Episode 18/ Over Size Penuh Pesona.
Tuti memilih untuk pergi, dirinya malas untuk berdebat dengan orang konyol, seharusnya sekarang dirinya ada di kamarnya dan tengah bobok cantik, tapi yah begitulah semenjak Prince yang nekad, membuat hari-hari bahagianya seakan sirna.
Melihat Tuti yang hendak melangkah pergi membuat Dewi semakin geram, dirinya langsung menjambak rambut Tuti, nasib baik rambut palsu itu tertanam dengan baik, melihat tindakan Dewi membuat Prince murka, dirinya menarik paksa tangan Dewi.
‘’Kenapa, Prince? Kenapa lo larang gue? Hal apa yang telah membuat lo menjadi seperti ini? Sejak kapan seorang Prince yang tampan rupawan bisa jatuh cinta pada sampah di rongsokan!’’ sindir Dewi. Tuti yang mendengarnya tidak terlalu fokus pada mereka berdua, pandangan serta pemikirannya ini masih tertuju pada kerumunan orang di depan sana, dirinya meninggalkan Prince dan Dewi, biarkan mereka menyelesaikan permasalahan mereka sendiri.
Prince berusaha mengejar Tuti, hanya saja Dewi yang mencegah, Prince begitu kesal hingga membuat wajahnya memerah memadam, melihat itu semua Dewi melepaskan tangannya dan dengan terpaksa membiarkan Prince mengejar Dewi.
Tapi dendam tidak akan berhenti disana, Dewi tidak akan kehilangan akalnya, dia sudah merencanakan sesuatu untuk hari esok dan tentu saja targetnya itu Tuti, dirinya kembali ke mobil dengan perasaan yang tidak karuan, ketika berada di dalam mobil, dirinya mengirimkan pesan pada seseorang.
[Cepat kamu bikin gadis itu menderita!]
Dewi kemudian melajukan mobilnya, dia tengah menuju ke suatu tempat, entah apa yang tengah dipikirkan oleh Dewi, tindakannya kali ini malah akan membuat dirinya terperangkap ke jeruji besi.
‘’Awas saja kamu, Tuti. Jika gue tidak bisa mendapatkan Prince, maka lo juga tidak akan pernah mendapatkan Prince!’’
Tuti sedang focus pada kerumunan yang di ujung sana, rasanya terlalu aneh hingga membuat jiwa detektifnya keluar, hanya saja ketika menoleh ke belakang, ia lihat Prince tengah menuju ke tempat itu juga.
Tuti tidak akan pernah membiarkan Prince tahu semua tentang identitasnya, kali ini ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, di ujung sana dirinya melihat ada toilet, tanpa pikir panjang Tuti melangkah cepat, dirinya juga berusaha mengelabui Prince, setelah dua menit, dirinya sudah berhasil sampai ke toilet tanpa ketahuan oleh Prince.
‘Huf, nasib baik aku membawa semua peralatan ini, jika tidak pasti dia akan mengetahui siapa identitas Tuti,’ batinnya, di dalam toilet sana, Tuti segera mengganti kembali perlengkapannya.
Lima menit telah berlalu, dirinya menjelma menjadi pria tua dan jangan dilupakan alat perubah suara yang untung dia bawa kemanapun, ada gunanya juga pria yang telah merancang ini semua.
Alice akan membantu memecahkan kasus ini dan tentunya dia masih harus berhati-hati agar tidak di ketahui oleh Prince, yah pria itu telah berhasil di kecoh oleh Alice, dirinya sudah kehilangan jejak, mau seberapapun mencari keberadaan Tuti, pasti tidak akan ditemukan.
‘’Kemana dia? Perasaan di situ berada di kerumunan ini? Apa karena jumlah massanya sangat banyak, hingga membuat dia tidak terlihat? Tapi tidak mungkin, tubuh bongsornya itu bisa menghilang di tempat seperti ini?’’ pikir Prince masih mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Tuti.
Alice yang mendengar celotehan Prince, dirinya hanya tersenyum penuh kemenangan, kali ini ia bisa mengalahkan Prince, bahagia sekali rasanya jika melihat Prince kebingungan, rasakan pembalasan dari Tuti.
Prince kaget dengan kedatangan pria tua bangka itu, yah mereka bertemu singkat ketika kasus di sebuah kafe, tidak dapat Tuti setidaknya dirinya punya mangsa lain. Alice yang paham jika Prince masih membuntutinya, merasa kesal karena dirinya lupa jika mereka juga pernah bertemu ketika menjadi pria tua bangka ini.
‘Haduh, keluar dari lubang singa masuk ke lubang buaya!’ batin kesal Tuti.
Dirinya berusaha untuk tenang, tanpa menoleh sedikitpun pada Prince yang menatapnya dengan tatapan penasaran setengah mati, membuat Alice sedikit canggung ketika ditatap seperti itu oleh sang mantan.
‘No, Alice. Sekarang lo itu harus bisa melupakan Prince, dia hanya masa lalu dan masa lalu tidak untuk diingat!’ batin Prince berusaha untuk tenang, perasaan dan pemikirannya.
Entah apa yang terjadi di kerumunan ini, Alice masih belum paham, dirinya masih berusaha untuk mencerna semua kejadian dari yang paling detail, hingga tidak terasa ada seseorang yang berdiri di sampingnya, yah pria itu adalah Pak Fardi.
Mimpi apa Alice terus di apit oleh pria tampan, tidak Tuti tidak menjadi pria tua bangka ini, rasanya kehidupan Alice selalu dikelilingi oleh pria tampan. Hanya saja Alice harus waspada pada Pak Fardi, kedekatannya dengan Detektif Brian masih belum jelas, bisa saja Pak Fardi tengah memikirkan rencana baru.
‘’Apa Anda juga seorang Detektif, Pak Tua Bangka?’’ tanya Pak Fardi, pandangannya masih bermain liar, dirinya tengah mengamati dengan detail lokasi, dan mencari kemungkinan kecil yang akan menjadi kebenaran.
‘’Hei, Anda jadi anak muda tidak punya sehormat-hormatnya dengan yang lebih tua!’’ geram Alice, dirinya ingin membalas semua kekesalannya pada dosen super dingin ini.
Pak Fardi tidak menyibukkan dirinya mendengar ocehan Alice, hal itu malah membuat Alice kesal. Pak Fardi melangkah mendekat, dirinya memang masih belum mengerti dengan situasi yang terjadi, kenapa semua orang hanya terdiam dengan wajah pucat, apa mereka semua sakit? Jika memang iya, terlalu mustahil jika mereka semua sakit dalam waktu yang bersamaan dan dengan gejala yang sama.
Kemungkinan kecil masih berusaha untuk ditemukan, Pak Fardi maupun Alice yang tengah menyamar menjadi pria tua bangka ini memakai penutup mulut hanya untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang akan terjadi. Alice yang melihat Prince masih berusaha mencari seseorang, membuat Alice semakin kesal, bukan permasalahan dia tengah mencari Tuti tapi tindakan gegabahnya, bagaimana jika dia terjangkit virus, bukan hanya dia sendiri yang akan bermasalah, tapi Alice pasti juga akan ikut merasa bersalah, yah sekalipun mereka telah berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing, bohong jika Alice sudah melupakan Prince dalam hatinya.
Ketika Alice hendak memberikan masker pada Prince, dia hanya tidak ingin Prince ikut terjangkiti di kerumunan aneh ini, semua kemungkinan kecil masih terus dipertanyakan. Pak Fardi yang melihat sekilas pada pria tua bangka itu tengah menuju ke suatu arah, membuat pandangannya berhenti tepat pada Prince. Dia bingung kenapa Prince juga bisa berada di lokasi ini, dan raut wajah Prince memberi tahu jika dirinya tengah mencari seseorang, Pak Fardi langsung tertuju pada Tuti, satu-satunya nama mungkin.
Dirinya kembali teringat bagaimana lantangnya Tuti menghadapi permasalahan di kampus, mulai dari komplotan gadis-gadis kampus hingga petinggi kampus dengan penuh keberanian ia lawan, jika mengingat itu semua Pak Fardi kembali teringat dengan pembicaraan yang terjadi di balkon paling atas kampus, dimana ancaman demi ancaman akan dirasakan oleh Tuti.
‘Huh, apa mungkin gadis itu akan bertahan hingga akhir? Dirinya telah jauh terlalu masuk, hmm. Benar-benar GADIS OVERSIZE PENUH PESONA!’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments