Denis melangkah sambil dituntun petugas menuju ruang sidang. Semua hinaan dan makian dari masyarakat tak ia pedulikan karena di pikirannya hanya ada nama sang mama.
Wajahnya pucat seperti tak ada gairah hidup lagi bahkan bau busuk ditubuhnya tidak dipedulikan. Sebelum masuk ke dalam ruang sidang, Denis disuruh berganti pakaian dengan kemeja putih yang baru.
Ia lalu dibawa masuk ke dalam ruang sidang tapi tatapan mata Denis terlihat kosong, karena tak bisa mengikuti pemakaman sang mama kemarin.
Entah kenapa saat ia meminta kepada petugas mereka tidak mengijinkannya pergi dengan alasan yang tak jelas. Bahkan mereka tak memperdulikan permintaannya dan hanya dianggap angin lalu.
"Hakim memasuki ruang persidangan"
Semuanya berdiri saat hakim ketua dan hakim majelis memasuki ruang sidang, setelah itu hakim ketua membuka persidangan kasus pembunuhan Amira Arkana - Salma dengan tersangka Denis Arkana.
"Saudara Denis Arkana dipersilahkan berdiri di kotak tersangka" ucap hakim ketua.
Denis diam tak mengatakan satu kata pun membuat semua orang yang mengikuti jalannya sidang menatapnya dengan bingung.
Di pikirannya saat ini hanya penuh dengan sang mama tidak memperdulikan lainnya. Jiwanya seakan dibawa pergi sedari kemarin karena tak bisa hadir di pemakaman sang mama.
"Jaksa penuntut hukum apa saudara Denis Arkana dalam kondisi baik dan siap mengikuti persidangan?" tanya hakim ketua.
"Menjawab yang mulia hakim. Saudara Denis Arkana saat ini dalam kondisi stabil dan siap mengikuti persidangan" jawab jaksa penuntut hukum.
Entah bagaimana jalannya sidang itu hanya dengan sekali sidang saja kasus Denis langsung masuk sidang putusan, dengan alasan semua bukti yang ada mengarah kepada Denis dan ia juga sudah mengakuinya.
"Saudara Denis Arkana anda dinyatakan terbukti bersalah telah menghilangkan nyawa saudara Amira Salma yang tak lain ibu kandung anda sendiri. Korban meninggal karena mengalami kehabisan darah akibat 8 tusukan pisau dan 3 pukulan dengan tongkat golf di bagian kepala" papar hakim Ketua dengan suara lantang.
Duar..............
Bagai disambar petir tubuh Denis tersentak mendengar ucapan hakim ketua tentang sang mama yang mendapat 8 tusukan dan 3 pukulan di kepala. Emosinya memuncak mengingat video yang Kenzo tunjukkan waktu itu.
"Aku tidak membunuh mamaku sialan" teriak Denis untuk pertama kali bersuara selama persidangan.
"Dengan ini hakim memutuskan saudara Denis Arkana dijatuhi HUKUMAN MATI"
Tok...........tok..............tok.........
Palu diketok sebanyak 3 kali tanda sahnya putusan hasil sidang Denis Arkana sebagai tersangka pembunuhan ibu kandungnya.
"Berengsek kalian semua! Kalian sudah menangkap orang yang salah bangsat!" teriak Denis.
"Dia orang yang membunuh mamaku bangsat"
"Lepaskan aku sialan! Lepas bangsat!"
"Aku akan membunuhmu Kenzo Arjuna"
"Kalian semua biadab. Kalian hakim sialan beraninya kalian menutup mata sebelah dengan kasus ini" hardik Denis menggelegar.
Para petugas berusaha menahan Denis yang berontak ingin menghajar Kenzo di kursi penonton. Kenzo dan Alexa yang melihat hal tersebut tersenyum mencemooh kearahnya.
"Sampaikan salamku untuk mamamu di neraka ya" ucap Kenzo tanpa mengeluarkan suara.
Denis yang bisa membaca gerakan bibir, semakin emosi sambil berteriak kesetanan ingin membunuh Kenzo.
Setelah persidangan Denis selesai Kenzo dan Alexa bergegas menuju ruangan hakim utama yang tak lain paman dari Alexa.
Karena lobi Alexalah sehingga Kenzo bisa menjalin kerja sama dengan hakim ketua yaitu Hasan Sophia agar kasus Denis hanya perlu satu kali persidangan saja.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Terima kasih atas bantuannya pak Hasan" ucap Kenzo dengan sopan.
"Sama-sama Kenzo. Lagian ini semua karena permintaan keponakanku yang manja ini" ucap Hasan sambil tertawa.
"Ah! Paman bisa aja" ucap Alexa dengan malu.
Hahahahaha............
Hasan tertawa melihat wajah keponakannya yang malu-malu. Kenzo yang melihat interaksi keduanya juga ikut tertawa karena, berkat sang kekasih mereka dengan mudah membuat persidangan hukuman Denis hanya sekali sidang saja.
Di luar pengadilan Denis berteriak seperti orang kesurupan memaki tak jelas. Ia tidak terima jika Kenzo orang yang membunuh sang mama lepas begitu saja.
"Arrgghhh! Bangsat kalian semua! Keparat sialan kalian!" teriak Denis dengan suara tinggi.
Cekrek..........cekrek...........cekrek..........
Para wartawan tak membuang kesempatan mengambil gambar sebanyak mungkin dan merekam kejadian tersebut sehingga menjadi trending topik.
Saat berita keputusan kasus Denis keluar semua masyarakat tidak merasa keberatan dan malah mendukung keputusan hakim.
3 Hari kemudian
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan kini tiba saatnya hari dimana Denis akan menjalani hukuman mati.
Denis tersenyum getir tak merasa takut dengan hukuman tersebut, tapi ia merasa sangat bersalah karena tak bisa membalas orang yang sudah membunuh sang mama.
"Papa maafkan Denis tak bisa menepati janji Denis waktu itu" lirih Denis menatap ke arah langit dengan getir.
Tes............
Air matanya jatuh mengingat kenangannya saat bersama sang papa, dimana ia berjanji akan menjaga dan membahagiakan sang mama sebelum papanya menghembuskan napas terakhir.
"Maafkan Denis ma. Denis sangat menyesal ma" gumam Denis dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Denis dibawa masuk ke ruang eksekusi dimana disana sudah ada beberapa pejabat penting, ada pemuka agama, detektif Gilang, dan eksekutor.
Mata Denis ditutup kain hitam lalu diikat di tiang tak lupa kaki dan kedua tangannya juga di rantai agar tidak bergerak nanti.
"Mama papa maafkan Denis sudah jadi anak durhaka kepada kalian" gumam Denis dengan perasaan hancur.
Eksekutor sudah berdiri di posisinya berhadapan dengan Denis. Tangannya terangkat sambil menodongkan pistol tepat ke arah jantung Denis.
Ya Tuhan ampunilah aku atas semua perbuatan aku kepada mama selama ini hingga akhir hayatnya. Jika diijinkan di kehidupan selanjutnya aku akan sangat bahagia jika kembali terlahir sebagai anak mama dan papa, saat itu aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu mama. Denis sayang sama mama dan papa, batin Denis sambil berderai air mata.
"Tembak"
Dor.....................
Denis sangat menyesal ma dan maafkan anak durhaka ini, batin Denis sambil menutup matanya untuk terakhir kali.
Jiwa Denis seakan melayang-layang entah berada di dunia mana, dan seketika matanya sayup-sayup melihat sosok yang sangat ia rindukan selama ini yaitu papanya.
Cup.............
Denis tersenyum dengan tulus saat keningnya dikecup sang papa sama persis waktu ia kecil dan rasanya tak pernah berubah. Ada ketenangan dan kehangatan yang ia dapat saat keningnya dicium.
"Papa" lirih Denis dengan suara pelan.
Tiba-tiba matanya tertutup bersamaan dengan cahaya yang datang mengenai tubuhnya yang terjatuh dalam lubang yang paling dalam.
Duar............duar..............
Mata coklat tajam itu seketika terbuka, saat petir tiba-tiba menyambar di langit bersahutan, disertai hujan badai yang sangat lebat di luar sana.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Hosh.............hosh............hosh..........
Napasnya satu-satu seperti habis lari maraton dengan keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya. Netra coklatnya menatap kearah depan dengan jantung yang bergemuruh kuat.
Ingatan-ingatan itu terlintas di otaknya seperti film yang diputar di bioskop.
"Mama" lirih Denis dengan suara bergetar.
Ia memandang sekelilingnya karena setahunya ia terakhir berada di lokasi eksekusi dan ia masih merasakan jantungnya yang berdenyut sakit karena tembakan tersebut.
"Kenapa aku bisa berada di kamarku yang dulu" ucap Denis saat melihat sekelilingnya.
Ia mengenali interior ini karena ia yang mendesain sendiri interior kamarnya dan ini adalah kamarnya saat di rumah mereka yang dulu.
Netranya tertuju pada jam digital di atas meja yang menampilkan tanggal hari ini di pojok atas. Dengan cepat Denis berdiri dan mengambil jam tersebut melihat tanggal yang tertera disana.
"03 Juni 2016" ucap Denis dengan mata melotot.
Jika hari ini tanggal 03 Juni 2016 berarti aku kembali ke 5 tahun yang lalu, batin Denis dengan mata melotot.
Denis berlari ke arah lemari yang ada cermin disana dan melihat luka di keningnya yang ia tahu ia dapat di tanggal yang sama.
Deg............deg.............deg............
Jantung Denis berdetak dengan cepat melihat luka di keningnya akibat berkelahi di kampus tadi pagi. Ia masih ingat kejadian itu karena perkelahian itu antara kelompok gengnya dan geng kampus sebelah.
Prang............
Bunyi benda pecah di luar sana mengagetkan Denis dari lamunannya. Dengan langkah cepat ia berlari keluar ingin melihat apa yang pecah.
Tubuh Denis menegang melihat sosok di depannya yang sedang terduduk di lantai dengan tubuh basah kuyup.
"Denis maa.......fkan mama nak. Ma.....af mama tidak bisa mem.....bawa barang yang ka.....mu mau" ucap Amira dengan terbata-bata sambil bergetar hebat di lantai.
Deg.................
Tubuh Denis menegang mengingat kejadian ini seperti dejavu ingatannya berputar karena pernah mengalami hal yang sama.
#Flashback On
"Maa......fkan mama Denis"
"APA KAMU BILANG MAAF" teriak Denis menggelegar.
"Kamu tahu aku itu sangat ingin hp itu sejak lama. Kenapa kamu sebagai mamaku tidak pernah memberikan apa yang aku mau" hardik Denis.
"Maaf nak. Mama belum dapat gajian hari ini"
Bugh...............
Denis menendang mamanya dengan kuat hingga terjungkal ke belakang. Saking emosinya Denis menarik sang mama membawanya ke kamar mandi dan mendorongnya hingga terjatuh di lantai.
Byur.........byur...........byur..............
Denis mengguyur mamanya dengan air dingin membuat tubuh Amira semakin gemetaran kedinginan.
"Kenapa aku harus lahir dari perempuan miskin seperti kamu sialan"
"Karena kamu aku itu dihina sejak dulu karena punya ibu tukang sapu jalan" teriak Denis dengan emosi.
"Am......pun Denis..........hiks hiks hiks........maafkan mama nak........hiks hiks" Amira menangis gemetaran sambil menunduk memohon ampun kepada sang anak.
Bugh..............
Denis melempar gayung tepat di kening Amira hingga memar dan keluar dari kamar mandi tak lupa menguncinya.
"Denis mama mohon jangan kunci mama disini nak.......hiks hiks hiks......mama mohon nak" pinta Amira memohon sambil mengetuk pintu.
"Ini hukuman buat kamu perempuan sialan" bentak Denis sambil berlalu pergi.
"Denis.......hiks hiks hiks.........jangan kunci mama disini nak.......hiks hiks hiks..........Denis" lirih Amira dengan histeris.
#Flashback Off
Tangan Denis mengepal dengan erat mengingat kejadian itu, sedangkan Amira yang melihat sang anak mengepal kedua tangannya semakin bergetar ketakutan takut dipukul.
"Maafkan mama nak.........hiks hiks........mama janji akan cari uang lebih giat lagi nak........hiks hiks" mohon Amira sambil mengatupkan kedua tangannya.
Grep..............
Tubuh Amira menegang sempurna tak menyangka akan dipeluk oleh sang anak dengan sangat erat seperti ini.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 275 Episodes
Comments
Disimpang Jalen
anjirrrr w padahal preman...baca ini air mata w netes🥱🥱
2025-02-23
1
ria sufi
asli Danis emang kejam ma ortu sendiri
2025-03-10
1
Eros Hariyadi
Lanjutkan Thor 😝😄💪👍🙏
2023-12-12
1