Episode 7/ Hampir Kebobolan.
Kemudian dirinya masih terus memantaskan untuk terus berusaha dan tetap tenang, Tuti menemui semua perubahan dan tetap tenang menghadapi berbagai macam yang bisa ia lakukan dan tentu saja ia akan terus mengabari jika mulai menemukan kejanggalan, terlebih kali ini ia malah mendapatkan ancaman pembunuhan dari orang yang tidak di kenal, dan tentunya berbagai pertanyaan akan muncul sudah seperti ini.
‘’Kali pertamanya aku diteror di hari pertama, malah peneror ini benar-benar bikin penasaran, siapa identitasnya?’’ pikir Alice.
Kali ini dia kedatangan tamu, rasanya tidak ada yang akan berkunjung hari ini, yah semua atribut Tuti sudah ia singkirkan, sekarang tinggal Alice yang cantik rupawan, tubuh bak model, wajah campuran asia dan eropa, jika wajah ini yang terlihat di kampusnya, mungkin semua mata tidak akan pernah berpaling untuk menatapnya.
‘’Siapa yang datang berkunjung sih? Sedang capek-capeknya malah datang berkunjung!’’ kesal Alice.
Betapa kagetnya ketika melihat yang berdiri di depan apartemennya, yah Prince. Dia pria yang berdiri di depan sana, Alice kembali mengganti semua atribut Tuti, entah alasan apa yang membuat Prince datang berkunjung.
‘’Dasar pria gila!’’ gumam kesal Alice.
‘’Masa iya harus ganti pakaian ini lagi sih? Ini aja susah banget, butuh lima belas menit mengenakannya!’’ Alice tak henti-hentinya mengomel sembari terus mengenakan atribut Tuti.
Setelah selesai, Alice menatap dirinya dari pantulan cermin, semuanya sudah sempurna, dia sudah menjadi Tuti kembali. Dirinya menghela nafas sebelum bertemu dengan Prince, mantan kekasihnya itu.
‘’Lama amat bukanya!’’ geram Prince, dia sudah menunggu lebih dari tiga puluh menit.
Tuti memang sengaja mengulur waktu untuk bertemu dengan Prince, tapi apa pria itu masih setia berdiri di luar sana.
‘’Salah sendiri, ngapain datang kesini! Tahu darimana tempat tinggal gue?’’ tanya Tuti.
Prince melirik ke bagian dalam ruangan, Tuti yang tidak ingin semuanya terbongkar sekarang tentang identitas aslinya, langsung saja dia menutup kembali pintunya, dan menatap Prince dengan wajah kesal.
‘’Mau apa? Jangan mesum yah!’’ ujar Tuti dengan judes.
‘’Apa? Nggak salah dengar nih! Gue mau mesum datang ke tempat lo ini? Maaf yah, Sister. Gue nggak tertarik sama cewek modelan kayak lo ini!’’ balas Prince dengan ucapan pedasnya.
‘’Ohh, gitu … lebih baik pergi dari tempat ini, buang-buang waktu gue aja!’’ Tuti kesal dengan mulut pedas Prince.
Dia memilih mengalah dan menutup pintunya kembali, membiarkan Prince diluaran sana yang masih terus mengetuk pintunya.
‘’Buka bentar! Ada hal yang ingin kusampaikan nih!’’ teriak Prince.
‘’Bodoh amat! Lebih baik lo pergi dari tempat ini! Dasar wajah aja yang tampan tapi kelakuan apa, hah!’’ geram Tuti kembali melepas semua atribut yang terpasang di tubuhnya.
‘’Sia-sia gue menjadi Tuti, malah udah capek banget lagi!’’ geramnya menghamburkan tubuhnya di Kasur empuk dan memejamkan mata.
Dua jam telah berlalu, setidaknya Alice memiliki sedikit waktu untuk istirahat sebelum dia dipanggil kembali untuk melakukan penyelidikan.
‘’Aduh, udah telat banget ini!’’ kesal Alice ketika mobil yang ia kendarai terjebak macet.
Alice menelepon seseorang dan memintanya untuk datang ke tempatnya segera, butuh waktu sepuluh menit untuk menunggu kedatangan seseorang yang ia telpon.
‘’Maaf, Detektif. Tadi ada sedikit permasalahan di kantor,’’ ucapnya.
‘’Sudahlah, saya buru-buru sekarang. Oh yah, nanti kamu antar saja mobil ini ke kantor,’’ ujar Alice.
Merek berdua tukar posisi, Alice menggunakan motor yang dibawa oleh bawahannya, dia memang sudah gila, jalanan yang sangat ramai ini ia terobos begitu saja, nasib baik tidak ada polisi yang tengah bekerja, butuh waktu lima belas menit untuk Alice bisa berada di lokasi kasus barunya ini.
‘’Sepertinya semua sudah dimulai,’’ gumam Alice.
Dirinya mendekat dan memperhatikan begitu detail semua hal yang terjadi, dirinya melangkah mendekat pada garis polisi yang terpasang, memperhatikan beberapa titik yang mungkin akan menjadi titik terang dan sekarang dia tersenyum simpul.
Seorang pria gagah datang mendekat, berdiri tepat di sampingnya, Alice yang tahu siapa pemilik sepatu ini, lantas menoleh dan sesuai dugaannya pria ini menatap kepadanya dengan tersenyum.
‘’Sudah sangat lama kita tidak bertemu, bukan begitu Detektif?’’ ujarnya.
Alice bangkit berdiri dan melepaskan kacamata hitam yang ia kenakan, mereka lakukan jabat tangan sebagai pertanda awal pertemuan mereka.
‘’Sejak kapan Anda kembali?’’ tanya Alice.
‘’Apa Anda tidak mendapatkan kode apapun tentang kedatangan saya?’’ pria ini memberikan sebuah kode.
Alice kembali teringat dengan pesan singkat yang didapatkan ketika masih di kampus, lebih naasnya dia mendapatkan hukuman karena pesan singkat tentang kedatangan pria yang berdiri tepat di hadapannya.
Pak Fardi itu benar-benar tidak logis, padahal dirinya sudah dapat menyelesaikan semua pertanyaan yang terdapat di papan tulis, namun rupanya dia masih tetap mendapatkan hukuman dengan alasan karena telah bermain gadget selama pembelajarannya.
‘’Awas saja tuh Dosen, akan gue balas nanti pas di kampus!’ geram Alice.
Pria yang berada di sampingnya seakan mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh Alice, sontak saja memberikan sebuah coklat pada Alice.
‘’Apa Anda pikir saya ini anak kecil, hah!’’ kesal Alice.
Dia memilih untuk menelusuri kasus ini, rasa kesalnya pada Pak Fardi benar-benar memuncak. Dia sangat tidak terima diperlakukan seenak itu saja oleh dosen itu.
‘’Sudah mendapatkan beberapa hal yang penting?’’ tanya Alice pada bawahannya yang tengah focus pada penyelidikan mereka.
‘’Detektif? Kapan Anda kembali?’’ salah seorang dari mereka malah berbalik tanya.
‘’Baru saja, sekarang katakan apa sudah ada hal yang bisa membuat saya senang detik ini?!’’ ujar Alice dengan model seriusnya.
‘’Belum ada Detektif, para saksi juga belum ditemukan,’’ balas seseorang.
Alice berdecit kesal, dia mengeluarkan buku catatan kecil dan berencana akan melakukan investigasi ini seorang diri, rasanya sudah sangat lama ia tidak bergelut dengan dunia investigasi, padahal baru beberapa hari saja, rasa penasarannya terhadap deduksi-deduksi gila memang sering muncul terlebih jika kasus ini dirasa sangat janggal.
Dia melangkah kembali ke tempat yang juga terdapat garis polisi, disana juga sudah berada pria yang menyapanya beberapa menit yang lalu, Alice mendekat dan mulai mengamati tempat itu.
‘’Sepertinya deduksi liar akan kembali muncul,’’ gumamnya.
Alice tidak menoleh, dia sedang berada di mode seriusnya, pria ini hanya tersenyum melihat tingkah Alice yang terkadang dirinya bagaikan anak kecil yang sangat rewel, terkadang dirinya juga bagaikan seorang wanita dewasa.
‘’Awhg! Kenapa rasanya sangat aneh! Sudah lebih dari lima menit, tapi tidak ada yang aku temukan apapun, sangat menjengkelkan!’’ kesal Alice jongkok dan mengeluarkan kaca pembesarnya.
Ketika Alice sedang focus melakukan penyelidikannya, pria yang masih berdiri seakan melihat bayangan seseorang di ujung sana, dia tersenyum dan menoleh kembali pada Alice yang masih jongkok untuk memecahkan kasus kali ini.
‘’Sepertinya saya akan menang telak dari Anda, Detektif Alice!’’ ujarnya melangkah begitu saja.
Alice kaget dengan penuturan yang disampaikan oleh pria itu, dia memperhatikan gerak-geriknya yang malah melangkah ke kerumunan bawahannya.
‘’Tidak mungkin dia menemukan semuanya secepat itu, ini saja sudah melakukan banyak cara untuk memecahkan semua ini, tapi tidak ada hasilnya, tapi … pria itu malah sudah mendapatkan semua jawabannya,’’
‘’SANGAT MUSTAHIL!’’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments