Teng... Teng... Teng...
Bunyi bel pulang pun akhirnya terdengar. Juna yang sedari tadi menahan sakit perut karena sudah tak tahan ingin segera buang air besar.
Dengan langkah besar Juna menerobos siswa lain yang berada dalam kelas karena sudah tak tahan lagi ingin segera menuju ketoilet.
"Aku duluan ya Din" Ucap Sindi yang telah siap dengan tas yang menggantung dibahunya, dan dibalas senyuman dan juga anggukan kepala oleh Dinda.
"Aku juga pulang duluan ya Dinda, Mama udah nungguin aku dirumah" Ucap Remon sedikit berlari mengejar Sindi yang sudah lebih dulu keluar dari kelas.
"Akhirnya selesai juga" Ucap Dinda sambil meregangkan otot-ototnya yang kini mulai menegang karena terlalu lama duduk.
Dinda memasukkan buku dan juga perlengkapan lainnya kedalam tas, kemudian bangkit utuk bergegas pulang.
Tak sengaja Dinda menabrak tubuh Rangga yang juga akan segera keluar dari kelas karena ojek online pesanannya telah menunggu didepan pintu masuk sekolah.
Rangga meraih tubuh Dinda, untuk beberapa saat mereka saling bertatapan. Manik mata mereka saling beradu. Saling mengagumi dalam hati mereka masing-masing. Ntah rasa apa yang kini hadir. Namun sekuat tenaga Rangga menepis rasa itu. Dan berusaha untuk tak memperdulikan tatapan Dinda.
Bruk!
Tubuh Dinda jatuh kelantai karena Rangga yang melepaskan tubuh Dinda begitu saja.
Dinda meringis kesakitan karena tangannya yang terbentur oleh kursi yang berada disampingnya.
Tanpa rasa kasihan Rangga berjalan meninggalkan Dinda tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuat Dinda terlihat kesal karena Rangga yang melepaskan dirinya sehingga ia jatuh kelantai. Dan semakin membuat Dinda kesal karena Rangga yang pergi begitu saja tanpa rasa kasihan kepadanya.
"Rangga" pekik Dinda. Membuat Juna yang berjalan menuju kearah kelas mendengar teriakannya.
Dengan langkah seribu Juna kemudian bergegas masuk kedalam kelas karena takut jika terjadi apa-apa pada Dinda.
"Ada apa? Kenapa kamu duduk dilantai seperti itu?" Tanya Juna yang kini berada didalam kelas melihat posisi Dinda yang kini duduk dilantai.
"Tadi aku dengar kamu menyebut nama Rangga. Mana anak baru itu? Awas ya kalo dia berani macam-macam sama kamu" Ucap Juna lagi sambil celingak celinguk mencari keberadaan Rangga namun nihil karena ternyata hanya Dinda yang masih berada didalam kelas.
"Itu... itu..." Ucap Dinda sambil memikirkan alasan apa yang akan ia berikan kepada sahabatnya itu.
"Itu apa Dinda?Bicara yang jelas dong. Aku kan khawatir kalo terjadi sesuatu sama kamu" Balas Juna mulai khawatir terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Itu.. Itu tadi ada serangga. Iya maksudku serangga, Aku takut makanya kepeleset terus jatuh" Ucap Dinda mulai beralasan. Namun sepertinya Juna mempercayai apa yang Dinda katakan kepadanya.
Juna menghela nafasnya. "Kirain karena Rangga. Ternyata serangga toh" Ucap Juna dan dibalas dengan senyum yang dipaksakan oleh Dinda.
"Terus serangganya mana?" Tanya Juna lagi sambil mencari serangga yang Dinda maksud.
"Udah pergi" Gumam Dinda dalam hati karena yang ia maksud adalah Rangga yang sudah pergi.
"Mana serangganya, gak ada kok" Ucap Juna lagi sambil menunduk dibawah meja.
"Udah pergi mungkin Jun" Jawab Dinda lagi memperhatikan Juna yang sedang mencari serangga yang Dinda maksud.
"Huhhff... ya udah kita pulang" Juna mulai membantu Dinda untuk berdiri lagi.
"Tapi kenapa hari ini kamu tidak berangkat bareng aku lagi, Memangnya ada masalah sama tante kamu?" Juna menatap wajah Dinda yang terlihat bingung.
Juna lalu memegang bahu Dinda. "Katakan saja, aku kan sahabatmu, aku akan selalu ada untuk kamu" Ucap Juna sungguh-sungguh. Namun mereka tak menyadari seseorang yang sedang memperhatikan gerak gerik mereka dari balik pintu. Orang itu bergegas pergi karena tak ingin mengganggu dua orang kekasih yang sedang berada didalam kelas.
"Kamu yakin ingin mendengarkan ceritaku" Tanya Dinda lagi dan langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh Juna.
"Aku akan menjadi pendengar setiamu" Jawab Juna sambil tersenyum pada Dinda.
"Aku akan menikah Jun" Ucap Dinda singkat namun dibalas dengan tawa oleh Juna yang mengira jika Dinda hanya sedang bercanda dengannya.
Juna menghentikan tawanya melihat Dinda yang terlihat diam saja dengan ekspresi sedih yang kini menghiasi wajahnya.
"Ka... kamu serius Dinda?" Tanya Juna tergagap. Kini mulai menyadari jika apa yang Dinda katakan bukanlah sebuah lelucon.
Dinda menghela nafas pelan "Aku serius Jun" Jawab Dinda dengan wajah yang serius membuat hati Juna hancur berkeping-keping saat jawaban dari Dinda berhasil keluar dari bibir mungilnya.
Sakit? Ya itulah yang kini Juna rasakan. Rasa sakit namun tak berdarah ataupun terluka sedikitpun. Sakit yang ia rasakan setelah mengetahui kenyataan jika Dinda memang sedang tidak bercanda mengatakan jika ia akan segera menikah.
"Tapi kenapa kau menerima pernikahan ini, kau kan bisa saja menolaknya" Juna memegang bahu Dinda sambil menggoyang-goyangkan tubuh mungilnya.
"Aku tidak bisa Jun, aku sudah berjanji akan mengabulkan permintaan Kakek" Balas Dinda sambil melepaskan pegangan Juna dibahunya.
"Kakek? Maksud kamu siapa?" Tanya Juna dengan wajah yang tertekuk karena bingung dengan Kakek siapa yang Dinda maksud.
"Kakek Rangga Jun. Aku akan menikah dengan Rangga"
Duarrr...
Bagai disambar petir disiang bolong. Juna tertegun, terggorokannya seakan tercekat oleh sesuatu yang membuatnya sulit untuk bernafas, setelah mengetahui jika orang yang akan menikah dengan Dinda adalah Rangga, yang tak lain adalah anak baru dikelasnya.
Kini berganti tubuh Juna yang perlahan-lahan mulai merosot jatuh keatas lantai. Ia merasa tubuhnya tak lagi memiliki tenaga lagi. Kakinya terasa lemas dengan nafasnya yang kian melemah.
"Arjuna" Panggil Dinda sambil memegang tubuh Juna yang jatuh terduduk diatas lantai.
"Kumohon jangan menikah Dinda. Jangan buat aku patah hati mengetahui jika kau akan menjadi milik orang lain" Jawab Arjuna kini terlihat butiran bening yang mulai membasahi kedua pipinya.
"Bukankah aku yang selalu menunggumu. Aku yang selama ini menemanimu. Mengapa anak baru itu yang berhasil memiliki dirimu Dinda" Juna menangis dalam pelukan Dinda. Juna seperti anak kecil yang menangis dalam pelukan Ibunya.
Dinda ikut menangis karena tak tega melihat Juna yang bersedih karena harus kehilangan dirinya.
"Maafkan aku Jun. Maafkan aku" Ucap Dinda yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Juna.
"Tidak Dinda jangan katakan maaf. Kamu masih bisa membatalkan pernikahanmu dengan Rangga" Mohon Juna sambil menatap wajah Dinda yang ikut menangis.
Namun jujur Dinda katakan dala hati jika dirinya sama sekali tak mencintai Juna. Selama ini mereka selalu bersama disekolah murni karena perasaan sahabat. Dinda sama sekali tak memiliki perasaan apa-apa terhadap Juna walaupun Juna yang selalu terang-terangan menunjukkan perasaannya itu pada Dinda. Namun sama sekali tak merubah perasaan Dinda kepada Juna.
"Aku mohon Dinda, batalkan pernikahanmu itu. Aku tidak bisa jika harus kehilangan kamu" Juna memegang tangan Dinda begitu erat.
"Jangan seperti ini Jun"
"Jangan apa maksudmu Dinda. Apakah kau tidak merasakan perasaanku selama ini kepadamu. Mengapa kau malah lebih menerima Rangga yang hanya orang baru kau kenal ketimbang diriku yang sudah lama bersamamu. Kenapa Dinda?" Ucap Juna frustasi sambil menjambak kasar rambutnya.
Dinda hanya diam tak tau harus menjawab apa dengan pertanyaan Juna yang terlihat begitu terpukul setelah mengetahui jika ia akan segera menikah.
"Kalo begitu menikahlah denganku, aku akan berusaha membahagiakanmu Dinda aku janji" Ucap Juna lagi sambil tertawa membuat Dinda merasa semakin bersalah.
Namun semua ini bukanlah keinginannya. Jujur semua ini bukanlah yang Dinda harapkan. Semua ini diluar kendalinya. Jika harus memilih, Dinda akan memilih untuk tidak menerima tawaran Kakek. Namun apalah daya, Janji telah terucap. Membuat Dinda mempunya sebuah tanggung jawab untuk menepati janji itu walaupun sejujurnya ia pun juga tak menginginkan hal ini terjadi.
"Mungkin dikehidupan berikutnya, aku akan menerimamu menjadi pasangan hidupku. Aku janji" Ucap Dinda sambil menghapus butiran bening yang membasahi pipi Juna.
Juna hanya diam dengan tatapan kosongnya, sama sekali tak mempedulikan apa yang Dinda katakan.
Tak ada lagi tawa atau pun candaan yang biasanya membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
"Ikhlaskan aku Jun. Dan aku akan berdoa kepada Tuhan agar mengirimkan seseorang yang pantas untuk dirimu" Ucap Dinda lagi sambil tersenyum.
Kini tangis Juna mulai terhenti, hanya isakan tangisnya yang sesekali terdengar karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.
Sungguh definisi patah hatinya seorang Arjuna. Begitulah judul puisi yang bisa menggambarkan suasana hati Juna saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments