"Cepat bangun, dan kemasi barang-barangmu. Hari ini kita akan pindah kerumah Kakek tua itu" Ucap Tante Indah yang berhasil membuat Dinda terkejut kemudian memandang kearahnya. Namun tidak dengan Siska yang terlihat begitu senang karena akan tinggal dirumah yang mewah.
"Beneran Bu. Jadi kita akan tinggal dirumahnya Kak Rangga?" Tanya Siska dengan wajah yang berbinar-binar.
"Iya kita akan tinggal disana, karena Dinda akan menikah dengan Rangga" Ucapnya lagi membuat raut wajah Siska yang tadinya begitu senang kini berubah menjadi kesal. Membuat Siska semakin kesal karena mengetahui alasan mereka pindah kerumah Kakek karena Dinda yang akan menikah dengan Rangga.
"Ayo tunggu apalagi, cepetan bereskan barang-barang kamu. Kamu senangkan sekarang bisa jadi orang kaya raya setelah nanti kamu akan menikah dengan Rangga" Ucap Tante Indah sambil memegang pipi Dinda. Membuat Dinda meringis kesakitan karena perbuatan Tantenya.
"Iy... iya Tante" Ucap Dinda kemudian melangkah menuju kekamarnya untuk segera membereskan barang-barangnya yang akan dia bawa.
"Bu. Siska gak terima yah. Yang harusnya menikah dengan Kak Rangga itu aku, bukan si Dinda Bu" Ucap Siska sambil menghentak-hentakkan kakinya sangking kesalnya.
"Diamlah anak bodoh. Lagian kamu juga kalah jauh sama si Dinda. Mana mau Rangga sama kamu. Kerjanya cuma malas-malasan aja" Balas Tante Indah membuat wajah Siska semakin manyun karena Ibunya yang malah mengatainya.
"Kok Ibu malah ngebelain anak udik itu sih. Kan aku anak kandung Ibu"
"Sudah sana, beresin barang-barangmu tidak lama lagi orang suruhan Tuan Besar akan datang menjemput kita" Ucapnya lagi sambil mendorong tubuh Siska membuatnya hampir terjerembab diatas lantai.
"Ibuuuuuuu" Pekik Siska, Namun Tante Indah malah melengos begitu saja. Pergi meninggalkan Siska yang kini marah Karena ulahnya.
*
*
*
*
*
Ting tong...
Bunyi bel terdengar membuat Rangga yang sedang berada didalam kamar apartemennya segera menuju kearah pintu masuk untuk melihat siapa yang datang mengganggu istirahatnya.
Pintu dibuka terlihat pria dengan setelan kemeja hitam yang tak lain adalah suruhan Kakek Gunawan sedang berdiri sambil tersenyum dan memberi hormat pada Tuan Mudanya itu.
"Maaf Tuan Muda saya mengganggu waktu istirahat anda" Ucap pria itu. Dan dibalas anggukan kepala oleh Rangga yang tau jika pria itu adalah suruhan Kakeknya.
"Saya ditugaskan untuk menjemput anda, karena Kakek ingin bertemu dengan Tuan Muda sekarang" Ucapnya lagi. Membuat Rangga tak suka jika Kakeknya itu terus saja mengganggu dirinya.
"Pergilah. Aku tidak akan menuruti permintaan dari Kakek Tua itu" Ucap Rangga kemudian bergegas ingin menutup pintu apartemennya. Namun ternyata sudah ada dua orang suruhan Kakek yang menahan pintu apartemen Rangga kemudian menarik paksa dirinya.
"Lepaskan saya, kalian tidak bisa memaksaku seperti ini" Rangga mencoba memberontak namun usahanya sia-sia saja karena orang suruhan Kakek jauh lebih kuat dari dirinya.
Kedua orang suruhan Kakek itu kemudian membawa Rangga menuju kemobil yang disana telah menunggu Kakek.
Sesampainya didalam mobil, Rangga sangat merasa kesal dengan Kakeknya yang membuat orang suruhannya menarik paksa dirinya untuk menemuinya.
"Ada apalagi sih kek, bukankah aku sudah bilang. Aku tidak akan tinggal dirumah Kakek. Jadi stop, jangan paksa Rangga terus" Ucap Rangga mulai frustasi.
"Baiklah kau tidak perlu tinggal dirumah Kakek, asalkan kau mau menikah dengan wanita pilihan Kakek" Ucap Kakek membuat Rangga menjambak kasar rambutnya karena permintaan Kakek yang tidak masuk akal menurutnya.
"Sudahlah Kek, aku tidak mau. Ini bukan zamannya Siti Nurbaya yang harus dijodohkan"
"Apalagi Rangga masih sekolah, aku masih ingin menikmati masa mudaku"
"Jika kau tidak menikah dengan Dinda, maka Kakek tidak akan menganggapmu sebagai cucu Kakek lagi" Ucap Kakek dengan mata berkaca-kaca membuat Rangga merasa sedih melihat Kakeknya yang kini bersedih.
"Terserah Kakek saja" Ucap Rangga kemudian keluar dari mobil Kakeknya.
Kakek menghela nafas kasar karena tak juga berhasil membujuk cucu kesayangannya itu.
"Bagaimana Tuan Besar? apakah kita harus menggunakan rencana B agar Tuan Muda mau menuruti permintaan Tuan Besar" Ucap Pria suruhan Kakek yang merupakan orang kepercayaannya.
"Setuju, sekarang jalankan rencana B" Ucap Kakek dan dibalas anggukan kepala oleh pria itu.
*
*
*
*
*
Kini mereka bertiga sekarang berada dirumah Kakek setelah tadi mereka dijemput oleh orang-orang suruhan Kakek.
Sejak masuk kedalam rumah mewah itu, Siska tak henti-hentinya berdecak kagum melihat kemewahan rumah yang akan ia tinggali.
Windi yang melihat mereka bertiga datang sambil membawa beberapa tas pakaian menjadi heran, kemudian menghampiri mereka yang terkejut karena mendengar suara yang tak asing bagi mereka.
"Mau kemana kalian bawa tas segala?" Ucap Windi sambil berkacak pinggang. Membuat mereka bertiga kaget karena suara bariton dari Windi.
"Kakek menyuruh kami untuk tinggal dirumah ini Nyonya" Ucap Tante Indah sedikit takut melihat ekspresi wajah Windi.
"Untuk apa? Bukankah selama ini kalian lebih memilih tinggal dirumah kalian sendiri?" Tanya balik Windi membuat Tante Indah menjadi bingung harus mengatakan apa. Tidak mungkin jika majikannya itu akan menerima pernikahan Rangga dan Dinda yang hanya dari kalangan rendah.
"Kok diam? kalian punya mulutkan. Diajak bicara malah diam saja" Tanya Windi lagi membuat Tante Indah terlonjak kaget dan membuatnya berhasil tersadar dari lamunannya.
"Ka... Karena Kakek ingin menikahkan Rangga dengan Dinda" Ucap Tante Indah sambil memejamkan kedua matanya. Dirinya kini telah siap mendapatkan omelan pedas dari majikannya itu.
Setelah mendengarkan apa yang Tante Indah katakan. Windi kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga yang begitu heran karena majikannya itu sama sekali tidak marah mendengar Rangga yang akan menikah dengan Dinda.
Siska mengangkat dagu dan alisnya kearah Tante Indah yang juga memandang kearahnya, karena merasa heran dengan majikan Ibunya yang sama sekali tidak marah.
Namun Tante Indah hanya mengangkat bahu menandakan ia juga tak tau dengan sikap majikannya itu. Sedangkan Dinda sejak tadi hanya diam. Dinda berpikir diterima atau tidaknya dirinya ia akan tetap mengabulkan permintaan dari Kakek yang sudah begitu baik kepadanya.
Mereka bertiga kemudian menuju kekamar yang memang disediakan untuk para pekerja dirumah itu. Walaupun pekerjaan mereka hanya seorang pembantu namun, fasilitas dikamar mereka tak tanggung-tanggung. Tempat tidur spring bed, Ac, dan lengkap dengan kamar mandi dalam. Membuat Siska yang kini berada dikamar itu merasa sangat bahagia melihat hidupnya yang berubah 180 derajat yang tadinya hanya tidur diranjang kayu kini bisa tidur nyenyak dikasur empuk. Sangking senangnya Siska sampai loncat-loncat diatas tempat tidur.
"Bu, Dinda suru tidur dibawa aja. Kalo disini kan sempit" Ucap Siska menunjuk kearah Dinda yang masih berdiri sambil memegang tas ranselnya.
"Iya betul, kamu tidur dibawa aja" Balas Tante Indah membenarkan perkataan anaknya. Dan dijawab anggukan kepala oleh Dinda.
Tiba-tiba Kakek masuk kedalam kamar mereka, membuat mereka bertiga spontan menatap kearah Kakek yang kini telah berada didalam kamar.
"Dinda ayo ikut Kakek, kamarmu bukan disini" Ucap Kakek sambil memanggil Dinda untuk ikut bersamanya.
Tante Indah dan Siska hanya menatap sinis kearah Dinda yang kini berjalan mengikuti Kakek.
Saat akan keluar Dinda bisa melihat tatapan tajam dari Tante Indah dan Siska.
"Bu, kok Dinda bisa seberuntung itu sih. Aku kan gak terima kalo aku kalah sama di Dinda Bu" Ucap Siska sambil menghentak-hentakkan kaki karena begitu kesal dengan Dinda yang selalu saja lebih baruntung dari dirinya.
Tante Indah kemudian menoyor kepala Siska, membuat Siska kesal karena tingkah Ibunya.
"Makanya kalo kamu mau seperti Dinda, yah kamu belajar kayak Dinda dong. Jangan kerjanya cuma malas-malasan aja. Ibu juga kan pusing punya anak tidak berguna kayak kamu" Ucap Tante Indah kemudian melangkah keluar kamar karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments