Irene membuka handphone dan membaca beberapa pesan masuk, termasuk pesan yang Ara kirimkan.
Ketika membuka pesan tersebut Irene terkejut.
Ara mengiriminya photo Taehyung yang sedang tidur bersama Ahn Yoora. Irene yang terkejut kembali menguasai diri lalu mencoba menelepon Ara beberapa kali namun tidak ada jawaban sama sekali, akhirnya Irene memutuskan untuk menelepon suaminya.
"Hallo sayang, sedang sibuk kah kamu?" Ucap Irene gugup.
"Tidak, kami sedang bersantai. Kenapa kamu terdengar panik"
"A Ara. Apakah Taehyung bergabung bersama kalian?"
"Tidak. tidak ada Taehyung disini. Ara kenapa?" Tanya Seokjin panik.
"Pulanglah sekarang! Aku akan menceritakan semuanya nanti. Bawa semua temanmu kesini. Ini penting benar-benar penting!" Perintah Irene lalu mematikan sambungan teleponnya.
Irene terlihat mondar-mandir di depan rumah menunggu mereka datang. Satu jam kemudian ia melihat beberapa mobil memasuki halaman rumah.
"Ah syukurlah. Itu pasti mereka!" Seru Irene dan segera berlari dengan cepat menghampiri Seokjin.
"Hei wajahmu terlihat pucat sekali sayang! Apa kamu sakit?" Tanya Seokjin khawatir sambil menempelkan punggung tangannya di kening Irene.
"Sebenarnya ada apa nuna? Kenapa Seokjin Hyung mengajak kami kemari?" Tanya Jimin mewakili.
"Masuklah terlebih dahulu. Kalian bisa melihatnya sendiri nanti!"
Mereka semua memasuki rumah dengan saling bertatap-tatapan. Aneh!
"Nuna, bisakah kau menceritakan sesuatu yang terjadi dengan pelan? Agar kami semua tahu apa yang sedang terjadi" Tanya Yoongi.
Sebelum Irene menceritakan ia menarik nafas panjang, wajahnya terlihat sangat pucat.
"A Ara, Aera. Ia sudah mengetahui semuanya, lalu aku harus bagaimana?" Ucapnya terisak sambil menyodorkan handphonenya ke Yoongi. Seokjin memeluk erat Irene, mengelus lembut puncak kepalanya.
Yoongi menunjukkan pesan Ara kepada semuanya, mereka semua terkejut.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi, kenapa Ara bisa masuk ke dalam apartemen Taehyung? Apa Taehyung belum mengganti akses untuk masuknya?" Tanya Jimin.
"Apa jangan-jangan ia meminta ijin padaku tadi untuk menemui Taehyung?" Ucap Seokjin.
"Saat sarapan tadi ia mengatakan ingin bertemu dengan temannya dan aku mempercayai nya" Lanjut Seokjin.
"Lalu bagaimana jika sudah terjadi seperti ini? Kita mau mencari nuna kemana?" Ucap Jimin.
"Aku heran kenapa kita harus pusing memikirkan Ara? Kita tidak ada hak untuk menjaganya" Sanggah Jungkook.
"Jungkook-a, tidak ingatkah kau bahwa Jung Haneul mempercayakan agensinya kepada kita semua? Bahkan ia memberikan sebagian besar saham perusahaan untuk kita semua" Jelas Yoongi.
"Sudah hentikan! Tidakkah kalian ingat kita sudah menganggap Ara sebagai adik perempuan kita!" Ucap Seokjin menengahi.
"Sebentar, aku akan menelepon Taehyungie" Ucap Jimin.
"Hallo Taehyung, dimana kau?" Tanya Jimin.
"Aku sedang di jalan, Mengantar Aera ke rumah Haneul hyung" Jawab Taehyung.
"Bisakah kau mengantarnya kembali ke rumah Seokjin hyung? Mereka semua mencemaskan nya"
Pinta Jimin.
"Setelah selesai membeli makan, aku akan mengajaknya kesana"
"Baiklah kami semua menunggumu!" Jimin mematikan sambungan telepon nya.
"Bagaimana Jim? Apakah Ara bersama Taehyung?" Tanya Yoongi.
Jimin mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata.
"Setelah mereka makan, mereka segera kemari hyung"
Raut wajah Yoongi dan semuanya terlihat lega saat mendengarkan ucapan Jimin.
...****************...
Ara menyenderkan kepalanya di pintu kaca mobil, lalu memejamkan matanya. Pikirannya bercabang.
Ia benar-benar bingung antara harus berjuang atau menyerah.
Suara di kepalanya sangat berisik, perutnya bergejolak.
Hoek .. hoek .. hoek! Namun tidak ada apapun yang keluar dari perut Ara, lemas. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya.
Taehyung mengehentikan mobilnya di bahu jalan menyeka keringat Ara.
"Apa yang sakit? Jangan membuatku khawatir! Kamu ingin apa?" Tanya Taehyung dengan tatapan nanar.
Ara hanya terdiam, semakin ia mendengar suara Taehyung maka akan terasa semakin sesak dadanya.
Taehyung memeluk tubuh Ara erat.
"Maaf telah membuatmu kecewa, maaf karena tidak bisa bertahan lebih lama denganmu"
"Maaf karena tidak bisa menepati janjiku untuk menjadi ayah yang baik"
"Jung Aera, maaf. Aku telah menghancurkan semuanya. Menghancurkan impian kita" Ucap Taehyung dengan mata berkaca-kaca.
Ara tidak ingin menjawab ucapan Taehyung. Ia terus memejamkan matanya, menahan rasa sesak di dadanya, sakit! Ia mengepal tangannya, semakin lama ia merasa semakin sesak.
"Ara maaf jika aku pernah memberikan mu janji untuk merajut hidup bersama, namun nyatanya semua tidak berjalan seperti harapanku!" Ucap Taehyung keras sambil mengguncangkan bahu Ara.
"Jawab aku Aera! Tatap mataku! Katakan jika kamu juga masih mencintaiku!" Bentak Taehyung.
Ara memalingkan wajahnya menatap Taehyung dengan sorot mata kosong.
"Aku mencintaimu Aera, sangat. Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu!" Ucap Taehyung sambil memegang kedua pipi Ara.
"Ini yang aku takutnya ketika aku kembali membuka hati, untuk mencintai seseorang. Karena yang aku dapatkan hanya pedihnya luka!" Ucap Ara terisak.
"Awalnya aku mengira kamu adalah rumah ternyaman ku, aku bahagia jika bersamamu. Namun aku salah, justru kau hanya memberiku luka!" Lanjut Ara.
Taehyung membelah jalanan kota Seoul dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam mengendarai mobil mewahnya Rolls-Royce Boat Tail berwarna hitam mengkilat.
Ara mencengkram seat belt, sesekali melirik Taehyung melalui ujung mata. Ara bisa melihat dengan jelas wajah indah itu tertimpa lampu jalanan.
Rambut legam, hidung tinggi serta rahang yang tegas dan bulu mata yang tebal dan lentik, Ara bisa melihat bagaimana sempurnanya wajah dari seorang Kim Taehyung!
Taehyung memberhentikan mobilnya tepat di halaman rumah Kim Seokjin. Membangunkan Ara perlahan dan memintanya untuk masuk bersama dengannya.
"Ara-a, Aera bangunlah! Kita sudah sampai" Ucapnya lembut sembari menggoyang goyangkan pelan bahu Ara, gadis yang sangat ia cintai.
"Eeuhh, aku pusing. Kau saja yang masuk. Aku akan menunggumu disini!" Pintanya.
Aera terus mencari alasan agar Taehyung tidak mengajaknya masuk ke dalam rumah itu, bukan karena Ara tidak mengingat kasih sayang Seokjin dan Irenne. Tetapi Ara masih sangat sakit mengingat perlakuan mereka semua yang menyembunyikan hal ini.
"Hei dengarkan aku Aera!" Ucap Taehyung lembut memegang kedua pipi Ara.
"Mereka semua tidak salah, aku yang menyuruh mereka untuk menutupi hal ini, karena aku mengira jika hal ini bisa aku atasi sendiri. Percayalah padaku kali ini saja! Mereka semua mengkhawatirkan mu!"
"Ucapan mana lagi yang bisa ku percaya darimu Kim?" Ucap Ara lesu.
"Bukankah semua sudah jelas? Pengkhianatan ini sudah terekam jelas di otakku! Kalian semua sama saja! Bajingan!" Teriak Ara, ia menangis sesenggukan.
Ketika Taehyung akan mendekat memeluknya Ara menatap wajah Taehyung dengan tatapan tajam!
"Jangan mendekat dan jangan memelukku aku tidak sudi mencium aroma tubuhku kembali!"
Taehyung mengambil handphonenya dan segera menelepon salah satu orang yang ada di sana.
"Hallo, bisakah kau ke depan sebentar?" Tanya Taehyung dengan orang yang menerima panggilannya.
"Baiklah, aku akan segera keluar" Ucap seseorang dibalik telepon itu.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments