Episode 16/ Taruhan Kencan Dengan Mantan.
Harus diakui keberanian Tuti harus diakui jempol, dia satu-satunya gadis yang berani menentang Prince, ketika semua gadis takluk pada ketampanan Prince, hanya Tuti yang tidak akan tunduk pada seorang Prince, pria dengan sejuta pesona.
‘’Kamu punya nyali yang kuat dan sangat menarik!’’ ucap Prince.
Tuti tahu jika ini semua ada maksud, bak pepatah ADA UDANG DIBALIK BATU, dan sekarang sudah saatnya Tuti membalas semua kekesalan pada sang mantan, dirinya mengajukan taruhan dengan Prince dan membuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal dengan ucapan Tuti.
‘’Hei, bongsor. Lo nggak lihat apa tubuh lo aja memiliki ukuran oves size seperti itu, jalan aja udah susah malah sok mau tanding dengan Prince, bisa-bisa lo mati dengan menahan malu di sana!’’ teriak Dewi yang kebetulan juga berada di lapangan.
Lagi-lagi Tuti menjadi bahan tawa oleh mereka, hanya saja Tuti sudah tahan banting dengan semua ini, dirinya tidak akan mudah di rendahkan. Dirinya mengambil kembali bola basket dan melempar dengan sangat kuat ke arah Dewi yang masih tertawa ngakak.
Dan … Brakk.
Lemparannya tepat mengenai sasaran, Tuti tersenyum penuh kemenangan, tanpa banyak berbicara dirinya bisa mempermalukan Dewi yang tidak henti-hentinya mencari masalah, semua terdiam, mereka diam-diam kagum dengan Tuti.
Prince yang melihatnya pun semakin penasaran dengan Tuti, dia yakin banyak hal yang perlu ia cari tahu, dirinya akhirnya setuju dan berkata dengan lantang akan taruhan yang akan mereka lakukan.
‘’Gais, gue terima tawaran si Bongsor ini!’’ ucapnya dengan lantang.
Dewi yang sangat kesal, dirinya tidak terima ketika Prince mulai menaruh simpati pada Tuti, ini kali pertama dalam sejarah Prince pria yang dinobatkan sebagai pria anti wanita, malah menerima taruhan Tuti, sudah pasti ini semua akan menjadi awal kedekatan antara mereka.
Dewi melangkah ke tengah lapangan, bekas merah di wajahnya berhasil membuat Tuti membalas tawa yang ia dapatkan, Prince berusaha untuk tetap keren, yah walaupun dalam hatinya dia juga tidak menyangka jika Tuti akan seberani ini pada Dewi.
‘’Nggak usah ketawain gue! Lo hanya mau cari muka aja kan di hadapan Prince, ngaku lo!’’ teriaknya.
Dewi ingin menjambak rambut Tuti, dengan cekatan Tuti bisa mengelak dan membuat Dewi tersungkur ke lantai, sudah kalah telak Dewi jika berhadapan dengan Tuti, dirinya mendekat pada Dewi dan berkata dengan cukup lantang, setidaknya semua pria yang ada di tengah lapangan itu mendengar ucapannya.
‘’Lain kali jangan usik gue, jika lo nggak ingin hal ini kembali terulang!’’ ujarnya.
Hap.
Tangkapan yang sangat sempurna, Tuti bisa memprediksi jika akan kedatangan bola, yah semuanya terkesima dengan Tuti bahkan sepasang mata di atas sana juga tengah memperlihatkan dengan seksama yang terjadi di tengah lapangan.
‘’Gadis yang menarik, yakin seratus persen jika dia akan menjadi pemenang tahun ini!’’ gumamnya yang meminum kopi dingin di tangannya.
Suara langkah kaki membuatnya memberikan sedikit senyuman untuk menyambut kedatangan petinggi kampus, yah orang yang telah merencanakan semuanya dengan baik, dan tentu tidak ada harga gratis, dan Pak Fardi diam-diam tengah mencari tahu semua keinginan petinggi kampus itu.
‘’Sepertinya Anda sangat bersenang-senang dengan tontonan di bawah sana,’’ ujar pria itu.
Pak Fardi hanya memberikan respon dengan senyuman, malas juga jika harus meladeni pria yang satu ini, jika bukan karena pangkatnya jauh lebih tinggi darinya sudah pasti Pak Fardi akan melakukan semua keinginan hatinya, Pak Fardi harus bisa bermain cerdik menghadapi petinggi kampus yang bermain licik.
‘’Saya tidak akan berlama-lama, karena saya juga sangat malas menghabiskan waktu berharga saya dengan pria seperti Anda. Saya hanya ingin Anda paham semua yang ada di dunia ini tidak ada yang gratis, dan Anda tahu jika semua orang akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang!’’
Pak Fardi masih belum memberikan tanggapan apapun, dirinya sangat yakin jika pria ini yang telah mengatur semuanya, dan pasti ada hal yang ingin ia hentikan.
‘’Dan satu lagi, jika Anda berniat melawan saya maka siap-siap Anda akan kehilangan hal paling berharga dan mungkin saja itu nyawa!’’ bisik pria itu.
Kali ini Pak Fardi menatap pria yang di hadapannya, dengan tersenyum seakan menganggap enteng ancamannya, dia meneguk kopinya hingga habis dan memberikan ancaman balik padanya.
‘’Camkan ucapan itu untuk diri Anda sendiri!’’ balasnya.
Pria itu menatap kepergian Pak Fardi dengan tatapan kebencian, dirinya meraih benda pipih yang ada di celananya dan menelepon seseorang, tidak lama panggilan itu masuk.
[Kamu pastikan dia tidak bisa hidup dengan nyaman, jika perlu buat kematiannya semakin dekat!] titah pria itu, dirinya memperhatikan kejadian di bawah sana.
‘’Awas saja gadis itu, semua akan berakhir ketika pesta satu hari suntuk ini terjadi!’’ geramnya.
Sementara di bawah sana, ketegangan antara Dewi dan Tuti semakin sengit, padahal jika Dewi memang menginginkan Prince, ambil saja toh dia sudah menjadi mantannya. Tujuan Tuti memberikan taruhan pada Prince hanya ingin membuat kemarahannya berkurang dan dendamnya bisa tersalurkan ketika berhasil mengalahkan Prince di hadapan fansnya.
‘’Alah, lo nggak usah bohong Bongsor! Gue tahu rencana busuk lo itu! Lo pasti ingin dekat dengan Prince kan?! Lo itu nggak punya kaca apa di rumah? Coba lihat ukuran tubuh lo ini dan coba lihat ukuran tubuh gue yang langsing bagaikan model, lo pikir Prince akan tertarik dengan gadis yang oversize seperti lo ini, hah!’’ Dewi kembali memberikan ucapan pedas pada Tuti dengan suara kerasnya.
Tuti tidak meladeni ucapan Dewi, dirinya kembali mengambil bola basket dan melemparnya pada Prince, taruhan akan dimulai.
‘’Sebelum taruhan kita mulai, gue ada tantangan untuk lo! JIKA GUE YANG MENANG, GUE AKAN BAYAR MAKAN LO DI KANTIN SELAMA TIGA BULAN, DAN JIKA GUE YANG MENANG LO HARUS IKUT GUE NANTI MALAM KE PUSAT PERMAINAN, BAGAIMANA?’’
Dewi semakin meradang, dirinya tidak terima dengan taruhan yang diberikan oleh Prince, Dewi berusaha untuk menyentuh sehelai kulit Prince saja tidak diperbolehkan olehnya.
‘’Lebih baik lo keluar dari lapangan ini, sebelum wajah lo itu kembali kena bola ini!’’ bentak kasar Prince.
Tuti menyetujui, mereka melakukan pertarungan satu lawan satu, siapa yang bisa memasukkan bola ke dalam keranjang basket dengan jarak yang telah ditentukan, dan berhasil membuat satu selisih saja, maka dia yang akan menjadi pemenangnya.
Sudah lemparan yang ke empat, dan skor mereka berdua sama, hanya butuh satu lemparan lagi untuk menentukan siapa pemenangnya, dan detik-detik ini akan Tuti lakukan, jika dia gagal untuk mencetak poin, maka otomatis Prince yang menang.
‘Gue tidak boleh dengan dia!’ batin Tuti mengambil ancang-ancang.
Ketika Tuti tengah bersiap memberikan satu lemparan penentu, Prince mengacaukan semuanya, dia melempar kerikil kecil, dan lemparan itu berhasil mengenai pergelangan tangan Tuti dan membuat dirinya kalah.
Prince tersenyum penuh kemenangan, Tuti yang tahu jika kekalahannya ini terjadi karena ulah Prince, dia mendekat karena tidak terima.
‘’Lo mau curang yah sama gue! Lo kan yang lempar kerikil itu!’’ geram Tuti.
‘’Sudahlah, lo terima saja kekalahan lo ini. Dan jangan lupa nanti malam,’’ bisik Prince lalu meninggalkan Tuti yang semakin kesal.
‘’DASAR PRIA BRENGSEK LO!’’ teriak Tuti, Prince masih terus melangkah dengan senyuman kemenangan di wajah tampannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments