Teng... Teng... Teng...
Lonceng pun berbunyi tanda waktu pelajaran sudah berakhir.
Semua siswa kini mulai berhamburan keluar dari kelas dan bersiap-siap untuk kembali kerumah mereka masing-masing.
Juna yang tadinya sedang menggantikan hukuman Dinda akhirnya muncul dengan meregangkan tubuhnya yang kini mulai pegal karena hukuman dari Dewa.
"Sialan, awas kau Dewa" Ucap Juna kemudian duduk ditempat duduknya.
Rangga yang mendengar Juna yang mengumpat tak menghiraukannya lalu bergegas untuk bangkit karena jam pelajaran telah selesai.
Dinda menoleh kearah Juna yang baru saja datang setelah dirinya tadi menjadi pahlawan untuk menggantikan hukuman Dinda.
"Makasih yah Juna" Ucap Dinda dengan wajah yang berbinar-binar. Membuat Juna yang melihat wajah Dinda menjadi bugar kembali. Karena raut wajah Dinda yang mampu membangkitkan semangat Juna yang tadi sempat hilang karena Dewa.
"Iya Dinda, apa sih yang tidak buat kamu. Jangankan membersihkan toilet, mati untukmu aku pun rela" Ucap Juna, membuat Remon bereaksi karena gombalan mautnya.
"Uuuuuwweeekkkk" Ucap Remon sambil mempraktekkan gaya orang yang lagi muntah. Karena merasa geli dengan gombalan Juna.
Dinda yang melihat tingkah Remon mulai tertawa dengan tingkah kedua sahabatnya itu.
"Kuy. Pulang" Ajak Dinda yang sudah siap untuk pulang pada Juna yang sedang bersiap-siap merapikan buku-bukunya, lalu memasukkan buku itu kedalam tasnya.
"Yuk sayang" Ucap Juna lalu merangkul bahu Dinda. Membuat Dinda geleng-geleng kepala dengan sahabatnya itu yang selalu bertingkah seolah mereka sepasang kekasih.
Siapapun akan mengira jika mereka berdua memang pacaran karena kemesraan yang selalu Juna tunjukkan didepan orang lain, membuat siapapun akan salah sangka dengan mereka berdua. Tak terkecuali dengan Rangga yang kini sedang berada dipintu masuk sekolah menunggu ojek online yang dia pesan namun belum juga muncul padahal Rangga sudah lumayan lama menunggu ojek online pesanannya.
Rangga melihat Dinda dan Juna yang berjalan kearah pintu masuk sekolah sambil bercanda dan tertawa lepas, membuat Rangga mulai memperhatikan wajah cantik Dinda yang terus tertawa. Namun cepat-cepat Rangga memalingkan wajahnya kearah lain karena tak ingin jika orang yang dia pandang mengetahui perbuatannya.
Seseorang yang memakai jaket hijau berhenti tepat dihadapan Rangga. Rangga yang melihat orang itu kemudian menghampirinya karena dia adalah ojek online pesanan yang Rangga pesan melihat plat motor orang tersebut sama dengan yang tertera diaplikasi.
"Maaf dek lama menunggu, tadi saya ditabrak orang pas kesini. Jadinya agak lama karena saya membersihkan pakaian saya yang kena air tadi" Ucap ojek online itu sambil memperlihatkan luka goresan yang ada ditangannya pada Rangga.
"Hati-hati pak" Ucap Rangga yang kini sedang memakai helm yang tadi diberikan oleh ojek online itu.
"Iya dek makasi" Ucapnya lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Rangga kemudian bergegas untuk segera menuju ketempat tujuan mereka.
*
*
*
*
Saat Dinda tiba dirumah, kedatangannya telah ditunggu-tunggu sejak tadi oleh Tante Indah yang terlihat sangat marah ketika Dinda akan masuk kedalam rumah. Tepat disamping Tante Indah juga sudah ada Siska yang sepertinya sudah mengadukan perihal dirinya tadi sempat bertengkar dengan sahabatnya Sindi dan sudah dipastikan jika Siska mengatakan jika semua itu terjadi karena Dinda.
Belum sempat Dinda melepaskan sepatunya, Tante Indah sudah melemparkan sapu ijuk kearah wajah Dinda, namun syukurnya tak sampai mengenai Dinda karena lemparan Tante Indah yang meleset malah mengenai daun pintu.
Dinda terkejut karena lemparan sapu dari Tantenya, membuat dirinya spontan memegang dadanya yang kaget karena serangan tiba-tiba yang ia dapatkan dari Tante Indah.
"Kurang ajar ya kamu, gara-gara kamu Siska sampe kena teguran dari Pak Arga" Ucap Tante Indah berapi-api sedangkan Siska hanya tersenyum sinis kearah Dinda yang tidak berdaya jika telah mendapatkan teguran atau pun pukulan dari Ibunya.
"Udah Bu, pukul aja. Siska tuh jengkel lihat mukanya yang sok lugu itu" Ucap Siska yang begitu bersemangat ingin memberi pelajaran pada kakak sepupunya itu.
Namun Tante Indah hanya diam tak memperdulikan apa yang anaknya katakan.
"Bu, kenapa diam aja. Cepat kasi pelajaran sama si Dinda. Ibu kok malah bengong sih" Ucapnya lagi namun kekesalannya kini beralih pada Tante Indah yang hanya diam tidak menuruti perkataannya untuk memberi pelajaran pada Dinda.
"Ibu tidak bisa Siska, jika Ibu menyiksa Dinda lebih jauh lagi. Bisa-bisa tamat riwayat Ibu" Ucap Tante Indah menatap tajam pada Dinda yang kini duduk dilantai sambil menundukkan wajahnya karena tak berani untuk memandang wajah wanita yang berjasa dalam hidupnya.
"Kok bisa gitu Bu" Tanya Siska mulai penasaran dengan apa yang Ibunya katakan.
Flashback on.
Waktu menunjukkan pukul 11.00 siang. Membuat Tante Indah yang sedang tidak bekerja memutuskan untuk tidur siang karena dirinya juga sudah merasakan kantuk yang kini sudah melanda dirinya.
Tok... tok... tok...
Saat akan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang mengetuk pintu rumahnya.
"Aduh siapa sih, ganggu orang aja mau tidur siang" Omel Tante Indah namun tetap meneruskan tidurnya karena dia yang sudah sangat mengantuk dan ingin segera memejamkan matanya.
Tok... tok... tok...
Terdengar lagi oleh Tante Indah yang belum sepenuhnya tertidur, ketukan dari pintu rumahnya, namun ketukan itu terdengar jauh lebih keras dari sebelumnya. Membuat Tante Indah memutuskan untuk menemui siapa orang yang telah mengganggu tidur siangnya itu.
Segera Tante Indah menuju kepintu masuk kemudian membuka pintu usang yang tak pernah sekali pun ia ganti.
Saat membuka pintu Tante Indah melihat jika ada seorang pria yang berpakaian stelan jas hitam kemudian tersenyum kearahnya. Dibelakang pria itu sudah berdiri pria tua yang sangat Tante Indah kenali sosoknya yang tak lain adalah Kakek Gunawan.
Kakek berbalik saat mendengar pintu akhirnya dibuka kemudian tersenyum kearah Tante Indah yang muncul dibalik pintu.
"Maaf aku sudah menggangu tidur siangmu" Ucap Kakek tersenyum kearah Tante Indah yang terlihat bingung dengan kedatangannya.
Tante Indah membulatkan kedua matanya melihat majikannya berada tepat dirumah gubuk miliknya. Dengan terpaksa Tante Indah mempersilahkan Kakek untuk masuk walaupun sebenarnya ia sangat risih dengan rumahnya yang sangat berbeda jauh dengan rumah Kakek yang sangat mewah. Namun pikiran itu segera hilang digantikan dengan apa maksud kedatangan Kakek kerumahnya? Pasti Kakek ingin mengatakan hal serius, karena ia sampai susah-susah datang sendiri untuk menemui Tante Indah dirumahnya.
"Sama sekali tidak Tuan Besar, maaf rumah saya jelek sekali tidak sama dengan Rumah Tuan Besar" Ucap Tante Indah merasa sungkan dengan kedatangan Majikannya itu dirumahnya.
"Rumah yang jelek bisa direnovasi dan diperbaiki sehingga bisa terlihat bagus, namun hati yang jelek dan busuk itu sangat sulit untuk diperbaiki" Ucap Kakek kemudian melangkah masuk kedalam rumah Tante Indah.
Deg.
Tante Indah terkejut dengan perkataan Kakek yang seperti menyinggungnya, namun sama sekali ia tak memperdulikan ucapan darinya kemudian mengikuti langkah Kakek yang kini telah berada didalam rumahnya. Kemudian mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Kau pasti bertanya-tanya apa maksud kedatanganku kemari" Ucap Kakek yang kini mulai membicarakan maksud kedatangannya.
"Apakah ada yang perlu dibicarakan Tuan Besar? Kenapa repot-repot kemari, kan kita bisa bicara dirumah Tuan tanpa perlu susah-susah kerumah jelek ini"
"Aku ingin membicarakan tentang Dinda" Ucap Kakek to the point membuat Tante Indah kembali terkejut dengan apa yang Kakek katakan.
"Aku harap kau jangan pernah menyakiti Dinda lagi jika kau tak ingin masuk penjara. Kau mengerti?" Ancam Kakek sambil menatap tajam kearah Tante Indah yang mulai takut dengan ancaman dari Kakek.
"Mulai hari ini kalian akan tinggal dirumahku untuk berjaga-jaga jangan sampai kau terus saja menyakiti calon cucu menantuku" Ucapnya lagi
membuat Tante Indah terus saja terkejut dengan apa yang Kakek katakan.
Sejak tadi Tante Indah hanya diam dan mendengarkan perkataan dari Majikannya itu. Sangking takutnya dengan ancaman dari Kakek kini wajah Tante Indah sudah mulai terlihat pucat, bahkan sekujur tubuhnya mulai merasakan dingin.
"Kemasi barang-barangmu sekarang, aku akan menyuruh anak buahku untuk menjemput kalian" Ucap Kakek kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Namun saat akan melangkah keluar dari pintu masuk, langkah Kakek terhenti kemudian berbalik kearah Tante Indah yang masih diam terpaku ditempatnya.
"Kalian beruntung karena aku masih mengizinkan kalian tinggal dirumahku mengingat betapa jahatnya perlakuanmu pada Dinda. Padahal jika aku mau, aku bisa menyingkirkan kamu dan anakmu itu dari kehidupan Dinda. Bahkan aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi kalian jika memang itu perlu" Ucap Kakek kemudian melangkah kembali menuju ke mobil yang disana sudah berdiri supirnya yang telah siap membukakan pintu mobil untuknya.
Tante Indah masih tetap tidak bergeming sama sekali bahkan setelah kepergian Kakek. Terlihat tangan Tante Indah yang mengepal hingga memperlihatkan buku-buku jari tangannya.
Kini Tante Indah terpaksa harus mengikuti keinginan Kakek agar ia tak merasakan hidup sengsara didalam penjara.
Flashback off
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments