"Ya udah, kamu aja yang jadian sama kak Dewa" Ucap Dinda membuat Sindi tersenyum dengan dipaksakan kearah Dinda yang menatapnya.
"Iya, bener" Ucap Remon membenarkan apa yang Dinda katakan. "Biar saingan Juna berkurang satu orang" Dinda mengerutkan dahinya mendengar apa yang Remon katakan.
"Apaan sih Mon, kita itukan cuma sahabat"
"Sahabat to be teman dekat. Iya gak?" Ucap Remon pada Sindi.
"Iy...iya" Ucap Sindi membenarkan yang Remon katakan.
"Lagian kamu kok betah banget sih menjomblo padahal yang suka banyak banget. Aku saja sampai iri" Ucap Sindi sambil memberikan surat-surat yang hari ini Dinda dapatkan dari para penggemarnya.
"Ngomong-ngomong memangnya kalian pernah rasakan namanya jatuh cinta?" Tanya Dinda pada Sindi dan juga Remon, membuat keduanya saling menatap satu sama lain
"Jatuh kan sakit, tapi kok banyak yang senang kalo lagi jatuh cinta. Memangnya mereka gak takut sakit?" Tanya Dinda membuat Sindi dan Remon malah tertawa mendengar pertanyaan bodoh dari sahabatnya itu.
"Kok kalian ketawa terus sih, aku kan pengen tau" Ucap Dinda kesal karena melihat sahabatnya yang malah menertawainya.
"Kamu sih, Juara disekolah tapi gitu aja gak tau" Ucap Remon.
"Ya makanya aku bertanya sama kalian, biar aku tau jatuh cinta itu rasanya gimana?" Tanya Dinda lagi namun yang ditanya, namun yang tak lebih tau dari yang bertanya
"Nah kan, kalian juga gak bisa jawab" Ucap Dinda.
"Tapi kenapa kamu malah bertanya tentang hal itu?" Tanya Sindi mulai penasaran.
"Mungkin Dinda akan membuka hatinya untuk Juna" Ucap Remon membuat Dinda kemudian bangkit lalu memukul lengannya.
"Terus apa dong? kok tumben-tumbenan bertanya soal itu ke kita?" Kini giliran Remon yang bertanya.
Sebelum sempat menjawab pertanyaan dari Remon perut Dinda mengeluarkan suara yang nyaring membuat Dinda tersenyum lebar kearah para sahabatnya.
"Kita kekantin aja, mumpung Bu Intan hari ini gak masuk" Ucap Remon. "Tenang, kali ini aku yang bayarin Dinda" Ucap Remon membuat Sindi menjadi kesal.
"Kok yang ditraktir cuma Dinda, aku kok gak?" Ucap Sindi kesal.
"Males traktir kamu, yuk Dinda kita kekantin sekarang" Ucap Remon kemudian merangkul bahu Dinda meninggal Sindi yang kini semakin kesal.
"Tunggu woi" Ucap Sindi kemudian menyusul kedua sahabatnya yang lebih dulu meninggalkan dirinya.
"Eh lihat tu, itukan Dinda kelas X yang paling terkenal disekolah kita. Ngomong-ngomong dia sepupumu kan?" Tanya Chika teman sekelas Siska yang kini juga sedang berada dikantin.
"Emm..." Siska berdehem kemudian melihat sepupunya yang sedang tertawa bersama para sahabatnya.
"Kok beda Sis, Dinda cantiknya kemana-mana. Kalo kamu cantik karena polesan" Ucap Chika membuat Siska menatap tajam kearahnya.
"Bisa gak kamu makan aja, sebelum kuah bakso itu berpindah kekepala kamu" Ancam Siska membuat Chika bergidik ngeri kemudian melanjutkan kembali makannya.
Siska menatap Dinda dengan penuh kebencian, dan kebencian itu semakin bertambah saat Siska tau jika Dinda akan dijodohkan dengan Rangga. Orang yang selama ini Siska cintai.
Sindi yang melihat sepupu sahabatnya itu kemudian menunjukkan jari tengahnya kearah Siska yang sedang memandang kearahnya. Membuat Siska membulatkan kedua matanya sangking kesalnya dengan apa yang sahabat sepupunya itu lakukan.
Dinda memukul tangan Sindi lalu menyuruh sahabatnya itu kembali makan dan tidak usah mempedulikan Siska yang masih memandang kearah mereka.
"Aku tuh gemes kalo lihat sepupumu yang sok kecantikan itu" Ucap Sindi sambil sesekali menatap kearah Siska yang menatap dirinya.
"Udah biarin aja, gak usah di perdulikan" Ucap Dinda sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Kalo dia macam-macam sama kamu bilang aja, "biar aku kasi pelajaran sama anak itu.
"Iya Din, aku juga gak suka lihat sepupumu itu. Padahal dia bisa sekolah disini juga karena bantuan dari kamu. Dasar kacang lupa kulit" Ucap Remon mulai emosi melihat Sindi yang lebih dulu emosi karena terus ditatap oleh Siska.
"11 12 sama mamanya yang titisan Mak Lampir itu"
"Apaan sih udah deh kalian abisin aja makanan kalian abis itu kita kekelas"
"Iya, iya bawel" Ucap Sindi kemudian kembali fokus dengan makanannya.
"Aku mau bicara sama kamu" Ucap Siska pada Dinda yang kini berada dalam kelas.
"Ya udah ngomong aja" Ucap Dinda dengan ekspresi biasa saja melihat sepupunya itu sedang berada didalam kelasnya.
"Aku mau ngomongnya diluar, gak disini" Ucap Siska lagi, membuat Sindi yang berada disamping Dinda mulai emosi.
"Eh kamu itu mau kesekolah atau mangkal dilampu merah haa? Dih bedaknya 15 senti" Ucap Sindi sambil mencolek wajah Siska, membuat Siska menjadi marah karena tak terima dengan perkataan dari Sindi.
"Kamu apa? Kurus kering gak ada dagingnya. Ihh jijik deh kayak tengkorak berjalan" Balas Siska membuat Sindi naik pitam.
"Apa kamu bilang?" Ucap Sindi kemudian naik ke atas meja lalu menerjang Siska dan menjambak rambutnya.
Siska tak tinggal diam, dia pun membalas Sindi dengan menarik rambutnya kemudian membanting tubuh Sindi kelantai.
Siswa lain yang berada didalam kelas saat itu menyoraki mereka, ada pula yang sibuk mengabadikan aksi mereka kemudian menguploadnya di sosial media.
Dinda dan Remon yang awalnya panik kemudian berusaha memisahkan pertengkaran diantara keduanya. Namun sialnya Remon malam mendapat bogem mentah yang tepat mengenai wajahnya karena pukulan Siska yang mengenai dirinya.
Siswa lain yang menonton pertunjukan gratis itu tertawa melihat Remon yang kesakitan, sedangkan Dinda sendiri mulai kewalahan karena sulit memisahkan keduanya.
Sekuat tenaga Sindi menampar dan menendang tubuh Siska yang kini berada diatasnya. Dengan mudahnya Sindi membalikkan keadaan sehingga kini Siska yang berada dibawahnya. Dengan begitu bersemangat Sindi menghajar habis-habisan Siska yang sudah lancang menghina fisiknya.
Akhirnya setelah beberapa lama berusaha memisahkan Sindi dan Siska, Dinda akhirnya berhasil juga. Kini penampilan mereka berdua sudah acak acakan. Tiba-tiba Pak Arga yang merupakan guru penjaskes disekolah itu muncul setelah beberapa siswa yang melaporkan kejadian itu kepadanya.
Rangga yang sejak tadi juga sudah berada didalam kelas hanya memasang headseat ditelinganya lalu memutar lagu kesukaannya. Agar dia tidak merasa terganggu dengan perkelahian antara Sindi dan juga Siska.
"Ada apa ini anak-anak?" Ucap Pak Arga yang kini menghampiri mereka.
"Dia duluan pak yang menyerang saya" Ucap Siska membuat Sindi ingin kembali menghajarnya namun gagal karena ditahan oleh Dinda.
"Soalnya dia duluan yang menghina saya pak" Balas Sindi tak mau kalah.
"Tapi kamu yang duluan mukul aku" Jawab Siska lagi sambil memperlihatkan luka cakaran yang ada diwajahnya.
"Rasain siapa suruh, makanya mulut itu dijaga" Ucap Sindi membuat Siska kalah telak. Sehingga tak mampu berkata-kata lagi.
"Sudah-sudah kalian berdua sekarang ikut saya" Ucap Pak Arga.
"Tapi Pak, kan dia yang salah" Ucap Siska menunjuk kearah Sindi.
"Tidak ada tapi tapian. Sekarang ikut bapak kekantor" Ucap Pak Arga membuat Sindi dan Siska mau tidak mau mengikuti perintahnya karena mereka takut akan mendapatkan hukuman yang lebih berat jika terus berdebat dengan Pak Arga yang terkenal menakutkan itu.
"Kamu tidak papa?" Tanya Dinda pada Remon yang masih memegang pipinya yang tadi sempat terkena pukulan dari Siska.
"Iya aku gak papa, serem juga sepupumu itu Dinda. Tapi kamu gak pernah diperlakukan seperti itukan sama dia?"
"Gak pernah kok" Jawab Dinda, sejujurnya ia memang tak pernah mendapatkan pukulan dari Siska, namun dari tantenya hampir setiap hari.
Remon kemudian kembali duduk di tempat duduknya yang berada tepat didepan Rangga. Dinda yang melihat kearah Remon tak sengaja melihat Rangga yang sedang duduk sambil mendengarkan musik terlihat oleh Dinda headseat yang terpasang dikedua telinga Rangga.
"Rangga" Ucap Dinda namun dengan suara yang pelan. Namun tiba-tiba Rangga menoleh kearah Dinda membuat mereka saling bertatapan beberapa saat. Rangga menatap Dinda dengan ekspresi datarnya kemudian dengan santainya membuang muka karena tak ingin bertatap muka terlalu lama dengan Dinda.
Dinda terus menatap wajah Rangga yang membuat Jantungnya tiba-tiba berdegub
kencang karena terus memandang wajah Rangga. Dinda lalu memegang dadanya karena mulai merasa aneh.
"Ada apa denganku?" Gumam Dinda dalam hatinya. Namun mata Dinda seakan tak bisa lepas dari wajah Rangga yang sama sekali tak mempedulikan dirinya yang sedari tadi menatap kearahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments