BAB 14 KEBAHAGIAAN SEGERA HADIR?

Pencet tombol SUBSCRIBE dlu ya!!!

Sebelum membaca. Mohon dukungannya dengan memberi Like, komen, Vote, dan jangan lupa follow akun author ya. Karena semuanya GRATIS.

Dengan memberikan dukungan tersebut kalian sudah memberikan sedekah kepada author amatiran ini.

Jika belum sanggup memberi sedekah dalam bentuk materi. Baiknya kakak-kakak pembaca memberi sedekah kepada author dadakan ini dengan memberi like, komen, hadiah, dan vote sebanyak-banyaknya.

Maaf jika author sedikit ceramah... hehehe😁😁😁

❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

Kakek membawa Dinda kesebuah kamar yang berada dilantai dua. Mereka akhirnya masuk dan betapa terkagumnya Dinda melihat kamar yang akan dia tempati. Bahkan ukurannya tiga kali lebih besar dari kamar yang Tante Indah dan Siska tempati.

Kakek tersenyum melihat calon cucu menantunya itu terlihat senang dengan kamar barunya.

Dinda menoleh kearah Kakek dengan wajah yang begitu senang. Takjub dengan kamar baru yang telah Kakek siapkan untuknya.

"Kek, ini beneran kamar Dinda?" Tanya Dinda sambil memegang tangan Kakek.

"Tentu saja nak, mulai hari ini karena kamu akan menjadi istri Rangga. Kakek akan memberikan semua fasilitas yang memang pantas untuk kamu dapatkan" Ucap Kakek membuat Dinda semakin bahagia dengan apa yang Kakek katakan.

Dinda tidak menyangka jika hidupnya akan berubah secepat ini. "Mungkinkah ini pertanda maksud dari kedatangan Ibu dalam mimpi?" Ucap Dinda dalam hatinya.

Rasa bahagia dan juga terharu bercampur menjadi satu. Membuat Dinda meneteskan air mata lalu memeluk Kakek yang kini terkejut karena tiba-tiba saja Dinda memeluk dirinya.

"Terima kasih Kakek" Ucap Dinda yang berada dalam pelukan Kakek. Yang ijut terharu karena mendapatkan perlakuan hangat seperti yang Dinda lakukan sekarang yang bahkan cucu kandungnya sendiri belum pernah memekuknya seperti cara Dinda memeluknya sekarang.

"Kamu pantas mendapatkannya nak karena kamu anak yang baik" Balas Kakek sambil mengusap lembut puncak kepala Dinda.

Sedangkan tak jauh dari kamar Dinda, Tante Indah sedang mengintip dari kejauhan melihat Dinda dan Kakek yang sedang berpelukan. Bisa ia lihat jika kamar yang akan Dinda tempati sangat bagus dan juga luas, bahkan lebih bagus dari kamar yang ia dan Siska tempati menambah tingkat kebencian Tante Indah kepada Dinda yang selalu saja berhasil membuat majikannya itu menjadi semakin sayang kepadanya.

Terbukti kini majikannya itu memberi fasilitas kepada Dinda bak seorang putri dirumah mewahnya. Padahal Tante Indah juga ingin mendapatkan fasilitas yang sama seperti Dinda mengingat dirinya adalah keluarga Tiana yang tentu saja akan menjadi bagian dari keluarga Gunawan. Apalagi selama ini Tante Indah lah yang telah membesarkan Dinda sampai sebesar ini. Bukankah dia juga seharusnya diperlakukan sama seperti Dinda? Gumamnya dalam hati sambil bergegas menuju ke kamar Windi yang menyuruhnya untuk segera kekamarnya.

Terlihat raut cemas diwajah Tante Indah. Ia tak tau apa sebabnya majikannya itu memanggil dirinya. Semoga saja bukan untuk mengomelinya. Ucapnya dalam hari samhil berjalan menuju kekamar Windi.

Setelah Kakek pergi, Dinda mulai menjelajahi setiap bagian yang ada didalam kemarnya. Tak terkecuali lemari pakaian yang begitu besar dan panjang yang terdiri dari beberapa pintu itu menjadi fokus Dinda untuk melihat apa isinya.

Dinda kemudian mulai membuka satu persatu lemari yang ada didalam kamarnya, dan alangkah terkejutnya Dinda melihat isi lemari itu yang telah penuh dengan pakaian dan gaun yang cantik dan tentu saja mahal.

Semua yang Dinda butuhkan sudah tersedia. Pakaian, sepatu, tas, bahkan make up juga sudah tersedia. Dinda hanya perlu memilih yang mana yang akan dia gunakan.

Benarkah impian seribu persen akan semudah ini kuraih? Bukankah aku perlu usaha yang lebih keras untuk meraihnya. Pikir Dinda dalam benaknya.

"Tidak, tidak. Aku tak boleh berpikir seperti itu. Mungkin saja Tuhan berbaik hati memberikan jalan yang mudah untukku. Bukankah itu lebih bagus. Aku hanya perlu bersyukur dan menjadi hamba yang taat" Ucap Dinda dalam hati. Meyakini jika ini semua karena kemurahan hati Tuhannya.

Oh iya, mengingat tentang impiannya itu Dinda sampai lupa. Ia lalu meraih tas ransel miliknya kemudian mengeluarkan sesuatu yang merupakan sahabatnya yang selalu menjadi teman curhatnya.

Dinda mengingat lemari miliknya yang selama ini dia pakai. Sangat berbeda dengan lemari yang sekarang berada di dalam kamarnya.

Dinda lalu meletakkan diary kesayangannya itu didalam lemari pakaian yang baru. "Diary selamat ya, kamu sekarang pindah kerumah baru kamu yang lebih bagus. Sama seperti diriku, kaupun juga akan pindah dalam lemari yang bagus dan indah ini" Ucap Dinda pada Diary kesayangannya itu.

Didalam kamar lain dirumah mewah yang sama dengan yang Dinda tempati. Terlihat dua wanita paruh baya yang sedang bebicara serius.

"Aku ingin menghentikan semua ini Indah" Ucap Windi yang kini sedang berdiri sambil memegang penghalang besi tepat dibalkon kamarnya. Windi berbicara saat mengetahui Tante Indah yang masuk lalu berbicara sebelum Tante Indah berbicara duluan kepadanya.

Mendengar apa yang keluar dari bibir majikannya itu. Tante Indah merasa bingung sekaligus juga terheran.

"Tapi kenapa Nyonya?" Tanya balik Tante Indah sambil melihat punggung majikannya yang terus menatap kearah depan.

Windi kemudian berbalik lalu menatap kearah Tante Indah yang terlihat bingung dengan perkataannya barusan.

"Aku ingin menghentikan semua ini. Aku sudah lelah, usiaku tak lagi muda" Ucapnya lagi sambil meneteskan air mata. Tak terlihat lagi sifat angkuh dalam diri majikannya itu yang biasanya akan marah sekaligus membentak orang lain jika apa yang ia dapatkan tak sesuai dengan keinginannya.

"Iya nyonya, apapun yang anda inginkan akan saya turuti. Tapi nyonya.." Perkataan Tante Indah tertahan lalu ia menelan salivanya. Apakah ia harus mengatakan apa yang sangat ingin ia ketahui kebenarannya atau tidak.

Ia mulai ragu, apakah ia harus bertanya langsung kepada majikannya itu mengapa ia sama sekali tidak marah, mengetahui jika anak semata wayangnya akan dinikahkan dengan kemanakannya. Yang statusnya sangat berbeda dengan status mereka.

"Tapi apa?" Tante Indah kaget karena suara Windi yang menggelegar kini mengagetkannya. Sangat berbeda dengan suaranya tadi saat Tante Indah masuk.

"Ak... Aku... Aku ingin menanyakan mengenai pernikahan Rangga dan juga Dinda Nyonya. Apakah anda menerima Dinda menjadi menantu Nyonya? Dinda kan hanya orang miskin. Tak seperti Rangga yang dari keluarga kaya raya Nyonya" Tante Indah berbicara sambil menunduk karena tak berani memandang wajah Windi yang terlihat sinis.

Windi tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari pembantunya itu. Sedangkan Tante Indah hanya bergidik ngeri mendengar tawa majikannya yang terdengar sapedikit seram.

"Indah, Indah, kau lupa, aku pun dulu juga dari golongan yang sama seperti kalian. Hanya saja aku beruntung bertemu dengan Papinya Rangga waktu itu. Sehingga bisa merasakan menjadi orang yang kaya raya"

"Lagipula anak itu sepertinya baik. Dia juga anak yang rajin karena mau membantumu untuk menyelesaikan pekerjaanmu" Ucapnya jujur. Karena memang Windi sama sekali tak pernah membenci anak itu. Justru malah sebaliknya, Windi malah bersimpati melihat kegigihan Dinda yang bersekolah namun masih membantu pekerjaan tantenya. Padahal anak diusia seperti Dinda akan menghabiskan waktu bermain bersama teman-temannya, dan bersenang-senang.

Mendengar apa yang majikannya katakan Tante Indah menjadi syok. Bagaimana tidak begitu, ternyata majikannya itu juga menyukai Dinda. Pantas saja selama bekerja disini, sama sekali Dinda tak pernah mendapat omelan dari majikannya itu walaupun Windi terkadang menatap dengan tatapan yang sinis.

"Sialan, kenapa anak udik itu selalu beruntung. Pertama Kakek, kedua Nyonya Windi. Sudahlah biarkan saja dulu aku akan memikirkan lagi bagaimana cara memberi balasan untuk anak itu" Ucap Tante Indah dalam hatinya.

"Kau hubungi dia dan katakan jangan menggangguku lagi karena dia tak berhenti untuk terus menelponku semalam" Ucap Windi lagi dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Tante Indah.

"Kau boleh pergi"

"Katakan pada Dinda jika aku ingin berbicara dengannya" kemudian Tante Indah bergegas menuju kekamar Dinda untuk menyampaikan pesan dari majikannya.

*

*

*

*

*

Maaf ya cerita "Stempel Tanda Cinta" selalu terlambat update cerita setiap hari, karena terhalang kesibukan author yang sibuk mengurus dua bayi kecil didunia nyata. 😊😊😊

Mohon kritik dan sarannya ya teman-teman pembaca agar author lebih semangat lagi buat ceritanya.

Ikuti kisah selanjutnya....

Happy reading🫰🏻🫰🏻🫰🏻

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!