Pagi-pagi sekali Sora sudah bangun, biasanya dia selalu bangun siang. Tapi berhubung ini di rumah sangat mertua, jadi ia tidak boleh sampai bangun kesiangan. Nanti jadi bahan pembicaraan.
Semalam ia tidur tidak begitu nyenyak, keberadaan Dimas yang tidur di sebelahnya membuatnya tidak bebas bergerak. Sehingga ia sampai terjatuh ke lantai dan membuat pingganya kini sakit. Beruntungnya Dimas tidak tahu jika ia terjatuh. Kalau pria itu sampai memergoki, pasti dia sudah mentertawakannya.
"Aduuhh .. Sakit sekali pinggangku." Sora memegangi pinggangnya selama perjalanan menuju dapur.
Dari kejauhan, tampak dia orang pelayan yang tengah beraktivitas di dapur. Mereka terkejut mendapati nyonya muda datang ke arah dapur dengan tangan yang terus memegangi pinggang, dan ekspresi wajahnya seperti orang menahan sakit.
"Lihat, nyonya muda datang. Dia memegangi pinggang nya terus. Sepertinya dia kelelahan usai bercocok tanam semalam," ujar salah satu dari mereka dengan nada bicara bisik-bisik.
Pelayang yang satunya pun melihat ke arah datangnya wanita yang temannya maksud.
"Iya, sepertinya tuan Dimas memiliki power yang sangat kuat. Sehingga pinggang istrinya hampir patah tulang."
"Hihihi ... Hebat juga ternyata tuan Dimas. Kasihan juga istrinya, dia merasa tersiksa."
"Mana mungkin tersiksa, nyonya muda pasti sangat bangga memiliki suami yang memiliki power full."
"Hihihi ..."
Mereka menghentikan aktivitas bisik-bisik nya dan melanjutkan aktivitas yang lain begitu Sora sudah dekat dan menatap ke arah keduanya.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ada yang lucu dariku sampai membuat kalian senyum-senyum?" tanya Sora membuat mereka semakin menunduk.
Tidak ada yang berani menjawab, mereka semua diam. Sora merasa tidak nyaman.
"Apa yang bisa ku bantu?" tanyanya kemudian.
Kedua pelayan itu mendongak dan saling memandang satu sama lain.
"Tidak ada, nyonya muda. Ini semua tugas kami, nyonya muda tidak perlu turun ke dapur."
"Memangnya kenapa?" tanya Sora terheran.
"Kami akan mendapat teguran keras jika membiarkan istri dan menantu tuan rumah sampai melakukan tugas yang seharusnya kami kerjakan."
Sora semakin merasa aneh.
"Statusku sudah menjadi istri, dan memasak sudah menjadi bagian dari tugasku. Biarkan aku memasak," pinta Sora kekeh.
"Jangan! Nanti kami bisa kena marah."
"Tidak, kalian tenang saja. Ini kemauan ku, lagipula mana ada orang marah hanya karena aku ikut memasak."
"Tapi nyonya muda-"
"Sudah, berikan pisaunya padaku. Aku yang akan mengiris bawang dan cabai. Serahkan saja semuanya padaku, kalian tenang saja, aku bisa memasak, meski tidak begitu ahli."
Terpaksa, salah satu dari mereka menyerahkan pisau yang sedang di gunakan untuk mengiris bawang. Kedua pelayan tersebut saling menatap, mereka khawatir jika tuan rumah memergoki.
"Aku sering memasak di rumah, meski di rumahku juga memiliki pelayan. Orang tuaku tidak melarang ku untuk melakukan aktivitas rumah, justru mereka bangga."
Dari kedua pelayan itu tidak ada lagi yang berani bicara. Mereka hanya diam dengan perasaan gelisah.
Meski sudah sering mengiris bawang, tetap saja Sora akan merasakan perih. Dan sekarang pelupuk matanya sudah memupuk cairan putih bening yang siap turun.
"Nyonya muda, berikan saja pisaunya padaku. Biar aku saja yang melakukan semuanya."
"Sudah, tidak apa. Biar aku saja."
Pelayan itu tetap mengambil pisau dari tangan Sora, ia tidak ingin sampai tuan rumah memergoki dirinya membiarkan menantunya ikut turun tangan.
"Biar aku saja, nyonya muda."
"Tidak apa, aku saja."
"Berikan saja padaku, nyonya muda."
"Aku saja, aaawwww ..." Sora spontan menjerit kesakitan begitu pisau yang sedang mereka perebutkan melukai tangannya.
"Aaawww ..." ringisnya.
Ibu jari yang terkena sembitan pisau tersebut mengeluarkan darah segar. Kedua pelayan itu membulatkan matanya sempurna, sekarang mereka tambah panik.
"Nyonya muda, maafkan aku. Aku tidak sengaja," ucap pelayan itu.
"Seharusnya kau tidak mengambil paksa pisaunya tadi," ujar yang satunya.
"Tapi aku khawatir jika tuan akan memergoki kita membiarkan menantunya turun ke dapur. Sekarang aku harus bagaimana?"
"Kita pasti akan di marahi habis-habisan."
"Aku takut sekali."
Sora menggigit bibir bawahnya guna menahan sakit. Darahnya semakin banyak keluar.
"Apa yang terjadi?"
Pertanyaan seseorang membuat tiga orang yang ada di sana menoleh ke sumber suara.
"Sora, tanganmu." Dimas seketika cemas begitu melihat banyak sekali darah yang berasal dari tangan Sora.
Pria itu dengan cepat menghampiri Sora.
"Apa yang terjadi, kenapa tanganmu bisa luka?" seru Dimas.
Sora diam, ia sedang menahan sakit yang terasa begitu ngilu.
Dimas menoleh pada kedua pelayan yang berdiri di sampingnya.
"Apa yang terjadi dengan Sora?"
Kedua pelayan itu saling melempar pandangan, mereka tidak memiliki cukup keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.
_Bersambung_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Pinny Tirawat Thitipong💭
bagus thor...lanjut semangat terus💕👍🏻
2022-11-11
1