Menanyakan Alasan

Sora merasa sedikit canggung duduk berdua seperti sekarang dengan mertuanya di bangku taman belakang tempatnya tadi.

"Sora."

"Iya, ma," jawab wanita itu.

"Mama boleh tanya sesuatu padamu?"

"Boleh. Memangnya mama mau tanya soal apa? Terdengar nya serius sekali."

Wajah bu Merry memang tampak sangat serius, Sora jadi deg-degan, apa yang sebenarnya ingin dia tanyakan.

"Kau menikah dengan Dimas atas permintaan orang tuamu. Apakah orang tuamu memberi alasan kenapa mereka memaksamu untuk menikah dengan Dimas?"

Sora mengernyitkan dahinya merasa heran.

Kenapa mamanya Dimas menanyakan alasan di balik pernikahan aku dan putranya? Seharusnya dia yang lebih tahu akan masalah ini.

Sora menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu dan aku tidak di beri tahu alasannya. Bukankah seharusnya mama yang lebih tahu soal ini? Sebab alasan orang tua aku memaksa aku untuk menikah dengan Dimas seharusnya sama dengan alasan kenapa mama memaksa Dimas untuk menikah denganku."

"Bukan mama yang memaksa Dimas, tapi papanya. Mama bertanya padamu justru karena mama pun tidak tahu. Mama pikir orang tuamu memberi penjelasan kenapa mereka menikahkanmu dengan Dimas."

Sora terdiam untuk beberapa saat. Jika benar mamanya Dimas tidak tahu tentang masalah ini, itu artinya pernikahannya dengan Dimas merupakan kesepakatan antara Asberto dan ayahnya. Ia harus cari tahu apa alasan pernikahan ini terjadi.

"Apa Dimas juga tidak di beritahu alasannya, ma?" tanya Sora setelah lama berdiam.

Bu Merry menggeleng. Sora jadi kian penasaran.

"Meskipun mama tidak mengenalmu sebelumnya, tapi mama rasa kau ini menantu yang baik. Dan mama tahu, meskipun kau terpaksa menikah dengan Dimas, tapi kau tidak lupa menjalankan tugasmu sebagai seorang istri. Maka dari itu tanganmu sampai terluka karena kau ingin memasak untuk Dimas bukan?"

Sora mengangguk sekali. "Iya, selain itu aku juga merasa segan tinggal di sini jika tidak melakukan apapun. Sedikit banyaknya aku harus melakukan tugas aku sebagai istri," jawab Sora.

"Tidak usah segan. Kau bebas melakukan apapun, tapi untuk tugas rumah, serahkan semuanya pada pelayan di sini. Kau tinggal duduk manis saja."

"Justru itu yang membuat aku semakin tidak enak, aku hanya menantu di rumah ini. Aku tidak bisa berdiam diri saja."

"Sora, justru karena kau menantu di rumah ini. Jadi kami tidak akan membiarkanmu bekerja seolah-olah kau pelayan di rumah ini. Jadi biarkan saja tugas rumah di kerjakan oleh pelayan yang ada. Ok!?"

Mau tidak mau Sora pun mengangguk.

"Iya, ma."

"Ah ya, Dimas sudah beri tahu apa saja aturan yang ada di rumah ini?" tanya wanita paruh baya itu kemudian.

"Sedikit," jawab Sora.

"Mama tahu kau pasti tidak akan nyaman dengan peraturan di sini. Tapi mama peringatkan padamu untuk mematuhi peraturan yang ada. Peraturan itu di buat oleh papanya Dimas. Barang siapa yang berani melanggarnya, maka akan mendapat hukuman."

"Termasuk makan di waktu selain yang sudah di tentukan?"

"Itu hanya berlaku di meja makan. Jika kau merasa lapar sebelum waktunya makan, maka kau bisa makan di dapur," jelas bu Merry.

Sora menelan ludahnya mentah-mentah. Hidup itu mudah, kenapa keluarga ini harus mempersulit? Perkara makan saja harus ada aturan dan hukumannya. Rumit.

"Iya, ma. Aku paham," jawab Sora, padahal dalam hati ia menggerutu.

_Bersambung_

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!