Hanya menunggu sebentar angkot yang mereka tunggu akhirnya datang juga, gegas Dinda dan Juna naik keatas angkot tersebut.
"Juna kenapa kau memilih naik angkot seperti ini denganku? orang tuamu termasuk orang berada" Tanya Dinda berusaha merapikan rambutnya yang mulai berantakan terkena angin.
"Aku lebih senang seperti ini Dinda, dan aku senang bisa terus dekat denganmu" Jawab Juna sambil membantu Dinda merapikan rambutnya. Membuat penumpang lain yang ada dalam angkot ikut tertawa geli mendengar apa yang Juna katakan.
Sebenarnya saat masih bersekolah disekolah dasar Juna sudah menyukai Dinda. Namun Dinda selama ini hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat. Lagipula selama ini tak ada satupun laki-laki yang bisa menaklukan kerasnya pertahanan hati seorang Dinda, termasuk Juna sahabatnya sendiri.
"Ehem, ehem, kalian masih sekolah jangan terlalu mesra begitu, kasian kita yang masih jomblo" Ucap Pak Supir yang mendengar perkataan Juna.
"Ya jangan didengar toh Pak" Balas Juna.
Pak Supir hanya geleng-geleng kepala dengan apa yang Juna katakan, lalu kemudian kembali fokus menyetir.
"Dinda, cintaku padamu ibarat seperti bulu ketiak, meskipun dicukur terus, dia akan tumbuh dan bahkan lebih lebat"
Sontak saja semua yang ada didalam angkot ikut tertawa mendengar gombalan maut Juna.
"Apaan sih Jun, malu ah diliat sama orang" Ucap Dinda mencubit pinggang Juna, membuat dirinya meringis kesakitan. "Maaf semuanya" Ucap Dinda lagi pada penumpang lain karena merasa tidak nyaman terus diperhatikan karena tingkah konyol Juna.
Setelah beberapa lama berada diatas angkot, akhirnya mereka sampai juga didepan pintu masuk sekolah. Tepat disana ada Sindi dan Remon yang merupakan teman sekelas Dinda dan Juna.
Dinda kemudian melangkah menuju kepintu masuk diikuti Juna dibelakangnya.
Sindi melambaikan tangan kearah Dinda yang berjalan kearahnya.
Saat akan masuk, tiba-tiba saja Sindi menghentikan langkah mereka semua.
"Stop" Ucap Sindi sambil merentangkan kedua tangannya.
"Ada apa lagi sin?"
Tanya Remon kesal.
"Dinda kenapa wajahmu pucat, kamu sakit?" Tanya Sindi yang melihat wajah Dinda dengan ekspresi khawatir diwajahnya.
Tiba-tiba saja suara perut Dinda terdengar, mengundang gelak tawa diantara mereka. Namun tawa mereka seketika lenyap melihat Dinda hanya diam.
"Kamu lapar, memangnya tadi kamu belum sarapan?" Tanya Sindi sambil memegang pundak Dinda.
Dinda tak berbicara, menjawab pertanyaan Sindi hanya dengan gelengan kepalanya.
"Pasti karena Tante kamu yang titisan Nyi Blorong itu kan?" Tanya Sindi lagi.
"Apaan sih sin, kasian tau Dinda, Tantenya kamu jelek-jelekin" Jawab Remon memukul kepala Sindi dengan tangannya.
"Ihh... jangan main pukul kepala orang juga dong, ini aset berharga tau" Ucap Sindi kesal. "Kalo tidak percaya tanya aja sendiri sama Dinda, Tantenya dia itu memang jahat. Apalagi sepupunya yang sok kecantikan itu, pengen aku geprek aja itu anak, dasar junior tidak ada akhlak" Ucap Sindi lagi sambil menunjuk kearah Dinda yang sejak tadi hanya diam.
"Sudah cukup berdebatnya, sekarang kita kekantin temenin Dinda sarapan dulu, abis itu baru kita kekelas. Tenang aku yang bayar" Ucap Juna menghentikan perdebatan antara Sindi dan Remon.
"Ya udah cus" Jawab Sindi sambil menarik tangan Dinda.
"Dasar, giliran ditraktir gerakannya lincah seperti spermatozone" Ucap Remon yang melihat tingkah Sindi yang begitu bersemangat jika mendapat traktiran.
"Biarin, dari pada kamu adiknya Doraemon, wekkk" Balas Sindi sambil menjulurkan lidahnya kearah Remon.
"Woi otak udang tunggu aku" Panggil Remon melihat Dinda dan Sindi yang lebih dulu berlari meninggalkan dirinya menuju kekantin.
"Jangan lari Sin, kasian Dindanya" Ucap Juna namun sepertinya Sindi tak mendengar perkataan darinya.
Saat akan sampai dikantin, langkah Sindi terhenti karena tiba-tiba Dinda menghentikan Langkahnya. Dinda lalu melepaskan pegangan tangan Sindi, kepalanya mulai pusing, dan perasaannya mulai tidak enak.
Dinda mulai oleng dan hampir saja jatuh ketanah. Untung saja ada Dewa, kakak seniornya yang sedari tadi memperhatikan dirinya dari kejauhan lalu dengan sigap menangkap tubuh Dinda sehingga tak sampai jatuh ketanah.
"Dindaaa" Pekik Juna dan Remon bersamaan melihat Dinda yang pingsan.
Dengan langkah seribu Juna dan Remon segera menghampiri Dinda yang kini berada dalam gendongan Dewa.
"Lepaskan Dinda, biar aku saja yang menggendongnya" Pinta Juna pada Dewa dengan ekspresi tak suka diwajahnya. Kemudian mengambil alih tubuh Dinda secara paksa dari gendongan Dewa.
"Ini semua gara-gara kamu sih Sin, udah dibilangin jangan lari, tuh kan lihat sendiri sekarang Dinda malah pingsan" Ucap Remon menoyor kepala Sindi.
"Kok aku sih yang disalahin"Jawab Sindi sambil melipat kedua tangannya didada, merasa tak terima dengan apa yang Remon katakan.
"Sudah cukup, kalian ini dari tadi, kerjaannya berantem terus, kita bawa Dinda sekarang. Remon, tolong belikan makanan dan minuman untuk Dinda, Aku dan Sindi bawa Dinda ke Unit Kesehatan Sekolah sekarang" Ucap Juna sambil memberikan intruksi kepada sahabatnya.
"Baiklah, oke" Jawab Sindi dan Remon singkat.
Dengan gerakan cepat Juna kemudian membawa Dinda ke Unit Kesehatan Sekolah ditemani Sindi dibelakangnya, yang kini mulai kelelahan karena Juna bahkan berlari sangking paniknya melihat Dinda yang pingsan.
Sedangkan Dewa sendiri hanya diam mematung melihat Juna yang membawa tubuh Dinda berlalu pergi tanpa mengatakan apapun kepadanya.
Sesampainya di Unit Kesehatan Sekolah, Juna lalu meletakkan tubuh Dinda diatas brangkar yang telah tersedia. Sindi dengan sigap membuka sepatu Dinda lalu membaluri seluruh tubuh Dinda dengan minyak kayu putih.
Nampak ekspresi wajah Juna yang khawatir karena baru kali ini melihat Dinda pingsan. Yang menandakan jika sahabatnya itu memang benar-benar sakit. Bahkan selama ini walaupun Dinda sakit, dia tetap semangat dan tetap kuat. Tak pernah sedikitpun ia mengeluh ataupun memperlihatkan sakitnya didepan orang lain.
Juna terus saja mondar mandir kesana kemari karena kegelisahan dan kekhawatirannya, sebab Dinda tak kunjung membuka matanya.
"Jun, gimana Dinda sudah sadar?" Tanya Remon yang baru sampai dengan sedikit terengah-engah.
"Belum Mon" Jawab Juna singkat.
Setelah menunggu sekitar setengah jam akhirnya Dinda sadar juga.
Dengan ekspresi yang bingung Dinda menatap satu persatu wajah sahabatnya, berusaha untuk mendapatkan jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.
"Aku lapar" Ucap Dinda dengan nada suara yang terdengar lemah.
"Ini makanlah, makannya pelan..." Jawab Juna sambil memberikan sepotong roti kepada Dinda, belum sempat Juna menyelesaikan perkataannya, secepat kilat Dinda lalu mengambil roti yang ada ditangan Juna lalu memakannya dalam sekejap. Sontak saja hal itu membuat para sahabatnya membulatkan mata karena melihat tingkah Dinda.
"Kau ini kayak tidak pernah makan tiga hari tiga malam aja Din" Ucap Remon sambil memberikan botol air minum mineral kepada Dinda, dan untuk kedua kalinya mereka bertiga kembali kaget karena air minum yang ada dalam botol minuman habis tak bersisa hanya dalam sekali tegukan.
"Ekkkkhhh...." Dinda bersendawa kemudian dengan cepat menutup mulutnya lalu melempar senyuman kikuk kearah sahabatnya.
"Terima kasih, maaf merepotkan kalian" Ucap Dinda menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apakah ini semua karena tantemu Din?" Tanya Remon lebih dulu ingin mengetahui pasti alasan kenapa Dinda bisa pingsan.
"Dinda sudah sering diperlakukan seperti ini sama tantenya, bahkan sangking jahatnya Dinda biasa tidak dikasi makan"Jawab Sindi berusaha memberitahu yang sebenarnya.
"Bener itu Din?" Tanya Juna dengan ekspresi serius diwajahnya.
"Stttt" Dinda membulatkan matanya kearah Sindi lalu menyuruhnya untuk diam dan tak mengatakan apapun lagi.
"Bukan begitu Jun, semalam aku ketiduran karena ngantuk berat setelah mengerjakan tugas, jadi tak sempat untuk makan malam. Besok paginya aku bangunnya terlambat jadi gak sempat lagi untuk sarapan, gitu" Jawab Dinda berbohong, tak ingin membuat sahabatnya khawatir.
"Kan benar apa aku bilang, pasti Dinda gak dikasi makan sama tantenya yang jahat itu makanya dia bisa begini" Ucap Sindi membenarkan apa yang tadi ia katakan.
"Kenapa tidak bilang Din?" Tanya Juna lagi sambil memegang pundak Dinda.
"Berarti Tantemu itu sering memperlakukanmu seperti ini, dan kau hanya diam dan menerima itu Din?" Tanya Remon mulai kesal mengetahui perbuatan Tante Dinda.
Sebelum sempat menjawab, terdengar langkah kaki, dan tak berselang lama muncul Dewa kemudian berjalan mendekat kearah Dinda. Membuat Juna yang melihatnya menjadi sangat kesal, namun ia tak bisa melakukan apa-apa karena Dewa adalah kakak seniornya.
"Huuuffttt" Juna membuang nafas kasar.
"Kenapa Jun" Tanya Sindi yang melihat tingkah Juna, dan dijawab dengan gelengan kepala olehnya.
"Panas ini hati, panas" Gumam Juna dalam hati, tak senang dengan kedatangan Dewa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments
Syahrir Riri
mau minta diajar ngegombal sama Juna🤭🤭😂😂
2022-11-27
2