Episode 3/ Tersangka Pertama
Alice alias Tuti, dirinya sedang membuntuti seseorang . pria itu juga terlihat seperti seorang dosen disana, dirinya berusaha meraih informasi lebih jauh dari dosen tersebut. Pria itu terlihat sedang makan di kantin Bersama dosen lainnya, dosen yang pagi ini mengantarkannya ke ruangan kelas. Dia sangat penasaran dengan dosen itu, pria yang ada di buku kasus.
‘’Apa mungkin pria itu sedang menyamar juga disini?’’ pikir Alice.
Dia kembali memperhatikan jauh lebih detail tentang pria itu, memang sangat mirip, tapi alasan dari buku kasus ini yang masih terus menjadi pertanyaan bagi Alice, dia mencatat beberapa hal penting dari pria yang menjadi tersangka pertama.
‘’Aku harus mendekat kesana,’’ gumam Alice melangkah ke daerah kantin dan sengaja untuk duduk di meja sebelahnya dosen itu.
Kedua pria tersebut menatap Alice dengan sangat heran, tatapan tajam membuat Alice ketakutan terlebih dari pria yang menjadi tersangka, tatapan sangat dingin membuat Alice sangat canggung.
‘’Owh, kamu ini yang tadi saya antarkan ke ruangan kelas di ujung sana kan?’’ tanya dosen, pria dengan tubuh putih atletis, wajahnya juga sangat model.
‘’Iya, Pak ….’’ jawab Alice singkat dan terbata-bata, itu semua terjadi karena sorot mata pria yang sangat dingin.
Dosen yang mengetahui jika Alice ketakutan lantas menegur pria yang duduk di sebelahnya.
‘’Heii, Bung. Apa harus ke semua gadis di kampus ini kamu berikan tatapan mematikan itu?’’ ujar dosen, yang entah siapa namanya.
Pria itu tidak mengindahkan teguran dari rekannya, malah tatapan yang jauh lebih dingin diberikan oleh pria itu padanya.
‘’Nama kamu siapa?’’ tanyanya.
‘’Hei! Apa perlu dengan tatapan itu, sudahlah … masalah itu seharusnya tidak menjadi permasalahan. Gadis ini mahasiswi baru, dimana tata krama kamu sebagai seorang dosen, Bung?’’
Alice sangat ketakutan, kesan negatif jelas terpancar dari pria itu. Tapi dia akan berusaha untuk tenang, mungkin dosen yang ada di samping pria ini akan membantunya dalam penyelidikan.
‘’Nama saya Tuti, Pak. Saya mahasiswi baru di kampus ini,’’ ujar Alice memperkenalkan dirinya.
‘’Oh,’’ balas pria itu singkat, dirinya bangkit berdiri dan pergi dari sana begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Alice hanya menatap heran padanya, Pak Dosen yang menyadari lantas menawarkan makanan dan minuman terbaik di kantin. Alice akhirnya memesan nasi goreng dan dan teh hangat, tidak menunggu lama pesanan mereka datang.
‘’Silahkan dinikmati, ucap Pak Dosen.
Alice masih sangat canggung untuk makan di meja yang sama dengan dosen tampan, dia berusaha untuk tenang, hanya saja karena saat ini Alice menjadi Tuti, dia harus bisa melakukan penyamaran dengan baik.
‘’Kamu tidak usah ambil pusing pada pria itu, dia memang terkenal sangat dingin di kampus ini. Oh yah, nama kamu itu Tuti kan?’’ tanya Pak Dosen memulai pembicaraan.
‘’Iya, Pak. Nama Bapak siapa?’’ tanya Alice.
‘’Nama saya Boni, saya dosen jurusan filsafat dan pria yang tadi itu namanya Fandi dosen matematika. Oh yah, kamu kenapa tidak di kelas? Bukannya jam pembelajaran matematika itu akan dimulai?’’ tanya Pak Boni.
Yah karena pembicaraan Panjang mereka dan terlebih wajah tampan dari sang dosen, siapa yang tidak akan terpikat coba? Hanya saja karena dosen matematikanya dosen dengan tatapan mematikan, Alice izin pamit untuk kembali ke kelas.
‘’Haduhh, dua menit lagi masuk!’’ gumam Alice seraya berlari sekuat tenaganya.
Dan benar saja pembelajaran sedang berlangsung, dan pria dengan tatapan mematikan itu sedang menulis di papan tulis, Alice yang tidak ingin membuat masalah pertama, hanya bisa berdiri dari luar jendela dan mendengarkan pembelajaran yang disampaikan oleh Dosen Fandi.
Tidak begitu lama, Dosen Boni melihat Alice yang hanya berdiri di luar kelas, pria itu mendekat dan bertanya langsung pada Alice kenapa dirinya hanya berdiri di luar saja.
‘’Ehh, Bapak Boni … itu Pak ….’’ Alice bingung harus memberikan jawaban apa.
‘’Kamu takut yah sama Pak Fandi? Santai saja, jika kamu bisa memberikan kesan pertama yang baik, maka Dosen itu akan membantu kamu dalam urusan nilai,’’ ujar Pak Boni yang menatap ke papan tulis, terlihat ada lima pertanyaan.
‘’Kamu bisa menjawab pertanyaan yang ada di depan sana?’’ tanya Pak Boni.
Alice memperhatikan pertanyaan yang ada di depan sana dan menyanggupinya, yah karena sebagai seorang detektif hitung-hitungan Alice tidak perlu diragukan lagi, bahkan sebelum menjadi detektif dirinya sering mengikuti perlombaan nasional maupun internasional.
Pak Boni menarik tangan Alice untuk masuk ke dalam kelas dan Tindakan itu membuat semua yang ada di kelas kaget dengan Pak Boni yang menggandeng tangan Alice, padahal selama ini dua dosen itu, Boni dan Fandi merupakan pria yang sangat anti dengan seorang wanita.
‘’Silahkan dijawab pertanyaan yang ada di depan sana,’’ ujar Pak Boni.
Alice langsung mengerjakan lima soal di depan kelas, sekalipun awalnya terjadi perdebatan singkat di antara kedua dosen tampan itu, Prince dan rombongannya memperhatikan seksama kejadian yang ada di depan sana.
‘’Lo ngerasa ada yang aneh nggak sih dari dosen itu? Sepertinya mereka berbeda sekali hari ini semenjak Tuti yang gendut itu ada di kampus kita,’’ bisik pria yang duduk bersebelahan dengan Prince.
‘’Hmm, gue juga merasa ada yang aneh. Padahal kan selama ini yang kita kenal, kedua dosen itu sangat anti dengan wanita, tapi kenapa dengan si Tuti, mereka sangat aneh?’’ balas pria lainnya.
Ketika perdebatan singkat terjadi di antara rombongan Prince Tuti alias Alice juga telah menyelesaikan lima soal yang ada di depan sana dan hanya tinggal menunggu apakah jawabannya benar dan diterima oleh Pak Fandi.
‘’Terbukti kan jika Tuti ini sangat paham dengan pelajaran Anda? Dan rasanya dia bisa menjadi perwakilan kampus dalam olimpiade matematika yang akan di adakan di Dubai lima hari lagi, apakah kamu mau menjadi perwakilan kampus kita, Tuti?’’ tanya Pak Boni.
Dirinya berusaha berpikir dan akhirnya memberikan anggukan, Pak Boni lantas mengajak Tuti ke ruangan pribadinya dan membicarakan olimpiade yang akan dilaksanakan.
Di dalam ruangan pribadi Pak Boni, dirinya merasa sangat heran, kenapa perlakuan yang di dapatkan olehnya begitu berbeda, padahal dosen-dosen sebelumnya memberikan tatapan tidak suka pada Tuti yang berbadan gendut, dimana kriteria yang sangat jauh dari kampus elite itu, dan nasib baiknya Pak Boni yang menolong agar Tuti bisa berada disini.
‘’Pak saya boleh bertanya?’’ tanya Tuti ketika melihat Pak Boni sedang focus mengurusi beberapa berkas.
‘’Hmm, mau bertanya apa?’’ tanya Pak Boni.
‘’Kenapa Bapak berbeda dari dosen yang lain?’’ ujar Alice alias Tuti yang membuat Pak Boni menatap kepadanya dengan sangat lekat.
‘’Memangnya? Apakah itu semua salah?’’ tanya Pak Boni masih dengan tatapan yang sama.
‘’Bukan begitu, Pak. Hanya saja saya tahu jika kampus ini menilai segala sesuatu dari fisik yang cantik dan tampan, sementara Bapak lihat sendiri perlakuan para dosen lainnya pada saya hanya karena ukuran tubuh yang saya besar,’’ ucap Alice.
‘’Ohh, itu. Itu semua karena saya berbeda dari mereka dan harus saya akui saya kagum dengan keberanian kamu ketika memberikan pelajaran di kelas kamu itu,’’ kata Pak Boni.
‘’Jadi … Bapak melihat semuanya?’’ tanya Alice.
‘’Hmm,’’
‘’DAN HARUS SAYA AKUI SAYA MENYUKAI KAMU,’’ ucap Pak Boni menatap lekat pada Alice.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Roselia Dufan
nahhhh sudah kuduga dia bakalan bilang gini, dasar
2023-07-18
1
Roselia Dufan
lahhh llahhh😂😂😂
2023-07-18
1
@Risa Virgo Always Beautiful
Alice sangat ketakutan kesan negatif terpancar dari pria itu
2023-07-17
0