Episode 6/ Siang Kampus Malam Kasus.
Keesokan paginya hari yang begitu melelahkan bagi Alice, dimana dirinya harus bangun pukul empat pagi karena harus memasang semua perlengkapan yang diperlukan untuk penyamaran, mana dia juga hanya tidur tiga jam setiap hari, ibarat kata pagi sampai sore di kampus, sore hingga larut malam di kasus, hari-hari yang sangat melelahkan bagi Alice, siang jadi Tuti malam jadi Alice.
‘’Sungguh melelahkan tapi juga sangat menyenangkan, kapan lagi bisa bermain peran seperti ini. Oh yah, aku harus menghubungi Profesor jika bahan yang aku perlukan sudah mulai habis,’’ gumam Alice seraya menatap dirinya di pantulan cermin.
Alice tersenyum tapi air matanya tak berhenti untuk turun, dirinya merasakan sesuatu, kejadian masa lalu yang tidak akan bisa lepas dalam ingatan Alice, dimana ibunya dibully habis-habisan hanya karena penampilan.
Seandainya mereka tahu, betapa besar perjuangan ibunya maka sudah pasti ibunya itu akan mendapatkan penghargaan paling layak di muka bumi ini, apa daya semua perjuangannya sia-sia.
Dan memang benar ibu adalah sosok malaikat tanpa sayap yang dikirimkan Tuhan, hadir ketika mengalami masalah dan satu-satunya obat mujarab yang pernah ada.
‘’Aku tidak boleh cengeng, aku ini wanita kuat, aku harus bisa sekuat ibu. Ibu saja bisa menghadapi banyak masalah pelik dalam hidupnya, lantas kenapa aku tidak? Aku tidak boleh cengeng seperti ini!’’ Alice berusaha menguatkan hatinya untuk tetap tegar hingga akhir.
‘’Permainan baru saja dimulai, dan ini tidak akan berakhir dengan akhir yang menyakitkan, akan aku buat YANG LEMAH TAK BERDAYA MENJADI KUAT BAGAIKAN BAJA!’’ janji Alice pada dirinya, pada semua kekecewaan yang ia rasakan, derita ibunya, derita orang-orang lemah.
Alice tidak akan berhenti untuk berjuang menegakkan keadilan, dirinya akan terus melangkah sekalipun ancaman kematian akan terus mengintainya, setiap detik Alice mendapatkan ancaman terror kematian dari para musuh.
‘’Aku kira kematian itu rahasia Tuhan dan sangat tertutup rapat. Tapi rupanya aku salah, justru kematian ku ada di tangan mereka, sampai kapan aku terus bersembunyi bagaikan pecundang? Sampai kapan aku lari dari masalah ku sendiri dan malah melibatkan orang lain? Berapa banyak nyawa yang akan hilang? Berapa banyak lagi oh Tuhan?!’’ Alice melangkah dengan deraian air mata, ia berusaha kuat di hadapan banyak orang dan akan sangat rapuh ketika sendirian.
[Halo, Detektif. Semua barangnya sudah saya kirim dan sekarang bagaimana dengan perkembangan kasus itu?] tanya seseorang dengan suara beratnya, dan tidak lain pria itu adalah Profesor.
[Jangan panggil saya dengan sebutan itu, Prof. kan saya jadi malu, ini bukan jam kerja saya sebagai seorang Detektif jadi panggil Alice saja, atau mungkin mau mencoba panggilan baru yaitu TUTI.] balas Alice sedang menunggu bus di halte.
[Haha hahah,] tawa renyah dari Profesor pun terdengar, Alice yang mendengar tawa bahagia Profesor lantas heran dan bertanya.
[Kamu bertanya hal apa yang membuat saya tertawa ngangak seperti ini, Alice? Coba katakana siapa nama panggilan kamu selama melakukan penyamaran?] tanya Profesor dengan gelak yang tidak bisa ia tahan.
[Oh, jadi Prof sedang menertawai nama baru aku yah, TUTI. Tak apa, aku juga tidak akan mempermasalahkan itu semua, lagian nama TUTI itu keren. Ahh, sudahlah. Aku mau fokus kuliah aja kalo gitu, bye.]
[Eh, Al ….]
Sambungan telepon terputus, dan ketika itu detektif jauh lebih muda datang menghadap. Yah pria itu seorang detektif senior dan tentunya sudah mengarung samudera kasus dengan jumlah banyak, entah alasan apa yang membuat dia kembali sebelum masa tugasnya habis di Afrika.
‘’Ah, rupanya kedatangan tamu, sudah sangat lama kamu tidak kembali dan belum waktunya untuk kemu kesini, bukan?’’ sindir Profesor yang datang dengan dua cangkir kopi panas.
Pria itu hanya memberikan senyum simpul, dirinya lantas menghabiskan kopi pemberian Profesor.
‘’Masih belum berubah cara minumnya yah,’’ ujar Profesor ketika pria itu menghabiskan penuh kopi pemberiannya.
‘’SEPERTI KASUS, DIA HARUS SEGERA DISELESAIKAN!’’ balas pria itu dengan tenang.
‘’Jika begitu, lantas kenapa kamu kembali sementara kamu tahu jika kasus kamu disana belum selesai?’’ tanya Profesor, dia juga sangat heran kenapa bisa pria yang paling professional di bidangnya malah mengabaikan tugas penting ini.
‘’saya memang belum menuntaskannya, oleh sebab itu saya kembali!’’ balas pria itu dengan santai.
‘’Apa? Saya tidak salah dengarkan? Jangan bilang kasus yang kamu tangani di Afrika itu memiliki buntut panjang di sini? Jika begitu tamat saja riwayat TUTI,’’ Profesor yang malah semakin cemas pada keselamatan Alice.
Pria yang dihadapan Profesor jelas sangat heran, siapa wanita bernama TUTI, rasanya tidak ada detektif baru yang bernama Tuti. Karena setiap anggota detektif baru maka dia akan diberi kabar.
‘’Tuti? Siapa Tuti?’’ tanya pria itu dengan heran.
‘’Ohh, itu. Tuti itu Alice,’’ jawab santai Profesor.
Pria itu tersentak, dia malah tahu arah yang akan terjadi, pasti Alice kembali melakukan investigasi gila tanpa memberitahu padanya terlebih dahulu.
‘’Ugh! Dasar! Bisa-bisanya dia tidak memberi kabar apapun!’’ ujar kesal pria tersebut yang bisa di dengar oleh professor.
‘’Kamu kenapa?’’ tanya Profesor semakin heran.
‘’Tuti itu Alice yang sedang melakukan penyamaran kan, Prof? dan jangan bilang kasus yang seharusnya saya pecahkan? Jika iya, maka tamat sudah riwayat gadis keras kepala itu!’’ ujarnya izin pamit begitu saja.
Professor yang melihat kepergian detektif paling professional sontak saja meraih kembali ponselnya untuk mengirimkan pesan pada Alice.
[Habis sudah riwayat kamu, Al. dia baru saja kembali,]
Pesan singkat dari Profesor langsung dibaca oleh Alice, terlebih dia sudah berada di dalam kelas. Alice yang telah membaca pesan singkat dari Profesor jadi berdecak kesal sekaligus kaget.
‘’Apa?!’’ teriak Tuti yang membuat satu kelas menatap ke arahnya dengan heran.
Tidak terkecuali Prince beserta rombongan, yang kebetulan mereka memang lebih memilih tempat paling belakang sementara Tuti duduknya paling dekat dengan meja guru, dan lebih kebetulannya lagi dosen yang mengajar adalah Pak Fardi, dosen paling dingin di kampus elite itu.
‘Kenapa dengan dia?’ pikir Prince.
Pak Fardi yang seakan bisa membaca hal yang telah terjadi, dirinya dengan sangat dingin berkata, memang benar jika pesona pria tampan itu memabukkan, terlebih jika orangnya seperti Pak Fandi siapa juga yang bisa menolak, hanya saja buyaran itu hancur ketika pria tampan ini malah bersikap paling dingin, sudah bagaikan psikopat tengah memburu mangsa saja, belum ada dalam sejarah Pak Fardi akan tersenyum, sebanyak hal apapun yang terkesan lucu oleh banyak orang, maka baginya itu hanya seperti omong kosong.
‘’Kamu yang berani-beraninya berdiri ditambah berteriak di depan saya, maju ke depan dan jawab sepuluh pertanyaan ini!’’ titah Pak Fandi.
Tuti yang menyadari jika yang dimaksud oleh dosennya itu adalah dia, tanpa malu seraya berdiri di depan kelas dan menjawab semua pertanyaan yang tersaji di papan tulis dengan sangat mudah, tidak menghabiskan waktu lebih dari lima menit, Tuti sudah berhasil menyelesaikan.
Tuti menatap pada Pak Fandi yang sedang memeriksa apakah jawaban Tuti itu benar dan tidak ada yang keliru, karena jika salah saja maka Tuti akan mendapatkan hukuman keras, begitu lah cerita dari Pak Boni.
‘’Tidak usah di periksa, Pak. Itu juga sudah benar kok, cumin buang-buang waktu saja!’’ ujar Tuti.
Pak Fardi terlihat sangat geram, wajah menakutkan kembali terjadi, satu ruangan jadi panas dingin, bisa-bisanya anak baru itu menantang dan berani adu argumen dengan dosen bagaikan psikopat ini.
‘Habis sudah riwayat kamu, Tut. Apa nggak cukup dengan sekali saja masuk ke ruangan bagaikan neraka itu? Malah dia mencari masalah dengan seorang psikopat kampus, bisa lenyap kamu dari dunia ini,’ batin Prince.
‘’Tunggu, hei! Wanita aneh!’’ geram Pak Fandi memegang erat tangan kanan Tuti.
Semua mata tertuju pada pegangan tangan itu, momen perdana bagi seorang psikopat kampus berani dekat-dekat dengn seorang wanita bahkan berani memegang tangannya, bisik-bisik pun tidak bisa di elakkan dan mungkin saja gossib baru akan semakin terjadi.
‘’Maaf, Pak Fardi yang terhormat, bisakah Anda melepaskan tangan saya ini? Dan satu lagi saya punya nama dan tidak pantas sekali seorang dosen seperti Anda tidak memberikan contoh teladan yang baik untuk anak murid Anda sendiri!’’
‘’Apa Anda pikir saya akan takut dengan wajah sangar bagaikan psikopat ini? Hei! Anda salah orang, Pak. Saya bukan tipe wanita pengecut dan satu lagi nama saya bukan wanita aneh, nama saya itu TUTI!’’ ujarnya.
Jelas ucapan paling akhir berhasil membuat Pak Fardi yang terkenal tidak paling bisa tersenyum untuk hal apapun, malah sekarang kondisi itu seakan berkhianat padanya.
Haha hahah haha, gelak tawa pecah di ruangan yang sangat hening, semua yang ada di dalam kelas merasa sangat heran, mereka saling melempar pandang satu sama lain, seakan memberikan isyarat pertanyaan, ada hal gerangan apa yang telah berhasil membuat dosen paling tidak bisa senyum mendadak tertawa begitu lepas ketika berhadapan dengan Tuti.
‘’Siapa nama kamu barusan? TUTI? Haha hahah!’’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
asal tuti
2023-01-10
1