BAB 15 TAKLUKNYA SINGA BETINA

"Anda memanggil saya nyonya?" Tanya Dinda saat tadi sudah dipersilahkan masuk oleh yang punya kamar.

Windi tersenyum melihat Dinda kemudian memanggilnya untuk duduk disampingnya karena dia yang sedang duduk disofa dalam kamarnya.

Patuh Dinda. Dengan ragu-ragu bercampur dengan rasa takut ia melangkah lalu duduk disamping majikan tantenya yang terkenal galak itu.

Windi terlihat sangat berbeda, tidak seperti dirinya yang setiap harinya akan marah-marah walaupun para pekerja dirumahnya tidak melakukan kesalahan. Saat ini bahkan Windi terlihat selalu melempar senyuman kearah Dinda yang diam karena merasa bingung dengan sikap Windi yang terlihat sangat ramah kepadanya.

"Aku titip Rangga sama kamu" pelan-pelan Dinda mengangkat wajahnya karena mendengar ucapan dari Windi.

Dinda terlihat sangat bingung "Ma... maksud anda Nyonya?" Ucapnya gugup.

Windi menghela nafas kasar mengingat hubungannya dengan anak semata wayangnya itu tidak pernah akur. Namun Windi juga tak tau apa sebabnya anak itu menjauh darinya. Padahal hanya Rangga yang ia miliki karena Papinya Rangga selalu sibuk bekerja, sampai-sampai tak memiliki waktu yang hanya untuk sekedar menghabiskan waktu bersama keluarganya.

Jika Rangga kesal kepada Papinya yang selalu sibuk dan tak pernah berada dirumah, lalu mengapa Rangga malah membenci dirinya? Pikir Windi dalam benaknya.

"Rangga membenciku, ia tak lagi menganggapku sebagai Ibunya" Ucap Windi dengan ekspresi sedih diwajahnya, bahkan matanya kini mulai berkaca-kaca.

Dinda menggigit bibir bawahnya, tak tau harus membalas apa kepada majikannya itu. Ia takut jika salah berbicara malah akan menyakiti hati Windi, atau bahkan dirinya akan terkena omelan darinya.

Pelan-pelan Dinda mengusap belakang majikannya itu, walaupun sedikit takut Dinda berusaha untuk memberanikan dirinya untuk melakukan itu kepada Windi. Karena Dinda yakin seseorang yang sedang bersedih sangat membutuhkan dukungan agar orang itu bisa kembali bangkit dan bersemangat lagi.

"Kamu anak yang baik, saya senang jika Rangga akan menikah dengan kamu" Ucap Windi dan dibalas senyuman oleh Dinda.

"Orang tua kamu mana?" Tanya Windi, kini giliran Dinda yang terlihat sedih mendengar pertanyaan darinya.

"Ada apa? Kenapa kamu sedih?" Tanya Windi lagi sambil memegang tangan Dinda.

"Ibu saya sudah meninggal Nyonya, Ayah saya tidak tau dimana" Jawab Dinda mengatakan yang sebenarnya.

Windi lalu memeluk tubuh Dinda membuatnya terkejut karena perlakuan dari majikannya itu.

"Kamu jangan sedih, kamu bisa menganggapku sebagai Ibu kamu" Mendengar apa yang Windi katakan membuat tangis Dinda akhirnya pecah juga.

"Kalo kamu menikah dengan Rangga, kamu juga akan menjadi anak mommy kan" Ucap Windi tersenyum setelah melepaskan pelukan mereka terlebih dahulu, kemudian menangkup wajah Dinda dengan satu tangannya. Lalu menghapus air mata yang membasahi pipi Dinda.

Dinda terperangah menyaksikan perlakuan yang Windi lakukan kepadanya. Selama ini, Dinda berpikir jika majikannya itu orang yang kasar karena selalu mengeluarkan kata yang ketus. Namun ternyata Windi juga bisa berperilaku baik pada orang lain. Dan membuat Dinda semakin tersentuh karena kini Windi memeluknya seperti Ibu pada anaknya. Sejenak Dinda bisa merasakan kehangatan pelukan dari seorang Ibu yang sangat ia rindukan yaitu Ibunya sendiri.

"Aku dengar dari Kakek tua itu kau satu sekolah dengan Rangga. Apakah itu benar?" Tanya Windi lagi terlihat ekspresi wajahnya yang begitu penasaran serta menunggu jawaban dari Dinda.

"Iya benar Nyonya"Jawab Dinda singkat sambil menganggukkan kepalanya.

"Jangan panggil aku Nyonya, kau akan menikah dengan Rangga. Jadi panggil aku Mommy. Oke?" Balas Windi sambil menaikkan ibu jari lalu dibalas dengan senyuman sumringah oleh Dinda.

"Baiklah Nyonya.. ehh Mommy" Ralat Dinda secepatnya sambil cengengesan membuat Windi tersenyum sambil geleng-geleng.

"Mulai besok, akan ada yang mengajarimu bagaimana menjadi bagian dikeluarga Gunawan"

Dinda hanya diam mulai mencerna apa yang dikatakan oleh calon mertuanya itu.

Windi mulai memperhatikan wajah Dinda yang nampak bingung dengan apa yang ia katakan barusan. Mengingatkan Windi ketika pertama kali dirinya masuk kekeluarga Gunawan. Sama seperti Dinda yang tak kalah gugup dan bingungnya kala itu.

"Dinda" panggil Windi berhasil menyadarkan Dinda dari lamunannya.

"Iy... iya Nyonya. Eh Mommy" Ralat Dinda lagi cepat dengan sedikit gugup. Merasa aneh karena belum terbiasa dengan panggilan barunya untuk Windi.

"Kenapa kamu suka sekali melamun?" Windi berbicara sambil memegang sebelah bahu Dinda.

"Saya tidak mengerti dengan maksud anda, apakah saya harus berhenti bersekolah dan hanya belajar dirumah saja. Begitu maksud Mommy?" Ucap Dinda polos dan dibalas langsung dengan gelengan kepala oleh Windi, yang kini menambah kebingungannya.

"Bukan begitu maksudku, kau akan tetap bersekolah seperti biasa. Hanya saja kau akan mendapatkan pelajaran tambahan untuk mengetahui bagaimana cara menjadi anggota dari keluarga besar Gunawan" Windi berusaha menjelaskan maksudnya pada Dinda sedangkan Dinda yang mulai sedikit mengerti kini mengangguk-anggukan kepalanya.

"Persiapkan dirimu. Bersikaplah dengan baik dan patuh. Oke?" Ucap Windi lagi sambil menaikkan jempol tangannya membuat Dinda tersenyum sumringah. Dan juga dengan anggukan kepala olehnya.

"Kembalilah kekamarmu, jangan melakukan pekerjaan tantemu lagi karena itu bukanlah tugasmu"

"Iya Mommy" Patuh Dinda kemudian segera bergegas menuju kekamarnya.

Dan diwaktu yang sama terlihat juga seorang wanita yang begitu bahagia, karena mendapatkan kenaikan jabatan oleh majikannya dan orang itu tak lain adalah Tante Indah.

Karena Dinda yang akan menikah dengan Rangga membuat Kakek memutuskan, memberi jabatan kepada tantenya itu sebagai kepala pelayan dirumah mewahnya. Sehingga membuat Tante Indah tak henti-hentinya mengucap syukur dalam hatinya dengan apa yang ia peroleh beberapa hari ini.

Mulai dengan dirinya yang kini tinggal dirumah mewah milik majikannya, jabatan yang naik dan bisa dipastikan akan menambah pundi-pundi keuangannya. Membuat Tante Indah sangat-sangat bahagia. Hingga tak menyadari kehadiran Kakek yang berada tepat dibelakangnya.

"Ehem" Kakek berdehem membuat Tante Indah terlonjak kaget sejenak diam mematung, kemudian perlahan-lahan memutar tubuhnya menghadap kesumber suara.

"Aku memberikanmu kepercayaan dengan menaikkan jabatanmu menjadi kepala pelayan karena Dinda" Ucap Kakek sambil menyilangkan kedua tangan dibelakang tubuhnya.

"Terima kasih Tuan besar" Balas Tante Indah sambil memberi hormat kepada majikannya itu.

"Sudah kukatakan semua ini kulakukan karena Dinda, jika kau ingin berterima kasih, maka berterima kasihlah kepadanya. Karena kau bukan apa-apa jika bukan karena Dinda" Ucapan Kakek begitu menohok dan berhasil membungkam mulut Tante Indah.

Setelah mengatakan hal yang menyakitkan kepada Tante Indah, Kakek kemudian berlalu meninggalkan dirinya yang kini terlihat meremas pinggir pakaiannya, karena tak terima jika Dinda selalu menjadi alasan atas setiap keberuntungan yang ia peroleh.

"Lagi-lagi karena anak itu. Kenapa aku selalu berada dibalik bayang-bayang bocah udik itu. Awas kau Dinda aku akan memberikan pelajaran untukmu" Gumamnya dalam hati dengan wajah yang kini memerah menahan amarah yang akan segera meledak.

Tante Indah bergegas menuju kekamar Dinda, tanpa permisi terlebih dahulu ia lalu membuka pintu kamar Dinda yang memang sengaja tak ia kunci.

Dinda kaget melihat tatapan mata Tantenya yang begitu kesetanan, menatap tajam kearahnya seakan-akan ia akan segera menghabisi dirinya, kemudian Dinda menelan salivanya.

Bisa Dinda lihat dada tantenya yang kini naik turun karena menahan emosi.

Tante Indah segera menghampiri Dinda yang kini berdiri disamping tempat tidurnya. Menarik paksa Dinda agar masuk kedalam kamar mandi, kemudian membenamkan kepala Dinda kedalam bak air sampai Dinda meronta-ronta meminta agar dirinya dilepaskan.

Kepala Dinda terus saja dicelupkan kedalam bak air yang terisi penuh dengan air, Lalu kemudian memberi jeda beberapa saat untuk Dinda bisa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

"Tante, Dinda mohon jangan..." Belum sempat Dinda menyelesaikan perkataannya, kepala Dinda dicelupkan lagi kedalam bak air tanpa memberi kesempatan untuknya untuk berbicara lagi.

Dinda terus meronta-ronta karena kesulitan bernafas sedangkan Tante Indah yang gelap mata tersenyum senang karena hari ini ia akan benar-benar menghabisi orang yang sangat ia benci.

"Mati kau anak sialan" Umpat Tante Indah yang terus menahan tengkuk Dinda.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!