Jam istirahat akhirnya dimulai. Tampak Tiga orang siswa yang sepertinya sangat bahagia setelah bel istirahat berbunyi.
Dengan tak sabar mereka bertiga kemudian bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri Dinda yang masih duduk ditempat duduknya karena masih fokus ingin menyelesaikan tugas yang tadi diberikan oleh guru.
Suasana kelas nampak sunyi karena siswa lain yang satu kelas dengan Dinda dan sahabatnya sudah lebih dulu keluar dari kelas. Tersisa hanya mereka berlima yang masih berada didalam kelas, dengan Rangga yang asyik memasang headset ditelinganya, sebab tak ingin terganggu dengan ocehan Dinda dan juga para sahabatnya.
"Din, kantin yuk" Ajak Sindi sambil bertopang dagu diatas mejanya. Namun yang diajak bicara hanya fokus dengan aktivitasnya dan tak memperdulikan Sindi yang sedang berbicara kepadanya.
"Nanti aja dilanjutinnya Din. Kita kekantin dulu yuk" Ucap Sindi lagi karena tidak mendapat respon dari sahabatnya itu, lalu menutup buku Dinda, membuatnya nampak kesal karena Sindi yang mengganggunya.
"Iya Dinda, kita kekantin aja yuk. Udah laper nih" Sahut Remon menimpali sambil mengelus perutnya.
"Iya tuh yang laper, karena tenaganya udah habis gara-gara mesum ditoilet" Sindir Sindi membuat Remon membulatkan mata kearahnya, namun dibalas dengan Sindi yang menjulurkan lidahnya kearah Remon.
"Awas kau otak udang, tunggu saja pembalasanku" Balas Remon sambil menunjuk kearah Sindi yang tidak takut dengan ancamannya.
"Bodo amat" Jawab Sindi tak ingin kalah.
"Yuk sayang, temenin Arjunamu ini makan dikantin" Ucap Juna sambil duduk diatas meja Dinda.
"Hadeh. Bucin akut" Ledek Sindi sambil menyilangkan tangan didepan dada.
"Aku masih kenyang. Kalian bertiga aja yang kekantin" Jawab Dinda kemudian mulai merapikan buku-buku yang ada diatas mejanya.
"Yah gak asik kalo kamu gak ikut Din" Ucap Sindi kemudian diikuti Juna dan juga Remon yang menganggukkan kepala tanda mereka berdua setuju dengan apa yang Sindi katakan.
"Tapi aku gak laper Sis" Balas Dinda tetap kekeh pada pendiriannya.
"Masa sih. Kemarin aja kamu kelaperan gara-gara tantemu itu, sampe-sampe kamu pingsan" Ucap Sindi keceplosan. Membuat Remon menjitak kepala Sindi yang terkadang suka berbicara tanpa bisa direm. Semua yang Sindi ingin katakan, langsung keluar dari mulutnya seperti mobil yang remnya blong.
"Auu sakit tau" Sindi meringis kesakitan, kemudian membalas Remon dengan mencubit keras tangan Remon. Membuat Remon kini yang meringis karena cubitan Sindi yang begitu menyakitkan.
"Kalian bertiga aja yang kekantin. Aku mau dikelas selesaikan tugas yang tadi" Ucap Dinda dengan ekspresi sedih diwajahnya.
Sindi dan Remon menghentikan perkelahian mereka saat mendengar Dinda yang sepertinya sedih, karena Sindi yang mengungkit tentang dirinya yang sering kelaparan karena ulah Tantenya.
"Tuh kan, gara-gara kalian berdua Dinda jadi sedih" Kini giliran Juna yang mulai marah melihat kelakuan kedua sahabatnya yang selalu saja terlibat perkelahian kecil.
"Ini nih si otak udang. Suka asal ngomong, gak bisa direm bibirnya" Ucap Remon sambil tak ingin disalahkan.
"Kan yang aku ucapkan itu bener. Kalian kan juga tau" Balas Sindi tak ingin kalah dari Remon yang terus saja menyalahkannya.
"Kamu gak papa kita tinggalin sendiri?" Tanya Juna sambil melirik Rangga yang duduk ditempatnya, kemudian Dinda yang menjawab hanya dengan anggukan kepala.
Sebenarnya Juna tak ingin meninggalkan Dinda bersama Rangga. Namun apa boleh buat, perutnya sudah mengeluarkan suara khasnya, meminta agar segera diisi.
"Ya sudah, kita bertiga kekantin dulu ya. Kamu baik-baik disini" Ucap Juna lagi, dan untuk kedua kalinya Dinda menjawab perkataan Juna dengan anggukan kepala.
"Kita perginya kekantin, bukan ingin berperang" Ledek Remon.
"Udah ah, yuk kita kekantin sekarang" Ajak juna kepada Sindi dan Remon.
"Din, maafin aku ya. Beneran aku gak ada maksud buat nyinggung perasaanmu" Ucap Sindi lalu dibalas dengan senyuman oleh Dinda yang memang sama sekali tidak marah pada sahabatnya itu.
Dinda sedih karena mengingat perbuatan Tante Indah, yang selalu semena-mena kepada dirinya. Membuat Dinda bergidik ngeri saat kembali mengingat apa yang kemarin Tantenya itu lakukan. Dinda membayangkan jika saja kemarin adalah hari terakhir untuknya.
"Din, kamu gak marah kan?" Tanya Sindi lagi sambil memegang bahu Dinda yang diam termenung.
Dinda terlonjak kaget karena sentuhan dari Sindi. "Eh. Iy...iya aku gak marah kok" Ucapnya sambil tersenyum kearah Sindo yang menunggu jawaban darinya.
"Aku kekantin dulu ya, yang lain udah nungguin tuh" Ucap Sindi kemudian bergegas menuju kearah Juna dan Remon yang berdiri didepan kelas karena menunggu dirinya.
Dinda menatap kepergian Sindi, terlihat Juna yang melambaikan tangan kearahnya. Membuat Dinda tersenyum simpul karena bahagia memiliki sahabat yang selalu menyayanginya.
Setelah kepergian sahabatnya, Dinda memutuskan untuk menyelesaikan lagi tugasnya, yang tadi sempat tertunda karena Sindi yang terus saja mengganggu dirinya.
Tis...
Terdengar seperti suara pulpen yang jatuh kelantai. Dinda menoleh kearah suara dan melihat jika Rangga masih berada ditempat duduknya.
Dinda kemudian kembali keposisi awalnya, sambil memegang dadanya yang kini berdegub sangat kencang karena ternyata dirinya tidak sendiri didalam kelas. Ada Rangga yang sedang sibuk sendiri ditempat duduknya.
Terasa sekujur tubuh Dinda dingin seperti es. Dengan nafas yang naik turun karena merasa grogi berduaan didalam kelas dengan lawan jenisnya. Walaupun mereka tidak melakukan apa-apa, namun tetap saja Dinda merasa canggung berada ditempat yang sama dengan lawan jenisnya. Terlebih itu adalah Rangga yang statusnya adalah calon suaminya karena beberapa hari lagi mereka akan segera menikah.
Mengenai pernikahannya dengan Rangga, tiba-tiba saja terbesit dibenak Dinda mengenai Rangga yang sepertinya tidak tau mengenai pernikahan mereka. Ataukah mungkin Rangga sudah tau namun memilih untuk pura-pura tidak mengetahuinya? "Ntahlah" Ucap Dinda dalam hati sambil menaikkan kedua bahunya.
Dinda memutuskan kembali mengerjakan tugasnya, namun tangannya tiba-tiba saja berhenti menulis karena ia kembali kepikiran mengenai pesan yang Mommy Windi titipkan untuk Rangga kepadanya.
Dinda pelan-pelan menoleh lagi kearah Rangga yang menatap kearah depan, membuat mereka tak sengaja saling menatap satu sama lain. Karena Rangga yang tak sengaja melihat dirinya menoleh kebelakang, cepat-cepat Dinda memutar kembali tubuhnya keposisi semula. "Bodoh, Bodoh" rutuk Dinda pada kebodohannya sendiri.
"Bagaimana caraku menyampaikan salam Mommy ke Rangga. Melihat wajahnya yang kaku itu membuatku hampir saja terkena serangan jantung" Ucap Dinda dalam hati, kembali memegangi dadanya yang belum berhenti berdegub kencang karena tatapan Rangga yang sangat mematikan.
"Ada apa?" Tanya Rangga yang kini berdiri tepat disamping Dinda. Membuat Dinda terlonjak kaget karena Rangga yang tiba-tiba saja berdiri disamping Dinda, dan berhasil membuat jantung Dinda hampir saja copot dari tempatnya.
"Astaga kau mengagetkanku saja" Ucap Dinda sambil memegang dadanya. Kemudian dengan cepat memperbaiki posisi duduknya.
"Kamu itu bisa gak ngomong permisi dulu. Kan aku kaget kalo kamu tiba-tiba langsung berdiri disampingku" Omel Dinda pada Rangga yang masih setia berdiri disamping Dinda menunggu jawaban darinya.
"Katakan, kenapa kau terus saja melihatku" Ucap Rangga dengan ekspresi datarnya, namun tak mengurangi sedikitpun ketampanannya. Yang jujur saja membuat Dinda seperti merasakan sesuatu tatkala pandangan mereka saling beradu.
"Siapa yang melihatmu. Jangan terlalu kepedean ya" elak Dinda. Namun tak bisa menyembunyikan kebohongannya itu dari Rangga.
"Bohong" Balas Rangga membuat Dinda terkejut karena teriakan dari Rangga.
"Ya ampun. Kata-katanya yang irit namun sangat mematikan" Ucap Dinda dalam hatinya.
"Sejak tadi pagi kau terus saja memperhatikanku" Ucap Rangga lagi.
"Astaga, apakah dia itu memiliki kemampuan mengetahui siapa saja orang yang memperhatikannya" Ucap Dinda lagi dalam hatinya. Tak habis pikir dengan sifat Rangga yang mengetahui gerak geriknya jika sedang dipandang oleh Dinda.
"Kenapa diam saja" Ucap Rangga sambil menggebrak meja Dinda. Membuat lagi-lagi jantung Dinda hampir saja copot karena Rangga yang memukul mejanya.
"Aku harus menjauh dari Rangga. Lama-lama berada didekatnya aku bisa mati karena terkena serangan jantung" Ucap Dinda lagi dalam hatinya. Berada didamping Rangga membuat jantungnya terus terpaju seperti sedang olah raga senam jantung.
Karena Dinda yang tak memberikan jawaban yang pasti atas pertanyaannya. Rangga akhirnya memutuskan untuk kembali ketempat duduknya. Karena merasa aneh memandang wajah cantik Dinda.
"Mommy Windi menitipkan salam untukmu" Ucap Dinda membuat Rangga menghentikan langkahnya saat akan kembali ketempat duduknya lagi.
Deg.
Kini giliran Rangga yang terkejut mendengar apa yang Dinda katakan. Rangga masih terus diam mematung namun, dalam benaknya mulai mencerna baik-baik perkataan yang keluar dari mulut Dinda.
Beberapa saat kemudian, Rangga kembali menuju ketempat duduknya tanpa memperdulikan lagi perkataan Dinda barusan.
"Huhh syukurlah jika Rangga tidak marah. Akhirnya aku bisa menyampaikan salam Mommy sama dia" Ucap Dinda sambil menghela nafas lega karena telah berhasil menyampaikan salam dari Windi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments