BAB 7 KEBIMBANGAN DINDA

Dinda melangkah keluar dari rungan kerja Kakek, dengan pikirannya yang terus saja memikirkan tentang kerjasamanya, yang beberapa saat tadi ia sepakati bersama Kakek.

Setelah lama berpikir Dinda kemudian mengingat perkataan Kakek tadi "Jika Rangga adalah cucu Kakek, mengapa dia tak pernah melihat dia berada dirumah ini?" Gumam Dinda dalam hati. "Sudahlah, aku harus segera mencari Tante Indah, sekarang dia pasti sangat membutuhkanku"

Baru beberapa langkah Dinda berjalan, lengannya tiba-tiba saja ditarik paksa oleh Tante Indah menuju kesebuah gudang yang terletak dibagian belakang rumah mewah milik keluarga Gunawan.

Setelah sampai didalam gudang, Tante Indah kemudian melempar tubuh Dinda hingga terjerembap kelantai. Membuat Dinda mulai meringis kesakitan karena perlakuan kasar Tantenya.

Tante Indah terlihat sangat marah karena mengetahui jika Dinda akan di nikahkan dengan Rangga yang merupakan pewaris tunggal keluarga Gunawan.

Karena hal itu juga, kini rahasianya telah diketahui oleh Kakek dan membuat dirinya menjadi semakin membenci Dinda.

"Kamu pikir kamu bisa menjadi menantu dikeluarga ini, tidak Dinda, yang bisa menjadi menantu keluarga Gunawan hanya Siska bukan kamu" Ucap Tante Indah sambil menoyor kepala Dinda. "Bagaimanapun caranya kau harus menjadikan Siska sebagai menantu dikeluarga ini, jika tidak aku akan menyiksamu hingga mati" Ucap Tante Indah sambil menjambak rambut milik Dinda, yang membuat dirinya meringis kesakitan karena hal itu.

Dinda hanya menangis melihat Tantenya yang begitu marah, seakan ingin melenyapkan dirinya, yang dia anggap sebagai penghalang untuk Siska menjadi bagian keluarga Gunawan.

"Jawab aku anak kurang ajar, kenapa kau diam saja, dasar cengeng"

"Memangnya kau pikir kau itu sudah lebih baik dari Siska, sehingga kau berharap ingin merebut posisinya. Jangan bermimpi" Ucap Tante Indah memegang wajah Dinda dengan sangat kasar. Menambah penderitaan yang kini Dinda rasakan.

Dinda hanya diam, kini pikirannya mulai bercabang-cabang. Ntah yang mana yang harus ia turuti, apakah permintaan Kakek, atau keinginan Tantenya. Keduanya memiliki posisi yang sangat penting dalam hidup Dinda.

Dinda merasa berhutang budi kepada Tantenya yang telah membesarkannya sampai sekarang.sedangkan kepada Kakek, Dinda merasa seperti dianggap cucu olehnya. Bahkan Kakek menyekolahkannya disekolah yang sampai kapanpun mungkin tidak akan bisa ia rasakan, mengingat dirinya hanya dari kalangan orang yang tidak berada. Sehingga Dinda ingin membalas kebaikan-kebaikan Kakek dengan berusaha mewujudkan permintaanya.

"Kenapa diam saja, ayo jawab aku" Ucap Tante Indah sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dinda. "Atau kau akan menuruti perkataan Kakek Tua itu haaa? Jawab aku Dinda, jangan diam saja" Ucapnya kemudian memukuli tubuh Dinda yang sedari tadi hanya diam, tak menjawab pertanyaannya membuat dirinya semakin marah.

Karena Dinda yang terus saja diam, akhirnya Tante Indah menghentikan aktifitasnya yang sedari tadi memukuli tubuh Dinda, lalu meninggalkannya pergi begitu saja. Tak mempedulikan lagi keadaan Dinda setelah apa yang dia lakukan kepadanya.

Hampir setiap hari Dinda merasakan sakit disekujur tubuhnya, karena hampir setiap hari juga Dinda harus menerima perlakuan kasar dari Tantenya.

Air matanya terus mengalir, seketika itu juga. Dinda kemudian mengingat ibu yang tak pernah ia rasakan kehangatan kasih sayangnya, karena sebelum sempat merasakan kasih sayang dari seorang ibu, ibunya lebih dulu pergi meninggalkannya, karena kasih sayang yang lebih besar dari sang maha pencipta.

"Ibu, Ibu" Dinda menangis sambil memanggil-manggil nama Ibunya.

"I... Ibu, kenapa kau tak membawaku saja bersamamu" Ucap Dinda sesenggukan. "Aku ingin mati saja bu, aku sudah tidak kuat lagi, kumohon bawa aku bersamamu"

"Ibuuuuuuuu"

***

Malam harinya, Dinda lagi lagi tak mendapat jatah makan malam, sebab Tantenya tak mengizinkan dirinya untuk ikut makan bersamanya, setelah ia begitu lelah menyiapkankan makan malam untuk mereka semua. Namun, saat akan menyendokkan nasi kedalam mulutnya, dengan sekali hempasan nasi yang ada dalam piring, kini berpindah tempat kelantai karena perbuatan Tantenya.

Dinda kembali menangis, selain karena perlakuan kasar Tantenya, ia juga sudah sangat lapar karena terakhir ia makan saat waktu disekolah tadi, itupun hanya sepotong roti dan sebotol air mineral yang diberikan oleh para sahabatnya.

Butiran-butiran nasi yang tadi berada dipiring kini mulai berhamburan dilantai, Dinda yang melihat nasi dilantai hanya bisa menelan salivanya karena merasa sangat kelaparan. Ia ingin mengambil nasi yang berada dilantai, namun sepertinya itu tidak mungkin. Kini Dinda hanya bisa meratapi nasibnya yang sejak kemarin malam harus terus merasa kelaparan karena amarah Tantenya.

"Siapa yang menyuruhmu untuk makan" Ucap Tante Indah sambil memukul meja, membuat Dinda yang sedang melihat nasi yang berhamburan dilantai menjadi terkejut.

"Dinda lapar Tante" Jawab Dinda sedikit ketakutan melihat kemarahan diwajah Tantenya. Sedangkan Siska hanya diam sibuk menyuapi nasi kedalam mulut. Tak memperdulikan apa yang terjadi antara Dinda dan Ibunya.

"Tidak bisa, kamu tidak boleh makan. Kalo kamu mau makan, seperti apa yang tadi Tante bilang, kamu harus menuruti perkataan Tante" Ucap Tante Indah begitu sinis, membuat Dinda menghela nafas kasar karena perlakuan Tantenya. "Kalo tidak, ya sudah kamu tidak usah makan, biar kamu mati aja sekalian, lebih bagus malahan" Ucapnya Lagi sambil tersenyum sinis melihat wajah putus asa Dinda.

Karena tak bisa makan, sebab makanannya telah dihancurnya oleh Tantenya, Dinda akhirnya memutuskan kembali ke kamar, dengan langkah yang sedikit lemas karena sejak tadi ia belum mengisi perutnya.

Sesampainya dikamar dengan penerangan seadanya, karena memang dirumah Tantenya tak ada saluran listrik. Dinda samar-samar melihat kantong besar yang tadi Dewa berikan kepadanya, Dinda kini memgingat jika tadi Dewa sempat memberikan sekantong penuh makanan untuk dirinya.

Dinda kemudian menghampiri kantong yang berada diatas tempat tidur lalu membukanya. Seketika itu juga wajah Dinda merasa sedikit bahagia karena apa yang dia inginkan berada tepat ditangannya. Didalam kantong yang tadi Dewa bawa ternyata ada banyak makanan. Dinda lalu mengambil beberapa bungkus roti dan susu kotak untuk dia makan.

Dinda memakan Roti itu dengan air mata yang terus mengalir dikedua pipinya.

"Sampai kapan aku akan seperti ini? Apakah aku ditakdirkan untuk selalu begini? Keberuntungan, aku harap kau segera datang dihidupku" Pinta Dinda dalam doanya sambil terus menyuapi makanan kedalam mulutnya.

"Atau aku terima saja tawaran dari Kakek" Dinda mulai mengingat-ngingat tawaran yang tadi Kakek berikan kepadanya. "Bukankah aku hanya perlu untuk mencintai Rangga" Dinda kembali mengingat waktu tadi saat Rangga masuk kedalam kelas membuat mata Dinda tak bisa lepas dari Rangga.

"Tidak, tidak, tidak" Ucap Dinda sambil memukul kepalanya merasa bodoh dengan pemikirannya sendiri. "Tapi aku tidak tau apa itu cinta, jika aku harus jatuh cinta kepada Rangga, apa yang harus aku lakukan untuk membuat dia juga jatuh cinta kepadaku, ohhh Kakek, kau membuatku sekarang semakin pusing" Ucapnya kini mulai frustasi.

"Mungkin aku hanya perlu mencintainya karena uang yang akan Kakek berikan kepadaku, benar aku harus menuruti permintaan Kakek, jika terus berada ditempat ini bisa-bisa aku mungkin benar-benar akan mati karena setiap hari harus kelaparan. Tapi jika aku pergi dari rumah ini, dimana aku akan tinggal..akkhhh" Ucapnya kini mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Setelah mengisi perutnya dan kini mulai merasa kenyang, Dinda akhirnya memutuskan untuk mengerjakan beberapa tugas yang diberikan oleh guru. Setelah itu dia kemudian kembali ketempat tidurnya, berbaring lalu tak berapa lama akhinya ia pun mulai terlelap, melupakan sejenak keluh kesah yang kini mendera hidupnya, kemudian digantikan dengan mimpi yang yang kini sedang Dinda alami dalam tidurnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!