Sora menghembuskan napas lega lantaran Dimas sudah memakai pakaian. Pria itu menatap pantulan wajahnya di cermin seraya menyisir rambutnya.
"Jangan sok kecakepan, cepat nyisir nya! Aku ingin bicara serius denganmu," seru Sora.
Dinas menyunggingkan senyum. "Mau bicara apa?"
"Ini penting, aku serius."
"Ya sudah, bicarakan saja."
Sora berdecak sebal, Dimas seperti menganggap dirinya akan bicara hal sepele.
"Aku ingin kerja."
Dimas menghentikan menyisir nya, ia menoleh ke arah wanita yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Memangnya telingamu sudah rusak?" Sora bertanya balik.
"Kau serius dengan ucapanmu?" tanya Dimas lagi dan mendapat anggukan dari Sora.
"Memangnya aku terlihat bercanda?"
Dimas menghela napas panjang, ia letakan sisir nya kemudian berjalan menghampiri wanita itu. Ia duduk di samping nya seraya menatap wajah Sora dengan tatapan ragu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Dimas menggeleng. "Tidak, tidak apa. Memangnya kau bisa bekerja?"
Pertanyaan pria itu sontak mendapat cubitan di pinggang dari Sora.
"Awww .. Hei, kenapa kau malah menyubitku?" seru Dimas.
"Habisnya kau menyepelekan aku. Asal kau tahu, aku pernah bekerja sebelumnya."
"Oh yeah?"
"Ya. Memangnya kau, menikmati harta orang tuamu saja."
"Sembarangan kalau bicara!"
"Memang benar kan?"
"Benar juga," jawab Dimas di akhiri dengan tawa kecil.
"Aku bicara serius, Dimas! Aku ingin bekerja."
"Ya sudah, kerja saja sana!" ujar Dimas seakan tidak perduli.
"Jadi kau mengizinkan?"
"Aku bukan memberi izin, hanya saja aku tidak melarang."
"Sama saja. Tapi ini serius, kau mengizinkan aku untuk bekerja?"
Kedua mata Sora tampak berbinar, syukurlah jika pria itu beneran memberinya izin untuk bekerja. Setidaknya ia bisa menikmati waktu di luar, tidak terkekang oleh aturan yang ada di rumah itu.
Dimas menatap Sora dengan serius.
"Jadi kau benar-benar ingin bekerja?" tanya Dimas lagi.
"Aku serius, aku serius. Kau meragukanku?"
"Bukan begitu. Memangnya apa alasan yang membuatmu tiba-tiba ingin bekerja?" tanya Dimas penasaran.
Sora menggeleng. "T-tidak, tidak ada alasan apapun. Aku hanya ingin kerja saja. Kau mengizinkannya bukan?"
"Tidak, aku memberimu izin."
Seketika binar di kedua mata Sora meredup.
"Tadi kau sudah memberiku izin, kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran?" seru wanita itu kesal.
"Aku memang belum bisa menafkahi mu, bukan berarti kau harus mencari nafkah sendiri. Mulai besok, aku yang akan kerja. Kau tetap diam di rumah saja."
"Tapi, Dimas-"
"Meski pernikahan kita terjadi karena sebuah paksaan, tapi di sini posisinya aku adalah suamimu. Dan kau harus mengikuti perintah ku. Terima kasih karena kau barusan meminta izin dulu padaku, itu artinya kau menghargai aku sebagai suamimu."
Dimas bangkit berdiri, kemudian pria itu beranjak dari sana.
"Dimas, tunggu! Aku belum selesai bicara, Dimas! Dimaaass ..!! Dimaaasss ...!!!"
Sora berusaha mengejar langkah pria itu, namun langkahnya terhenti saat ia melihat ibu mertuanya tiba-tiba muncul.
"Sora, ada apa?"
Sora melihat ke arah perginya Dimas, pria itu sudah tidak terlihat lagi.
"Tidak, ma. Tidak ada apa-apa."
"Kau yakin tidak ada apa-apa."
Sora mengangguk di sertai senyum kecil untuk menyakinkan wanita itu.
"Ya sudah, kalau begitu kau bisa ikut mama? Kita ngobrol di taman belakang. Mau?"
"Iya, boleh."
Merry mengembangkan senyum. "Ayo."
Sora mengangguk lagi, kemudian mereka berlalu dari sana.
_Bersambung_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Pinny Tirawat Thitipong💭
lanjut🥰
2022-11-14
1