Saat Dinda dan juga Juna berjalan menuju kekelas. Siska yang melihat kemesraan antara kedua sahabat itu menatap dengan tatapan sinis karena Dinda yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang begitu sayang kepadanya.
"Woi, liat apaan sih" Tanya Chika yang melihat Siska yang menghentikan langkahnya.
Chika lalu mengarahkan pandangan kearah Siska memandang. Membuat Chika mengerti mengapa sahabatnya itu begitu terlihat kesal, ternyata Siska sedang melihat sepupunya yaitu Dinda sedang berjalan dengan sahabatnya Juna.
"Kurang ajar banget dia. Udah mau nikah sama kak Rangga masih aja mesra-mesraan sama kak Juna" Terlihat Siska yang mengepalkan tangan sangking kesalnya dengan dinda. Kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti sambil menghentak-hentakkan kakinya. Membuat Chika yang melihatnya hanya mengikuti langkah Siska.
Saat memasuki kelas, Dinda melihat jika Rangga yang juga sedang menatap kearahnya. Namun segera membuang muka karena seperti tak sudi menatap wajah Dinda lama-lama.
"Pagi Dinda" Sapa Sindi yang lebih dulu sudah berada ditempat duduknya.
Juna kemudian duduk disamping Rangga, terlihat seperti ia tak menyukainya, karena tadi ia sempat melihat jika Rangga yang seperti marah kepada Dinda.
"Remon mana? Kok belum kelihatan adiknya Doraemon" Tanya Juna yang melihat kursi Remon yang masih kosong.
"Belum datang" Jawab Sindi " Dinda temenin ketoilet dong" Ucap Sindi lagi dan dijawab dengan Anggukan kepala oleh Dinda.
Mereka berdua kemudian bergegas keluar dari kelas dan menuju ketoilet.
Saat akan menuju ketoilet mereka bertemu dengan Bu Intan yang mendadak menghentikan langkah mereka.
"Sindi lihat deh. Video Ibu beneran viral loh" Ucap Bu Intan sambil memperlihatkan videonya yang sebelumnya ia upload diaplikasi tiktok.
Sindi kaget melihat viewers Bu Intan sampai jutaan karena sudah menirukan gaya Sindi yang waktu itu, sedang menirukan gaya Bu Intan lagi mengajar dikelas.
Sindi tertawa sambil menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal.
"Wah Bu Intan hebat banget. Selamat ya bu" Ucap Dinda membuat Bu Intan terlihat semakin senang.
"Iya yah, Bu Intan hebat banget. Sepertinya Ibu memang berpotensi jadi seleb deh" tambah Sindi membuat Bu Intan kini mulai termakan gombalan mereka berdua.
"Ah kalian bisa aja deh. Kira-kira kalo pak Arga lihat dia seneng gak?" Tanya Bu Intan malu-malu.
"Tentu saja Bu. Pasti Pak Arga bakalan ikutan bangga sama Ibu. Udah cantik jago main tiktok lagi" Timpal Sindi membuat Bu Intan seperti berada diatas awan.
"Kalian gak bohongin Ibu kan?" Tanya Bu Intan memastikan.
"Ya tidak lah Bu, mana berani kita bohongin Ibu" Jawab Dinda membuat Bu Intan semakin senang.
"Ya sudah Ibu mau keruangan dulu. Mau kasi lihat video Ibu sama Pak Arga" Bu Intan meninggalkan Dinda dan juga Sindi yang menahan tawa mereka karena berhasil mengerjai Bu Intan.
Sesampainya didalam toilet, tawa mereka berdua akhirnya pecah.
Namun suara tawa mereka berangsur-angsur mulai menghilang, karena tiba-tiba saja Sindi seperti mendengar suara ******* dari balik pintu toilet.
"Din, kamu dengar itu gak" Tanya Sindi yang mendengar suara aneh itu.
"Gak usah aneh-aneh deh Sin, ini masi pagi. Hantunya masih pada molor" Balas Dinda kemudian mulai merapikan rambutnya yang sedikit berantakan didepan cermin.
Namun tak berselang lama. Dinda juga mulai mendengar suara aneh itu.
"Ihhh. Itu suara apaan ya. Kok aneh banget sih" Kini giliran Dinda yang mulai bingung dengan suara aneh yang ia dengar.
Didalam toilet cewek itu terdapat 5 bilik yang digunakan oleh para siswa. Dengan perasaan yang campur aduk, Dinda dan Sindi memberanikan diri mereka untuk memeriksa satu per satu bilik yang ada dalam toilet itu.
Dari bilik satu sampai bilik empat ternyata kosong. Tibalah mereka dibilik terakhir. Dengan terpaksa Dinda menunduk mencoba mengintip dari celah bawah pintu bilik tersebut, dan melihat jika ada sepasang kaki manusia yang sedang berada diatas toilet duduk didalam bilik itu.
"Ada orang didalam Sin" Ucap Dinda berbisik kearah Sindi.
Mereka berdua kini membulatkan kedua mata mereka, karena suara aneh itu kini terdengar jelas ditelinga mereka, yang terdengar seperti sedang melakukan hal yang orang dewasa sering lakukan.
"Kita panggil guru aja. Mungkin ini siswa yang lagi nakal sama pacarnya" Ucap Sindi namun dijawab gelengan kepala oleh Dinda.
"Gak ada waktu, keburu dia kabur Sin. Mendingan kita dobrak aja pintunya. Tuh lihat pintunya kayaknya lupa dikunci dulu gara-gara udah *****" Tunjuk Dinda melihat jika pintu bilik yang tidak tertutup rapat.
"Oke, oke" Balas Sindi. "Yaudah itungan ketiga kamu dorong pintunya ya" Ucap Sindi dan dibalas anggukan kepala oleh Dinda.
Sindi mulai mengambil ancang-ancang untuk memberi aba-aba kepada Dinda yang terlihat sudah bersiap untuk mendobrak pintu bilik itu.
"1, 2, 3" hitungan ke 3 sekuat tenaga Dinda mendorong pintu bilik itu. Hingga membuat keduanya menjerit karena menemukan Remon yang sedang melakukan pijatan pada kejantanannya.
"Remooooooonnn" Teriak Dinda dan Sindi. Membuat Remon yang sedang menikmati aktivitasnya seketika menghentikan pijatannya itu karena ketahuan oleh Dinda dan juga Sindi.
Cepat-cepat Remon menaikkan celananya yang sempat ia turunkan sampai kelutut.
"Kalian ngapain disini" Ucap Remon gelagapan.
"Eh otak mesum. Yang seharusnya bertanya begitu itu aku bukannya kamu" Sewot Sindi sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Pake dulu tuh celanamu" Balas Dinda yang juga menutup kedua matanya.
"Udah, Udah" Balas Remon sambil memasang sabuknya.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Sindi sambil bertolak pinggang.
"Terus apaan tadi yang kamu lakukan?" Tanya Sindi lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Dinda. Membenarkan apa yang Sindi tanyakan kepada Remon.
"Apaan sih, kayak gak ngerti aja. Sok polos lu" Balas Remon membuat Sindi semakin jengkel melihat sikap Remon yang biasa saja.
"Kan kamu bisa gitu gitu dirumah. Jangan disekolah dong apalagi ini kan toilet cewek. Untung yang tau kelakuanmu itu cuma aku dan Dinda. Coba kalo siswa lain abis luh" Jawab Sindi sambil menaikkan tinju kearah Remon bermaksud ingin menghajarnya.
"Gak asyik ah. Kalo disini fantasiku bisa lebih liar tau" Jawab Remon dengan santainya. Membuat Dinda dan juga Sindi yang tak habis pikir dengan pikiran sahabatnya satu ini, yang tingkat sangenya sudah keterlaluan.
Teng... Teng... Teng...
Bel pun berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai.
Kini Dinda dan Sindi hanya bisa memberi peringatan kepada Remon, untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya itu. Bisa-bisa mereka berdua akan pingsan melihat Kejantanan Remon untuk yang kedua kalinya.
Mereka bertiga memutuskan untuk segera ke kelas dengan Dinda dan Siska yang berjalan duluan kemudian disusul dengan Remon yang ikut berjalan tepat dibelakang mereka berdua.
"Loh itu Remon" Ucap Juna yang melihat mereka bertiga masuk kedalam kelas bersamaan. Namun ketiganya sama sekali tak membalas perkataan dari Juna dan memilih duduk ditempat mereka masing-masing.
"Awas ya kalo sampe begitu lagi. Aku aduin ke Pak Arga tau rasa luh" Ancam Sindi sambil mencebikkan bibir kearah Remon.
"Eh otak udang. Apaan sih, tadi kita udah sepakat ya untuk tidak bahas itu lagi" Balas Remon sewot. Tak ingin jika orang lain mengetahui rahasianya yang kini bukan rahasia lagi karena Dinda dan Siska yang sudah mengetahuinya.
"Eh otak mesum. Aku kan cuma ngingetin kamu aja. Lagian aku sepertinya ragu dengan perkataanmu tadi" Balas Sindi tak kalah sengitnya.
"Sudah, sudah. Jangan bahas itu lagi" Ucap Dinda berusaha membuat para sahabatnya untuk berhenti berdebat.
"Nah denger tuh Dinda. Kalem aja orangnya gak kayak kamu" Ucap Remon membuat Sindi mencebikkan bibir kearah Remon dan dibalas dengan Remon yang menjulurkan lidah kearah Sindi, membuat Sindi semakin kesal karena Remon yang sepertinya tidak merasa bersalah karena sudah ketahuan melakukan hal yang tidak baik disekolah. Apalagi dia yang melakukan itu ditoilet cewek semakin membuat geram Sindi.
"Kamu kok belain dia sih Din" kini Sindi berbalik kesal pada Dinda.
"Sttt" Dinda menempelkan jari telunjuknya didepan bibirnya. "Jangan dibahas lagi, lagian dia juga sudah berjanji gak bakalan ngulangi lagi" Jawab Dinda memberi pengertian pada Sindi.
"Tau ah, awas aja kalo si otak mesum itu berulah lagi. bakalan aku kasih pelajaran" Ucap Sindi sambil mengepalkan tangannya diatas meja.
"Terserah kamu aja deh" Balas Dinda yang tak ingin lagi memperpanjang perdebatan antara dirinya dan juga Sindi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments