Namun tak lama kemudian suara tangisan itu akhirnya menghilang. Lalu digantikan dengan suara langkah seseorang yang sedang berjalan menuju kearah pintu.
Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka, kemudian keluar sosok yang sangat Dinda kenal, yaitu Kakek Gunawan dan Tante Indah. "Tapi apa yang sedang mereka lakukan?" Gumam Dinda dalam hati.
Kening Dinda berkerut, dengan ekspresi wajah yang kini mulai bingung karena melihat Kakek Gunawan dan Tantenya sedang berduaan didalam ruangan yang sama, tapi mata Dinda kemudian terfokus pada Tantenya, karena dia melihat jika masih ada sisa jejak air mata diwajahnya. Membuat Dinda kini mulai menduga-duga apa yang sebenarnya Kakek Gunawan dan Tantenya bicarakan, hingga membuat Tantenya sampai menangis.
"Dinda" Ucap Kakek yang melihat Dinda yang sedang berdiri didepan pintu, membuat Tante Indah yang berada dibelakang Kakek menatap tajam kearah Dinda, melihat Dinda dengan penuh kebencian.
"Kakek" Jawab Dinda kemudian mencium tangannya.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Tante Indah melihat dengan tatapan sinisnya, terlihat jika dia sangat tidak suka Dinda berada ditempat yang sama dengan dirinya.
"Aku dari tadi mencari Tante" Jawab Dinda sedikit takut.
"Dinda ayo ikut Kakek, ada yang ingin Kakek bicarakan denganmu"
Mendengar apa yang Kakek katakan, membuat Dinda merasa takut jika Tantenya akan marah. Saat mendengar perkataan Kakek, dia terus saja melihat kearah Tantenya yang terlihat tidak suka jika dirinya terlalu dekat dengan Kakek Gunawan.
"Tidak papa, Tantemu tidak akan marah" Ucap Kakek lagi mengetahui kekhawatiran Dinda mengenai Tantenya. "Kau tidak akan marah kan jika aku mengajak Dinda berbicara sebentar" Tanya Kakek, kini menoleh kearah Tante Indah yang sedari tadi hanya diam.
"Iya, tentu saja boleh Tuan Besar"Jawab Tante Indah Spontan. Dirinya tak ingin lagi terlalu lama berinteraksi dengan Kakek. Itu membuat dirinya sangat tak nyaman.
"Ayo Dinda ikut Kakek" Panggil Kakek sambil memegang pundak Dinda untuk ikut bersamanya.
Melihat Dinda dan Kakek Gunawan semakin akrab, membuat Tante Indah sangat tidak suka.
Kedua matanya terus memandang kepergian Dinda yang kemudian hilang dibalik tembok.
Kakek lalu membawa Dinda masuk kedalam ruangan kerjanya. Kakek sengaja membawa Dinda kesana, agar Dinda bisa merasa lebih nyaman dan lebih leluasa berbicara dengannya.
"Duduklah nak" Pinta Kakek menyuruh Dinda duduk tepat dihadapan meja kerjanya.
"Dinda" Panggil Kakek yang melihat Dinda yang sejak tadi hanya diam sambil menundukkan kepalanya kebawah.
"Iya Kakek" Jawab Dinda, tak berani menoleh kearah Kakek yang sedang memanggilnya.
"Aku ada satu permintaan padamu, Kakek berharap kamu mau mengabulkan permintaan Kakek"
Mendengar nada suara Kakek yang mulai terdengar serius Dinda mulai mengangkat wajahnya perlahan-lahan kemudian memandang wajah Kakek yang berada dihadapannya.
"Permintaan apa itu Kek? Tanya Dinda mulai bersuara. "Dinda akan berusaha mengabulkan permintaan Kakek jika memang Dinda sanggup untuk melakukannya. Asalkan Kakek tidak menyuruhku untuk mencuri atau berbuat jahat sama orang lain" Ucap Dinda sambil tersenyum kearah Kakek yang ikut tersenyum mendengar perkataannya.
"Aku ingin bekerja sama denganmu untuk mencuri" Ucap Kakek kemudian tersenyum kearah Dinda yang sepertinya kaget namun masih terlihat tenang, tapi terlihat diwajahnya, jika Dinda seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tapi, mencuri apa Kek? bukankah Kakek sudah memiliki segala-galanya" Tanya Dinda kini mulai penasaran dengan perkataan Kakek kepadanya.
"Benar, Kakek bukan menyuruhmu untuk mencuri harta seseorang, tapi aku ingin kau mencuri hati seseorang" Ucap Kakek disusul dengan tawanya yang kini mulai terdengar melihat ekspresi kaget diwajah Dinda yang terlihat sangat lucu baginya. "Aku ingin kau menikah dengan cucuku Dinda" Ucap Kakek Lagi, yang spontan saja membuat Dinda membelalakkan mata sangking kagetnya.
"Apa?" Jawab Dinda dengan ekspresi kaget diwajahnya. "It...itu... tidak mungkin Kek, itu tidak mungkin. Bagaimana bisa aku menikah dengan cucu Kakek, sedangkan aku sekalipun tak pernah melihatnya"
"Bahkan kau mengenalnya Dinda, kau pernah melihat cucuku" Jawab Kakek memberi tahu Dinda yang kini benar-benar penasaran tentang siapa cucunya. "Namanya Rangga, Rangga Aditama Guna"
Untuk kedua kalinya Dinda kaget mendengar apa yang Kakek Gunawan katakan. "Apa? Beneran Kek? Rangga, Rangga, tunggu, tunggu" Dinda menghentikan perkataannya lalu mulai berpikir. "Emm... oh, yang murid baru dikelas Dinda Kek, dia beneran cucu Kakek?" Tanya Dinda lagi, setelah mengetahui Rangga yang sebenarnya Kakek maksud.
"Iya benar, Rangga cucu Kakek, Jangan salah, Kakek juga dulu setampan Rangga waktu Kakek masih muda dulu" Ucap Kakek mulai melucu membuat Dinda sedikit tertawa karena perkataan Kakek. "Bagaimana, apakah kau menerima tawaran Kakek?" Tanya Kakek lagi yang kini membuat tawa Dinda seketika itu juga menghilang dan berganti ekspresi datar diwajahnya.
"Tapi Kek, Dinda hanya orang miskin tak pantas mendampingi cucu Kakek. Itu hanya akan mencoreng nama baik keluarga Kakek, dan Nyonya juga pasti tak akan setuju dengan keputusan Kakek ini" Terlihat ekspresi sedih diwajah Dinda.
"Bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan jika aku memiliki segalanya" Dinda menganggukkan kepalanya mendengar apa yang Kakek katakan. "Terus, kalo kau miskin kenapa? Aku tidak mencari orang yang sama sepertiku. Karena, harta yang kumiliki lebih dari cukup, dan bahkan tidak akan pernah habis kecuali Tuhan berkehendak lain. Yang aku inginkan seseorang yang bisa kupercaya bisa membuat cucuku satu-satunya bahagia. Dan kandidat yang menurutku mampu hanya kamu" Ucap Kakek kemudian menunjuk kearah Dinda.
"Aku?" Jawab Dinda menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa Kakek begitu yakin jika aku bisa membuat cucu Kakek bahagia? Aku sama sekali tidak tidak mampu membuat cucu kakek bahagia"
Kakek menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Dinda. " Tidak Dinda, kamu memiliki kemampuan itu, dengan sifat dan kepribadian yang kamu miliki, kamu bisa membuat orang lain bahagia, kamu memiliki kualitas yang jarang dimiliki oleh anak gadis seusia dirimu" Jawab Kakek kini mulai meyakinkan Dinda. "Maka dari itu aku akan mengajakmu untuk Bekerjasama, kau harus mengabulkan permintaanku, maka aku akan memberikan materi kepadamu"
Dinda kini semakin bingung dengan perkataan-perkataan Kakek. Bahkan kini dia mulai menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Tapi jujur Kek, aku masih bingung dengan ucapan Kakek, kerjasama, saling menguntungkan. Tapi bagaimana cara kerjanya. Aku sendiri tak mengenal baik Rangga cucu Kakek" Ucap Dinda yang terlihat putus asa.
"Kakek ingin jika kalian benar-benar bisa saling mencintai nantinya. Dan kurasa dia juga pasti akan menyukaimu nanti, kau hanya perlu meluluhkan hatinya yang sekeras batu itu"
"Bagaimana kau menerima tawaran Kakek?" Tanya Kakek lagi, sambil memainkan jari-jarinya diatas meja. "Aku memberikanmu waktu 6 bulan untuk mencuri hatinya dari sekarang. Dan seminggu lagi kalian berdua harus menikah"
"Apa Kek, satu minggu? aku tidak bisa Kek, beneran Dinda tidak bisa" Spontan Dinda menolak permintaan Kakek. Namun ia mulai merasa tidak enak melihat wajah Kakek yang sedih karena menolak tawarannya.
"Kek jangan gitu dong, cucu Kakek bukan bibit kecambah yang ditaruh didalam wadah, terus dalam seminggu bisa cepat tumbuh, mulai bertunas dan mengeluarkan akar. Ini tentang perasaan Kek. PERASAAN"Jawab Dinda dengan penuh penekanan. Tapi Kakek kini seperti ngambek dan tak ingin berbicara lagi dengannya.
Melihat Kakek yang terus diam membuat Dinda semakin bersalah. "Baiklah, asalkan Kakek jangan ngambek lagi. Dinda menerima tawaran Kakek" Seketika itu juga wajah Kakek berubah ekspresi menjadi senang mendengar Dinda yang akhirnya menerima tawarannya. "Tapi, Dinda harus mulai darimana, Dinda tidak tau harus berbuat apa Kek? Jawab Dinda mulai frustasi.
Kakek menghembuskan nafas pelan lalu tersenyum kearah Dinda. "Kau hanya perlu mencintainya, dan membuat dia jatuh cinta kepadamu"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Syahrir Riri
dasar gadis polos, masa dia tidak bingung disuru jatuh cinta sama orang
2022-11-27
1