Sampai keesokan harinya, Sora masih marah dan kesal terhadap Dimas. Bagaimana tidak, pria itu sudah berani mencuri ciuman pertamanya. Bahkan ia memutuskan untuk mogok bicara. Sialnya, hari ini Dimas tidak jadi pergi kerja.
"Aku ingin tahu, seberapa lama kau tahan mendiamkan aku," ujar Dimas tiba-tiba muncul di samping Sora yang tengah memandang lurus ke depan di bagian balkon kamar.
Sora melirik sekilas, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pergi. Namun langkahnya di tahan oleh Dimas. Pria itu meraih pergelangan tangannya.
"Lepaskan!" seru Sora, seraya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dimas.
Alih-alih melepaskan tangan Sora, pria itu justru malah senyum-senyum.
"Tuh kan apa aku bilang. Kau tidak akan bisa tahan mogok bicara denganku. Barusan, kau membuka suara. Terima kasih," ucap Dimas kemudian melepaskan pergelangan tangan Sora.
Sora semakin kesal dengan pria itu. Rasanya ingin pergi dari rumah tersebut agar tidak lagi bertemu dengan pria semenyebalkan Dimas.
"Dan satu lagi," ucapan Dimas lagi-lagi menghentikan langkah Sora yang sudah dua langkah pergi dari sana.
"Sekarang kau bisa saja marah padaku, tapi suatu hari kau sendiri yang akan mendatangiku, untuk melakukan malam pertama kita. Aku akan pastikan itu."
Sora menggeleng kuat. Itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan pernah ia biarkan itu sampai terjadi.
Sora menghentakan kakinya di lantai saking kesalnya dengan pria itu, lalu melipir pergi dari sana.
Sementara Dimas menyunggingkan sudut bibirnya, membentuk sebuah senyum kecil.
"Sora...Sora! Pantas saja teman circle di kampus dulu banyak yang naksir padamu."
Dimas menoleh ke arah perginya wanita itu, sebelum kemudian ia kembali memandang lurus ke depan di balkon menggantikan Sora.
Sora menjatuhkan dirinya di sofa, ingin rasanya ia mengacak-ngacak wajah Dimas. Sayangnya ia tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukannya. Ucapan Dimas barusan ternging-ngiang di telinganya.
Dengan cepat Sora menutup kedua telinganya menggunakan telapak tangan. Ia pejamkan kedua mata, lalu menggeleng.
"Tidak, tidak, tidak. Bagaimana mungkin ucapan Dimas bisa memperngaruhi mu. Tidak akan pernah!" Sora berusaha meyakinkan diri sendiri, jika ia tidak mungkin menjadi seseorang yang baru saja Dimas katakan.
Mendengar kata malam pertama saja sudah membuat nya bergidik. Apalagi melakukannya.
Perhatian Sora teralih seketika mendengar suara getar ponsel. Ia mencari sumber suara, dan ternyata itu berasal dari ponsel Dimas yang tergeletak di atas tepi ranjang.
Karena penasaran, Sora melangkah mendekat untuk melihat siapa orang yang menelepon Dimas?
Begitu melihat nama yang tertera di layar, membuat kedua mata Sora melebar.
"Angeline?" Sora membaca nama yang tertera di layar ponsel Dimas.
"Siapa dia?" pikirnya.
Ia berusaha untuk tidak perduli, namun rasa penasaran terus mendorongnya untuk menjawab telepon tersebut.
Sora menoleh ke arah balkon, rupanya tidak ada tanda-tanda Dimas akan kembali. Dan daripada ia mati penasaran, lebih baik ia jawab saja telepon nya.
Sora menempelkan benda pipih tersebut ke daun telinga usai menggeser ikon berwarna hijau.
"Halo, Dimas. Apa kabar? Hari ini apa kau memiliki waktu luang? Aku ingin mengajakmu makan siang di restoran papaku," seru seseorang dari sebrang telepon.
Sora mengerutkan dahinya. Ia tidak berani untuk menjawab pertanyaan apalagi sampai membuka suara.
Siapa sebenarnya Angeline ini? Kenapa dia berani mengajak Dimas makan siang? Batin Sora.
"Baby, apa kau masih ada di sana? Halo .."
Sora di buat lebih terkejut saat si penelepon yang bernama Angeline itu memanggil orang yang dia pikir Dimas dengan sebutan baby, alias sayang.
_Bersambung_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Pinny Tirawat Thitipong💭
lanjut ❤️
2022-11-16
1