yang mendengar itu di buat geram, "nggak ada acara pisah kamar!" tegas Rai yang mendapat jawaban sebuah ejekan dari istrinya.

"Sabar den, maklum masih muda. Kalo udah cinta pasti luluh, tunggu aja Tuhan membolak-balikan hati kalian."

Raihan menarik nafas dalam kemudian duduk di kursi dan menyeruput kopi panas buatan simbok. "Makasih mbok..."

Setelah berias dan mematut depan cermin Andini segera turun dengan sepatu kerjanya yang menunjang penampilan. Ikut bergabung dengan Rai yang sedang sarapan.

"Ini bekalnya untuk makan siang," Simbok meletakkan tempat nasi di depan Andini.

"Makasih mbok, tempat nasinya bagus lagi. Pink...." Andini tersenyum melihatnya. "Lumayan ngirit nggak jajan mbok."

"Iya, dihabiskan ya. Itu simbok bawain ayamnya 3 potong sama sayur pesanan Andin semalam."

"Simbok baik banget, kayak mamah....makasih ya mbok! nanti kalo duit belanjanya habis minta aja sama majikannya yang beruang ini."

Andini segera meminum segelas susu dan beranjak dari sana.

"Ya udah aku berangkat, duluan kak Rai."

Andin segera melangkah tetapi dengan sigap Rai menarik lengannya hingga langkah itu terhenti.

"Begitu pamit sama suami?" tanyanya dengan tatapan dalam, simbok yang mengerti segera menepi tak ingin mengganggu acara kedua pasutri.

"Terus kakak mau model apa? begini?" Andini mengangkat tangannya seperti hormat. "Oke, kepada suami sementara hormat gerak!"

"ANDINI!"

Terpopuler

Comments

Ima Kristina

Ima Kristina

Andin minta di unboxing lagi itu mah biar nurut

2024-12-25

0

Yati Yati

Yati Yati

bikin perut sakit ini babang rai sabar ya bentar jga jdi bucin

2024-03-01

1

Anik Supriyanto

Anik Supriyanto

wkwkwk...ngakak aku ...bucin ntar loe ndin sama babang duda 🤣🤣🤣🤣

2023-12-24

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 01
2 Bab 02
3 Bab 03
4 Bab 04
5 Bab 05
6 Bab 06
7 Bab 07
8 Bab 08
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Rintih Pernikahan
59 Bab 58
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 Bab 67
69 Bab 68
70 Bab 69
71 Bab 70
72 Bab 71
73 Bab 72
74 Bab 73
75 Bab 74
76 Bab 75
77 ISTRI KEDUA DOSENKU
78 Bab 76
79 Bab 77
80 Bab 78
81 Bab 79
82 Bab 80
83 Bab 81
84 Bab 82
85 Bab 83
86 Bab 84
87 Baba 85
88 Bab 86
89 Bab 87
90 Bab 88
91 Bab 89
92 Bab 90
93 Bab 91
94 Bab 92
95 Bab 93
96 Bab 94
97 Bab 95
98 Bab 96
99 Bab 97
100 Bab 98
101 Bab 99
102 Bab 100
103 Bab 101
104 Bab 102
105 Bab 103
106 Bab 104
107 Bab 105
108 Bab 106
109 Bab 107
110 Bab 108
111 Bab 109
112 Bab 110
113 Bab 111
114 Bab 112
115 Bab 113
116 Bab 114
117 Bab 115
118 Bab 116
119 Bab 117
120 Bab 118
121 Bab 119
122 YOU'RE MINE ADIK NAKAL
Episodes

Updated 122 Episodes

1
Bab 01
2
Bab 02
3
Bab 03
4
Bab 04
5
Bab 05
6
Bab 06
7
Bab 07
8
Bab 08
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Rintih Pernikahan
59
Bab 58
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
Bab 67
69
Bab 68
70
Bab 69
71
Bab 70
72
Bab 71
73
Bab 72
74
Bab 73
75
Bab 74
76
Bab 75
77
ISTRI KEDUA DOSENKU
78
Bab 76
79
Bab 77
80
Bab 78
81
Bab 79
82
Bab 80
83
Bab 81
84
Bab 82
85
Bab 83
86
Bab 84
87
Baba 85
88
Bab 86
89
Bab 87
90
Bab 88
91
Bab 89
92
Bab 90
93
Bab 91
94
Bab 92
95
Bab 93
96
Bab 94
97
Bab 95
98
Bab 96
99
Bab 97
100
Bab 98
101
Bab 99
102
Bab 100
103
Bab 101
104
Bab 102
105
Bab 103
106
Bab 104
107
Bab 105
108
Bab 106
109
Bab 107
110
Bab 108
111
Bab 109
112
Bab 110
113
Bab 111
114
Bab 112
115
Bab 113
116
Bab 114
117
Bab 115
118
Bab 116
119
Bab 117
120
Bab 118
121
Bab 119
122
YOU'RE MINE ADIK NAKAL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!