Malam harinya. Dimas meminta izin untuk bekerja, dan hal itu membuat papa dan mamanya cukup terkejut.
"Kau yakin ingin bekerja?" tanya Asberto di angguki oleh Dimas.
"Iya, pa. Bukankah papa yang memaksa aku untuk menikah? Dan sekarang statusku sudah menjadi seorang suami, jadi aku ingin bekerja," jawab Dimas mantap.
"Kenapa tidak dari dulu? Papa kan sudah berulang kali menawarimu untuk kerja di perusahaan papa, sebagai penerus jika papa sudah tidak bisa lagi bekerja. Tahu begini, papa paksa nikahkan kamu dengan wanita manapun."
"Pa ..." Merry mengusap bahu suaminya agar tidak terlalu keras dengan Dimas.
"Papa hanya senang saja, ma. Akhirnya Dimas mau bekerja. Tidak sia-sia papa nikahkan dia dengan putri Wiranto," sahut pria itu.
"Iya, pa. Mama mengerti maksud papa, tapi kalimat papa bisa saja menyinggung perasaan Dimas."
"Jangan terlalu memanjakan dia dengan sebuah pembelaan. Nanti dia kebiasaan."
Dimas hanya diam, percuma dia angkat bicara, ujung-ujungnya berakhir dengan perdebatan. Lebih baik dia fokus pada permintaannya untuk bekerja.
"Jadi bagaimana, pa? Apa aku boleh bekerja di perusahaan papa?" tanya Dimas kemudian.
"Tentu saja. Mulai besok kau sudah bisa mulai bekerja."
"Jabatanku di perusahaan papa apa?"
"Kau bisa mengambil alih jabatan papa di sana."
"Aku sih ok, pa. Tapi aku kan belum pernah terjun ke dunia kerja sebelumnya. Memangnya karyawan papa dapat memberi kepercayaan aku sebagai atasan mereka?"
"Kau tenang saja, Dimas. Besok kau datang bersama papa. Papa akan memberi tahu jika kau ini putra Asberto. Dengan begitu, maka tidak akan ada yang berani protes di antara mereka. Itupun jika sungguh-sungguh ingin bekerja. Bagaimana, deal?"
Dimas mengangguk setuju. "Iya, pa."
Asberto sangat senang, akhirnya ada kemajuan yang tumbuh dalam diri Dimas. Ia berharap Dimas dapat meneruskan perusahaannya.
Sementara Dimas kembali ke kamar. Pria itu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan posisi terlentang. Sora yang semula duduk di sofa, kini beralih duduk di tepi ranjang dekat Dimas.
"Bagaimana keputusan papamu? Apa papamu memberimu izin untuk bekerja?" tanya Sora penasaran.
"Tentu saja. Besok aku sudah bisa bekerja di perusahaan papa. Dan jabatanku di sana sebagai pemimpin, menggantikan papa. Aku hebat, bukan?" ujar Dimas sedikit menyombongkan diri.
"Jangan senang dulu, memangnya kau pikir enak apa jadi pemimpin? Kau memiliki tanggung jawab besar untuk itu."
"Tidak masalah. Aku yakin aku pasti bisa."
"Benarkah? Kau kan belum pernah bekerja sebelumnya."
Dimas menatap wajah Sora lalu bangun dan duduk. "Kau meremehkan ku?"
"Aku tidak bicara begitu, aku hanya bertanya dan bicara yang sebenarnya."
"Aku tidak kerja, kau mengomel jika aku tidak bisa memberimu nafkah. Sekarang aku mau bekerja, kau malah meremehkan aku. Menyebalkan sekali."
"Kau yang menyebalkan, bukan aku."
"Kau."
"Kau yang menyebalkan," seru Sora seraya melempar guling tepat mengenai wajah Dimas.
Lantaran tidak mau kalah, Dimas ikut membalas Sora dengan melemparkan bantal.
"Kau yang menyebalkan."
"Kau, Dimas."
"Kaauuu ..."
Pada akhirnya, mereka saling lempar bantal dan guling.
"Cukup, cukup, aku lelah, Dimas." Sora menyetop Dimas yang hendak melemparkan bantal untuk yang kesekian kali.
"Akhirnya kau menyerah juga. Sekarang kau harus mengakui jika kau menyebalkan."
Sora berusaha mengatur deru napasnya yang tersengal.
"Ok, ok."
Ujung ekor mata melirik guling yang terdapat di sisi kirinya.
"Cepat katakan jika kau menyebalkan, jika tidak maka bantal ini akan mendarat di wajahmu!" ancam Dimas yang siap melemparkan bantal di tangannya.
"Iya, ok. Aku akui ... " Sora menggantung kalimatnya, tangannya sudah mulai merayap mengambil guling di sisinya. "Kaulah yang menyebalkan!"
Bugh ...
Sora berhasil mengambil guling tersebut dan mendarat di wajah Dimas, hingga pria itu jatuh terlentang ke belakang, namun masih di area tempat tidur.
"Hahaha ... Yeay, aku yang menang." Sorak wanita itu kegirangan.
Namun tidak lama tawanya berhenti, melihat Dimas sama sekali tidak bergerak. Seketika panik menghampirinya.
"Dimas, kau tidak apa-apa kan?" tanya Sora seraya mendekati pria itu.
Dimas membisu. Ia jadi tambah khawatir. Ia mencoba untuk mengguncang-guncangkan tubuh Dimas.
"Dimas, are you okay? Jangan buat aku khawatir. Dimas, ayo bangun."
Sora terus mengguncangkan tubuh Dimas, namun pria tetap tidak mau bangun. Perasaan khawatir berubah jadi panik.
Saat Sora sedang panik-paniknya, Dimas bangun. Tanpa aba-aba pria itu mengecup bibir Sora sekilas. Membuat pemiliknya seketika menegang.
"Jadi siapa sekarang yang menang?" bisik Dimas.
_Bersambung_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Pinny Tirawat Thitipong💭
lanjut thor ❤️
2022-11-16
1