BAB 3 MURID BARU

happy reading........✨✨✨

Melihat Dewa yang datang menjenguk Dinda, membuat Sindi tak henti-hentinya tersenyum.

"Woi otak udang, kamu kenapa senyum-senyum terus? Yang dijenguk itu Dinda bukannya kamu, sadar sudah waktunya kamu bangun dari mimpi indah mu" Ucap Remon sambil menyenggol lengan Sindi lalu berbisik ke telinganya

"Apaan sih ganggu aja, diam lo daki kuda nil nyerocos terus ih dari tadi" Jawab Sindi mulai kesal, karena Remon terus saja mengganggunya.

"Dinda, kau baik-baik saja kan?" Tanya Dewa sambil memegang kening Dinda untuk memastikan keadaannya, yang spontan saja membuat Dinda kaget karena perlakuan dari dewa. "Ini aku bawakan makanan untukmu" Ucap Dewa lagi memberikan sekantong besar yang penuh dengan makanan dan cemilan.

"Terima kasih kak" Jawab Dinda merasa tidak enak, kemudian mengambil makanan yang diberikan oleh Dewa.

"Sama-sama, kamu jaga kesehatan ya. Jangan sampe pingsan lagi kayak tadi, tapi aku senang karena kamu jatuh tepat di tanganku" Ucap Dewa sambil mengacak-acak rambut Dinda.

Mendengar apa yang dikatakan oleh Dewa, Dinda menjadi bingung sendiri, karena ia tak mengingat lagi apa yang terjadi. Yang dia ingat tadi jika ia dan Sindi akan kekantin.

"Benarkah?" Jawab Dinda cengengesan dan mulai salah tingkah.

"Ehem, biasa aja kali, yang gendong kamu kesini itu aku bukan dia" Ucap Juna mulai kesal karena Dewa yang terus saja mencoba mengambil perhatian Dinda.

"Yang biasa aja itu kamu, gak usah ngegas gitu. Lagian kita juga sedang tidak balapan, kenapa lubang hidung sama telinga kamu udah mulai berasap" Ledek Dewa pada Juna yang mulai emosi karena tidak suka dengan kehadirannya.

Sejak dulu memang Dewa dan Juna tak begitu saling menyukai, karena Juna tau jika Dewa ternyata juga menyukai Dinda.

Itulah sebabnya kenapa Juna selalu tak suka jika Dewa berdekatan dengan Dinda, Karena Juna takut jika Dinda nantinya akan menyukai Dewa juga. Sebab Dewa merupakan salah satu siswa kebanggan tempat dimana mereka bersekolah. Selain cerdas dan memiliki ketampanan yang diatas rata-rata, Dewa adalah anak dari kepala sekolah. Itulah yang membuat dirinya sangat diidolakan dan siapapun siswa akan takut jika berurusan dengan dirinya, tapi tidak dengan Juna.

Mendengar Dewa yang meledek dirinya, Juna tak memperdulikannya Lagi, ia menganggap perkataan dari Dewa hanya angin lalu. Namun terlihat dari wajah Juna yang sangat kesal dan juga tidak suka jika Dewa mendekati Dinda.

"Mukamu itu kenapa kayak cucian basah belum dijemur? atau kamu mau aku jemur ditengah lapangan biar mukamu itu ada sopan santunnya sedikit sama yang lebih senior" Ancam Dewa yang melihat wajah Juna yang terus saja ditekuk sejak kedatangannya tadi.

Sedangkan Remon dan Sindi hanya diam tak berani melawan perkataan dari Dewa. Kalo saja siswa lain yang mengatakan itu mungkin mereka berdua akan bereaksi lebih dulu, namun berbeda hal karena yang sekarang berbicara adalah Dewa, kakak senior mereka sekaligus anak dari kepala sekolah tempat mereka belajar. Membuat nyali mereka tiba-tiba saja menciut.

"Jangan mentang-mentang kamu anak kepala sekolah jadi kamu bisa seenaknya melakukan apapun sama siswa lain" Ucap Juna datar, berbicara tanpa memandang kearah Dewa.

Belum sempat Dewa membalas perkataan Juna, Tiba-tiba saja bel sekolah berbunyi menandakan pelajaran akan segera dimulai.

"Dinda aku kekelas dulu, dan suruh temanmu yang tidak punya sopan santun ini untuk menjaga sikapnya di depanku" Ucap Dewa menyindir Juna, dan melihat Juna dengan ekor matanya. "Jaga kesehatanmu, semoga lekas sembuh" Ucap Dewa lagi sambil tersenyum kearah Dinda yang sejak tadi hanya diam.

Setelah berpamitan pada Dinda, Dewa kemudian meninggalkan mereka menuju ke kelas. Sedangkan mereka berempat masih tetap diam membisu bingung dengan apa yang harus mereka bicarakan, dan tiba-tiba saja suasana menjadi sangat canggung.

"Kalian berdua kekelas saja duluan, biar aku yang menemani Dinda disini" Ucap Juna dengan ekspresi datar diwajahnya. Masih terlihat kekesalannya karena sikap Dewa tadi kepadanya.

"Aku sudah agak mendingan, aku juga ingin kekelas sekarang" Jawab Dinda berusaha untuk bangkit namun ditahan oleh Juna.

"Kau masih belum sembuh total, jika kau tetap memaksakan diri untuk tetap ikut pelajaran, bisa-bisa kau akan pingsan lagi nanti"

"Iya Din, kamu disini aja dulu, apa yang dikatakan Juna itu benar, kita takut kalo nanti kamu sampe kenapa-kenapa lagi dalam kelas" Ucap Remon membenarkan apa yang dikatakan oleh Juna.

"Tidak Mon, aku udah agak mendingan sekarang. Pokoknya aku mau kekelas aja sekarang. Aku janji gak bakalan pingsan lagi" Jawab Dinda meyakinkan para sahabatnya jika benar dirinya sudah merasa lebih baik sekarang.

"Din, apa yang Juna katakan itu benar, kita semua cuma pengen lihat kamu sembuh total makanya kamu istirahat aja disini" Ucap Sindi sambil memegang pundak Dinda.

"Gak Sin, beneran aku udah agak enakan sekarang, aku mau kekelas" Jawab Dinda kekeh pada pendiriannya.

Dinda berusaha untuk turun dari atas brangkar ingin segera kekelas, namun pergelangan tangannya dicekal oleh Juna membuat Dinda spontan menahan dirinya untuk tidak melangkah.

"Jun, beneran aku sudah mendingan sekarang kamu lihat sendiri kan, aku bisa berdiri sendiri sekarang" Ucap Dinda melepaskan cekalan tangan Juna.

Juna sebenarnya ingin mengatakan sesuatu kepada Dinda, namun ia menahan diri untuk tak mengatakannya karena Juna berpikir ini bukanlah waktu yang tepat.

"Jun, ayo kita kekelas" Ucap Dinda sambil memukul lengan Juna.

"Baiklah kalo itu mau mu" Ucap Juna singkat. Tak ingin lagi berdebat dengan Dinda.

Dinda dan Sindi berjalan duluan menuju kekelas diikuti oleh Juna dan Remon dibelakangnya.

Saat tiba didalam kelas Dinda merasa sangat bersyukur karena guru yang mengajar ternyata belum datang.

Gegas mereka berempat duduk ditempat duduk mereka masing-masing sebelum guru yang mengajar datang.

Tak berselang lama, akhirnya Ibu Intan masuk dengan diikuti seorang siswa yang Dinda perhatikan, sepertinya dia adalah siswa baru disekolah ini.

Saat siswa baru itu masuk, semua mata hanya tertuju kepadanya, Tubuh tinggi dan wajah yang tampan membuat dirinya menjadi pusat perhatian didalam kelas.

"Anak-anak hari ini kita kedatangan teman baru, kamu silahkan perkenalkan diri sekarang" Ucap Ibu Intan mempersilahkan siswa baru itu untuk memperkenalkan dirinya.

"Namaku Rangga" Ucap Rangga singkat.

Raut wajah datar tanpa ada senyum sedikitpun diwajahnya. Alis yang tebal serta tatapan mata yang sangat tajam mampu membuat orang lain membaca karakter dirinya, jika ia bukanlah orang yang mudah untuk ditaklukkan, walaupun Rangga masih terbilang remaja namun nampak dari wajahnya ia memiliki pemikiran yang dewasa, ditambah lagi sifat dinginnya mampu membuat para gadis menjadi penasaran dengan dirinya.

Seketika suasana dalam ruangan hening, para siswa hanya melihat Rangga dengan tatapan datar, tak mengeluarkan sepatah katapun, seakan-akan semua yang ada di ruangan itu terhipnotis dengan kehadiran Rangga.

"Ngomongnya irit banget ya, gak ada tambah-tambah nya" Ucap Remon memperhatikan seluruh bagian tubuh Rangga dari atas sampai bawah. "Untung aja wajahnya ganteng, coba kalo nggak, udah jadi bulan-bulanan pasti anak baru ini" Ucap Remon berbicara kearah Juna, namun sepertinya Juna sendiri tak berselera membahas tentang Rangga.

"Namanya bagus" Ucap Sindi kegirangan mengetahui nama Rangga.

"Huu dasar otak udang, lihat yang cakep dikit langsung bereaksi" Ucap Remon kesal melihat tingkah Sindi.

"Dasar, syirik aja bawaannya" Balas Sindi tak kalah sengitnya.

Rangga yang berdiri tepat didepan siswa lain, tak sengaja melihat Dinda yang saat itu juga sedang melihat dirinya. Untuk beberapa saat kedua pandangan mereka saling bertubrukan. Namun secepat kilat Rangga kemudian mengalihkan pandangannya.

"Rangga sekarang kamu boleh duduk" Ucap Bu Intan mempersilahkan Rangga untuk duduk di samping Juna.

"Terima kasih bu" Jawab Rangga singkat.

"Ibu harap kalian bisa berteman baik dengan Rangga, dia anak yang baik, jadi Ibu harap kalian jangan ada yang berselisih paham satu sama lain. Mengerti?" Ucap Bu Intan memberi nasehat.

"Mengerti Bu" Dijawab serentak oleh seluruh siswa.

"Baiklah anak-anak sekarang ambil buku kalian buka halaman 55 disitu ada soal yang harus kalian kerjakan. Ibu harap tugas yang ibu berikan selesai saat jam istirahat berbunyi. Kalian paham?" Ucap Bu Intan memberikan Tugas kepada murid-muridnya.

Sedangkan Sindi sedari tadi mengikuti setiap perkataan apa yang keluar dari mulut Bu Intan. Sindi bahkan menghafal gerak gerik dan ekspresi dari Bu Intan jika mata pelajarannya selesai pasti selalu diakhiri dengan tugas dan tugas.

Bahkan Sindi benar-benar menghafal setiap gerakan dan mimik muka Bu Intan diluar kepala, setiap kali akan mengakhiri pelajarannya.

"Stop Sin, nanti Bu Intan lihat kamu yang menirukan dirinya baru tau rasa" Ucap Dinda menyuruh Sindi berhenti mempraktekkan gaya dari Bu Intan.

"Sindi" Terdengar teriakan yang menggema memenuhi Ruangan memanggil namanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!