BAB 5 RENCANA PERJODOHAN

"Tapi Pa, Rangga masih bersekolah, lagipula Rangga masih terlalu muda jika harus kita nikahkan secepat ini" Ucap Windi tak setuju dengan keputusan Kakek Gunawan.

"Keputusanku sudah bulat, aku ingin cucuku satu-satunya agar segera menikah. Umurku mungkin sudah tak lama lagi, jadi aku ingin melihat Rangga menikah dan hidup bahagia. Tak bisakah kalian menuruti saja permintaan kakek tua ini?"

Mendengar apa yang dikatakan oleh Kakek. Windi merasa ragu jika Rangga akan menyetujui keinginan kakeknya yang ingin dirinya segera menikah.

"Tidak semudah itu membujuk Rangga Pa, apalagi jika harus menyuruhnya untuk segera menikah disaat dia masih bersekolah. Aku yakin Rangga pasti tidak akan setuju dengan keputusan Papa" Ucap Windi berusaha memberi pengertian kepada Kakek.

"Setuju tidak setuju, pernikahan ini harus tetap dilaksanakan. Segera hubungi Rangga agar kembali kerumah ini secepatnya. Aku ingin pernikahan ini segera terlaksana, walaupun dengan cara paksaan" Ucap Kakek kemudian berlalu meninggalkan Windi yang kini mulai bingung, apa yang harus dia lakukan untuk bisa membujuk Rangga, agar dia mau menerima keputusan Kakeknya.

Kepala Windi mulai pusing, sejak tadi dia tak berhenti mondar mandir kesana kemari memikirkan cara, agar bisa membujuk anak semata wayangnya agar mau mendengarkan kata-katanya. namun tetap saja, ia tak kunjung juga menemukan cara membuat dirinya semakin frustasi.

Melihat majikannya sedang banyak pikiran, Tante Indah kemudian mendekat kearah Windi untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Ada apa nyonya, sepertinya nyonya sedang ada masalah?" Tanya Tante Indah melihat kini majikannya itu sedang duduk sambil memijat kepalanya yang mulai pusing karena sejak tadi terus berpikir.

"Kepalaku pusing gara-gara Kakek meminta agar Rangga segera dinikahkan, kau tau sendirikan bagaimana hubunganku dengan Rangga. Tidak mungkin jika dia akan mendengar apa yang aku katakan" Jawab Windi begitu kesalnya dengan keputusan sepihak dari mertua laki-lakinya itu.

"Tapi Nyonya, kenapa Tuan Besar ingin Rangga cepat menikah? padahal kan, dia masih sekolah. Kalo dipikir-pikir belum waktunya dia harus menikah. Anak usia seperti Rangga jaman sekarang senangnya main sama teman-temannya. Bukan malah disuru ngurus istri. Aku heran dengan jalan pikiran Tuan Besar Nyonya" Ucap Tante Indah dengan ekspresi bingung serta kening yang berkerut.

"Aku juga Tidak tau dia itu maunya apa. Aku pikir cukup Papinya Rangga yang membuatku pusing, sekarang pusing dikepalaku semakin bertambah gara-gara si Kakek Tua bangka itu. Kenapa sih, dia gak mati aja cepat-cepat. Bikin susah orang aja"

"Kenapa Nyonya tidak keluar saja jalan-jalan, biar pusing dikepala Nyonya sedikit berkurang" Ucap Tante Indah tersenyum sambil memberi saran kepada majikannya.

"Emmm... Ya, kau ada benarnya juga, sekarang kau atur saja seperti biasa" Ucap Windi kemudian bangkit menuju kekamarnya. Meninggalkan Tante Indah yang tersenyum puas karena berhasil membuat majikannya yang galak itu menjadi sedikit senang dengan saran yang diberikan olehnya.

***

Setelah pulang sekolah, Dinda akan bergegas menuju kerumah majikan Tantenya. Setiap hari Tante Indah bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Tante Indah sebenarnya mempunyai suami. Namun, sudah lama sekali Dinda tak pernah lagi melihat keberadaan pamannya itu.

Dinda kembali mengingat-ingat kembali kapan terakhir kali dirinya melihat pamannya.

Flashback On

Waktu menunjukkan pukul 11.30 malam, suara serangga dan makhluk malam mulai terdengar karena sedang sibuk beraktivitas disaat orang lain mulai terlelap dalam tidur mereka.

Namun tidak dengan Dinda, malam itu dia mendengar Tante Indah dan Suaminya Paman Sam sedang bertengkar hebat, karena paman yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Membuat Tante setiap hari akan marah dan berakhir dengan sebuah pertengkaran.

"Kok cuma segini" Ucap Tante Indah memperlihatkan beberapa lembar uang ditangannya.

Paman yang mendengar perkataan Tante terlihat menghela nafas kasar "Kamu ini jadi perempuan tidak pernah bersyukur, suami capek pulang kerja, bukannya dibuatin kopi. Ini malah ngomel-ngomel terus"

"Ya jelas, aku bakalan ngomel terus, karena kamu juga kasi uangnya pas-pasan terus, ini kan tidak cukup buat perawatan aku mas"

"Yang penting kita bisa makan dulu dek, nanti kalo ada uang lebih baru kamu bisa perawatan kayak dulu lagi" Ucap Paman Sam berusaha memberi pengertian kepada Tante Indah.

"Pokoknya aku gak mau tau, besok uangnya harus ada, mas gak lihat mukaku sekarang begini karena mas gak pernah kasi uang lebih lagi ke aku" Ucap Tante Indah menunjuk kewajahnya.

"Terserah, mas capek, kalo ladenin kamu tidak ada habisnya"Jawab Paman Sam.

Karena merasa tidak dipedulikan oleh Paman Sam, Tante Indah kemudian mulai membanting piring, gelas dan apapun yang ada di dapur.

"Hentikan Indah, kamu ini Nama saja yang Indah, tapi kelakuanmu sama sekali tidak ada indah-indahnya" Ucap Paman Sam bangkit dari duduknya, lalu memegang tangan Tante Indah yang akan mengambil piring namun tertahan karena genggaman tangan Paman Sam.

"Lepaskan aku" Teriak Tante Indah sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Paman.

Karena merasa jengkel dengan kelakuan Istrinya, Paman Sam kemudian mengambil sebuah piring kemudian membentingnya kelantai.

Sontak saja karena hal itu membuat Tante Indah membelalakkan matanya melihat serpihan pecahan dari piring yang dibanting oleh suaminya kini bertebaran kemana-mana.

Melihat apa yang suaminya lakukan, Tante Indah hanya Memandang Paman Yang juga melihatnya dengan tatapan penuh kekesalan.

"Masih kurang cukup?" Ucap Paman sambil mengambil lagi piring, gelas, dan apapun yang masih ada dirak piring kemudian membanting barang-barang itu hingga semuanya habis tak bersisa lagi. "Aku bosan dan capek hidup sama perempuan yang tidak bisa menghargai suaminya sendiri" Ucap Paman lagi, kemudian melangkah pergi meninggalkan Tante Indah.

Tadinya Dinda kecil telah tidur, namun karena pertengkaran antara Tante dan Pamannya membuat tidurnya jadi terganggu dan akhirnya Dinda pun terbangun.

Dinda kecil yang berada didalam kamar hanya menutup telinganya menggunakan bantal. Dinda yang waktu itu masih berusia 7 tahun menangis karena dia merasa takut jika Tante dan Pamannya sedang bertengkar.

"Kalo kau bosan, pergi saja sana. Aku tidak takut jika kau ingin meninggalkanku" Ucap Tante Indah berapi-api.

Mendengar apa yang dikatakan oleh Istrinya, paman kemudian menoleh melihat kearah Tante Indah yang masih berdiri dengan nafas yang naik turun, namun tak mengucapkan sepatah katapun.

Ia memandang wajah istrinya yang telah ia nikahi selama 10 tahun itu, lalu Memori Paman kembali mengingat betapa bahagianya mereka dulu saat diawal-awal pernikahan mereka. Setelah setahun menikah akhirnya mereka berdua dikaruniai seorang anak perempuan. Membuat mereka berdua semakin bahagia.

Namun sesaat kemudian Paman kembali sadar dan mulai melangkahkan kembali kakinya meninggalkan rumah yang selama ini mereka tempati.

Tante Indah hanya memandang kepergian Paman Sam tanpa berusaha untuk menahannya.

Semenjak malam itu, Paman tak pernah lagi pulang kerumah. Sedangkan Tante sendiri seakan tak peduli ataupun berusaha untuk mencari keberadaan suaminya. Paman menghilang bagai ditelan bumi.

Flashback off

Dinda bergidik ngeri jika mengingat bagaimana ia yang berada didalam kamar waktu itu, mendengar pertengkaran hebat antara Tante dan Pamannya.

Dinda membayangkan Piring-piring dan gelas mulai beterbangan. Sejenak Dinda berpikir kasihan sekali barang-barang itu, mereka berdua yang melakukan kesalahan kenapa mesti barang-barang dirumah yang harus jadi korbannya, sungguh tragis nasibmu wahai piring, gelas.

Memang sudah menjadi kebiasaan ketika Tante atau pamannya bertengkar. Maka, barang-barang yang ada dalam rumah akan menjadi sasaran mereka, membuat seisi rumah akan hancur karena ulah mereka yang selalu menjadikan barang-barang sebagai pelampiasan kekesalannya.

Gegas Dinda masuk kedalam toilet, kemudian mulai mengganti pakaian seragam miliknya, dengan baju yang biasa Dinda siapkan, untuk dia pakai saat akan membantu pekerjaan tantenya.

Setelah mengganti pakaian, Dinda mencari keberadaan Tantenya Namun setelah lama berkeliling dirumah mewah yang lumayan besar itu, membuat kini dirinya mulai kelelahan karena terus berjalan.

Namun saat didepan pintu sebuah ruangan yang pintunya sedikit agak terbuka, Dinda dapat mendengar pembicaraan 2 orang yang berada didalam ruangan itu. Dinda berjalan sedikit lebih dekat kesumber suara, untuk memastikan siapa orang yang berada diruangan tersebut. Samar-samar Dinda mendengar jika yang berbicara adalah seorang pria dan wanita namun tak jelas apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan.

Tak beberapa lama terdengar jika wanita itu sedang menangis dan memohon kepada pria itu. Sontak saja Dinda yang sedang menguping pembicaraan mereka kaget karena takut jika terjadi apa-apa dengan wanita itu.

Terpopuler

Comments

Friasta

Friasta

Btw, kok gemes ya dengar Paman Sam jadi inget ke sesenegara onoh 😂 Maaf thor aku jadi gagal fokus 😭

2022-12-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!