"Rangga" Panggil Dinda yang kini sedang berada dialam mimpinya. Melihat Rangga yang sedang berada dipadang rumput yang luas, memakai baju serba putih dengan mahkota putih ditangannya, lalu memberikan 1 tangannya untuk Dinda Raih. "Tunggu aku Rangga" Ucap Dinda sambil berlari, ingin menghampiri Rangga namun Dinda bingung mengapa Rangga seperti sangat sulit untuk diraih.
Semakin Dinda mendekat malah membuat Dinda semakin sulit meraih tangan Rangga yang terus menunggunya.
Dinda berlari sekuat tenaga, namun Rangga semakin menjauh dari dirinya. Membuat Dinda merasa mulai lelah karena terus berlari.
Sejenak Dinda menghentikan langkahnya sambil memegang kedua lututnya yang kini mulai letih, namun saat Dinda mengangkat wajahnya Rangga telah hilang, Rangga menghilang dari pandangan Dinda, membuat Dinda kebingungan, memandang kesegala arah namun Dinda tak melihat keberadaan Rangga.
Karena begitu lelah, akhirnya Dinda duduk lalu berbaring diatas rerumputan hijau, sejenak untuk menghilangkan rasa Lelahnya karena terus berlari.
Dinda memejamkan kedua matanya, lalu merasakan tiupan angin yang kini menerpa wajahnya, membuat lelahnya kini perlahan-lahan mulai hilang.
Dinda mengerutkan keningnya karena merasakan sentuhan tangan dari seseorang yang sedang membelai rambutnya. Dinda Lalu membuka kedua matanya, dan melihat jika ada seorang wanita cantik berpakaian putih dengan kain putih panjang yang menutupi kepalanya. Wanita itu lalu tersenyum melihat Dinda yang juga melihat kearahnya dengan tatapan yang memperlihatkan jika ia seakan bertanya siapakah wanita yang ada dihadapannya.
"Anakku" Ucap wanita itu sambil tersenyum, kemudian memegang wajah Dinda dengan kedua tangannya.
Dinda yang mendengar perkataan yang keluar dari mulut wanita cantik itu sontak menjadi kaget. Dinda berpikir apakah benar wanita yang kini ada dihadapannya adalah ibunya yang selama ini sangat ia rindukan kasih sayangnya.
"Ibu?" Tanya Dinda sambil memegang tangan wanita yang kini mengaku sebagai Ibunya. "Ibu beneran Ibu Dinda?" Tanya Dinda lagi ingin memastikan jika wanita itu benar adalah Ibunya.
"Benar nak, aku adalah Ibu yang melahirkan mu" Jawab wanita itu kemudian memeluk Dinda, dan dibalas juga dengan pelukan yang begitu erat dari Dinda.
Dinda merasakan begitu hangatnya pelukan dari seorang Ibu. Sampai-sampai Dinda yang berada didunia nyata mengeluarkan air mata karena sangking bahagianya bisa bertemu dengan Ibunya, walaupun itu hanya dalam mimpi.
"Ibu, kumohon bawa aku bersamamu, Ibu datang pasti ingin menjemput Dinda kan?" Tanya Dinda dengan tatapan penuh harap pada wanita yang kini ia anggap sebagai Ibunya.
Wanita itu menatap mata Dinda, menatapnya dalam-dalam kemudian menjawab pertanyaan Dinda dengan gelengan kepala, menandakan jika ia menemui Dinda bukan karena ingin menjemputnya.
Dinda menjadi sedih karena wanita yang ia anggap sebagai Ibunya itu ternyata tidak datang untuk menjemputnya.
"Semoga kau bahagia nak, raihlah kebahagiaanmu itu. Berbahagialah" Ucap wanita itu sambil tersenyum kearah Dinda. Kemudian berdiri meninggalkan Dinda yang terus saja memandang kearahnya, sambil melambai-lambaikan tangannya.
Byuuuuuurrr....
Dinda terbangun karena kaget mendapat siraman air dingin dari Tantenya. Kini Tante Indah berada dihadapan Dinda sambil bertolak pinggang dengan ciri khas riasan wajahnya yang mencolok, kemudian memandang Dinda dengan mata yang melotot sambil memegang gayung air ditangannya.
"Ehh anak sialan, kenapa jam segini kamu belum bangun, sarapan mana, kenapa meja masih kosong?" Tanya Tante Indah dengan pertanyaan bertubi-tubi, Dinda hanya mengusap wajahnya untuk menghapus sisa air yang masih ada. Dinda masih belum mendapatkan kesadaran sepenuhnya sehingga ia belum menjawab pertanyaan dari Tante Indah.
"Kenapa diam saja, sarapannya mana? Tanya Tante Indah lagi sambil memukul kepala Dinda menggunakan gayung air.
"Auuu sakit Tante" Jawab Dinda merasa kesakitan karena pukulan dari Tantenya.
"Cepat siapkan sarapan untukku dan Siska, baru kau boleh kesekolah. Cepetan" Ucap Tante Indah kemudian menarik tubuh Dinda kasar dari tempat tidur.
Juna yang sejak tadi menunggu Dinda kini mulai merasa cemas, karena Dinda tak kunjung menampakkan dirinya padahal jam pelajaran sekolah akan segera dimulai.
Awalnya Juna ingin menyusul Dinda kerumahnya untuk memastikan keadaan Dinda, namun tiba-tiba angkutan umum sudah berhenti tepat didepannya, selain itu Juna berpikir waktunya sangat sempit jika ia harus kerumah Dinda, alhasil akhirnya Juna memutuskan untuk naik saja ke atas angkot.
"Ehh, kamu adek yang kemarin gombalin pacarnya di atas angkot Bapak kan?" Ucap Pak Supir yang melihat Juna adalah siswa yang sama yang kemarin menaiki angkotnya.
"Ah bapak salah orang mungkin" Jawab Juna berusaha mengelak, namun Juna juga sadar jika angkot yang dia naiki sekarang adalah angkot yang kemarin ia naiki bersama Dinda.
"Ah nggak dek, Bapak ingat betul muka kamu, kalo bapak tidak salah nama pacar kamu itu Dinda kan" Ucap Pak Supir berusaha meyakinkan Juna jika dia benar-benar tidak salah orang.
Juna menggaruk pipinya yang tidak gatal kemudian tersenyum kikuk kearah Pak Supir yang sedang fokus menyetir.
"Pacarnya kemana dek, kok gak naik angkot bareng, lagi berantem ya?" Ucap Pak Supir sambil Melirik kearah Juna yang sedang duduk tepat di samping.
"Dia bukan pacar saya pak" Jawab Juna memberitahu yang sebenarnya. "Ehh belum maksud saya pak, iya belum" sambung Juna sambil nyengir membuat Pak Supir geleng-geleng kepala karena tingkah darinya.
"Ajarin Bapak gombal cewek dong" Pinta Pak Supir sambil melihat kearah Juna yang diam saja sambil menatap kedepan memperhatikan kendaraan lain yang dia lewati.
Juna lalu menoleh kearah Pak Supir. " Memangnya bapak belum punya istri?"
Pak Supir tertawa mendengar pertanyaan dari Juna. "Yang mau sama Bapak gak ada dek, kerjaan Bapak cuma jadi tukang supir angkot begini" Ucapnya kemudian menghela napas kasar. "Apalagi sekarang semua serba canggih, penumpang bapak jadi makin sedikit karena mereka sekarang pakai aplikasi yang bisa antar jemput itu" sambungnya menunjuk papan baliho yang sempat mereka lewati.
Juna yang mendengar apa yang Pak Supir katakan hanya tersenyum simpul. "Sabar pak, semua orang pasti ada aja rejekinya" Ucap Juna memberi semangat kepada Pak Supir.
"Iya dek, Bapak juga berpikiran sama seperti kamu. Makanya bapak tetap setia jadi supir angkot, walaupun penghasilan Bapak berkurang tapi yah cukup untuk dipakai makan, bapak sudah sangat bersyukur"
"Nah kita sudah sampai dek" Ucap Pak Supir sambil memberhentikan angkotnya didepan pintu masuk sekolah.
Juna tak menyadari jika ternyata dirinya telah sampai sangking asyiknya mendengarkan cerita dari Pak Supir.
Gegas Juna lalu turun dari angkot kemudian memberikan selembar uang pada Pak Supir. Tapi wajah Pak Supir langsung berubah terkejut melihat uang yang diberikan oleh Juna.
"Dek uangnya terlalu besar, memangnya gak ada uang kecilnya dek, Bapak gak ada kembaliannya nih" Ucap Pak Supir ingin memberikan lagi selembar uang kertas berwarna merah itu kepada Juna.
"Gak ada pak uangnya cuma ada itu" Jawab Juna sambil menunjuk uang yang ada ditangan Pak Supir.
"Ya sudah uangnya kamu ambil aja" Ucap Pak Supir kemudian memberikan kembali uang yang tadi Juna berikan kepadanya lagi, tapi Juna malah menolaknya.
"Bapak ambil aja" Ucap Juna menolak kembali uang yang akan Pak Supir berikan kepadanya. Membuat wajah Pak Supir seketika itu juga berubah menjadi sangat senang.
"Beneran dek ini kembaliannya masih banyak banget loh, nanti kamu gak bisa jajan disekolah" Ucap Pak Supir ingin memastikan kembali jika Juna sedang tidak bercanda.
"Ambil aja Pak" Ucap Juna kemudian segera menuju ke pintu masuk sekolah karena lonceng telah berbunyi menandakan pelajaran akan segera dimulai.
"Makasih ya dek" Ucap Pak Supir sambil melambaikan tangannya yang sedang memegang uang yang tadi Juna berikan.
Juna berbalik kemudian mengangkat jempolnya, setelah itu ia kemudian melanjutkan langkahnya masuk kemudian menuju ke dalam kelas.
Saat masuk kedalam kelas Juna melihat tempat duduk Dinda masih kosong itu berarti jika Dinda belum datang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments