Penjelasan Wiranto

Di tempat kediaman Wiranto.

Bu Arum tengah kepikiran dengan putrinya. Semenjak telepon kemarin Sora mengadu jika dia tidak betah tinggal di rumah mertuanya, ia sedikit tidak tenang. Apalagi Sora mengatakan begitu banyak aturan di rumah Asberto. Ia sedikit khawatir jika putrinya sampai melanggar atau membuat kekacauan di sana.

"Kenapa?" tanya Wiranto saat melihat istrinya tengah gelisah di sofa ruang keluarga, dia ikut duduk di sofa single sementara bu Arum di sofa panjang.

"Aku kepikiran sama Sora, yah. Sora kemarin bilang jika dia tidak nyaman tinggal di rumah keluarga Asberto. Banyak sekali peraturan di sana," terang bu Arum.

"Itu masalah kecil. Tidak perlu terlalu di pikirkan. Lagipula Sora baru tinggal beberapa hari saja di sana. Dia belum bisa beradaptasi di tempat barunya. Biarkan saja, nanti Sora juga pasti akan terbiasa tinggal di sana."

"Tapi, yah. Ibu khawatir jika Sora sampai melanggar peraturan di sana, atau Sora membuat kekacauan di rumah itu."

"Di sana kan Sora bersama suaminya, Sora sudah tanggung jawab Dimas. Jadi apapun yang terjadi pada Sora, sudah menjadi kewajiban bagi Dimas untuk menegur atau membela nya."

"Masalahnya, pernikahan putri kita dan putra Asberto tidak di dasari oleh rasa cinta, ayah. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah paksaan. Keegoisan ayah sendiri. Jadi jika terjadi apa-apa pada putri kita, ibu khawatir Dimas tidak dapat bersikap adil pada Sora. Tetap kita terutama ayah yang harus bertanggung jawab. Sebab ayah yang menginginkan pernikahan ini terjadi."

Bu Arum dan Wiranto malah debat.

"Ayah melakukan semua ini demi kebaikan Sora juga. Memangnya ibu mau, kalau di antara kita ada yang terbunuh hanya karena kita tidak bisa membayar hutang nyawa pada Asberto?" seru Wiranto.

Bu Arum mengernyit, ia keget sekaligus bingung mendengar kalimat suaminya.

"Maksudnya?" tanya wanita itu.

Wiranto berpikir sepertinya ia tidak perlu menutup-nutupi hal yang selama ini ia rahasiakan.

"Asberto adalah orang yang menolong ayah saat ayah hendak di bunuh oleh Tuan Margo lantaran ayah terlilit hutang pada saat itu. Ayah berhutang nyawa padanya. Dan Asberto meminta nyawa kembali sebagai gantinya. Entah itu dalam keadaan hidup ataupun mati. Jika ayah tidak bisa membayar hutang nyawa tersebut, maka Asberto akan mengambil nyawa salah satu dari keluarga ayah. Entah itu ayah, kau, ataupun Sora. Oleh karena itu ayah lebih baik memberikan Sora dalam keadaan hidup, lantaran Asberto juga menginginkan putranya segera menikah agar putranya bisa meneruskan bisnisnya," jelas Wiranto panjang lebar.

"Tapi ini terdengar tidak masuk akal, ayah. Untuk apa Asberto menolong ayah jika dia sendiri pun meminta nyawa sebagai imbalannya?"

"Setidaknya kita harus berterima kasih padanya, berkat pertolongan darinya, ayah masih hidup sampai sekarang."

"Iya juga, ayah. Tapi kenapa Asberto harus menunggu putranya menikah terlebih dahulu untuk meneruskan bisnisnya? Ini terdengar aneh dan tidak masuk akal."

"Asberto pernah bilang jika putranya tidak mau bekerja. Oleh karena itu ia menginginkan putranya untuk segera menikah saja. Siapa tahu dengan menikah, dia berpikir jika dia memiliki tanggung jawab untuk menghidupi istrinya."

Bu Arum masih kurang paham dengan apa yang sudah di jelaskan oleh suaminya. Ini terdengar tidak masuk akal. Dan putrinya yang harus menjadi korban. Ia berharap Sora bisa bahagia dengan keputusan ini. Semoga saja.

_Bersambung_

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!