Siska kemudian menuju kedapur bagian belakang tempat para pekerja makan. Tak berselang lama muncul Tante Indah yang mengampiri Siska lalu memberi cubitan ditangannya.
"Aauuu sakit Bu" Siska meringis karena cubitan yang mendarat ditangannya.
"Diam kau anak bodoh" Ucap Tante Indah sambil menoyor kepala Siska. "Lagian pede banget kau duduk disamping Dinda. Memangnya siapa kau?" Ucapnya lagi berapi-api.
"Kan Dinda sepupu Siska, berarti Siska juga boleh sarapan sama Dinda dong Bu" Bantah Siska tak terima dengan apa yang Tante Indah katakan.
"Dinda memang sepupumu, tapi tidak lama lagi dia akan menjadi bagian dari keluarga ini. Jadi jangan harap dia akan bersikap seperti dulu lagi sama kamu" Balas Tante Indah membuat Siska mencebikkan bibirnya kearah Tante Indah.
"Kenapa sih Bu harus Dinda, kenapa bukan Siska aja yang jadi menantu dikeluarga ini?" Ucap Siska lagi membuat Tante Indah memutar bola matanya malas karena mendengar perkataan dari anaknya itu.
"Sadarlah anak bodoh. Cepat habiskan sarapanmu dan cepat-cepat berangkat kesekolah" Tante Indah kemudian mendorong tubuh Siska dengan kasar agar duduk di kursi untuk menghabiskan sarapannya.
"Pelan-pelan dong Bu, kasar banget sama anak sendiri" Protes Siska namun tetap melakukan apa yang Tante Indah perintahkan.
"Tutup mulutmu, atau air panas ini akan mendarat dikepalamu yang bodoh itu. Dasar tak berguna" Umpat Tante Indah, membuat Siska bergidik ngeri dan mulai menghabiskan sarapannya.
Dinda diperlakukan seperti seorang putri oleh Windi. Membuat para pelayan ikut senang dan tersenyum melihat sikap manis Windi pada Dinda.
"Ini Nyonya. Susu hangat untuk Non Dinda" Ucap pelayan tadi, kemudian meletakkan segelas susu hangat tepat disamping Dinda.
"Minum susunya dulu nak" pinta Windi pada Dinda.
Dengan patuh, Dinda melakukan apa yang diperintahkan Windi kepadanya. Membuat Kakek ikut senang karena melihat perubahan sikap dari menantunya itu.
"Papa kok senyum-senyum gitu, abisin dong sarapannya" Ucap Windi karena sejak tadi melihat mertua laki-lakinya itu terus saja tersenyum
"Papa sudah kenyang" Balas Kakek sambil mengelus perutnya membuat Dinda tersenyum karena Kakek yang seperti anak kecil.
Setelah Siska berangkat kesekolah, Tante Indah kembali menuju kemeja makan utama untuk menunggu para majikannya menyelesaikan sarapan mereka.
"Dinda udah kenyang Mommy" Ucap Dinda membuat Tante Indah membulatkan matanya mendengar panggilan yang Dinda ucapkan barusan kepada Windi.
"Sialan, pake apa anak ini. Kenapa singa betina itu bisa ia taklukkan juga. Ck. Tidak bisa dibiarkan" Gumam Tante Indah dalam hatinya. Melihat keakraban antara Dinda dan juga majikannya itu.
"Ya sudah gak papa" Balas Windi sambil tersenyum
"Eh, eh tunggu" Ucapnya lagi sambil menahan Dinda yang akan bangkit dari tempat duduknya.
"Ada apalagi? Dinda udah mau berangkat sekolah itu nanti dia telat" Ucap Kakek menimpali.
"Tas kamu kok jelek banget sih. Nanti pulang sekolah ikut Mommy ke Mall. Mommy bakalan belikan semua keperluan sekolah kamu" Ucap Windi sambil memegang tas buntut milik Dinda.
"Malu-maluin aja pake tas jelek begitu" Ucapnya lagi sambil melempar tas milik Dinda.
"Mommy kok tas Dinda dibuang. Dinda kesekolahnya pake apa?" Protes Dinda membuat Windi tertawa karena tak sadar dengan apa yang ia lakukan.
"Ya ampun maafin Mommy sayang. Mommy lupa" Windi berbicara sambil menutup mulut dengan sebelah tangannya.
"Ya sudah. Bi, tolong ambilin tas Dinda" Perintah Windi pada pelayannya.
"Baik Nyonya"
"Ini Non tasnya" Ucap pelayan itu sambil memberikan tas Dinda yang tadi dibuang oleh Windi.
"Terima kasih Bi" Balas Dinda.
"Sama-sama Non" Ucap pelayan itu kemudian melempar senyuman kearah Dinda.
"Ya sudah kamu berangkat sekolah sekarang saja nak, nanti kamu telat" Ucap Kakek.
"Sudah ada supir yang akan mengantar dan menjemput kamu. Jadi kamu hanya perlu fokus belajar" Tambah Windi dan dibalas anggukan kepala oleh Kakek, membenarkan apa yang anak menantunya katakan.
"Mommy, Kakek, maaf sebelumnya. Apakah boleh Dinda kesekolah tidak usah diantar dengan supir. Dinda tidak terbiasa" Pinta Dinda dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Windi menandakan jika ia harus diantar ataupun dijemput dengan supir.
"Kamu adalah calon istri Rangga, jadi kamu tidak boleh seenaknya seperti itu. Dan kamu harus mengikuti aturan dirumah ini" Ucap Windi membuat Dinda tak bisa berkata apa-apa lagi selain menuruti perkataan calon mertuanya itu.
"Baiklah Mommy" Ucap Dinda sedikit malas. Kemudian berjalan kearah Windi dan juga Kakek untuk meraih tangannya kemudian menciumnya dengan rasa hormat.
Windi mengangumi sikap Dinda yang begitu sopan kepada orang tua. Bahkan Windi merasa kini mulai menyayangi Dinda karena ia yang selalu memperlakukan Windi dengan sangat baik. Seperti sekarang Dinda yang mencium tangannya lalu mengucapkan salam sebelum kesekolah. Hal kecil yang bahkan Rangga sendiripun sebagai anak kandungnya, tak pernah sekali pun melakukan hal itu kepada dirinya.
"Belajar yang giat dan sampaikan salam Mommy sama Rangga" Ucap Windi sedikit berteriak.
Deg.
Dinda terkejut karena Windi yang menitipkan salam pada Rangga, namun dengan cepat segera naik keatas mobil yang sudah disiapkan untuk Dinda pakai kesekolah.
"Hati-hati dijalan pak. Jangan ngebut-ngebut" Perintah Windi pada pak supir.
" Baik Nyonya" Jawab pak supir sambil memberi hormat pada majikannya itu.
Mobil Dinda kini melaju menuju kesekolahnya. Didalam mobil Dinda tak henti-hentinya mengucap syukur karena bisa merasakan menjadi orang kaya. Walaupun itu hanya sebentar karena ia harus menepati janjinya kepada Tante Indah.
Namun Dinda tak ingin ambil pusing. Biarlah perjanjiannya dengan Tante Indah menjadi urusan nanti. Sekarang yang harus ia pikirkan bagaimana caranya ia harus membuat Rangga jatuh cinta kepadanya.
Sekarang yang menjadi fokus Dinda adalah Rangga. Apalagi Mommy Windi yang tadi sempat menitipkan salam untuk Rangga, yang mau tidak mau harus ia sampaikan kepada Rangga karena ini adalah sebuah amanah.
"Pak jangan berhenti depan sekolah ya. Berhentinya agak jauhan dikit" Pinta Dinda pada Pak Supir yang sedang fokus menyetir.
"Tapi Non, nanti Nyonya marah jika saya tidak mengantarkan Non Dinda sampai kesekolah" Jawab Pak supir tak setuju dengan ide Dinda.
"Tenang aja pak, Dinda gak bolos kok. Dinda cuma gak enak kalo diliatin temen-temen Dinda" Balas Dinda memberi alasan.
Karena tak ada jawaban dari pak supir Dinda kemudian tak pantang menyerah untuk membujuk supirnya itu.
Mulai merasa lelah karena Dinda yang tak juga berhenti mengoceh, membuat Pak supir akhirnya menuruti kemauan Dinda.
"Pak turun sini aja" Perintah Dinda pada pak supir.
"Baik Non"
Dinda kemudian turun dari mobilnya yang tak jauh dari pintu masuk sekolah, sambil melihat kesekitar jangan sampai ada yang melihat dirinya turun, dari mobil mewah yang sekarang menjadi miliknya.
"Makasih pak" Ucap Dinda kemudian bergegas menuju kepintu masuk sekolah.
Tepat dipintu masuk Dinda bertemu dengan Rangga yang juga baru saja tiba.
Namun pandangan Dinda tertuju pada ojek online yang Rangga naiki kesekolah.
"Kenapa Rangga naik ojol?" Pikir Dinda dalam benaknya.
Membuat Rangga yang melihat Dinda yang terus saja menatap dirinya menjadi salah tingkah namun secepat mungkin untuk tetap bersikap biasa saja.
"Apaan sih lihat-lihat" Ucap Rangga membuat Dinda terkejut karena ketahuan terus memandang Rangga.
"Ti...tidak" Ucap Dinda terbata-bata.
"Kenapa ini?" Terdengar suara yang begitu tak asing oleh Dinda. Yang tak lain adalah Juna yang ternyata juga baru sampai.
Rangga hanya melengos pergi meninggalkan Dinda karena kini ada Juna sahabat Dinda.
"Gak kenapa-kenapa kok" Jawab Dinda tersenyum kearah sahabatnya yang kini berdiri tepat dihadapannya.
"Tapi tadi aku lihat. Si anak baru itu kayak marah sama kamu" Jawab Juna lagi.
"Ngak kok, mungkin kamu salah lihat. Yuk kita kekelas sekarang" Ucap Dinda berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan Juna.
Dinda kemudian menarik tangan Juna, membuatnya mengikuti dirinya yang kini akan menuju kekelas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments