Secepat mungkin Dinda membuatkan sarapan untuk wanita yang telah membesarkannya. Walaupun tergesa-gesa Dinda tetap berhati-hati agar tidak terkena omelan lagi dari Tantenya karena membuat kesalahan.
Tidak menunggu waktu lama, akhinya Dinda selesai juga dengan aktivitas memasaknya. Terlihat kini butiran-butiran bening menghiasi kening Dinda, dengan cepat Dinda lalu menghapus keringatnya itu menggunakan tangannya.
Gegas Dinda membawa makanan yang tadi ia masak kemudian menyajikannya diatas meja makan. Dinda tak ingin membuat Tantenya kembali marah karena menunggu terlalu lama.
Setelah selesai menyajikan makanan diatas meja, Dinda lalu menuju kekamarnya untuk mengambil handuk, lalu bergegas menuju kekamar mandi.
Melihat makanan telah tersaji rapi diatas meja, Tante Indah lalu duduk kemudian mulai menyuapi makanan kedalam mulutnya.
Tak berselang lama Dinda keluar dari kamar mandi menuju ke kamarnya, Tante Indah hanya tersenyum sinis melihat kemanakan satu-satunya sedang sibuk karena Dinda akan terlambat kesekolah.
Dinda lalu keluar dari dalam kamarnya lengkap dengan tas selempang yang menggantung dibahunya. Dinda bahkan tak memperdulikan lagi keberadaan Tante Indah yang sedang memperhatikan dirinya. Dinda berlalu begitu saja, bahkan ia tak sempat lagi untuk berpamitan pada Tantenya sangking terburu-burunya.
Dinda berjalan bahkan mungkin berlari menuju keperempatan jalan, tempat biasanya dia menunggu angkutan umum. Namun sialnya hari ini adalah hari yang kurang baik bagi Dinda. Karena sejak tadi dia menunggu namun tak satu pun angkot yang melintas dihadapannya.
Setelah hampir 30 menit menunggu akhirnya yang ditunggu datang juga. Gegas Dinda naik keatas angkot dengan perasaan was-was karena jalanan yang mulai macet, Dinda kini hanya bisa berharap dalam hatinya semoga saja hari ini guru akan sedikit mengulur waktu untuk masuk ke kelas sehingga ia masih sempat untuk mengikuti pelajaran.
Sesampainya didepan pintu masuk, Dinda hanya bisa menghela nafas Kasar melihat pintu masuk telah ditutup, menandakan jika pelajaran telah dimulai.
Bersamaan dengan itu, Dinda melihat Rangga yang ternyata juga terlambat berlari dengan nafas yang ngos-ngosan. Rangga berusaha untuk masuk, namun usahanya nihil karena pintu masuk telah dikunci oleh pak satpam.
Dinda menatap wajah Rangga yang mulai berkeringat karena berlari, membuat seragam Rangga yang dia pakai sedikit basah karena terkena keringatnya sendiri.
Kembali Dinda mengingat perjanjiannya dengan Kakek waktu itu. Membuat pikirannya mulai frustasi dan memukul-mukul sendiri kepalanya.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Rangga yang melihat tingkah Dinda, membuatnya terkejut karena Rangga yang tiba-tiba saja menengurnya.
Dinda menghentikan aktivitasnya membuat tangannya mengantung diudara, dan secepat mungkin ia menurunkan tangannya kembali kemudian menggigit kedua bibirnya karena merasa malu sebab Rangga yang menegurnya.
Mata Rangga menatap tajam kearah Dinda yang mulai salah tingkah. "Kau tidak dengar atau telingamu sudah budek, aku bilang apa yang kau lakukan?" Ucap Rangga lagi membuat Dinda kini menjadi takut karena tatapan tajam dari Rangga.
"Aku, aku..." Jawab Dinda mulai terbata-bata, sejujurnya dia sendiri pun bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan Rangga tadi.
"Dinda" Panggil seseorang yang berjalan kearah pintu masuk sekolah.
"Kak Dewa" Jawab Dinda tersenyum kearah Dewa yang berjalan kearahnya.
"Kenapa bisa terlambat?" Tanya Dewa sambil memperhatikan Rangga yang berdiri disamping Dinda dengan ekspresi datar diwajahnya.
"Maaf kak Dinda bangunnya telat, jalanan juga macet tadi. Maaf ya kak" Jawab Dinda menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Ya sudah tidak papa, tapi kamu akan tetap mendapatkan hukuman sesuai aturan disekolah ini Dinda" Ucap Dewa yang membuat Dinda mulai khawatir, ntah hukuman apa yang akan diberikan oleh Dewa kepadanya.
"Kamu" Ucap Dewa sambil memanggil Rangga dengan tangannya mengisyaratkan agar dirinya mendekat.
"Kamu anak baru kan disekolah ini?" Tanya Dewa menatap wajah Rangga yang sedari tadi hanya diam mematung.
"Siapa nama kamu?" Tanya Dewa lagi kini dengan intonasi yang lebih tinggi.
"Rangga" Jawab Rangga singkat tanpa ekspresi diwajahnya.
"Kenapa kamu terlambat?"
"Karena macet" Jawab Rangga lagi tanpa banyak basa basi, Membuat Dewa mengerutkan dahinya melihat tingkah Rangga yang sangat irit bicara.
"Kalian berdua tetap akan mendapatkan hukuman, dan hukumannya yaitu kalian harus membersihkan toilet sekolah sampai benar-benar bersih. Kalian mengerti?" Ucap Dewa memberi intruksi kepada Dinda dan Rangga lalu dijawab anggukan kepala oleh keduanya.
"Sekarang kalian cepat bersihkan toilet, kalian boleh berhenti setelah lonceng istirahat berbunyi" Tambah Dewa sambil mengangkat tangannya menunjuk kearah toilet sekolah.
"Baik kak" Jawab Dinda sedangkan Rangga hanya diam tak mengatakan apapun, kemudian berlalu pergi menuju ketoilet diikuti Dinda yang berada dibelakangnya.
Sedangkan di dalam kelas Juna terus memperhatikan Sindi yang sibuk mengumpulkan surat-surat dan berbagai macam coklat yang berada diatas meja Dinda.
Setiap hari Sindi akan mengumpulkan surat-surat maupun hadiah yang dikiriman oleh para penggemar Dinda. Sindi terkadang iri kepada sahabatnya itu karena bahkan hampir 1 sekolah menyukainya, tapi tak ada satu pun yang membuat Dinda jatuh hati.
Jangankan jatuh hati masih mending jika Dinda mau untuk membaca atau pun membalas surat dari penggemarnya itu, tapi kenyataannya surat yang Dinda terima hanya akan dibuang ke tong sampah. Sedangkan Sindi sendiri bahkan sepucuk suratpun tak pernah ia terima dari siapapun. Padahal mendapatkan surat cinta dari seseorang itu kan sangat menyenangkan, pikir Sindi dalam benaknya.
"Dari Rimba untuk Dinda tersayang" Ucap Sindi membaca siapa pengirim surat yang sedang ia pegang.
"Rimba anak kelas sebelah kan, yang kalo ngomong latah gitu?" Tanya Juna yang mendengar nama pengirim surat yang sedang Sindi pegang.
"Iya Jun, kayaknya yang itu lagian disekolah ini yang namanya Rimba kan cuma dia" Ucap Dinda mengambil lagi surat yang ada diatas meja Dinda.
"Pasti nama lengkapnya hutan rimba. Ha ha ha" Balas Juna sambil tertawa, membuat Sindi juga ikut tertawa.
"Nah yang itu dari siapa Sin?" Tanya Juna menunjuk kesurat yang Sindi pegang.
"Dari Miko Jun, ini sih kakak senior kita teman kelasnya kak Dewa" Ucap Sindi membuat ekspresi wajah Juna berubah karena Sindi yang menyebut nama orang yang sangat ia tidak sukai disekolah tempat ia belajar.
"Bisa gak sih jangan sebut nama orang itu lagi, bikin hilang moodku saja" Ucap Juna kini dengan ekspresi kesal diwajahnya.
"Aku heran surat segini banyak gak ada habis-habisnya tiap hari, ada aja yang ngirim surat dan coklat buat Dinda. Tapi kenapa Dinda tidak pernah sekalipun ya mau pacaran padahal yang naksir ama dia, behhhh satu sekolahan mungkin" Ucap sindi kemudian mengumpulkan surat-surat yang dikirim untuk sahabatnya itu.
"Kalo coklatnya biar buat aku saja, Dinda juga gak suka makan coklat" Ucapnya lagi membuat Juna dan Remon yang sejak tadi hanya diam menggeleng-gelengkan kepala karena tingkah Sindi.
"Kamu mau juga gak, mumpung coklatnya banyak" Tawar Dinda pada Remon dan Juga juna.
"Gak, kamu aja yang habisin dasar rakus" Balas Remon, membuat Sindi marah kemudian menarik rambut Remon yang sedang fokus mengerjakan tugas.
Remon meringis kesakitan karena Sindi yang terus saja menarik rambutnya.
Sekuat tenaga Remon berusaha untuk melepaskan cengkraman dari Sindi, namun usahanya itu sia-sia saja, karena Sindi menarik rambutnya begitu kuat sehingga membuat dirinya sulit untuk melepaskan cengkraman dari Sindi.
Sindi akhirnya melepaskan rambut Remon karena seperti melihat Dinda lewat didepan kelas mereka.
Sindi kemudian berjalan kearah pintu masuk dan melihat jika Dinda dan Rangga sedang berjalan menuju kearah toilet.
Sindi lalu bergegas masuk kembali kedalam kelas menuju kearah Juna dan Remon yang sedang duduk ditempat duduk mereka masing-masing.
"Jun, Mon, aku lihat Dinda sama Rangga" Ucap Sindi dengan ekspresi serius diwajahnya, terlihat pula Remon yang masih memperbaiki rambutnya setelah tadi ditarik paksa oleh Sindi.
"Mungkin kamu salah lihat" Balas Juna.
"Beneran Jun, kalo gak percaya liat aja sendiri" Ucap Sindi menunjuk kearah pintu masuk bermaksud untuk menyuruh Juna untuk keluar dari kelas kemudian menuju ketoilet untuk membuktikan kebenaran dari perkataannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments