BAB 16 TANTE INDAH KESETANAN

Sekuat tenaga Dinda berusaha mendorong kepalanya agar bisa keluar dari air. Dengan sekali dorongan akhirnya Dinda berhasil melepaskan cengkraman dari tantenya. Namun sialnya karena hal itu membuat bibir Tante Indah terkena hantaman keras dari kepala Dinda, sehingga menyebabkan bibirnya pecah dan mengeluarkan cairan segar berwarna merah pekat.

"Aaauuuu" Tante Indah meringis kesakitan.

"Haaaaa, haaaa" Dinda menghirup oksigen dengan rakusnya. Kemudian terduduk diatas toilet duduk, sambil memandang wajah tantenya yang memegang bibirnya yang tak sengaja terkena hantaman kepalanya.

Dinda mulai meneteskan air mata karena orang yang begitu ia hormati hampir saja menghilangkan nyawanya.

"Kenapa Tante melakukan ini sama Dinda? Memangnya Dinda salah apa sama Tante?" Ucap Dinda sedikit berteriak membuat Tante Indah tersentak kaget.

"Salahmu itu banyak" Balas Tante Indah tak mau kalah.

"Tapi salah Dinda apa Tante? Kalo Tante memang menginginkan Dinda mati, kenapa Tante susah payah membesarkan Dinda sampai sebesar ini? Kenapa tidak Tante bunuh saja Dinda waktu masih kecil. Bukankah itu lebih mudah? Sehingga aku tidak perlu melakukan kesalahan" Ucap Dinda berhasil membungkam mulut Tantenya.

Ntah kekuatan dari mana yang ia dapatkan sehingga ia begitu berani melawan tantenya itu. Padahal, selama ini ia tak pernah melawan dan bahkan hanya diam ketika mendapatkan kekerasan fisik dari tantenya.

"Kenapa diam saja Tante? Jawab Dinda" Mendengar Dinda yang berbicara dengan nada yang naik satu oktav membuat Tante Indah naik pitam lalu bangkit menjambak rambutnya.

"Mentang-mentang sebentar lagi kau akan menjadi Nyonya dirumah ini, kamu sudah berani sama Tante. Haaa?" Tante Indah berbicara sambil mencengkram kuat rambut Dinda.

"Auuu, sakit tante" Dinda mulai meringis kesakitan karena perbuatan Tantenya.

"Apa salah Dinda?" Kini Dinda mulai menangis begitu keras sampai-sampai Tante Indah semakin menguatkan cengkramannya dirambut Dinda.

"Salahmu itu karena kau selalu cari perhatian sama Tuan Besar" Ucap Tante Indah ditelinga Dinda.

"Dinda tidak pernah seperti itu Tante" Jawab Dinda sesenggukan. Kini ia merasa seperti kulit kepalanya akan terlepas karena cengkraman dari tantenya.

"Bohong" Pekik Tante Indah. "kamu sengajakan melakukan itu agar kamu dikasihani sama Tuan Besar" Ucap Tante Indah lagi melepaskan cengkramannya kemudian menampar pipi mulus Dinda sehingga meninggalkan cap merah dipipi Dinda.

"Tidak, tidak Tante" Balas Dinda sambil memegangi pipinya yang kini terasa kebas karena tamparan dari tantenya.

"Ampun tante jangan lakukan ini sama Dinda, Dinda mohon" Ucap Dinda ketakutan, jika tantenya itu benar-benar akan menghabisinya saat ini juga.

"Aku akan mengampunimu hanya dengan satu syarat" Ucap Tante Indah sambil mengangkat sebelah bibirnya terlihat jika dia tersenyum dengan sangat liciknya.

"Apa itu Tante?" Tanya Dinda spontan, ingin segera mengakhiri penyiksaan dari tantenya itu.

"Aku ingin setelah setahun pernikahanmu dengan Rangga, kau harus pergi meninggalkannya sejauh mungkin"

"Iy... iya baiklah" Dinda menyetujui persyaratan dari Tantenya itu tanpa pikir panjang lagi.

Ia hanya ingin segera terbebas dari Tantenya yang sepertinya akan mengakhiri hidupnya jika ia tak menyetujui keinginannya itu.

"Aku benar-benar akan mengirimmu keneraka jika kau tidak menepati janjimu" Ancam Tante Indah, membuat Dinda merinding ketakutan karena melihat sorot mata Tantenya yang sepertinya tidak main-main dengan ancamannya itu.

"Iya... iya tante aku janji" Ucap Dinda dengan tatapan sendu kearah Tantenya yang kini terlihat begitu puas dengan jawaban dari Dinda.

"Hari ini kau sudah menjadi anak yang pintar. Gitu dong" Ucap Tante Indah kemudian bergegas keluar dari kamar mandi, meninggalkan Dinda yang masih menangis meratapi nasibnya.

Baru saja Dinda merasakan kebahagian karena akan mendapat keluarga baru yang akan menyayangi dirinya. Sekarang ia harus dihadapkan lagi dengan pilihan yang begitu berat yaitu ia harus meninggalkan Rangga setelah setahun pernikahan mereka.

"Ah sudahlah" Gumam Dinda dalam hati. "Setahun bukanlah waktu yang lama. Bukankah Kakek memberikannya waktu 6 bulan untuk membuat Rangga jatuh cinta kepadanya. Jika dalam waktu itu ia sama sekali tidak jatuh cinta kepada Dinda ia akan segera pergi sebelum waktu yang Tante Indah tentukan" pikir Dinda dalam benaknya. Ya, itu rencana Dinda sekarang.

"Tapi bagaimana jika dalam waktu itu Rangga akhirnya jatuh cinta kepadanya?" Ucap Dinda sambil menghela nafas.

"Tidak, tidak mungkin Rangga yang sangat dingin itu bisa dengan mudah jatuh cinta kepadanya" Ucap Dinda lagi meyakinkan dirinya.

"Aku hanya perlu menjalankan peranku sebagai menantu dikeluarga ini selama 6 bulan. Setelah itu aku akan segera pergi menghilang seperti yang Tante Indah inginkan"

Dinda menghapus sisa jejak air mata yang masih tersisa dipipinya, lalu bergegas keluar dari kamar mandi.

*

*

*

*

*

Keesokan harinya, Dinda terbangun lebih awal seperti biasanya. Melakukan aktivitas yang hampir setiap hari ia lakukan yaitu meluapkan segala keluh kesahnya pada Diary kesayangan miliknya.

Waktu menunjukkan pukul 05.15 pagi. Gegas Dinda menuju kelemari pakaian untuk mengambil Diarynya, lalu duduk dimeja belajar yang juga telah disiapkan untuknya didalam kamarnya itu.

Dear Diary...

Mengapa hidup tak semulus kulit bayi baru lahir.

Mengapa hidupku selalu dihadapkan oleh pilihan yang begitu berat Tuhan.

Mengapa... Mengapa... Mengapa...?

Disaat mimpi seribu persen selangkah lagi kugapai, mengapa muncul lagi masalah baru yang bahkan lebih sulit dari meraih mimpiku?

Mengapa hidupku selalu berujung dengan ketidak pastian Tuhan. Mengapa bahagia tak ingin tinggal berlama-lama denganku. Mengapa hanya penderitaan yang setia menemaniku?

Apa itu cinta Tuhan, bagaimana rasanya?

Bagaimana aku akan membuat Rangga jatuh cinta kepadaku. Bagaimana aku akan mewujudkan keinginan Kakek untuk membuat Rangga jatuh cinta kepadaku?

Huffftt... Diary bantu aku agar bisa menjadikan keinginan Kakek menjadi kenyataan.

DINDA

❤❤❤💛💛💛💚💚💚💙💙💙💜💜💜

Setelah mencurahkan isi hatinya, Dinda lalu menutup kembali Diary itu, kemudian menyimpan kembali sahabatnya ditempatnya lagi seperti sedia kala.

Dinda kemudian bergegas menuju kekamar mandi, setelah itu ia akan bersiap-siap memakai seragamnya kemudian menuju kesekolah.

Sesampainya didepan meja makan, ia disambut dengan Kakek dan juga Windi yang sudah menunggunya dimeja makan.

"Sini sayang, sarapan dulu" Ucap Windi memanggil Dinda dengan nada suara yang begitu lembut. Membuat para pelayan yang bekerja dirumah itu menjadi heran dengan sikap Windi yang baru pertama kali mereka lihat, dan kini saling melempar pandangan pada pelayanan lain, berusaha menemukan jawaban atas perubahan sikap majikannya itu. Namun tak satupun dari mereka yang mengetahui alasannya. Tak terkecuali dengan Tante Indah yang sangat mengetahui apa yang alasan yang membuat sikap majikannya itu bisa berubah.

Kini Tante Indah semakin menatap sinis kearah Dinda yang kini juga berhasil merebut hati majikannya yang terkenal galak dan pemarah itu. Terlihat ia yang mengepalkan jari-jari tangan sangking kesalnya.

"Dinda sarapan dulu baru kamu kesekolah" kini giliran Kakek yang bersuara.

Dinda bisa melihat dengan ekor matanya, wajah tantenya yang terlihat masam karena perlakuan dari kedua majikannya. Namun tetap memutuskan untuk ikut sarapan bersama Kakek dan Windi karena tak ingin mereka tersinggung jika Dinda menolak ajakan mereka.

Mata Dinda sangat dimanjakan dengan hidangan yang telah tertata rapi diatas meja makan.

"Bi, minta tolong buatkan susu hangat untuk Dinda ya" Pinta Windi pada salah satu pelayannya.

"Baik Nyonya" Jawab pelayan itu patuh kemudian bergegas mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya.

Siska yang melihat Dinda sarapan dimeja makan, tanpa rasa malu dan tanpa permisi terlebih dulu duduk tepat disamping Dinda.

Melihat apa yang Siska lakukan, membuat Windi geram dan kini mulai naik pitam dan berhasil membuat sifat asli Windi yang sangat suka marah-marah kembali terlihat.

"Siapa yang menyuruhmu duduk disitu" Bentak Windi membuat Siska yang akan mengambil Roti sandwich mengurungkan niatnya itu karena terkejut dengan teriakan Windi.

Siska memegangi dadanya. Sambil melempar senyuman kearah Windi yang menatapnya dengan sorot mata yang tajam.

"Tempatmu bukan disini, cepat pergi" Ucap Windi lagi sambil mengangkat satu tangannya menunjuk kesembarang arah mengisyaratkan agar Siska pergi dari meja makan.

Tante Indah semakin marah melihat anak kesayangannya diperlakukan seperti itu. "Awas kau perempuan tidak tau diri" Ucapnya dalam hati.

Dengan malu-malu akhirnya Siska bangkit kemudian meninggalkan meja makan tempat Dinda berada. Sedangkan Dinda hanya diam menatap sepupunya yang tak tau malu itu berlalu pergi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!